Mr. Impeccable

Mr. Impeccable
8. H-1 menuju tunangan



"Astaghfirullah! Apa yang kamu lakukan dengan ikan kesayangan, saya?"


Suara bariton yang terdengar sangat terkejut karena melihat suatu hal yang tidak terduga di depan matanya. Alea dengan ikan kesayangan Agam.


Agam mendekati akuarium besarnya yang airnya sudah kotor. Yang lebih mengejutkannya lagi, ikannya sudah tidak bernapas lagi. Ikan tersebut mengambang ke atas permukaan. Membuat Agam menghela napasnya dengan panjang.


"Gue cuma ngasih makan aja. Katanya dia lapar, majikannya jahat nggak mau ngasih makan. Ya udah gue tumpahin semua biar dia kenyang," kata Alea tanpa mempunyai rasa bersalah sama sekali. Perempuan itu terlihat santai.


"Ikan saya jadi mati,"


"Ya udah beli lagi. Nggak punya, duit? Gue beliin. Gitu aja kok repot," kata Alea menggampangkan sesuatu.


"Om kenapa?" tiba-tiba Cherissa datang seraya membawa boneka barbie nya. Cherissa menatap Alea dengan kesal. Begitu pun sebaliknya, Alea juga memasang wajah marahnya untuk gadis kecil yang menurut Alea sangat menyebalkan. Jika di rumah ini tidak ada siapa-siapa, Alea sudah dari tadi menculik anak ini dan di buang ke laut. Walaupun sebenarnya, itu hanyalah bualan Alea saja. Tapi setidaknya, ia mengumpat di dalam hatinya untuk meredam emosinya yang akan meledak saat ini juga. Dan yang menjadi pertanyaan, kapan emosi Alea tidak meledak-ledak?


"Ya Allah, Om! Kenapa akualiumnya jadi kotol begitu?" Cherissa kaget setelah matanya menatap akuarium yang kotor. Gadis kecil itu langsung mendekati akuarium. Dan terkejut melihat ikan kesayangan Agam mati, "ikan Om mati!" tukasnya.


"Yang bunuh siapa, Om?"


"Heh! Anak kecil jangan ikut campur!" sergah Alea dengan kesal.


"Telselah aku dong tante," kata Cherissa galak.


"Cherissa masuk aja. Tantenya lagi mau latihan memelihara ikan," kata Agam membujuk Cherissa agar masuk.


Bicara-bicara, dimana Oma Rasya? Nenek lampir, itu?


Cherissa menganggukkan kepalanya dan berlari masuk sembari membawa boneka barbie nya.


Alea menatap Agam yang jauh lebih tinggi darinya. Ia harus mendongak sembari menangkup kedua tangannya di depan Agam, "plisss, gue nggak mau nikah sama lo. Karena ada hati yang harus gue jaga," kata Alea sedramatis mungkin. Agam hanya menatap Alea datar sehingga membuat Alea kebingungan dengan respon laki-laki itu.


"Gue bersihin nyapu halaman rumah lo deh. Asal kita nggak nikah, gimana?" tawar Alea sembari memohon pada Agam, "apa lo nggak kasian sama, gue? Skripsi gue terus di tolak, dan gue harus nikah. Sedangkan nikah, pasti punya anak. Terus gimana nasib skripsi, gue? Emang lo mau punya istri yang nggak lulus-lulus kuliahnya? Di luaran sana ban--" perkataan Alea di putus oleh Agam terlebih dahulu.


"Keputusan saya sudah bulat," kata Agam singkat, padat, dan jelas. Bahkan sangat jelas jika membuat Alea langsung lemas seketika. Alea harus memakai cara apalagi supaya Agam mau menggagalkan tunangannya. Alea sudah terduduk lemas di lantai dingin rumah Agam. Tetap saja Agam hanya menatap datar perempuan yang akan menjadi calon istrinya.


"Lo harus tau satu fakta lagi tentang gue," ucapnya dengan lirih. Mata sipit Alea sudah menatap nyalang ke lantai yang begitu dingin karena efek cuaca hujan.


"I'm lost virginity," bahkan kalimat itu terdengar seperti gumaman. Setelah mengatakan hal itu, Alea tidak sanggup lagi menatap kedua mata Agam. Alea menundukkan kepalanya dengan takut.


"Saya masih banyak kerjaan. Kamu bisa keluar sekarang," ucap laki-laki bertubuh atletis itu dengan wajah yang datar, "kamu bisa pulang sekarang," lanjut Agam.


Alea dengan wajah melasnya langsung bangkit dari duduknya. Berjalan keluar dari rumah Agam. Jangan di tanya lagi seberapa bahagianya perempuan itu sekarang. Senyumannya yang lebar telah menampilkan kedua lesung pipinya yang semakin terlihat. Alea langsung mengucir rambut panjangnya asal dengan karet hitam yang selalu di bawa dalam kantong bajunya.


Karena pengakuannya, Agam pasti telah membatalkan pernikahannya. Dan hal itu tentu saja membuat Alea tersenyum senang bercampur sedih. Mungkin Alea sedih karena suatu hal.


Alea menelpon Bella dan Nitara setelah ia masuk ke dalam mobilnya. Mengajak kedua temannya untuk ngopi bareng di salah satu kafe. Waktunya Alea merayakan puncak kemenangannya dengan kedua sahabatnya itu. Dan tentu saja, Alea akan makan banyak martabak manis dengan porsi besar hari ini. Sudah dua hari ia tidak memakan makanan manis itu. Manis seperti Alea. Haha!


Dengan kondisi yang masih hujan, Alea tidak mengumpat kasar karena ini adalah kemenangannya. Karena kemenangannya lebih berharga daripada mengumpat untuk hujan yang deras.


Alea menikmati perjalanannya walaupun ia hanya bisa melajukan mobilnya dengan pelan. Alea memutar musik dengan volume yang keras. Hatinya bergetar karena Agam pasti akan menolaknya.


***


Kemeja putih Alion berantakan karena ia baru saja keluar dari mushola yang berada di kantornya. Berjalan saja, laki-laki itu terlihat tampan jika di lihat dari sisi mana saja. Aura orang ganteng memang beda ya, Bun?


Setiap Alion jalan menyusuri lorong, ia bertemu dengan bawahannya yang menyapa Alion sembari menundukkan kepalanya. Alion memang terkenal dengan seseorang yang memiliki sifat otoriter, dan diktator. Siapapun tidak akan bisa membantah perintah Alion, kecuali Alea. Yups! Ada pengecualian untuk hal itu. Bahkan, Alion yang lebih memilih angkat tangan jika menghadapi sikap Alea yang super duper wow!


"Woy singa!" seseorang telah memanggil Alion ketika laki-laki itu ingin membuka pintu ruangannya. Ia berbalik dan melihat siapa yang datang. Siapa lagi jika bukan Angga CS. Teman Alion ketika ia masih duduk di bangku sekolah menengah pertama hingga saat ini. Hingga mereka melamar di perusahaan yang sama, Maherson Group. Namun, sayang jabatan mereka berbeda. Karena kinerja Alion yang bagus, sehingga membuat Alion cepat naik jabatan. Dan Alion tidak pernah sekalipun menyombongkan dirinya sendiri. Walaupun Angga masih di bawah Alion, ia juga tidak pernah iri dengan jabatan yang di dapatkan oleh Alion. Tapi, hati manusia siapa yang mengerti.


Manusia bisa saja berkedok baik. Entahlah, hidup di dunia ini terlalu banyak persepsi-persepsi yang muncul. Hati manusia gampang di bolak-balikkan oleh Allah swt. Tidak ada yang mengerti kecuali Allah swt.


"Dari mana, ente?" tanya Alion sembari membuka handle pintunya dan masuk ke dalam ruangannya yang dingin seperti Alion pada orang lain.


"Makan," kata Angga dengan santai lalu duduk di sofa empuk hitam yang berada di tengah-tengah ruangan Agam.


Alion duduk di kursi kebesarannya dengan santai sembari menyenderkan tubuhnya di sandaran kursi. Laki-laki itu sudah beberapa kali menghela napasnya dengan kasar. Entah apa yang di pikirkan oleh Alion sehingga membuat laki-laki itu harus berpikir keras.


"Ente nggak pengen, nikah?" tanya Angga tiba-tiba.


"Kagak!" tukas Alion.


"Kenapa?"


"Nggak papa!"


"Jawaban lo selalu klasik kalo di tanya,"


"Kepala gue pusing,"


"Makanya nikah," ujar Angga dengan santai.


"Apa hubungannya?"


"Sampai tua masa lo mau kerja, terus? Lo nggak pengen punya istri dan anak? Sedangkan, duit lo banyak, tajir, bos, sultan, pekerjaan juga sudah mapan. Lo mah tinggal pilih cewek mana yang lo suka," kata Angga yang membuat Alion malah menghembuskan napasnya dengan kesal.


"Mending kalo lo pengen selamat, lo keluar dari ruangan gue. Lama-lama kepala gue bisa pecah,"


Alion melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan besarnya yang sudah menunjukkan waktu pulang kerja. Karena malam ini ia tidak ada kerjaan, jadi Alion tidak lembur. Ia langsung bangkit dari duduknya untuk mengambil jas hitamnya yang tergantung manis di gantungan khusus.


"Mau ngopi, bareng?" Angga menawari Alion yang langsung di angguki mantap oleh Alion. Karena di luar sedang hujan, lumayan untuk menghangatkan badannya.


Mereka kini berjalan keluar dari ruangan Alion dan memasuki lift untuk menuju ke lantai bawah. Hanya keheningan yang menemani mereka berdua di dalam lift tersebut.


Hingga akhirnya mereka sampai di lantai bawah. Salah satu resepsionis telah memanggil Alion dengan sopan. Alion berhenti.


"Kenapa?"


"Tadi ada seseorang yang menitipkan ini," kata resepsionis itu sembari memberikan sebuah amplop putih pada Alion, "karena belum membuat janji dengan Pak Alion, saya tidak bisa langsung memberikan izin untuk bertemu dengan Pak Alion,"


"Terima kasih," kata Alion datar.


"Sama-sama, Pak," perempuan itu langsung kembali ke tempatnya setelah memberikan sebuah amplop entah yang berisi apa.


"isinya, apa?"


"Paling undangan Perusahaan," ujar Alion dengan santai sembari berjalan menuju basement parkiran.


Perusahaan yang di tempati Alion bekerja memang cukup terkenal mendunia. Perusahaan yang berkecimpung di dunia teknologi itu telah memiliki banyak anak cabang di luar negeri. Dan setiap setahun sekali, perusahaan itu akan membuka lowongan pekerjaan. Dan jika bisa lolos mengikuti seleksi untuk bekerja di perusahaan Maherson Group, adalah surga bagi anak-anak yang memang benar-benar mengejar mimpinya. Perusahaan tersebut juga ramai di perbincangkan di kalangan remaja yang ingin benar-benar mengejar mimpinya. Setiap tiga bulan sekali, pasti di adakan bimbingan untuk berhasil lolos masuk perusahaan Maherson Group. Maherson Group adalah mimpi remaja yang harus di gapai.


Dua laki-laki berjas hitam itu memasuki sebuah mobil sport milik Alion. Angga langsung memutar musik dengan pelan untuk menikmati hujan di sepanjang jalan. Sebelum melajukan mobilnya, Alion mengirimkan pesan untuk Alea. Hati Alion tidak tenang jika seharian ini ia tidak mendapatkan kabar dari adiknya yang super duper menyebalkan. Alion lebih sering mengantar Alea pergi ke kampus ketimbang Alea membawa mobilnya sendiri. Jika Alea membawa mobilnya sendiri, pikiran Alion tidak tenang karena adiknya itu sangat ceroboh. Entah menurun dari siapa sikap Alea yang justru melenceng jauh dari Bundanya.


"Adik lo aman," Angga sampai begitu hapal dengan tingkah Alion. Karena sikap perhatian terhadap adiknya, sudah Angga ketahui dari ia masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Alion akan melakukan apapun untuk adiknya.


"Lo masih aja posesif sama adik lo yang udah gede," ucapan Angga membuat Alion melirik laki-laki itu sekilas lalu kembali fokus menyetir.


"Karena dia adalah adik gue satu-satunya," kata Alion mantap.


"Jawaban lo selalu klasik!"


Alion tidak menanggapi Angga. Ia hanya fokus menyetir di tengah guyuran air hujan. Alion sangat menyukai hujan. Karena hujan adalah salah satu rahmat dari Allah swt. Dimana, semua makhluk hidup bisa bertahan hidup. Alion juga menyukai aroma tanah kering yang tersiram air hujan. Seakan-akan, hatinya juga ikut dingin.


Alion berpikir jika kuasa Allah swt begitu besar. Allah SWT begitu banyak menciptakan keindahan di muka bumi ini. Mulai dari pemandangan, benda-benda, bahkan manusia. Dan bagaimana bisa ada pergantian siang dan malam. Mungkin secara ilmu ilmiah ada kajiannya.


Alion memarkirkan mobilnya di basement salah satu kafe ternama yang ada di Kotanya. Mereka turun dengan jas hitam mereka yang sedikit lusuh. Alion menghampiri salah satu mobil sport yang parkir sedikit jauh dari mobilnya, lalu mengetuk depan pintu mobil tersebut dengan pelan sehingga keluarlah seseorang dari dalam mobil tersebut.


Agam yang hanya memakai kaos oblong hitam, serta rambutnya yang berantakan membuat laki-laki itu langsung menyisir ke belakang rambutnya. Gayanya yang terlihat cool membuat siapapun akan sesak napas melihat ketampanan Agam. Mungkin itu persepsi yang menggelikan, namun itu lah yang sebenarnya. Agam selalu menawan dengan tampilannya. Namun, kerjaan laki-laki itu tidak jelas. Luntang-lantung seperti bola yang di tendang kesana kemari. Entahlah, sebenarnya Agam bekerja atau tidak?


Mereka bertiga berjalan bersama untuk memasuki kafe tersebut. Layaknya sebuah film action, mereka berjalan dengan slowmotion. Mereka terlihat seperti mafia yang ingin menerobos masuk ke dalam kafe. Mereka menjadi pusat perhatian pengunjung kafe.


"Gaya kita cool bener, yak."


"Cool gimana? Gue kedinginan, butuh kafein," celetuk Alion menanggapi Angga.


Agam mencari tempat duduk paling pojok dekat dengan jendela. Suasana kafe itu terlihat tentram. Musik yang di putar pun membuat hati ikut tenang. Apalagi di musim hujan seperti ini di tambah kafein.


"Nggak kerja lo, Gam?" Angga bertanya setelah memesan kopi.


Agam menggeleng, "lembur tadi malem,"


"Lembur terus lo,"


"Kejar setoran kalo kata Alion," kata Agam. Tangan Agam selalu membawa pematik api yang cantik. Entah kenapa Agam selalu membawanya kesana kemari. Dan di bukanya lalu di tutupnya kembali. Terus begitu berulang-ulang.


"TAPI GUE NGGAK MAU NIKAH MUDAAA!" tiba-tiba ada suara teriakan yang cukup keras sehingga membuat menarik perhatian seluruh pengunjung kafe itu serta perhatian Agam, Alion dan Angga. Tadinya suasana kafe yang begitu tenang, kini menjadi riuh karena suara teriakan perempuan itu. Dan tunggu sebentar, Alion seperti mengenal suara itu.


Alion langsung bangkit dari tempat duduknya untuk mencari sumber suara tersebut. Ia melihat Alea dengan teman-temannya yang sedang menunduk malu karena perbuatan Alea. Alion kembali duduk dan memijit dahinya pelan. Kepala Alion ingin pecah saat ini juga. Bagaimana bisa perempuan itu ada, di sini? Memang benar jika Alea tidak membalas pesan Abangnya dia akan pergi ke sebuah pesta untuk merayakan kemenangan. Tapi Alion tidak bertanya lebih lanjut kemenangan apa yang di rayakan oleh Alea.


"Kenapa, Al?" tanya Angga.


"Itu bukan adek gue, kan?" tanyanya yang entah di tujukan untuk dirinya sendiri atau pada kedua temannya.


Alion kembali berdiri dan langsung menghampiri Alea. Abangnya langsung menarik paksa tangan Alea. Tentu saja Alea yang terkejut spontan ikut berdiri. Teman-teman Alea sudah menundukkan kepalanya dengan takut jika Alion datang seperti ini. Nitara dan Bella memang takut dengan Alion yang super galak dan pemaksa. Sifat Abangnya yang tegas membuat teman-teman Alea yang bermain kerumahnya menjadi takut.


"ABANG LEPASIN!" teriak Alea tanpa malu-malu. Bagaimana Alea malu jika urat malunya saja sudah, putus?


"Kalo gue nggak sayang sama lo, gue janji bakalan menggelemin lo ke Palung Marina yang nggak terjamah oleh makhluk hidup," geram Alion sembari menarik paksa Alea.


Sedangkan, Angga terkikik geli melihat CEO setampan Alion telah menggandeng adiknya yang super bebal. Sikap Alea memang berbanding terbalik dengan Alion.


"Mereka udah kebiasaan kayak gitu sejak dulu," celetuk Angga setelah tertawa geli melihat Alion dan Abangnya.


"Dan Alea memang wanita yang berbeda dari yang lain," tukas Angga lagi.


Agam tidak menanggapi perkataan Angga, ia hanya sibuk melihat Alea dan Alion yang saat ini berjalan menuju ke parkiran sembari mulut Alea yang berteriak kesal karena Abangnya merusak perayaan kemenangannya. Dan tangan Agam, juga sibuk memainkan pematik apinya yang cantik.


Perempuan yang berbeda...


To be continued...


Yuhuuuuu update lagi. Hehe. Jangan lupa follow ig + tiktok aku yaa @meigasellaap