Mr. Impeccable

Mr. Impeccable
12. rumah Agam



Alea makan dengan lahap. Seperti biasanya, Alea memesan martabak manis yang berada di kantin kampus. Perempuan itu sudah habis dua loyang martabak manis dengan varian rasanya serta minuman bersoda bercampur dengan susu. Surga dunia senikmat itu. Sudah beberapa kali Alea bersendawa namun tidak kunjung berhenti makan. Perutnya terbuat dari karet ban, bisa molor.


"Gila! Lo nggak takut gendutan?" Bella bertanya setelah menyeruput minuman cokelatnya yang hampir tandas. Mereka memang tidak ada bedanya. Bahkan ada beberapa teman mereka yang mengatakan jika mereka kembar. Alea dan Bella sempat menolak dengan mitos itu.


"Ya ngapain takut gendutan. Gue udah nggak perduli lagi," kata Alea sembari mengunyah makanannya dengan lahap. Alea juga tidak peduli lagi jika teman-teman sekampusnya mencibirnya.


"Mentang-mentang udah halal," Alea langsung melempar potongan martabaknya ke arah Bella yang menatapnya tajam. Bella sudah mengumpat dengan keras karena potongan martabak manis tersebut telah tepat mengenai pipinya sehingga topping cokelat yang ada pada martabak tersebut mencoret pipinya.


"Dasar nggak waras!" tukas Bella dengan kesal sembari mengelap bekas cokelat yang ada di pipinya.


Alea memang mengancam Bella dan Nitara untuk menjaga rahasia atas pernikahannya dengan Agam.


"Alea, makanan jangan di buang-buang, mubazir," Nitara berkata dengan kesal.


"Serah gue dong! Duit-duit gue!"


"Ya walaupun duit lo sendiri, lo pernah bayangin nggak gimana sengsaranya jadi orang-orang yang nggak bisa makan diluaran, sana?"


"Enggaklah! Gue gue! Mereka mereka! Karena manusia sekarang itu hanya berkedok belakang! Ngakunya aja nggak bisa makan, eh sekalinya shopping nya ngabisin duit jutaan," Alea berkata sembari menyuapkan potongan cokelat milik Bella sehingga membuat Bella merengut kesal karena jatahnya di ambil oleh Alea.


"Jaga ucapan lo!" sergah Nitara cepat.


"Kenapa gue harus jaga mulut gue sendiri?"


"Ya nggak semua orang kayak gitu,"


Alea hanya menggedikkan bahunya dengan pelan lalu kembali menyeruput minumannya. Bagi Alea, semua orang ia anggap pembohong. Entah karena apa sehingga ia mempunyai persepsi seperti itu. Mungkin ia trauma dengan pengalaman yang pernah ia alami. Entah seperti apa pengalaman Alea sehingga menciptakan hatinya yang keras. Alea tidak pernah peduli dengan orang lain. Alea tidak pernah peka terhadap orang lain. Tapi, itu semua ada alasannya.


Suasana hari ini tampak ramai karena hari ini kampus mereka telah kedatangan tamu dari salah satu perusahaan yang cukup terkenal, Maherson Group. Kantin juga tampak ramai dua kali lipat dari sebelumnya. Di tempat terjauh dari Alea duduk, sudah ada kerumunan yang mengarah ke kantin. Alea melihat jika beberapa orang dengan menggunakan jas hitam terlihat berjalan menuju kantin dengan di ikuti beberapa panitia penyelenggara acara. Alea melihat seseorang yang berjalan paling depan dengan gayanya yang sok cool membuat Alea ingin muntah. Siapa lagi! Abangnya tercinta!


Alea memperhatikan gerak-gerik Alion yang memasuki kantin kampus dengan wajah yang songong. Ingin sekali Alea mencekik leher Alion saat ini juga. Bagi Alea, Alion adalah Abang yang durhaka untuk adiknya. Adiknya di jadikan tumbal olehnya. Dasar tidak berperikemanusiaan. Alea tahu pasti jika saat ini Abangnya sedang terbang ke langit tujuh karena sekarang Abangnya menjadi sorotan para perempuan-perempuan kampus. Memang sih! Abangnya memang tampan da tubuhnya yang tinggi juga atletis membuat kaum hawa pasti akan terpesona dengan Abangnya. Walaupun Alea dengan berat hati mengakui hal itu.


Alea mulai mendengar bisak-bisik orang-orang di sekitarnya yang lupa dengan makanan mereka karena Alion telah mengalihkan perhatian mereka.


Ganteng banget yak...


Itu CEO Maherson Group, kan?


Alamak! Gue juga mau jadi bininya.


Rumornya, dia masih bujangan kan.


Kalian semua nggak usah ngayal tinggi-tinggi, orang kayak kita nggak bakal di lirik ama CEO sekeren dia. Apalah daya hanya sebatas halu belaka...


Begitulah cara mereka mengangumi Alion. Sedangkan, Alea yang mendengarkan pujian itu malah ingin muntah. Melihat wajah Alion saja, Alea ingin membunuh Abangnya sendiri. Abangnya hanya mencari sensasi saja. Alea kesal dengan Alion.


"Itu Abang lo kan, Al?"


Alea tampak tidak peduli dengan pertanyaan Nitara. Alih-alih Alea yang menjawab, Bella malah menggoda Nitara, "iya bener. Suka ya, lo? Suka nggak? Suka? Suka lah masa enggak!" Lalu, Bella tertawa sendiri. Bella bisa melihat jika pipi Nitara memerah karena ia menggodanya.


"Enggak lah! Masa suka!" Nitara berkata dengan judes.


Bella menatap Nitara dengan curiga, "masa nggak suka. Gue aja suka,"


Alea langsung menggebrak meja dengan keras sehingga menarik perhatian seluruh orang-orang yang ada di kantin, terutama Abangnya.


"Nggak mutu banget sih!" tukas Alea dengan kesal. Entah kenapa emosi Alea selalu meledak-ledak tidak jelas. Alea sempat melirik sekilas Abangnya dengan kesal. Perempuan itu bangkit dari tempat duduknya dan berjalan meninggalkan kantin. Kedua mata sipit Alea menatap Alion dengan tajam sembari mencibir Abangnya di dalam hati. Dan dengan sengaja, Alea menabrak bahu Alion dengan kesal. Namun dengan cekatan, Alion langsung memegang tangan Alea dan menariknya.


"Lepasin, Bang!" tukas Alea dengan kesal sembari meronta.


Tentu saja Alea sedang menciptakan kehebohan lagi di dalam kantin dan di mana saja jika ada Alea pasti akan heboh.


"Lepasin!" Banyak mahasiswa yang kebingungan dengan situasi saat ini. Ada hubungan apa antara Alea dengan CEO Maherson Group? Apa jangan-jangan, mereka berpacaran? Semuanya berpikir seperti itu.


"Adik durhaka!" celetuk Alion dengan tiba-tiba yang membuat seluruh pasang mata menjadi terkejut karena perkataan Alion. Ternyata!


"Biar aja! Lo juga Abang durhaka!" ejek Alea balik. Hal itu membuat seluruh orang-orang yang berada di kantin heboh seketika.


Alea langsung meninggalkan Abangnya begitu saja. Nitara dan Bella mengikuti Alea dengan berlari mengejar perempuan itu. Tidak henti-hentinya mereka memanggil Alea yang berjalan dengan cepat.


Hingga di pojokan gedung fakultas kedokteran, Alea menabrak seseorang. Membuat Alea terhuyung ke belakang. Namun, dengan cekatan seseorang itu menangkap tubuh Alea dengan cepat supaya Alea tidak terjatuh ke belakang.


"Kamu nggak papa, Sayang?" Alex bertanya sembari membantu Alea menegakkan tubuhnya.


"Alex," gumam Alea.


"Kamu kenapa kok ngos-ngosan, gitu?" tanya Alex sembari memperhatikan Alea yang ngos-ngosan.


"Nggak papa kok,"


"Mau makan, martabak?" tawar Alex. Namun, Alea menggeleng hingga membuat Alex penasaran, kenapa Alea menolak tawarannya. Apalagi soal martabak manis.


"Katanya kamu mau ikutan ke tengah lapangan. Ntar kalo kamu ketinggalan acaranya, gimana?" tanya Alea. Alea mengerti Alex. Alea juga mengerti jika mimpi Alex tinggi. Alea sering memberikan semangat untuk laki-laki itu.


Alex menggeleng, "nggak papa kok kalo demi kamu. Aku sadar kalo selama ini, aku terlalu egois. Aku jarang ada waktu buat kamu," kaya Alex sembari tersenyum manis untuk Alea.


Terlambat, Lex...


"ALE-a...," tiba-tiba suara Bella yang meneriaki nama Alea merendah karena melihat Alea dengan Alex yang cukup dekat. Bella dan Nitara sedikit terkejut. Sepertinya, Alex belum mengetahui suatu hal.


"Alea, gue ke kantin yak," kata Bella langsung menarik tangan Nitara dengan paksa.


"Ya udah yuk makan martabak manis kesukaan aku," kata Alea sembari menggandeng tangan Alex untuk menuju parkiran.


***


"Aku dengar kamu bikin keributan lagi. Benar?" Seorang laki-laki bertubuh atletis telah bertanya pada Alea. Sedangkan, yang di tanya hanya asik dengan kegiatan makannya. Tadi, setelah pulang dari kampus, Alea mampir untuk membeli martabak manis. Alea menganggap jika ia sedang sendirian.


Agam memberikan segelas susu putih untuk Alea yang ia letakkan di depan Alea. Dan dengan cekatan, Alea langsung menyeruput susu buatan Agam hingga setengah gelas lalu bersendawa keras tanpa malu di depan Agam. Maklum jika urat malu Alea sudah putus.


"Alea aku bertanya lho,"


"Gue nggak mau jawab!" kata Alea singkat sembari mengunyah makanannya.


"Lalu, fungsinya mulut kamu itu, apa?"


"Buat makan martabak manis lah! Bukan buat mencibir orang yang unfaedah," kata Alea dengan kembali fokus makan lagi.


"Aku tanya apa, kamu jawabnya kemana,"


"Nggak kemana-mana," kata Alea sekenanya.


"Besok saya ada urusan keluar kota," kata Agam memberitahu Alea.


"Gue nggak nanya! Terserah lo nggak balik juga nggak apa-apa,"


"Beneran? Nanti kangen saya,"


Alea langsung ingin muntah. Dengan cepat-cepat Alea mencari wastafel untuk memuntahkan makanannya. Bisa-bisanya Agam berkata sepercaya diri seperti itu.


Agam mendekati Alea yang muntah.


Tiba-tiba ada suara bel pintu rumahnya yang berbunyi.


"Muntahnya di banyakin, aku mau buka pintu dulu," perkataan itu membuat Alea semakin kesal dengan Agam.


Agam berjalan menuju ruang tamunya dan membuka pintu rumahnya. Agam tersenyum manis ketika melihat mertuanya yang datang dengan Oma Rasya serta Alion. Agam mempersilahkan masuk mereka.


"Rumahnya besar banget, Gam," kata Bunda Alea sembari mengamati gaya rumah Eropa klasik tersebut. Entah kenapa Agam menyukai desain eropa klasik. Pertama kali Alea masuk ke dalam rumah memang Alea sedikit terkejut. Namun, pikiran Alea hanya, Agam mendapatkan rumah semewah ini juga paling hasil ngepet. Karena Agam adalah dukun cabul. Mudah saja untuk Agam yang mencari pesugihan karena Agam berkecimpung di dunia perdukunan.


...


...


"HASIL NGEPET!" teriak Alea sembari berjalan keluar dari dapur sembari di tangannya membawa sepotong martabak manis.


"Astaghfirullah," Bundanya kaget melihat penampilan Alea yang sudah mirip dengan berandalan jalanan yang tidak makan selama sebulan. Bundanya langsung menghampiri Alea sembari menatap tajam Alea.


"Alea kamu apa-apaan, sih? Kenapa jadi perempuan nggak bisa feminim, banget? Dan jaga ucapan kamu!"


"Alea tampil dengan cara Alea sendiri. Dan, Alea nggak bisa ngejaga mulut Alea sendiri yang suka asal nyeplos. Jadi, jangan salahin Alea."


"Tapi ya nggak gitu juga konsepnya Bambang!" tukas Bundanya sembari menatap tajam Alea. Bundanya menghela napasnya dengan panjang karena kelakuan Alea yang tidak berubah sama sekali.


Abangnya mendekati Alea dan langsung mengacak rambut Alea dengan cepat sehingga membuat perempuan itu marah karena rambutnya jadi kusut karena Abangnga, "Kurang ajar lo!" tukas Alea dengan kesal. Bundanya mencoba memisahkan mereka lalu mengajak duduk di ruang tamu.


Dengan Alea yang memasang wajah cemberutnya, ia ikut bergabung duduk di antara Agam dan Abangnya. Perempuan itu terlihat mungil di antara laki-laki yang sama-sama bertubuh atletis itu.


"Alea, kamu orangnya sederhana, ya? Oma jadi suka," Oma Rasya mulai angkat bicara sembari menatap Alea dengan senyuman yang manis.


"Oh jadi itu istli Om Agam. Jelek ya, Oma? Nggak kayak Cece yang cantik," Alea baru menyadari jika ada anak kecil yang waktu itu berada di rumah dukun cabul itu. Alea kesal dengan anak kecil itu.


Alea bangkit dari duduknya, namun dengan cepat, kedua lengan Alea telah di tarik kembali duduk oleh Agam dan Abangnya. Tentu saja membuat Alea duduk lagi karena ia tidak kuat melawan tenaga Agam dan Abangnya.


"Kurang ajar lo bocah cilik! Jaga omongan lo ya! Masih kecil aja belagu! Gimana udah, gede? Mau jadi, berandal?!" Fisiknya duduk, namun mulutnya angkat bicara sembari menatap tajam Cherissa yang menatap Alea tanpa rasa takut sama sekali. Malahan, anak kecil itu terlihat menantang Alea.


"Alea! Itu hanya anak kecil,"


"Anak kecil kalo nggak di ajarin soal adab kalo udah gede mau jadi, apa?" kata Alea. Tidak pernah sekalipun Alea berbicara dengan santai. Perempuan itu jika bicara pasti menggunakan otot-ototnya.


"Jadi kayak lo, kan?" tiba-tiba Alion menimpali perkataan adiknya. Tentu saja Alea semakin kesal dan meledak-ledak. Entah nyidam apa Bundanya dulu sehingga membuat Alea menjadi seperti bom yang akan siap meledak di setiap waktunya.


"Sorry ya, Bang! Gue nggak kayak dia,"


Sedangkan, Oma Rasya malah tertawa melihat sikap Alea yang menggemaskan jika marah.


"Apa lo nenek tua ketawa-ketawa?" Alea melirik Oma Rasya dengan kesal. Abangnya langsung menangkap kepala Alea dan di jepit antara tangan dan ketiak Abangnya. Alea meronta dengan keras karena bau ketika Abangnya yang sudah mirip dengan sampah yang membusuk.


"Abang lepasin!" tukas Alea dengan kesal sembari meronta.


Oma Rasya malah tertawa melihat tingkah Alea yang lucu.


"Maaf ya Oma Rasya, Alea memang begini orangnya. Suka ceplas-ceplos nggak jelas. Mulutnya nggak bisa di rem," kata Alion dengan malu sembari menundukkan kepalanya pada seorang nenek yang baru saja menyudahi tertawanya.


Alion semakin mengeratkan jepitan pada kepala Alea yang semakin hari semakin otaknya hilang.


"Dia memang manusia yang unik," Agam angkat bicara.


"Dasal tante nggak cantik!" Cherissa semakin menggoda Alea yang sudah mirip dengan cacing kepanasan.


Bundanya dan Oma Rasya tertawa karena Cherissa yang lucu sedang melawan Alea. Alea juga tidak mau kalah dengan Cherissa.


"Iya, tante Alea emang nggak cantik," Alion menambahi sehingga membuat Alea kesal.


"Oh ya udah kalo gitu adik lo, anak kecil nakal itu aja!" tukas Alea sembari masih meronta di jepitan Alion.


Alion tertawa sembari melepaskan Alea dan langsung membuka kedua tangannya agar Cherissa datang ke pelukannya. Pertama kali Alion melihat Cherissa langsung menyukai perempuan kecil itu. Karena sikapnya yang lucu, membuat Alion ingin menculik gadis kecil itu.


"Sialan!" umpat Alea sembari membenarkan tatanan rambutnya. Lalu, Agam dengan tiba-tiba mengacak-acak kembali rambut Alea dengan gemas sehingga membuat perempuan itu langsung mengeluarkan taringnya hendak memakan Agam.


"Kalian kalo kesini cuma mau ngerusak moody aku, mending pulang aja deh,"


"Emang!" kata Cherissa dengan sewot yang membuat Alea menatap tajam gadis kecil itu.


"Alea, kapan kamu punya, anak?"


To be continued...