
Alea menyiram seorang perempuan dengan minuman cokelat dingin yang baru saja di belinya. Sehingga membuat perempuan itu marah karena bajunya kotor karena siraman minuman Alea.
"Ups, Sorry! Kayaknya gue salah buang sampah. Gue nggak punya mata buat melihat. Gue kira lo tempat sampah," tukas Alea dengan geram yang membuat perempuan yang di depannya mengumpat keras.
"Dasar nggak punya otak!" tukas perempuan yang bernama Laras itu.
"Emang gue nggak punya otak. Baru tau, lo?" kata Alea sembari memasang wajah sombongnya.
Saat ini mereka menjadi tontonan seluruh kampus. Dan hal seperti ini sudah tidak sekali dua kali saja. Alea lah yang menjadi penyebab kerumunan itu. Alea dengan segala keahliannya mampu membuat keonaran. Perempuan itu memang pantas jika di beri gelar tukang onar. Sehari saja tidak membuat masalah, hati Alea terasa hampa dan kampus akan merasa sepi. Menjadi pusat perhatian orang juga termasuk salah satu dari daftar list kehidupan Alea.
"KURANG AJAR BANGET LO!!" Laras berteriak. Perempuan itu yang notabene adalah senior Alea menjadi korban hari ini. Jangan di tanya seberapa jengkelnya Laras dengan Alea yang malah bersikap santai seolah-olah, Alea tidak melakukan kesalahan. Laras mendorong Alea hingga Alea sedikit terhuyung ke belakang. Alea tampak bersikap santai karena perlakuan itu.
"Emang!" kata Alea dengan nada yang cukup santai.
"Nggak usah sok nyari muka di publik lo! Kasian banget hidup lo. Sampek nyari perhatian publik," cecar Laras dengan keras.
Ujung bibir Alea tersenyum lalu berkata, "tebakan lo tepat banget! Gue emang nyari sensasi doang kok di dunia ini. Gue emang mengakui hal itu, karena gue juga munafik kayak lo!" kata Alea sembari mendekat ke arah Laras dan membuat Laras mundur perlahan, "lo tau munafik, kan? Yang mukanya ada atau sepuluh itu, ya?" kata Alea sembari pura-pura berpikir.
"Emang bener ya, terkadang menjadi seperti seorang bocah itu lebih menyenangkan, Ketimbang harus jadi SOK dewasa tapi munafik," kata Alea lagi yang membuat Laras semakin mundur perlahan karena Alea yang terus maju.
Bukan Alea namanya jika berjalan mundur.
Laras mendorong Alea lagi. Namun, tidak membuat Alea berjalan mundur. Perempuan itu malah semakin menatap tajam Laras. Di tambah lagi cuaca yang panas karena sinar matahari semakin naik berada tepat di kepala ratusan mahasiswa yang melihat kejadian itu. Suasana semakin riuh karena sorakan mahasiswa laki-laki yang paling semangat menonton kejadian seperti ini. Dan mahasiswa mana yang tidak mengenal, Alea yang dengan keahliannya mampu menggemparkan seisi kampus. Sudah menjadi kebiasaan perempuan itu untuk mengacau segala hal.
Sehingga salah satu dosen muncul untuk membubarkan kerumunan itu. Sebagian mahasiswa bersorak sedih karena tontonan yang bagi mereka seru akan segera berakhir.
"ALEA! KAMU BIKIN DOSA APA, LAGI?" teriak dosen yang wajahnya terlihat tua namun tetap kharismatik. Alea bisa menduga jika dosennya itu pasti di sukai banyak perempuan ketika masih muda. Terlihat dari bentuk tubuhnya yang masih segar walaupun usianya sudah separuh baya. Dan yang di tanyakan dosen itu bukan ulah apa lagi, namun dosa apa lagi yang di lakukan oleh Alea. Karena tingkah Alea yang semakin hari semakin menjadi monster yang tidak terduga. Bukan kecil-kecil cabe rawit. Tapi kecil-kecil monster kingkong.
"Alea nggak bikin dosa kok, Pak," kata Alea sembari mengikat rambutnya yang panjang dengan asal.
"Lalu ada apa?!" tukas guru itu lagi. Beliau sudah tidak tahu harus memberi hukuman apalagi untuk Alea. Karena semua hukuman yang diberikan beliau untuk Alea sudah tidak mempan sama sekali.
"Kamu itu kuliah niat nyari ilmu apa cuma nyari masalah, Alea? Bapak sampai tidak tahu lagi harus bagaimana menghadapi tingkah kamu yang sudah mirip dengan kingkong,"
"Nyari ijasah lah, Pak. Gimana sih Bapak ini. Supaya bisa kerja terus nyari duit dan beli martabak yang banyak,"
"Dasar cewek sinting!" tukas Laras sembari menatap tajam Alea.
"Diem lo kutil badak!" sergah Alea.
Dosen itu menatap Laras untuk menyuruh Laras pergi dan hal itu membuat Alea menatap iri Laras, "Pak! Nggak bisa gitu dong. Kenapa cuma senior gila itu aja yang di bebasin?" Alea iri sembari menatap curiga dosen itu.
Alea mendekat kearah dosen itu sembari menatap curiga dosennya, "jangan-jangan--"
"Nggak usah ngawur kamu!" sergah dosennya dengan cepat.
"Buktinya," kata Alea sembari menegakkan tubuhnya dan menjauh dari dosennya.
"Dasar kurang ajar kamu ya!" teriak dosennya yang melihat Alea malah berlari meninggalkan dosennya sendirian dibawah terik sinar matahari siang. Alea memang tidak mempunyai adap.
"I LOVE YOU PAK ASEP!" teriak Alea sembari berlari mundur. Kedua tangannya bersatu di atas kepalanya membentuk i love you.
***
"Kamu kapan nikah, Bang?" tanya Bundanya sembari mengiris sepotong daging yang berada di piringnya. Lalu, menyuapkan ke dalam mulut beliau.
Alion yang mendapatkan pertanyaan itu hanya menghela napasnya dengan berat, "kalo Alion nikah, yang ngurus Bunda, siapa? Apalagi yang ngurus Alea. Bunda sanggup ngurus, Alea? Nikahnya ntaran aja. Alion juga masih nabung,"
"Umur kamu sudah 28 tahun, lho."
Alion menyuapkan potongan besar daging ke dalam mulutnya lalu mengunyahnya dan menggeleng untuk jawaban Bundanya.
"Alion bakal nikah setelah Alea menikah sama Agam," tukas Alion setelah menelan makanannya.
"Jadi, rencana kamu, apa?"
***
Alex mengelus puncak kepala Alea dengan sayang, "kamu bikin onar, lagi?"
Alea menganggukkan kepalanya.
"Gara-gara, apa?"
"Dia suka sama kamu."
Alex tertawa karena pacarnya cukup galak. Jadi, Alex tidak perlu repot-repot menjaga Alea yang super kuat menghadapi suatu masalah. Alea memang galak. Karena itu lah Alex menyukai perempuan itu.
"Mau martabak, lagi?" tawar Alex yang membuat mata Alea semakin berbinar karena mendengarkan nama makanan itu. Alex memesankan martabak lagi dengan varian topping untuk Alea. Alex tidak pernah sekali pun melarang Alea untuk berhenti makan. Karena Alex memang menyukai Alea, bukan bentuk tubuh perempuan itu.
"Makan yang banyak gih," kata Alex dengan lembut.
Mata Alea yang sipit langsung berbinar ketika melihat pesanannya datang. Ini yang di maksud surga duniawi bagi Alea. Perempuan itu langsung mencomot satu potong martabak manis dengan topping keju dan cokelat. Makan adalah hal paling utama bagi Alea walaupun badannya tetap saja mungil. Mungkin Alea cacingan. Haha! Dengan memakan martabaknya manis, mood nya akan membaik. Entah kenapa harus martabak manis yang menjadi pilihan kesukaannya.
Bibir Alea belepotan karena topping martabak manis tersebut yang menempel di pinggiran bibir mungilnya. Sehingga membuat Alex tersenyum manis menatap gadisnya yang makan dengan berantakan. Alex juga tidak jijik melihat cara makan Alea yang sudah seperti kuli bangunan. Perempuan itu malah terlihat manis.
Tiba-tiba, Alex menanyakan kabar pertunangan Alea dengan seseorang yang belum Alex kenal. Sejujurnya, Alex sakit hati ketika mendengar Alea di jodohkan dengan seseorang. Namun, apa boleh buat. Dirinya juga belum siap jika ingin menikahi Alea. Sayang? Tentu saja Alex sangat menyayangi Alea. Karena Alea adalah salah satu perempuan yang berbeda dari yang lain.
"Batal dong. Aku nggak mau nikah muda," kata Alea sembari mengunyah martabak manisnya. Hal itu membuat Alex semakin gemas dengan Alea.
"Di telen dulu, Sayang."
Alea hanya menyengir kuda lalu menelan makanannya.
"Minggu depan, aku bakalan kerumah kamu. Buat izin sama Abangmu," kata Alex tiba-tiba yang membuat Alea berhenti makan. Mata sipit perempuan itu langsung menatap kedua mata Alex tidak percaya. Tanpa sadar, Alea menganga.
"Kamu serius bakalan ngenalin diri ke, Abang?"
Alex mengangguk dengan mantap. Setelah sehari sebelum bertemu Alea, Alex sudah memutuskan untuk memberanikan diri untuk bertemu dengan Abangnya Alea. Guna meminta Alea baik-baik pada Abangnya. Karena, kehilangan seseorang yang di sayang, akan jauh lebih menyakitkan. Maka dari itu, Alex memutuskan untuk memberanikan diri bertemu dengan Abangnya.
"Kamu nggak nge-prank aku, kan?" tanya Alea memastikan. Dan Alex menggeleng mantap untuk meyakinkan perempuan itu yang di sambut Alea dengan senyuman yang lebar.
"Aku jadi kenyang tiba-tiba," ucap Alea karena terlalu senang mendengarkan perkataan Alex. Seperti ada kupu-kupu yang berterbangan di dalam perutnya. Walaupun sebenarnya hatinya juga was-was karena takut jika Abangnya menolak Alex mentah-mentah.
"Nggak boleh mubazir, Sayang. Habisin!" pinta Alex.
"Aku kenyang banget, Yang. Kamu nggak takut punya pacar, gendut?"
"Sejak saat ini," kemudian Alea terkikik geli.
Alex mengacak rambut Alea dengan lembut lagi.
Setelah Alea menghabiskan martabak manisnya hingga piringnya kinclong, mereka mengobrol sebentar untuk menurunkan perut Alea yang kekenyangan. Alex bermaksud untuk mengantarkan Alea pulang, namun Alea menolak karena Alea bilang jika dirinya ada urusan. Alex pun mengerti. Karena mereka tadi juga saling membawa mobil masing-masing.
Setelah mereka keluar dari restoran Ceriwisss, Alea masuk ke dalam mobilnya.
"Sial!" umpat Alea dengan kesal karena hujan yang tiba-tiba turun dengan derasnya.
Kenapa sih harus, hujan?
Alea terus mengumpat karena air hujan yang begitu deras. Namun, tidak membatalkan niatnya untuk pergi ke suatu tempat. Ia menyalakan mesin mobilnya lalu segera melajukan mobilnya meninggalkan parkiran restoran Ceriwisss tersebut.
Di sepanjang jalan, Alea terus saja mengumpat dengan kasar karena air hujan yang turun semakin deras. Jalanan juga sedikit kabur karena hujan.
"Kalo nggak demi Alex, gue mending tidur," ucapnya dengan kesal. Mobilnya berjalan dengan pelan. Untuk mengisi kehampaan di tengah-tengah hujan, Alea memutar musiknya dengan cukup keras. Alea juga tipikal perempuan yang suka mendengarkan musik dalam perjalanan ke mana saja.
Sepanjang jalan Alea memutar musiknya, akhirnya ia sampai di sebuah rumah yang terdapat pohon-pohon tinggi. Rumah siapa lagi jika bukan rumah dukun cabul itu. Alea keluar dari mobilnya dan langsung berlari menuju teras rumah Agam.
Alea tentu saja mempunyai alasan berkunjung ke rumah Agam. Karena ia mendengar percakapan Bundanya dan Abangnya sekilas jika perjodohan itu tidak akan di batalkan. Alea sangat kecewa karena mereka telah menjual Alea ke dukun cabul. Alasan itu lah yang membawa Alea kesini.
Dan Alea tidak memencet bel rumah Agam yang tersedia. Dia malah menggedor-gedor rumah Agam dengan keras. Sehingga Alea mendengar suara anak kecil yang berteriak dari dalam rumah tersebut.
"Nggak sopan banget jadi olang. Sehalusnya tante bilang assalamualaikum dulu," kata seorang gadis kecil yang pipinya chubby setelah membuka pintu rumah Agam. Gadis kecil itu memasang wajah marahnya sembari menatap Alea.
"Nggak usah banyak cincong lo bocah!" tukas Alea dengan kesal.
"Cece bukan bocah ya tante!" katanya marah.
Alea mendekati gadis kecil itu lalu mengukur tubuh gadis kecil itu dengan tingginya, "lo aja pendek, berarti masih bocah!" serunya. Akhirnya Alea dan anak kecil yang bernama Cherissa itu malah ribut. Alea dengan keahliannya tidak mau mengalah dari Cherissa. Begitu pun sebaliknya. Hingga suara keributan itu terdengar dari dalam.
Agam dengan memakai kaos hitam polos keluar dengan rambutnya yang berantakan. Berjalan menghampiri Cherissa dan Alea yang sedang berdebat.
"Om, tante ini nggak sopan banget!" adu Cherissa pada Agam. Hal itu langsung menyulut emosi Alea yang tidak mau kalah dari anak kecil.
"Enak aja lo! Lo yang nggak sopan!" sergah Alea kesal.
"Cece maklumin tantenya, ya. Sana masuk dulu," kata Agam sembari berjongkok di depan Cherissa untuk menjejarkan tingginya dengan gadis kecil itu. Cherissa mengangguk patuh pada Agam dan berlari masuk ke dalam. Dan perkataan Agam telah membuat emosi Alea semakin naik pitam. Namun, karena Alea mempunyai MAKSUd datang kesini, jadi ia berusaha menjadi manusia munafik.
"Ada apa, kesini? Mau nyantet saya, lagi?" tanya Agam sedikit menyindir perempuan itu. Ia berdiri di depan Alea yang lebih pendek darinya. Mungkin tingginya hanya sebatas dada Agam.
Baru kali ini Alea telah meredam emosinya sendiri dengan mencengkram erat rok levisnya yang pendek.
"Lo nggak nyuruh gue, masuk?" tanya Alea datar.
Agam menggeleng sembari mengamati Alea.
"Gue tamu, tamu adalah raja," kata Alea sedikit meninggikan suaranya.
"Kamu calon istri saya," tukas Agam yang membuat stok kesabaran Alea hampir habis. Kira-kira sudah setipis plastik bening.
"Gue nggak mau nikah sama lo! Jadi gue minta tolong buat lo ngebatalin tunangannya. Gue udah punya pacar," dari nada Alea itu, ia sedikit memohon pada Agam. Perlu di garis bawahi jika hanya sedikit dan tidak lebih.
"Walaupun kamu punya pacar, kalo saya langsung nikahin kamu. Pacar kamu bisa, apa?" Agam berkata dengan santai namun mampu menusuk dada Alea.
"Gue nggak mau nikah sama lo!" tukas Alea meninggi.
"Tapi saya maunya nikah sama kamu," nada Agam memang terdengar santai, namun terdengar seperti tidak ada penolakan.
Alea frustasi sendiri karena Agam.
Alea menangkup kedua tangannya di depan Agam sembari memohon agar Agam mau membatalkan pertunangannya.
"Gue mau jadi pembokat lo, asal lo batalin pertunangan kita. Gimana?"
"Sayangnya, saya nggak mau."
Alea terus saja merayu Agam. Tiba-tiba perempuan itu masuk ke dalam rumah Agam dan duduk manis di sofa empuk ruang tamu yang bergaya Eropa klasik.
"Bikinin minum, gue haus banget."
Agam hanya menatap Alea datar dan pergi begitu saja untuk membuatkan minuman untuk Alea.
Alea mengamati rumah itu yang cukup mewah. Rumah dukun cabul saja bisa semewah ini. Apa Alea harus jadi dukun saja supaya duitnya banyak? Dan ia tidak perlu repot-repot lagi meminta uang pada Abangnya yang pelit.
Alea bangkit dari duduknya dan berjalan menuju akuarium besar yang di dalamnya terdapat ikan besar pula. Mata sipit Alea menatap kedua mata ikan itu.
"Laper ya lo? Majikan lo itu dukun cabul, jadi lo harus hati-hati tinggal di sini. Siapa tau lo bakalan jadi tumbal berikutnya untuk pesugihan dukun cabul itu," kata Alea pada ikan besar yang berada di dalam akuarium. Sepertinya, otak Alea sudah hilang entah kemana.
"Gue kasian sebenarnya sama lo. Ya udah, karena hari ini gue pengen banget jadi orang yang munafik banget, gue kasih lo makan yang banyak biar perut lo kenyang," ucapnya sembari mengambil makanan ikan yang tersedia di samping akuarium tersebut. Alea menumpahkan seluruh makanan ikan yang masih baru ke dalam akuarium tersebut. Sehingga membuat air akuarium itu begitu keruh karena satu plastik besar makanan ikan di tumpahkan Alea. Ikan itu sudah tidak terlihat karena airnya yang keruh.
"Makan yang banyak ya. Supaya lo cepet gembul. Kalo gue sukanya sama martabak manis. Dan karena lo ikan, gue kasih makanan ikan yang banyak. Nggak mungkin gue kasih makanan lo wortel, kan?" kata Alea yang menatap akuarium kotor itu. Alea merasa bangga karena ia baru saja melakukan kebaikan. Kebaikan? Seriusan?
"Selamat makan banyak ikan," katanya sembari tersenyum bangga.
"Astaghfirullah! Apa yang kamu lakukan dengan ikan kesayangan, saya?"
To be CONTINUED....
Hai hai, gimana dengan cerita ini. Hehe.
...
...
Alea Adora Adhiatama.
...
...
Agam Galendra maherson