
...
...
Bagi Agam, hidup itu harus santai. Jika terburu-buru, namanya kompetisi. Jangan pernah terburu-buru untuk mendapatkan suatu hal yang kita inginkan. Karena hasilnya juga akan you know lah. Apalagi merasa tersaingi oleh orang lain. Sifat seperti itu harus Agam hindari karena bisa membuat dirinya menjadi tamak. Dan menjadi manusia yang rakus akan membuat ending ceritanya yang menyedihkan.
Agam bisa melihat jika kebanyakan remaja sekarang banyak mengeluh dan mempunyai rasa kegengsianitas yang cukup tinggi.
Dan yang paling lucu, rasa kepemilikan manusia sangat melonjak tinggi. Misalnya saja seperti mempunyai cita-cita yang tinggi, pasangan yang good looking, hidup kaya raya, dan mati masuk surga adalah khayalan yang umum sekali yang dimiliki manusia. NAMUN, mereka hanya sekedar berkhayal tanpa harus mewujudkannya. Mungkin hanya sebagian manusia saja. Tapi entahlah!
Dia, Agam Galendra M pemilik perusahaan Maherson Group. Perusahaan yang ia rintis bersama almarhum Ayahnya dari kecil. Karena Ayahnya juga salah satu lulusan bidang teknologi. Tidak semudah yang di bayangkan untuk bisa di posisi Agam saat ini. Ia harus jatuh bangun dan banting tulang sampai tulang-tulangnya retak untuk pencapaiannya saat ini. Haha! Itu terlalu berlebihan. Sebelumnya mengenal agamanya, Agam hanyalah berandal kecil yang suka tawuran tidak jelas semasa sekolahnya. Ia juga pemabuk. Masa lalunya yang sibuk berkecimpung di dunia hitam telah membuat Agam menyesal pada akhirnya. Ia menghabiskan masa remajanya dengan membuang-buang waktunya tidak jelas.
Namun, waktu yang berjalan telah merubah semuanya. Membawa Agam ke sebuah titik untuk menjadi manusia yang lebih beradab lagi. Dan berubah menjadi yang lebih baik jiga tidak semudah membalikkan telapak tangan.
Dan Agam sangat menyayangkan jika remaja sekarang kebanyakan mengeluh.
Agam menghela napas panjangnya lalu langkahnya berjalan ke mesin pembuat kopi. Entah kenapa kopi selalu menjadi minuman kesukaannya.
Agam duduk di sofa hitam yang berada di ruangan kerjanya setelah ia selesai mengisi secangkir kopinya. Karena kopinya tidak terlalu panas, ia mencium aroma kafein itu terlebih dahulu sebelum menyesapnya perlahan. Agam menikmatinya.
Di atas meja di depannya, terdapat banyak lembaran kertas yang berserakan. Biasanya, Agam tidak sekacau ini. Entah kenapa dengan hari ini pekerjaan Agam terlalu kalang kabut. Agam baru menyadari jika seminggu terakhir waktu tidurnya telah tersita karena pekerjaan yang menumpuk. Agam termasuk tipikal orang yang suka bekerja. Sebut saja workaholic.
Dua kancing teratasnya di buka bebas dan dasinya sudah di longgarkan sejak pertama kali ia tiba di kantor. Agam merasa jika dasi itu terasa mencekik lehernya sehingga membuat otaknya tidak bisa bekerja konsentrasi. Ia membuka salah satu tumpukan map yang ada di depannya. Semua tumpukan map itu berisi laporan-laporan yang harus ia tanda tangani. Hal yang mudah memang, namun lama-kelamaan membuat kepala Agam pusing. Apalagi, tadi malam ia tidak bisa tidur karena Alea yang selalu bergerak tidak nyaman di atas tempat tidurnya. Agam memang tidak bisa tidur dengan nyenyak jika terdengar suara gemerisik sedikit pun di sekitarnya.
Kebiasaan buruk itu sudah lama Agam alami semenjak kepergian Ayahnya. Pola tidur Agam menjadi tidak nyaman. Dan karena hal itu, Agam telah mempunyai luka. Semenjak kejadian itu, Agam tidak bisa tidur dengan nyenyak. Seseorang yang menyusup masuk ke dalam rumahnya dan dengan terang-terangan telah menodongkan sebuah pistol kepada Ayahnya. Dan di depan mata Agam, Ayahnya telah tertembak. Dan mengingat hal itu tanpa sadar membuat Agam menggeram marah dan melonggarkan dasinya kembali.
Lalu ia beristighfar setelah mengingat Allah. Agam mengerti jika tidak baik menyimpan dendam.
Tiba-tiba suara ketukan pintu ruangannya terdengar dan Agam mempersilahkan masuk seseorang yang mengetuk pintunya. Ternyata Claudya, sekretaris Agam.
"Ada apa, Claudya?" tanya Agam menegakkan tubuhnya yang atletis. Nada itu juga terdengar datar.
Claudya menyodorkan tumpukan map lagi yang membuat Agam hanya menatap melas map-map yang teronggok di atas mejanya dan kembali menatap map-map yang baru saja di sodorkan oleh Claudya.
"Terima kasih ya," kata Agam sembari berusaha menikmati hidupnya. Walaupun matanya butuh asupan untuk merem, namun Agam tetap tidak mau menyerah. Apalagi jika saat ini Alea datang kemari, mungkin dunia Agam akan lebih sempurna. Ya! Agam jadi teringat perempuan itu. Perempuan pemberontak itu sekarang menjadi istri Agam.
Agam sudah melihat kepergian Claudya, namun perempuan itu menghentikan langkahnya dan berbalik kembali menatap Agam. Membuat Agam bertanya kenapa.
Sekretaris itu menatap ragu Agam sebelum berbicara dengan pelan, "aku mau ngomong sebagai teman kamu," kata perempuan itu dengan takut sembari menundukkan kepalanya tidak berani menatap Agam.
"Ada apa, Claudya?" Agam bertanya dengan santai.
"Kamu yakin dengan pilihan, kamu?" tiba-tiba Claudya bertanya seperti itu setelah sekian lama ia berusaha untuk menahan pertanyaan itu agar tidak keluar dari mulutnya.
"Saya nggak pernah main-main dengan pilihan saya sendiri," Agam berkata dengan santainya sembari menyenderkan tubuhnya.
Claudya berdehem, "ya udah. Aku cuma mau nanya itu aja," katanya lalu cepat-cepat keluar dari ruangan Agam.
Agam menatap pintunya yang tertutup. Lalu berfokus pada map-map yang baru saja di berikan Claudya untuknya.
Kopi dan kerja sudah menjadi makanan kesukaan Agam. Agam melirik jam dinding yang tergantung manis di depannya yang sudah menunjukkan pukul empat sore dan dia masih menikmati secangkir kopinya. Agam segera menghabiskan kopinya. Setelah itu ia langsung bangkit dari duduknya.
Agam langsung keluar dari ruangannya setelah ia mengambil kunci mobilnya. Ia meninggalkan ruangannya dengan keadaan yang cukup berantakan. Namun, ia sudah tidak peduli karena kepalanya benar-benar pusing kali ini.
Beberapa staf karyawannya telah membungkukkan badannya untuk Agam. Entah kenapa walaupun Agam berusaha terlihat santai di depan karyawannya, namun tetap saja ketegasan tercetak jelas pada gestur Agam.
Agam berjalan menuju basement parkiran VIP kantornya.
"Pak Asep semangat bersih-bersihnya," kata Agam yang langsung mendapatkan senyuman dari Pak Asep yang sedang mengepel lantai bawah. Agam memang cukup ramah sehingga membuat orang-orang di sekitarnya jadi tidak segan untuk menyapa Agam walaupun masih ada rasa takut untuk sekedar menyapa Agam.
"Makasih Pak. Sudah mau pulang, Pak?" kata Pak Asep sembari membungkukkan badannya sopan.
"Iya, Pak Asep. Kasian bini saya nanti kangen," celetuk Agam yang membuat Pak Asep tertawa. Agam berpamitan duluan pada Pak Asep.
Agam masuk ke dalam mobilnya. Lalu keluar area parkir. Ternyata di luar sedang hujan lebat. Agam tersenyum menatap hujan yang begitu deras menghantam bumi. Baginya, hujan adalah rahmat dari Allah swt. Katanya, ketika berdoa di saat hujan, doa akan cepat terkabul.
Alex mengacak rambut Alea dengan gemas. Sekarang mereka berada di salah satu restoran ternama di Jakarta. Alea yang sedang menikmati martabak manisnya di tengah guyuran air hujan di temani Alex yang menatapnya dengan senyuman tanpa henti.
"Makan yang banyak," kata Alex dengan sayang. Entah seberapa sayangnya Alex pada Alea sehingga membuat laki-laki itu tidak mau kehilangan gadisnya. Walaupun Alex tidak mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya, Alex bisa mendapatkan kasih sayang dari seseorang yang tulus menyayanginya.
"Kamu, mau?" tawar Alea sembari ingin menyuapkan potongan kecil martabak manis untuk Alex. Namun, Alex menolaknya dengan alasan, Alea akan kurang jika Alex ikut makan. Dan hal itu membuat Alea tersenyum manis sehingga menampakkan kedua lesung pipinya. Di dalam pelukan yang berbeda, beda pula ekspresi Alea. Alea akan memasang wajah kesalnya ketika berada di dekat Agam. Karena, yang benar-benar Alea sayang memang Alex.
"Lex," panggil Alea yang membuat Alex menoleh untuk melihat perempuan manis itu.
"Ada apa, Sayang?"
"Kalau misalnya kita nggak jodoh, gimana?" tiba-tiba Alea bertanya seperti itu pada Alex. Alex langsung menatap Alea dengan senyuman yang menurut Alea membingungkan.
Alex jadi teringat jika Alea hampir saja menjadi milik orang lain. Hati Alex sakit. Tentu saja! Siapa yang tidak sakit jika kehilangan seseorang yang ia sayang?
"Kamu kenapa ngomongnya, gitu?" Alex malah balik bertanya pada Alea.
"Ya kalau aja," kata Alea sembari melanjutkan makannya lagi.
"Kita sebagai manusia cuma bisa berusaha aja. Selanjutnya biar Tuhan yang mengatur,"
"Ya jangan gitu dong, Lex. Kamu harus berusaha semaksimal mungkin dong buat mempertahankan hubungan kita,"
Alex tersenyum manis, "iya Sayangku. Tenang aja. Apapun yang terjadi, aku akan perjuangin kamu,"
Alea meringis, "gitu dong baru gentlemen!"
Tiba-tiba Alea mendengar suara deheman sehingga membuat perempuan itu menoleh ke sumber suara. Alea terkejut karena di sampingnya berdiri seseorang yang Alea benci. Dengan kemeja dan jas hitamnya yang sedikit basah karena air hujan, laki-laki itu duduk di samping Alex lalu merangkul Alex layaknya adiknya sendiri.
Alex menatap Agam yang baru saja datang, "datang juga lo, Bang," Alex berkata santai pada Agam.
"Oh jadi ini pacar kamu ya, Lex?" tanya Agam sembari menatap Alea dengan ekspresinya yang santai. Hal itu malah membuat Alea semakin membenci Agam.
"Iya, Bang."
"Cantik juga," celetuk Agam.
"Milik gue, Bang!" tukas Alex sembari meninju pelan Agam, lalu tertawa. Alex memang sengaja mengundang kakak sepupunya itu untuk ikut bergabung dengannya. Karena Alex bilang jika ada sesuatu yang harus di bicarakan dengan Agam saat ini. Dan inilah pembicaraan Alex untuk Agam.
"Alea kenalin ini Abang sepupu gue. Namanya Agam. Lo tau Maherson Group, kan? Itu dia yang punya," kata Alex memperkenalkan Agam pada Alea yang sedari tadi duduk dengan tidak nyaman.
Dia suami gue...ingin rasanya Alea mencekik leher Agam saat ini juga. Kenapa di situasi yang seperti ini malah psikopat itu lagi yang muncul.
Alea hanya tersenyum dengan terpaksa.
Tunggu?
Namun, kenapa Agam tidak marah dengan apa yang di lakukan Alea saat ini? Seharusnya Agam marah karena Alea berselingkuh dengannya. Atau seharusnya Agam menggantung leher Alea saat ini juga. Atau bahkan Agam seharusnya menyeret Alea keluar dari restoran ini seperti emak-emak yang mengetahui suaminya berselingkuh. Tapi, kenapa Agam begitu santai melihat Alea dengan Alex saling mengucapkan, janji?
Setelah lama pikirannya berkecimpung dengan pertanyaan yang tidak-tidak, Alea tanpa sadar langsung meneguk cokelat panasnya hingga tandas. Lalu, meremas gelas tersebut tanpa sadar.
"Alea kamu, kenapa?" tanya Alex.
"Aku tiba-tiba haus," ucap Alea sekenanya. Sekilas ia menatap Agam dengan tajam. Namun, Alea semakin jengkel karena Agam hanya menampilkan kesantaiannya. Namun, Alea bahagia setelah ini. Karena pasti setelah ini, Agam akan menceraikannya dan ia bisa menikah dengan Alex dan hidup bahagia sampai akhir.
Alea menjadi bersemangat ketika memikirkan hal itu.
Sebentar lagi, ia akan menjemput kebahagiaannya yang sesungguhnya.
Alea sudah tidak peduli dengan Agam yang akan mencibirnya. ALEA TIDAK AKAN PERNAH PEDULI DENGAN LAKI-LAKI ITU!
Dan sebenarnya ada satu fakta lagi yang membuat Alea terkejut. Alea tidak pernah menduga jika dunia itu memang selebar daun kelor.
Agam adalah kakak sepupu, Alex? Lalu, bagaimana dengan, Alea? Oh ralat, bagaimana dengan nasib, cintanya?