
Alea memakan martabak manis dengan lahap. Ia sudah habis dua loyang martabak manis dengan varian rasa. Dengan celana pendek di atas lutut di padu dengan kaos polos hitam ketat sehingga membentuk tubuh Alea. Rambutnya yang panjang di cepol ke atas dengan asal, menyisakan anak rambutnya yang menjuntai ke bawah. Saat ini, ia sedang berada di rumah Agam. Sepertinya, Agam membeli rumah baru karena ini bukan rumah yang di tempati oleh dukun cabul itu.
Alea tidak mau pindah bersama Agam. Namun, Bundanya lah yang memaksa dirinya. Apalagi, Abangnya yang menyebalkan membuat Alea ingin mencekik leher Alion. Alea merasa terusir dari rumahnya sendiri.
Alea duduk di dapur rumah barunya dengan di atas meja makan terdapat sebuah laptop dan banyak sobekan kertas putih. Sedari tadi, Alea sedang mengerjakan tugas kuliahnya. Karena sudah terlalu lama mengerjakan dan tidak mendapatkan hasil apa-apa alias NOTHING! Membuat kepala Alea semakin pusing dan memesan makanan online, dua porsi martabak manis. Mulutnya sudah belepotan topping martabak manis yang menempel di pinggiran bibir mungil perempuan itu. Mata Alea sangat mengantuk setelah menghabiskan martabak manisnya. Penyakit Alea kambuh jika setelah makan banyak, tidur.
Alea bangkit dari duduknya dan mencoba lari-lari mengelilinginya meja makan sebanyak dua kali. Namun, belum berhasil mengusir rasa kantuknya. Sedangkan, tugasnya masih banyak. Oh ralat! Selama empat jam berlalu Alea berkutik di depan laptopnya, ternyata tidak menghasilkan apapun. Lantas, apa yang di kerjakan oleh perempuan, itu? Alea menghabiskan waktunya dengan bermain game online. Memang gadis pintar!
Alea mencoba push up sebanyak sepuluh kali hingga perempuan itu ngos-ngosan, namun hasilnya nihil. Yang ada, Alea malah mual karena kekenyangan.
Alea menjentuskan kepalanya ke dinding sedikit keras untuk mengusir rasa kantuknya, ini adalah salah satu cara yang ekstrim bagi Alea untuk mengusir rasa kantuknya.
"Alea, kenapa kamu seperti, itu?" tiba-tiba suara bariton telah mengejutkan Alea sehingga membuat detak jantung Alea berdegup dengan kencang. Alea melorot ke bawah dengan lemas. Rasa kantuknya tiba-tiba menghilang.
"Alea, Sayang!"
Alea menatap manik mata Agam. Lalu tiba-tiba bangkit sendiri yang membuat Agam kebingungan dengan sikap Alea yang entah bagaimana maksudnya.
Agam melihat ada banyak remahan bekas martabak yang tercecer di lantai serta di atas kertas-kertas sobekan di atas meja.
Alea dengan menatap nyalang, langsung duduk di kursinya dan langsung menenggelamkan kepalanya di atas keyboard laptopnya, "mata gue ngantuk banget, Gam," kata Alea dengan pasrah.
"Ya udah tidur,"
"Tugas gue belum selesai,”
"Ya udah kerjain,"
"NYEBELIN BANGET SIH LO JADI ORANG!"
"Lalu, saya harus bagaimana, istriku?" tanya Agam sembari melepas dua kancing teratas kemejanya serta jas hitamnya. Rupanya, laki-laki itu sehabis pulang bekerja.
Heleh! Paling juga kerjaannya jadi SPG doang...
Begitu batin Alea berkata.
"Kamu sudah mandi? Kalau belum mandi dulu. Setelah itu, kita sholat berjama'ah," kata Agam.
"NGGAK! gue ngantuk! Sholat aja sendiri," kata Alea yang pergi begitu saja meninggalkan Agam yang menatap kepergian Alea. Tidak lupa, Alea menginjak kaki Agam sebelum pergi. Namun, respon Agam hanya terlihat santai tanpa mengaduh kesakitan.
Agam melepas kemejanya sehingga ia bertelanjang dada. Berjalan keluar dari dapur untuk segera mandi dan melakukan ritual sholat ashar nya.
Hari ini cukup melelahkan bagi Agam karena ia bekerja seharian. Entah Agam bekerja apa. Siapapun tidak ada yang mengetahuinya.
***
Setelah selesai sholat, Agam berjalan mendekat ke tempat tidurnya, dimana Alea sedang tertidur nyenyak. Terlihat dari wajah Alea yang begitu tenang seperti bayi ketika tidur. Agam duduk di pinggir tempat tidurnya sembari memegang sebuah buku kecil yang bertuliskan yasiin.
"Yasiin," lantunan surah Yasiin mulai Agam bacakan sehingga membuat Alea bergerak tidur tidak nyaman karena terganggu oleh Agam. Suara Agam semakin mengeras sehingga membuat Alea membuka matanya dengan paksa. Matanya langsung menatap tajam Agam yang duduk di pinggir tempat tidur.
"LO NGAPAIN SIHH!" teriak Alea dengan marah karena tidurnya di ganggu oleh suara Agam yang benar-benar jelek menurut Alea.
"Aku lagi bacain surah Yasiin buat kamu. Supaya setan-setan yang ada di dalam tubuh kamu jadi hilang,"
"Kurang ajar! Lo pikir gue setan?! Lo pikir gue udah, mati?! Seharusnya lo yang harus di rukiyah. Lo itu psikopat gila plus dukun cabul," kata Alea dengan kasar. Napas perempuan itu sampai tertahan.
Agam menggedikkan bahunya dengan pelan, "aku nggak bilang kalau kamu setan lho, Al," kata Agam begitu santai sembari bangkit dari duduknya untuk mengembalikan buku yasiinnya.
"Iyaa tapi nyindir gue!" teriak Alea sembari melempar guling dengan keras kearah Agam karena perempuan itu kesal dengan Agam yang mengganggunya tidur. Kepala Alea jadi pusing sekarang karena terbangun dengan tiba-tiba.
Tentu saja Agam dengan cekatan langsung menangkap guling yang di lempar oleh Alea. Karena menurut Agam, itu hanyalah hal kecil.
"Sebentar lagi adzan Maghrib, Alea. Kamu jangan tidur, pamali,"
"BISA DIEM NGGAK SIH MULUT LO, ITU?! KALO ENGGAK GUE PLESTER," teriak Alea dengan kesal. Urat-urat Alea sampai terlihat.
Karena Alea sudah jengkel di tingkat dewa, Alea bangkit dari tidurnya dan langsung berlari menuju kearah Agam yang sedang berdiri menatap tingkah Alea yang menggemaskan. Alea berjinjit untuk menggapai leher Agam. Namun, sayangnya karena tubuhnya yang mungil membuat Alea hanya bisa menggapai separuh leher Agam. Yups! Perempuan itu ingin mencekik leher Agam saat ini juga.
"Mati lo! Mati lo! Mati lo!" tukas Alea dengan emosi di tingkat dewa. Sembari meloncat-loncat di depan Agam, perempuan itu terus menggapai leher Agam.
Agam semakin berjinjit sehingga membuat Alea bertambah kesusahan untuk menggapai lehernya. Lalu dengan santai, tangan Agam yang besar dan kokoh langsung menangkup kepala Alea. Agam mendorong kepala Alea dengan pelan supaya tidak menyakiti perempuan yang sedang mengamuk di depannya. Agam sudah mendorong Alea mundur, namun kedua tangan Alea masih menggapai tubuh Agam dengan lincah. Layaknya singa yang menemukan daging ayam segar. Begitulah, Alea sekarang. Ternyata, istrinya terlalu bar-bar untuk menjadi perempuan yang feminim.
Sehingga Alea menghentikan gerakan tubuhnya karena kelelahan sendiri.
"Capek, ya?" tanya Agam dengan santai.
Alea menatap tajam Agam lalu berbalik dan membanting tubuhnya di atas tempat tidur yang empuk. Alea sudah beberapa kali menghela napasnya dengan keras supaya terdengar oleh Agam. Entah apa tujuannya. Jujur saja jika Alea kelelahan karena Agam. Sumpah demi Lee Min Hoo jadi suami keduanya, Alea akan membunuh Agam saat ini juga jika membunuh adalah hal yang wajar.
"Lee Min Hoo juga nggak mau sama kamu, Al," kata Agam yang membuat Alea langsung menatap laki-laki itu dengan tajam.
Alea semakin setres!
Alea bangkit dari tidurnya dan langsung menyambar jaket levisnya yang ia gantungkan di belakang pintu. Sembari mengucir rambutnya yang panjang dengan asal, Alea berjalan keluar dari kamarnya.
"Alea, mau kemana, kamu?"
"KELAB!" teriak Alea lalu membanting pintu kamarnya dengan keras.
Alea berjalan dengan kesal. Lama-lama, Alea bisa gila jika tinggal bersama Agam. Otak Alea yang notabene sudah eror akan semakin eror dan rusak. Otomatis, data-datanya tidak valid semua.
Alea terpekik kaget ketika tiba-tiba Agam menggendongnya ala bridal style, "oh tidak bisa. Aku nggak mengizinkan kamu untuk pergi ke tempat seperti itu," kata Agam dengan santai sembari membawa masuk Alea ke dalam kamarnya lagi, "apalagi dengan pakaian terbuka seperti ini," lanjutnya lagi seraya mendorong pintu dengan kakinya karena kedua tangannya sibuk menggendong Alea yang terus saja meronta ingin turun.
"Lepasin, Agam!" teriaknya dengan kesal. Namun dengan lengan-lengan kokoh milik Agam, telah membuat Alea kesusahan untuk turun dari gendongan Agam.
Agam membaringkan Alea di tempat tidurnya. Perempuan itu menatap sengit Agam. Jangan di tanyakan lagi seberapa marahnya Alea dengan Agam sekarang.
"Sialan!" geram Alea.
"Perempuan nggak boleh ngomong kasar lho, Al."
"BODO AMAT! BODO AMAT! GUE NGGAK PEDULI SAMA OMONGAN LO, BRENGSEK!" jerit Alea dengan kesal. Ingin rasanya Alea menendang Agam sampai kutub utara. Persepsi Alea memang benar jika setelah menikah dengan Agam, hidupnya akan sengsara. Seperti neraka dunia.
Dan Alea juga tidak menyangka jika hidupnya akan sengsara seperti ini. Yang dulunya hidupnya selalu damai dan tentram, sekarang menjadi jungkir balik setelah ia bertemu dengan laki-laki yang tidak jelas asal-usulnya dan apa pekerjaannya. Sebenarnya, dosa apakah Alea sehingga bisa bernasib seperti, ini?
Dan serius jika Alea bertanya dosanya, sendiri? Mungkin jika di list malaikat pencatat amal keburukan, mungkin sudah sepanjang jalan rel kereta api dari Surabaya sampai Ujung Barat. Atau bahkan bisa lebih!
"Daripada pergi ke tempat seperti itu, mending ngaji bareng aku. Supaya setan-setan yang menempel di tubuh kamu bisa hilang," kata Agam dengan santai sembari berjalan untuk mengambil minuman yang berada di dalam kulkas kecil yang tersedia di pojokan kamarnya. Agam memang sengaja menyediakan kulkas kecil di dalam kamarnya, berjaga-jaga jika tengah malam kehausan. Karena rumahnya yang cukup luas, membuat jarak dapur dan kamarnya jauh. Apalagi kamarnya di lantai dua.
Agam meneguk sebotol minuman air putihnya hingga separuh membuat Alea yang melihatnya berpikir jika Agam seperti gorila. Agam berjalan untuk membuka balkon kamarnya. Udara yang segar langsung menusuk tubuh, karena hujan baru saja menyapa bumi.
"Dasar psikopat nggak waras!" teriak Alea dengan frustasi.
***
Seorang laki-laki bertubuh atletis telah sibuk memilih baju untuk perempuan yang di sayangnya. Dengan di bantu oleh desainer ternama, Alex memilih warna yang Alea suka. Warna pastel.
"Ceweknya pasti cantik," kata salah satu pegawai butik tersebut.
Alex tersenyum manis sembari menganggukkan kepalanya, "selain cantik, dia juga beda dari yang lain,"
"Wah Alex sudah ngerti pacaran, ya? Dulu waktu kecil kamu lari-lari sambil pakai ****** ***** aja, sekarang sudah ngerti pacaran," kata seorang wanita paruh baya yang baru saja datang. Wanita paruh baya itu adalah pemilik butik ini.
"Tante Anya bisa aja," celetuk Agam. Agam kenal dengan pemilik butik ini karena pemilik butik ini adalah teman dekat Mamanya.
"Nanti jangan lupa undangan ya, Lex."
"Of course, Tante," kata Alex sembari tersenyum.
Alex sengaja membelikan Alea baju karena minggu depan, Alex akan bertekad untuk melamar Alea. Alex tidak mau kehilangan perempuan itu lagi. Karena baginya, Alea sudah menjadi segalanya baginya. Niat Alex memang tulus untuk Alea.