
Alea membanting sendok dan garpunya di atas piring kaca putih dengan keras sehingga menimbulkan suara dentingan yang cukup nyaring. Selera makan Alea jadi hilang seketika karena Bundanya yang tiba-tiba saja menyuruh Alea tinggal dengan Agam. Alea cukup kesal.
"Alea nggak mau Bunda. Alea itu anak Bunda. Alea nggak mau tinggal sama psikopat itu," sergah Alea dengan wajah yang kesal, "Bunda tega banget nge-jual Alea ke psikopat itu," lanjut Alea yang langsung mendapatkan sentilan di dahi Alea oleh Alion.
"Kalo mau ngomong di filter,"
"Ini juga udah filteran paling bagus. Kalo emang dasarnya jelek, ya emang jelek," tukas Alea kesal.
Bundanya menatap Alea dengan senyuman yang lebar. Alih-alih merespon tanggapan Alea, Bundanya malah menggodanya, "Bunda kepengen cucu," celetuk tiba-tiba yang membuat Alea langsung mendelik menatap Bundanya.
"Bunda kenapa nggak sekalian aja bunuh Alea aja, sih? Sekalian Alea nggak bikin skripsi. Terus jadi ibu rumah tangga yang pengangguran,"
"Alea kan bisa minta tolong sama Agam buat bantuin ngerjain skripsi kamu. Agam itu orangnya pinter lho, Al," kata Bundanya yang membuat Alea memutar bola matanya malas.
"Pinter dari mana? Kerjaan aja luntang-lantung nggak jelas. Oh iya, jelas sih kerjaannya, jadi dukun cabul kan? Terus Alea nanti di nafkahin pake uang hasil nge-dukun. Bunda mau punya menantu yang nggak jelas asal-usulnya?" kata Alea sembari menatap malas Bundanya.
"Ya Allah Alea kenapa kamu jadi bilang kalo Agam itu dukun terus, sih? Kamu itu cuma nggak tau aja,"
"Bunda, Alea itu tahu semuanya. Neneknya aja juga dukun, kan?"
Alion hanya melirik sekilas Alea. Ia malas menanggapi Alea yang tidak ada ujungnya sama sekali. Alion juga lelah beradu argumen dengan adiknya itu. Bisa-bisa Alion lah yang akan mencekik lehernya sendiri.
"Pokoknya, Alea nggak mau tinggal sama dia!" tukas Alea dengan keras sembari kedua tangannya membentuk huruf silang besar ke udara.
"VALID NO DEBAT!" lanjutnya lagi.
"Terus kamu berangkat kuliah sama, siapa?"
"Pake mobil Alea sendiri lah Bunda,"
"Mobilnya udah Bunda jual," perkataan itu membuat Alea melebarkan matanya yang sipit. Sembari mulutnya menganga lebar karena terkejut bukan main.
"Kenapa Bunda, jual?!" tanyanya sembari berdiri dan menopangkan kedua tangannya di atas meja makan.
"Bunda harus bayar uang kuliah kamu yang nggak lulus-lulus. Coba kamu bayangin jadi Bunda,"
"Tapi nggak gitu juga kali Bunda. Kalo gitu, Alea ikut Abang aja,"
"NGGAK BISA!" Alion langsung menyergah perkataan Alea dengan cepat.
"Abang, ayolah! Gue ikut lo aja, ya? Lo kan biasanya nganter gue ke kampus. Lo sayang kan sama, gue?"
"Sekarang udah nggak lagi,"
"ABANG! ABANG TEGA BANGET SIH!" teriak Alea.
"Tega kenapa?" tiba-tiba suara bariton menimpali perkataan Alea. Alea menatap sengit seseorang yang baru saja duduk di sebelahnya.
"Ngapain deket-deket, gue?" tukas Alea sembari menggeser kursinya yang berat sembari menatap Agam dengan kesal.
"Memangnya salah ya dekat dengan istrinya, sendiri?" tanya Agam dengan santai sembari mengambil piring putihnya. Bundanya terkikik mendengar jawaban Agam.
"SALAH! SALAH BANGEEEET!" tukas Alea dengan suaranya yang menggelegar seantero dapur.
"Alea kamu kenapa, sih?" tanya Bundanya kalem.
"Alea lagi mencoba menikmati hidup, walaupun Alea tahu hidup ini akan seperti di neraka," tukas Alea dengan marah.
"Memangnya kamu sudah pernah berkunjung ke neraka?" pertanyaan Agam mampu membuat Alea semakin kesal sehingga Alea bangkit dari duduknya dengan kesal.
"ALEA NGGAK SELERA MAKAN!" teriaknya dengan marah.
Bunda Alea hanya terkikik geli melihat sikap Alea yang selalu saja meledak-ledak setiap saat. Tidak pernah sekalipun Alea berkata layaknya perempuan feminim. Putrinya itu malah seperti perempuan yang bar-bar.
"Maafin Alea ya, Gam. Alea memang gitu orangnya. Suka emosi nggak jelas. Telinga Bunda sampai mau copot karena suara teriakan Alea."
***
Sebuah mobil sport hitam telah terparkir manis di parkiran kampus. Pemiliknya keluar dengan menggunakan jaket levis biru muda. Sembari menggendong tas ransel hitamnya, Alex berjalan menyusuri koridor kampus. Lusa, kampusnya akan kedatangan tamu dari salah satu perusahaan ternama yang cukup ramai di perbincangkan di kalangan remaja. Perusahaan yang menjadikan siapapun ingin masuk ke dalamnya. Perusahaan yang menjadi mimpi para remaja, Maherson Group.
Alex menghentikan langkahnya untuk mengamati sebuah panggung yang berdiri kokoh di halaman kampus yang luas. Panggung tersebut yang akan di gunakan lusa nanti. Disana, ada banyak anggota panitia penyelenggara sedang sibuk menata segala ***** bengeknya.
Alex jadi ingat, kenapa ia bisa berdiri di sini. Di salah satu kampus yang dia inginkan sejak dulu. Bibirnya tersenyum ketika mengingat betapa menderitanya dirinya waktu kecil. Alex mempunyai sebuah mimpi yang hanya Alex saja yang mengetahuinya. Ia bertekad untuk mengejar masa depannya. Dan soal mencintai, Alex memang menyanyangi Alea. Baginya, Alea adalah salah satu sumber semangatnya untuk menggapai mimpinya. Cukup lama Alex memperhatikan Alea yang super berani. Alex belajar dari kebaikan Alea yang tidak pernah di sadari oleh orang lain. Dan Alex juga tahu jika Alea sudah di cap menjadi perempuan yang suka membuat onar. Namun bagi Alex, Alea adalah perempuan yang baik. Alea tidak pernah menangis karena hal-hal kecil. Alea tidak pernah malu makan banyak di depan Alex yang pada umumnya, perempuan harus menjaga image nya. Namun Alea malah terlihat santai. Alea selalu menikmati hidupnya walaupun emosi perempuan itu suka meledak-ledak. Bagi Alex, Alea perempuan yang lucu. Karena dengan segala tingkahnya yang aneh bisa membuat orang lain tersiksa maupun tertawa. Entahlah, itu juga termasuk klise dalam kehidupan.
Dari pertama kali melihat Alea, hati Alex yang beku menjadi cair. Seolah-olah es beku yang terkena sinar cahaya matahari. Dan menciptakan kehangatan.
Alex mengambil sesuatu yang berada dalam kantongnya. Sebuah kotak yang di lapisi kain beludru maroon. Ia membuka kotak kecil tersebut dan di dalamnya terdapatnya sebuah cincin emas polos. Terlihat cantik jika di pakai di jemari Alea. Alex memang bertekad untuk melamar Alea. Karena perempuan itu, Alex mampu melewati masa-masa sulit.
"Lex!" panggil temannya yang membuat Alex langsung memasukkan kotak kecil tersebut ke dalam sakunya lagi. Temannya menghampiri Alex untuk segera masuk ke dalam kelas, karena kelas akan segera di mulai. Alex sedikit kaget, padahal ini belum jam pembelajaran di mulai. Mungkin ada perubahan jadwal.
***
"Ngapain sih liat-liat?!" tukas Alea di dalam mobil dengan Agam.
"Memang salah melihat istri saya, sendiri?"
"Memang salah! Memang salah! Ya emang salah! Gue nggak mau di lihatin sama lo!! Bisa najis mata gue," tukas Alea dengan keras sehingga suaranya menggema seantero mobil Agam.
"Loh kan yang seharusnya najis mata saya, Alea. Saya yang melihat kamu, kenapa mata kamu jadi, najis?" Perkataan itu mampu membuat Alea naik pitam. Alea menoleh ke samping dan menatap tajam Agam yang dengan santainya tanpa mempunyai rasa bersalah. Otak Alea sudah ingin meledak saat ini juga. Ingin sekali Alea mencekik leher Agam sampai laki-laki itu meninggoy.
"Coba aja kalo nge-bunuh orang itu hal yang wajar, udah gue bunuh lo dari kemarin,"
"Alea, gimana kalo panggilannya di ganti aku-kamu? Kesannya kita suami istri biar--" Alea langsung menyela, "NGGAK MAU. TITIK. NGGAK MAKE KOMA!" serunya kesal.
"Lo ya lo, gue ya gue! Nggak ada yang namanya kita. Karena gue nggak cinta sama lo!"
"OGAH!!!"
Agam kembali fokus menyetir. Di dalam mobilnya tercipta kesunyian sehingga membuat Agam memutar musik untuk menghilangkan kehampaan yang berpendar. Mata Agam yang tajam melihat secuil debu yang menempel di boneka panda yang tertancap manis di depan kemudinya. Ia langsung mengelapnya menggunakan tisu yang tersedia di sebelahnya sembari konsen menyetir. Sedangkan Alea sudah menghadap jendela karena enggan menatap Agam yang menyebalkan. Sumpah demi apapun! Alea benci dengan manusia seperti Agam.
Alea terus menatap ke jendela kaca mobil. Ia juga ikut mendengarkan musik yang di putar oleh Agam. Ternyata, selera musik Agam juga tidak tahun 90 an. Alea kira Agam akan menyukai musik jaman dahulu. Ekor mata Alea juga melihat jika tangan Agam memegang sebuah tisu sehingga membuat Alea penasaran dengan apa yang di lakukan Agam terhadap tisu itu. Ternyata sembari fokus menyetir, Agam mengelap celah pinggiran mobilnya yang bersih. Kenapa harus, dilap?
"Lo konsen nyetir nggak, sih?! Gue nggak mau mati muda ya karena lo nggak konsen bawa mobilnya. Kalo gitu turunin aja gue di sini. Biar gue naik taksi aja," tukas Alea dengan kesal.
"Jangan marah-marah, bisa cepat tua lho, Al."
"Biar aja tua. Biar lo cepet ceraiin gue,"
Tidak lama kemudian, mereka sampai di depan kampus Alea. Dengan Alea yang cepat-cepat turun dan meninggalkan Agam begitu saja. Agam hanya tertawa sendiri karena melihat tas Alea yang ketinggalan. Perempuan itu memang ceroboh.
Tidak lama, Alea kembali lagi membuka mobil Agam secara paksa, namun Agam malah mengerjainya dengan mengunci semua pintu mobilnya. Dan lihat, apa yang di lakukan Alea?
Perempuan itu berteriak-teriak tanpa memiliki rasa malu. Alea juga menggedor-gedor kaca mobil Agam dengan keras. Dan Agam terkejut bukan main ketika melihat apa yang akan di lakukan Alea. Alea membawa sebuah kayu yang berukuran besar yang ingin di pukulkan ke mobil Agam, dengan cekatan Agam langsung keluar.
"Jangan Alea. Saya beli mobil ini make tabungan saya sendiri," kata Agam dengan cepat.
Alea hanya menatap Agam dengan tajam lalu berjalan membuka pintu mobil depannya untuk mengambil tas nya yang tertinggal. Alea menutup pintu mobil Agam dengan keras.
"Hati-hati, Sayang," kata Agam sedikit keras yang membuat Alea bergidik ngeri. Psikopat itu telah membuat Alea frustasi.
Jadi, sebenernya di sini siapa yang benar-benar, frustasi? Alea karena Agam? Atau Agam karena Alea?
Alea berjalan menyusuri koridor. Ia menilik jam yang sudah menunjukkan pukul 10 pagi. Cepat-cepat Alea bergegas menuju kelasnya. Sepanjang koridor kampusnya, Alea sempat melihat panggung yang berdiri kokoh di tengah halaman luas kampus. Alea juga mengerti jika kampusnya akan kedatangan tamu dari salah satu perusahaan ternama. Yang konon katanya telah ramai di perbincangkan di kalangan remaja. Pemilik perusahaan Maherson Group rumornya masih memiliki usia muda. Tapi, tidak ada yang tahu sama sekali wajah dari pemilik perusahaan terbesar pertama di Indonesia itu. Dan bisa lolos tes masuk perusahaan tersebut adalah surga bagi orang-orang yang menggapai mimpinya.
Tanpa mengucapkan salam, Alea langsung duduk di bangku paling depan. Karena, bangku yang tersisa hanya di depan saja. Alea terlambat sepuluh menit dari jamnya. Ini semua karena Agam yang membuat Alea terlambat kuliah.
"Alea! Silahkan kamu menjawab soal-soal yang ada di papan tulis," pinta salah satu dosen yang berperut buncit.
"Loh, Pak! Kenapa jadi, saya? Saya kan baru saja datang. Mana paham," kata Alea sembari menatap dosen itu dengan sewot.
"Kamu berani melawan, saya?"
"Enggak, Pak!" tukas Alea dengan santai sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Lalu, apa? Kamu menolak perintah saya!"
"Saya nggak menolak, Pak. Saya cuma nggak bisa mengerjakan soal Bapak. Dari kalimat yang saya ucapkan, darimana terlihat menolak perintah, Bapak?"
"Keluar kamu, Alea!"
"Ya Allah, Bapak. Saya di sini menuntut ilmu tapi kenapa saya di keluarkan? Saya juga bayar lho, Pak,"
"Menuntut ilmu, menuntut ilmu! Tapi skripsi di tolak terus!"
"Kan manusiawi, Pak," tukas Alea yang membuat dosen killer itu kesal dengan Alea.
Sudah tidak satu atau dua kali saja Alea melawan dosen-dosennya. Alea yang bebal dengan berani menimpali perkataan dosennya yang sedang memarahinya. Biasanya, jika di jawab salah dan jika Alea diam saja juga salah. Lebih baik Alea ikut berbicara saja.
Perempuan itu juga pembuat onar kampus. Selain itu, Alea juga salah satu primadona kampus karena kecantikannya yang natural. Entah berapa harga natural yang di milik oleh Alea.
Alea menghela napasnya dengan kasar lalu bangkit dari tempat duduknya sembari berkata, "ya udah, Pak. Alea keluar aja," katanya dengan malas lalu kembali menutup pintu kelasnya dengan keras sehingga membuat dosennya menggelengkan kepalanya . Harus bagaimana menghadapi, Alea?
Alea berjalan menuju kantin kampus. Lebih baik, ia mengisi moody nya dengan seporsi martabak manis dengan ukuran mini. Seperti biasanya, ia akan memesan banyak varian supaya moody nya juga bertambah warna-warni. Karena hari ini telah menguras emosi Alea. Ini saja masih pagi, Apa lagi nanti?
Alea mendapat sebuah pesan dari Agam. Alea terkejut karena kontak nama Agam di ponselnya begitu alay. Siapa lagi pelakunya jika bukan, Agam? Tapi, Agam tahu dari mana kode pembuka kunci ponsel, Alea?
My sweet husband
Nanti jgn lupa makan siang + sholat dhuhur
Pesan singkat itu hanya berisi itu saja. Alea memutar bola matanya malas. Ia menghapus isi chat pesan dari Agam lalu cepat-cepat mengganti nama kontak Agam di ponselnya.
Psikopat Edan.
Alea menyimpan kontak Agam dengan nama seperti itu.
Tanpa harus di perintah, Alea juga bakal makan martabak manis yang banyak. Karena hanya makanan itu lah yang mampu membuat Alea menjadi tenang.
"Sayang?" tiba-tiba ada suara bariton yang membuat Alea harus menoleh menatap seseorang yang Alea sayang. Siapa lagi!
"Alex? Kamu ngg--" Alex menyelanya, "udah selesai kok," kata Alex sembari tersenyum manis menatap pacar kesayangannya.
Entah kenapa detak jantung Alea berdegup dengan kencang tiba-tiba. Alea telah membohongi Alex.
"Pasti pesen martabak manis lagi, ya?" tanya Alex.
Alea menganggukkan kepalanya, "kamu mau makan, juga?"
"Udah makan. Cuma mau nemenin kamu aja,"
"Ya udah di sini aja. Temenin aku makan, biar aku makannya semangat,"
Dan Alea sudah memutuskan suatu hal yang harus ia putuskan.
To be continued...
Sejauh ini komen kalian gimana soal cerita ini? Makasih yang udah mau baca.