
Setelah melambaikan tangannya pada Bella yang baru saja mengantarnya pulang, Alea langsung masuk ke dalam rumah besar itu. Sebenarnya, perempuan itu mencibir karena Agam yang membeli rumah terlalu besar. Bagi Alea malah terlihat horor karena banyak ruangan kosong. Dari cerita yang Alea pernah dengar, katanya ruangan yang tidak di tempati akan menjadi sarang rumah hantu. Hal itu membuat Alea takut tentunya.
Alea melempar sepatu kets nya ke sembarang arah sehingga menarik perhatian Agam yang sedang duduk di ruang tamu dengan teman kencannya. Tidak lain, teman kencannya adalah sebuah laptop yang menyala di depan Agam dengan di sampingnya terdapat kertas-kertas putih cukup banyak.
"Alea, kenapa kelakuan kamu seperti, itu?" Agam bertanya dengan santai. Sedangkan yang di tanyai malah acuh tak acuh. Karena Alea kesal dengan Agam setelah insiden di ruang rapat tadi. Entah apa yang di lakukan Agam di ruang rapat itu sehingga membuat Alea enggan menatap laki-laki itu.
"Kan rumah sendiri!" tukas Alea dengan santai sembari berjalan menaiki tangga untuk menuju kamarnya.
Tiba-tiba, Alea tersandung lagi ketika kakinya menaiki anak tangga yang ketiga membuat perempuan itu mengaduh kesakitan. Alea sudah mengeluarkan umpatannya yang sudah mirip dengan nada rock dengan cepat. Atau sebut saja rapper.
"Agam sakit!" teriak Alea yang membuat Agam hanya menoleh sekilas pada Alea yang cemberut.
"Hidup itu harus penuh dengan hati-hati. Kalau kamu ceroboh, hasilnya pun bakalan menyakiti dirimu sendiri," perkataan Agam memang terlihat santai namun mampu membuat Alea tersinggung. Sekarang yang menjadi pertanyaan, kapan Alea tidak tersinggung dengan omongan, Agam?
"Suami sialan lo!" hardik Alea dengan kesal.
"Gimana skripsi, kamu?"
Alea tidak menjawab, melainkan malah berjalan ke atas sembari sedikit pincang karena kakinya yang terlalu lebay untuk berjalan.
Alea kesal dengan sikap Agam yang tidak tahu diri sama sekali. Hal itu membuat Alea membanting pintu kamarnya dengan kesal. Setelah itu, ia menanggalkan semua bajunya dan masuk ke dalam kamar mandi. Otaknya ingin meledak hari ini. Alea memilih untuk mengisi bath up dengan air yang penuh. Mungkin sedikit berendam air hangat bisa menghilangkan rasa penatnya.
Setelah airnya terisi penuh, Alea langsung masuk ke dalam. Tidak lupa ia mencepol rambutnya hingga atas supaya tidak basah terkena air. Alea merasa nyaman di dalam air hangat itu.
Matanya yang sipit menatap nyalang jendela yang sengaja ia buka untuk melihat pemandangan luar jendela. Alea memang suka gaya rumah yang di beli Agam. Ketika ia berendam, ia bisa menikmati pemandangan yang cukup asri dari dalam bath up nya. Karena rumah ini juga sengaja Agam pilih di salah satu tempat yang cukup jauh dari polusi.
Alea bisa melihat burung-burung camar yang sedang berterbangan di langit yang biru. Sore hari itu memang sangat cerah sehingga membuat hati Alea juga ikut adem. Alea semakin menikmati pemandangan sore itu. Dulu, ketika Alea masih kecil, Alea ingin mempunyai sayap supaya ia bisa terbang dengan burung-burung di atas. Walaupun itu adalah hal yang nihil. Jika terbang di atas sana, pasti membuat Alea tersenyum lebar. Alea bisa melihat dunia dari atas.
Namun, seseorang telah menghentikan mimpinya. Entah siapa seseorang itu. Karena Alea sudah tidak ingin mengingat hal itu lagi. Baginya, manusia di dunia hanyalah berkedok belaka saja. Bisa saja mereka yang mempunyai wajah yang baik, tapi bisa menusuk hingga tukang terdalam. Alea juga mengakui jika dirinya juga sebatas manusia yang munafik. Tapi lama-lama, Alea menikmati dosa itu. Dosa yang sering ia lakukan hanya untuk mencari pencitraan di dunia saja.
Karena sudah terlalu jauh ia menikmati dosanya sendiri, Alea semakin jauh dengan Tuhannya. Alea memang bodoh!
Entahlah, semuanya terlalu rumit untuk Alea jelaskan.
"ALEA, KAMU NGAPAIN DI DALAM?" suara teriakan bariton telah membuat otak Alea menjadi panas kembali. Hanya dengan mendengar suara Agam saja, otak Alea ingin meledak.
"MAKAN!" Balas Alea tidak kalah keras. Ketika Alea mendengar suara ceklekkan pintu kamar mandi yang akan dibuka, Alea dengan cepat langsung berteriak keras supaya Agam tidak masuk ke dalam.
"Katanya makan,"
"Lo bego atau gimana, sih?! Kalo di dalam kamar mandi itu, ngapain?!" Alea semakin kesal. Baru saja otaknya dingin, sekarang menjadi panas kembali karena Agam.
"Memang apa salahnya kalo aku ikutan, mandi?!" Entah kenapa menggoda Alea sekarang adalah hobi Agam.
"GUE PENGGAL LEHER LO KALAU MASUK!" Dengan spontan saja tangan Alea langsung mengambil jubah handuk mandinya untuk berjaga-jaga jika Agam masuk ke dalam. Dan Alea akan bersumpah jika akan memenggal kepala Agam saat ini juga.
"Aku nggak takut," Agam semakin menggodanya yang membuat Alea langsung bangkit dari posisi nyamannya dan langsung memakai jubah mandinya. Cepat-cepat Alea langsung berlari ke pintu kamar mandi. Dan Alea langsung menepuk dahinya karena melihat pintu kamar mandi telah terkunci dari dalam. Jadi, bagaimana jika Agam ingin, masuk? Dunguk! Alea memang dunguk!
"KURANG AJAR YA LO NGERJAIN GUE!" Teriak Alea dengan kesal.
"baru aja otak gue dingin sekarang mendadak panas lagi gara-gara psikopat itu," gerutu Alea dengan kesal lalu melempar jubah mandinya ke sembarang arah dan kembali ke posisi nyamannya. Alea memakai headsetnya untuk menghalau suara-suara dari luar.
***
Alex menghela napasnya dengan kasar karena tidak sekali dua kali saja laki-laki itu mendengarkan kedua orangtuanya yang terus bertengkar. Alex sudah berusaha menutupi telinganya dengan kedua headsetnya, namun tetap saja ia masih mendengarkan suara pecahan kaca dari lantai bawah. Sehingga membuat Alex cukup geram. Ia membuang dengan sembarangan ponselnya dan langsung keluar dari kamarnya. Dengan napasnya yang tertahan karena emosinya sudah berada di puncak ubun-ubunnya dan siap meledak saat ini juga.
Alex menuruni tangga dengan kedua tangannya yang mengepal erat. Ia bisa melihat jika kedua orangtuanya saling melempar barang satu sama lain membuat Alex semakin marah.
"MA! PA!" teriak Alex dengan suaranya yang menggelegar seantero ruangan tengah itu dan membuat kedua orangtuanya langsung menatap Alex.
"Kamu nggak usah ikut campur urusan papa sama mama, Lex!" sergah mamanya dengan kilatan marah sembari menatap Alex.
"Kamu itu nggak usah ikut campur urusan orang dewasa!" sergah papanya.
"Alex sudah dewasa, Pa! Tanpa papa mama tau, Alex sudah dewasa dengan cara Alex sendiri. Kalian memang orang tua yang hebat! Saking hebatnya sampai tidak tahu jika sekarang umur Alex sudah 21 tahun! Kalian lebih pentingin uang kan daripada, Alex? Alex tau kok pa ma!"
"JAGA OMONGAN KAMU, LEX!" sergah papanya dengan marah.
"Untuk apa? Memang begitu kenyataan yang Alex dapat. Alex yang merasakan sendiri!"
"Dasar anak berandalan!"
"Itu julukan yang sering papa bilang ke aku! Selalu aja gitu!"
"Kamu makin dewasa semakin nggak punya akhlaq! Apa itu caramu mendewasakan, diri?" Papanya bertanya dengan amarah yang besar.
"IYA PA!"
"ALEX SUDAH!" teriak mamanya.
"Kenapa, Ma? Emang bener kok kalo Alex itu hanya benalu untuk kalian!"
"Kalau kamu benalu, mama nggak akan memfasilitasi kamu, Lex!" Mamanya menimpali.
Alex tertawa, "fasilitas, ya? Kalau boleh bilang, Alex nggak butuh fasilitas mama sama papa. Alex cuma butuh kasih sayang kalian, perhatian kalian untuk Alex! Udah itu aja. Sesimple itu permintaan Alex!" ucapnya dengan kilatan marah, lalu berjalan pergi sembari mendorong salah satu vas bunga besar di sampingnya. Memang Alex sengaja melakukannya karena hati laki-laki itu sangat sakit.
Alex keluar dari rumahnya dengan menutup pintu rumahnya dengan keras. Alex memang kasar pada kedua orangtuanya. Karena lama-lama Alex kesal karena ia merasa tidak di anggap oleh kedua orangtuanya. Walaupun di fasilitasi, bukan itu yang Alex harapkan. Alex hanya menginginkan kasih sayang mereka.
Dan Alex sangat membencinya jika ada orang-orang yang kenal dengannya menyebut jika hidup Alex sudah nyaman. Nggak! Orang lain memang tidak mengetahui seberapa menderitanya menjadi Alex. Orang lain yang hanya mampu mencibir lebih dulu. Orang lain hanya bisa menilai dari luar saja. Dan sebenarnya tidak mungkin juga kalau orang lain menilai sampai ke dalam. Karena mereka tetaplah menjadi mereka. Dan manusia mempunyai problematika masing-masing.
Alex menatap layar ponselnya di dalam mobilnya. Ia ingin menelepon seseorang yang ia sayang namun ragu. Entah apa yang membuat Alex begitu ragu dengan dirinya sendiri. Alex beralih menatap foto Alea. Perempuan itu terlihat gembira ketika Alex memotretnya. Gadisnya suka makan dan itu membuat Alex suka. Hati Alex menghangat melihat senyuman Alea yang terukir manis.
Alex jadi semakin tidak sabar untuk segera melamar gadisnya. Hanya menunggu waktu saja.
***
Agam dengan wajahnya yang tampan mampu menarik perhatian beberapa perempuan yang sedang menikmati makanan di depan teras salah satu minimarket. Laki-laki itu hanya menggunakan Hoodie hitamnya dengan penutup kepalanya. Berbeda sekali dengan dirinya yang sedang memakai setelan jas hitam kantornya.
"Sok caper di publik!" tukas Alea sembari berjalan masuk ke dalam minimarket tersebut. Karena perut Alea yang keroncongan dan di rumahnya tidak ada persediaan makanan, Alea memutuskan memaksa Agam supaya mengantarkannya untuk membeli makanan instan. Awalnya, Agam sempat menolak memakan makanan instan karena tidak sehat. Namun, karena Alea yang memaksa dengan mulutnya yang lebar sehingga membuat Agam harus mengantarkan Alea ke minimarket terdekat.
"Saya emang ganteng," kata Agam dengan santainya sembari berjalan di belakang Alea yang sedang asik memasukkan makanan ke dalam keranjangnya.
Alea sudah mengeluarkan muntahannya sembari mencibir Agam dalam hatinya. Bagaimana mungkin laki-laki itu begitu percaya diri? Ingin rasanya Alea memasukkan Agam ke dalam karung lalu ia akan membuangnya ke lautan.
"Alea jangan makan itu. Nggak baik buat kesehatan kamu," kata Agam yang melihat Alea mengambil jajanan yang tidak sehat dengan jumlah yang cukup banyak.
"Yang nggak sehat gue! Kenapa lo jadi, sewot?!" tukas Alea tidak memperhatikan Agam.
"Ya udah nanti kalau sakit perut aku nggak tanggung jawab lho,"
"Gue juga nggak butuh tanggung jawab lo!" kata Alea kesal.
"Ya kalau sekarang tidak butuh tanggung jawab aku, besok kamu bakalan butuh," Agam memasukkan kedua tangannya di saku celananya.
"NGGAK AKAN!" kata Alea sembari berbalik dan menatap Agam dengan penuh kebencian.
"I dont know, Alea."
Alea berjalan lebih dulu meninggalkan Agam yang sibuk memilih makanan dengan kandungan zat gulanya sedikit. Agam juga termasuk seseorang yang menjaga pola makannya. Karena kesehatan adalah aset pertama. Walaupun rasa sakit datang dari Allah, setidaknya sebagai manusia kita bisa menjaga diri dan selanjutnya supaya Allah yang mengatur.
Setiap Alea mengambil makanan, Agam selalu mengecek komposisi makanan tersebut. Jika terlalu banyak zat yang tidak baik untuk tubuh, Agam akan menegur Alea sehingga membuat Alea lama-lama menjadi pusing sendiri karena Agam yang terus melarangnya membeli ini itu. Hingga membuat Alea menggerutu sepanjang ia memilih makanan. Jika mengerti akan seperti ini, Alea lebih memilih untuk membeli makanan sendiri.