Mr. Impeccable

Mr. Impeccable
13. kopi pahit dan manis



"Alea, kapan kamu punya, anak?"


Mendapatkan pertanyaan horor itu membuat Alea bergidik ngeri. Melihat Agam saja, ia tidak mau apalagi membuat anak dengan Agam. Sepertinya, Alea lebih memilih membunuh dirinya sendiri. Membayangkan saja, Alea ingin muntah rasanya.


"Alea nggak mau punya anak!" tukas Alea sembari menatap Oma Rasya dengan kesal. Ketika ia ingin bangkit dari duduknya, Agam Dan Alion kembali mencekal kedua lengannya sehingga membuat Alea frustasi, "kalian ini kenapa, sih?!" tanya Alea dengan kesal.


"Nggak sopan banget di ajak orang tua bicara malah pergi nyelonong gitu aja. Jangan malu-maluin Bunda yang tiap hari ngomel buat nasihatin lo buat nge-bangun pribadi lo yang lebih baik lagi," Alion berkata sembari memeluk Cherissa yang berada di pangkuan Alion.


"Tau tuh tante jelek. Jadi olang dewasa halus yang baik," kata Cherissa yang membuat Alea menatap gadis kecil itu dengan sengit. Jika ini sepi, Alea yakin akan mencekik leher Cherissa saat ini. Baginya, anak kecil itu hanya sok tahu dan cari perhatian.


Alea memutar bola matanya dengan malas sembari menghela napas panjangnya. Sekarang, hidup Alea bagaikan di penjara. Seseorang, tolong kembalikan hidup Alea yang dulu!


***


"Lo seriusan ngelakuin hal, itu?" Bella bertanya pada seseorang yang bertubuh tinggi yang sekarang duduk manis didepannya. Di sebelah Bella, ada Nitara yang sedari tadi mengeratkan kedua tangannya di atas pahanya sembari berkeringat dingin. Sesekali ia memberikan kode pada Bella dengan menginjak kaki Bella dengan pelan. Sebenarnya, mereka berdua tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Takut jika mereka akan salah mengambil langkah.


Alex mengangguk dengan pasti, "karena gue sayang sama dia. Gue mau jaga dia selamanya," kata Alex yang mampu membuat Bella dan Nitara menelan ludahnya karena perkataan Alex yang begitu tulus. Mereka tahu, jika rasa sayang Alex memang tulus untuk Alea. Terlihat dari cara Alex memperlakukan Alea. Dan sekarang, Alex berada di posisi hatinya yang sedang takut. Takut kehilangan orang yang ia sayangi. Apalagi, kemarin Alea telah di lamar seseorang dan beruntungnya Alea kabur di hari pertunangannya. Dari awal, Alex memang ragu untuk menemui keluarga Alea karena ia takut jika dirinya tidak di terima oleh keluarga Alea, secara Alea juga mempunyai Abang yang cukup sayang dengannya. Di tambah lagi, Alex yang fokus pada mimpinya dan telah mengabaikannya Alea. Namun, di saat ia mengabaikan Alea, Alea malah dengan sabar dan perhatian tetap ada di samping Alex. Menemani Alex.


Alex sengaja meminta bertemu dengan Bella dan Nitara hari ini karena ia ingin merencanakan sesuatu untuk memberikan Alea kejutan. Dan Alex, akan berniat melamar Alea.


"Gue udah siapin semuanya. Gue mohon buat kalian bantuin gue," kata Alex.


Bella menyeruput kopinya sembari menyenggol Nitara.


"Em gimana ya, Lex? Gue--"


"Kita bisa aja kok Lex bantu lo," celetuk Bella yang langsung mendapatkan senggolan dari Nitara.


"Tapi kita bantu sekedarnya aja," lanjut Bella.


Alex tersenyum pada Bella dan Nitara, "Selama ini memang gue yang egois. Karena gue terlalu berambisi buat mengejar keinginan gue sendiri tanpa memikirkan ada seseorang yang selalu ada di samping gue," kata Alex yang membuat Bella semakin gemetaran. Ia bingung harus berbuat apa. Karena keadaan sudah tidak lagi sama. Jika di posisi Alex saat ini, Alex akan bahagia karena Bella dan Nitara akan membantunya untuk memberikan kejutan untuk Alea. Namun, mereka tidak bisa membayangkan jika Alex mengetahui semuanya. Bagaimana rasa hancur akan segera menghampiri Alex.


Dan Alex, sudah kehilangan sesuatu yang seharusnya ia jaga tanpa ia ketahui.


Rasa sakit itu akan dengan senang hati menghampirinya. Mengajarkannya bagaimana caranya merelakan seseorang yang ia sayang. Bagaimana caranya mengikhlaskan seseorang yang ternyata hanya singgah dan meninggalkan sebuah bekas luka yang tidak terlihat. Bukan karena kehendak mereka, namun semesta lah yang memisahkan mereka. Bagi semesta, mereka hanya manusia yang perlu pengalaman hidup. Sakit hati adalah salah satunya.


Tidak apa-apa. Everything's gonna be okay!


Manusia hanya perlu sedikit bermain-main dengan takdir supaya mereka bisa menghargai sebuah penyesalan yang di berikan oleh takdir. Dan penyesalan itu yang akan nantinya menjadi guru kehidupan.


"Gue berterima kasih banyak sama lo," ucapan Alex membuat Nitara semakin merasa bersalah.


***


Agam sedang menggunakan kaos polos hitamnya dengan celana pendek rumahan. Hanya menggunakan itu saja, Agam terlihat tampan. Ia sedang menikmati kopinya yang hampir dingin sembari bersantai di balkon kamarnya. Sore itu memang cuaca begitu cerah. Agam bisa melihat burung-burung yang gembira sedang berterbangan di langit yang biru di hiasi awan-awan putih. Hidup senikmat itu bagi Agam. Diam-diam laki-laki itu mengagumi ciptaan Yang Maha Kuasa. Agam sering melakukan hal itu. Allah telah menciptakan planet bumi yang di dalamnya terdapat miliaran bahkan lebih makhluk hidup yang tinggal di dalamnya. Allah juga memenuhi kebutuhan manusia. Entahlah harus bagaimana lagi Agam harus mengucapkan banyak bersyukur karena nikmat yang di berikan Allah kepada makhluk hidup.


"Kerjaan cuman melamun. Lo mau ngasih makan gue, apa?" tiba-tiba suara cempreng dari Alea terdengar di telinga Agam yang membuat laki-laki itu sedikit menyunggingkan senyumnya.


"Batu," kata Agam dengan santai lalu menyeruput kopinya yang tersisa setengah secangkir kopi.


Mendengarkan perkataan Agam yang singkat, jelas dan padat, langsung membuat emosi Alea naik seketika. Alea menggebrak meja kecil yang ada di dekat Agam. Namun, ekspresi Agam tetap santai.


"Ceraiin gue!" tukas Alea dengan marah. Kapan Alea tidak marah jika, berbicara?


"Aku nggak mau cerain kamu, Al."


"Tapi gue nggak mau punya suami penggangguran kayak lo! Bisa mati muda gue nggak makan,"


"Tapi aku nggak mau. Gimana, dong?" kata Agam sembari bangkit dari duduknya dan langsung meninggalkan Alea yang marah sembari membawa kopinya yang sudah habis. Dengan ekspresi tanpa dosa, Agam keluar dari kamarnya meninggalkan Alea yang marah karena dirinya.


"Sialan!" Alea merasa teracuhkan. Seumur hidupnya, Alea tidak pernah di campakkan oleh siapapun.


Alea masuk ke dalam kamarnya dan langsung mengikuti Agam yang turun dari tangga sembari mengomel tidak jelas.


"Lo emang suami nggak bertanggung jawab, ya?! Dasar psikopat! Dasar dukun cabul!"


"Walaupun aku psikopat dan dukun cabul, gini-gini juga suami kamu lho, Al," kata Agam dengan santai sembari berjalan ke dapur yang di ikuti oleh Alea.


"Terserah kamu Alea, ingin berkata apa. Yang terpenting, aku adalah suami sah kamu," Agam berjalan untuk membuka kulkasnya setelah ia menaruh cucian kotor di tempat cucian.


"Cerain gue, Agam!"


"Aku nggak dengar kamu ngomong apa, Alea."


Agam semakin membuat Alea jengkel.


"CERAIIN GUE, GAM!"


"aku nggak dengar, Alea," kata Agam dengan santai sembari duduk di meja makan dengan membawa sebuah apel segar yang sudah terkupas, lalu di makannya. Laki-laki itu tampak terlihat santai, bahkan sangat santai menghadapi sikap Alea yang bar-bar.


"Dasar budeg!"


"Emang," kata Agam sembari mengunyah apelnya.


Alea semakin kesal, akhirnya ia duduk di samping Alex dengan memasang wajahnya yang cemberut lalu merebut sebuah apel yang di pegang oleh Agam. Dan Alea memakan apel sisa Agam dengan kesal. Seperti singa yang telah menemukan daging segar.


Agam hanya mengamati Alea yang makan dengan lahap. Tanpa ragu-ragu, Alea memakan bekasnya. Perempuan itu benar-benar.


Setelah apel yang di makan oleh Alea hanya tersisa biji kecilnya saja, Alea langsung meletakkan kepalanya di meja makan yang terasa dingin di pipinya sembari mengatakan, "kenapa hidup gue semenderita, ini?" Alea berkata dengan melas sembari menutup matanya.


Agam mengacak rambut Alea dengan gemas, "menderita itu tidak ada, Al. Hanya saja manusia yang melebihkan-lebihkan. Hal apapun yang kamu anggap penderitaan, maka itu sebuah penderitaan. Yang ada di dalam hidup itu cuma pelajaran hidup yang bakalan menjadi guru kehidupan kamu. Supaya manusia bisa belajar dari kesalahannya yang dibuatnya. Terutama penyesalan lah yang akan mendewasakan mu,"


Memang benar jika guru kehidupan adalah sebuah penyesalan. Dan penyesalan tidak pernah memandang seseorang. Layaknya sebuah kopi yang tak pernah memilih siapa yang berhak menikmatinya. Karena di hadapan secangkir kopi, kita semua adalah sama.


Dan hidup juga bukan soal rasa kopi yang pahit dan manis. Kopi yang pahit belum tentu tidak ada yang menyukainya. Apalagi soal warna kopi yang hitam. Bukan berarti kopi adalah warna yang kotor. Namun untuk meminumnya, kita akan di ajarkan sebuah kesabaran. Bersabar untuk menunggu kopi hitam itu mengendap ke bawah sebelum menikmati hasilnya. Sama saja dengan kehidupan di dunia, ketika kita menginginkan sesuatu, maka kita harus bersabar untuk memilikinya dengan cara yang benar.


Alea kembali merengek yang membuat Agam mengelus punggung perempuan itu dengan lembut. Perempuan mungil yang duduk di sebelahnya telah membuatnya gemas sendiri. Agam melihat jika Alea sudah tidak mempunyai tujuan hidup.


Alea mengangkat kepalanya lalu mengucir rambutnya yang panjang dengan asal. Lalu melirik Agam yang melihatnya dengan ekspresi datar. Alea memang mengakui jika Agam memiliki pahatan wajah yang sempurna. Dari hidungnya yang mancung, alisnya yang tebal, serta matanya yang menyorot dengan tajam telah mempertegaskan wajahnya.


"Kenapa mata lo liat-liat, gue?!" tanya Alea yang membuat Agam menyunggingkan senyumnya lagi.


"Perasaan dari tadi kamu yang ngeliatin aku."


"Pede banget! Urus urusan lo sendiri!" kata Alea yang semakin tidak nyambung.


Agam menyunggingkan senyumnya lagi yang membuat Alea semakin kesal jika melihat wajah Agam. Lalu, perempuan itu bergidik ngeri karena di film-film psikopat yang biasanya Alea tonton, psikopat hanya menyunggingkan senyumnya saja.


"Ya udah, ayo kita selesaikan urusan kita bersama. Waktunya sholat Ashar, kamu wudhu dulu dan aku siapin sajadah buat kita," kata Agam sembari bangkit dari tempat duduknya.


"OGAH! SHOLAT AJA SENDIRI!"


"Ini urusan akhirat lho, Al."


"BODO AMAT!" kata Alea sembari menatap Agam kesal.


"Seberapa besar dosa yang aku tanggung karena sikap kamu, Alea?"


To be continued....


...


...


Alea Adora Adhiatama.


...


...


AGAM GALENDRA M


Tokoh Alion belum ketemu castingnya. Bantuin dong hehe.