Mr. Impeccable

Mr. Impeccable
1. demo BBM



"AYOO TURUNKAN HARGA BBM!" seorang perempuan sedang berteriak dengan keras sembari naik ke atas meja yang ada di dalam ruangan kelasnya. Hal itu tentu saja menarik perhatian seluruh orang-orang yang ada di dalam kelas.


"IYAA BENAR KITA HARUS DEMO UNTUK MENURUNKAN HARGA BBM. KARENA BBM NAIK, GUE JADI NGGAK BISA JAJAN BANYAK!" tambah seorang perempuan yang berdiri di bawahnya perempuan tadi yang naik di meja.


"Lo apa-apaan, sih?!" sentak teman perempuan lainnya.


"Lo nggak liat ya Ra kalo kami lagi latihan buat demo penurunan BBM," celetuk perempuan yang berdiri di atas meja.


"Alea Adora! Turun lo!" sentak Nitara--sahabat Alea--yang sedari tadi tenggorokannya kering karena terus berteriak.


Alea turun dengan wajahnya yang kesal, "lagi latihan buat demo juga. Lo cepet tua kalo marah-marah mulu. Telinga gue juga hampir putus dengerin lo teriak-teriak nggak jelas!" sungut Alea dengan kesal.


"Bener banget lo Nitara Prasojo," tambah Bellazio yang kerap di sapa Bebel atau Bebek. Namun, jika perempuan itu di panggil dengan sebutan 'bebek', pasti akan marah. Jadi, teman-temannya kerap menggoda Bella dengan menyebut namanya 'bebek'.


"Kalian berdua bener-bener sinting!" kata Nitara dengan kesal sembari berlalu pergi meninggalkan kelas. Hal itu membuat Alea dan Bella saling berpandangan.


"Ayo kita demo nurunin BBM! Ayo kita demo nurunin BBM! Ayo kita demo nurunin BBM!" Alea menjadikan kalimat itu sebuah lagu. Rupanya, otak Alea sudah terbalik sehingga membuat perempuan itu tidak waras. Sembari berjalan keluar, Alea masih bersenandung ria. Seakan-akan, perempuan itu tidak mempunyai beban hidup sama sekali.


Alea dan Bella sedang berjalan menyusuri lorong kampus untuk menuju ke kantin. Karena perutnya sudah keroncongan, ia harus mengisi staminanya kembali. Supaya nanti lebih giat untuk latihan demo lagi. Entah apa motif Alea mengadakan demo sendirian. Sudah di bilang jika otak Alea sudah terbalik atau malah otaknya tertinggal di tukang penjual ketoprak.


"Lo pengen apa, Al?" tanya Bella setelah mereka sampai di kantin kampus. Alea mencari tempat duduk ternyaman, yaitu pojokan kantin. Karena bagi Alea, pojokan adalah tempat yang istimewa yang perlu di coba.


"Gue kayak biasanya aja yak. Pilihin makanan yang karbohidratnya tinggi," kata Alea dengan semangat. Jika urusan makan, Alea nomor satu. Walaupun badannya mungil, porsi makanan Alea seperti tukang kuli bangunan yang bekerja tanpa henti seharian. Haha! Dasar Alea!


Tidak menunggu lama pesanan Alea datang. Dua porsi martabak manis dengan ukuran besar telah menjadi hidangan mantap bagi Alea. Perempuan itu menyukai martabak manis ala Mak Iwisss yang namanya di ambil dari kedai Ceriwisss.


Alea menatap martabak manis itu dengan mata yang berbinar. Dan langsung saja Alea menyantap potongan pertama martabak manis tersebut. Ia menikmati betapa manisnya martabak itu. Dengan banyak varian, Alea menghabiskannya sendiri. Sedangkan Bella tidak heran dengan sikap Alea yang seperti itu. Karena bagi Bella, hal itu sudah menjadi biasa.


"Alea, lo nggak bosan ya makan martabak manis terus. Dan lo nggak takut, gendutan?" Bella bertanya di sela-sela kunyahannya.


Dengan mantap Alea menggeleng dan sembari mengunyah makanannya, perempuan itu menyempatkan diri untuk berbicara, "enggak lah! Ngapain takut gendutan. Gue mah orangnya bodo amat. Walaupun berat badan gue jadi seratus kilo, nggak papa kok," kata Alea sembari membersihkan sisa cokelat yang menempel di sela-sela jarinya. Memang terlihat jorok, tapi Alea tidak peduli dengan hal itu. Yang terpenting adalah keselamatan perutnya lebih awal.


"Lo tau, nggak? Hidup itu jangan di bikin ribet, yang paling utama tetep nggak usah dengerin cibiran orang tentang diri lo! Karena itu nggak guna banget dan buang-buang waktu lo. Orang-orang itu cuma bisa melihat dari sisi cover lo aja tanpa tahu isi dalamnya kayak gimana. Gue saranin buat lo, jadi orang jangan terlalu baik untuk orang lain," Alea berkata sembari sedikit-sedikit mengunyah makanannya.


Bella menatap Alea datar, "tumben otak lo waras," kata Bella lalu melanjutkan makan.


"Bejat begini, otak gue masih waras kalo soal harga diri," katanya dengan gaya sombong yang di buat-buat.


"Skripsi lo udah, selesai?" Bella kembali bertanya.


Alea yang sedari tadi makan dengan lahap langsung lemas seketika karena mendapatkan pertanyaan seperti itu. Tapi, tidak membuat nafsu makannya hilang begitu saja. Memikirkan soal skripsinya yang teronggok melas, Alea merasa jika dunianya runtuh. Jika skripsi kali ini tidak di terima oleh dosennya, maka ia harus mengulang kembali di tahun berikutnya. Alea sudah muak dengan semuanya. Ia tidak mau jika mengulang kembali di tahun yang akan datang. Lama-lama ia bisa mati muda karena memikirkan skripsinya yang terus saja di tolak.


Tiba-tiba di samping Alea duduk seorang laki-laki tinggi dengan senyuman yang semringah menatap Alea.


"Jadi obat nyamuk lagi deh," celetuk Bella dengan lesu, "gue pindah tempat aja deh kalo gitu," katanya lagi sembari berdiri dan mengangkat piringnya. Namun, di tolak oleh Alea.


"Nanti malem kamu longgar nggak, sayang?" tanya laki-laki berkulit putih itu.


Alea tersenyum manis menatap laki-laki itu, "longgar kok sayang. Emang, kenapa? Pasti mau ngajakin aku main, ya?" tanya Alea sembari senyam senyum layaknya orang yang jatuh cinta.


"Enggak. Aku cuma pengen ngajakin kamu ke Timezone aja. Soalnya suntuk banget mikirin tugas-tugas kuliah. Otak aku perlu pendinginan," kata laki-laki itu.


Mendengarkan hal itu, mata Bella langsung berbinar sembari berkata, "Alex, ajak gue yak," katanya dengan senyuman yang lebar. Alex mengangguk saja.


"Kalian kalo lagi seneng-seneng harus inget gue," kata Bella lagi sembari memasukkan satu suap makanannya ke dalam mulutnya.


Alea hanya memutar bola matanya malas karena perkataan Bella.


"Mau martabak nggak, Yang?"


Alex hanya menggeleng untuk jawaban Alea. Laki-laki itu mengelus puncak kepala Alea dengan sayang sembari berkata, "makan yang banyak, gadisku," katanya yang membuat Bella juga ikut meleleh melihat sikap manis Alex untuk Alea.


Bella jadi gemas sendiri sehingga ia tanpa sadar menjerit kecil dan menggenggam tangannya dengan erat, "kapan gue dapet cowok kayak si, Alex? Kalo perlu gue nunggu Alex jadi jomblo aja deh," katanya dengan melas.


"Enak aja lo!" kata Alea dengan kesal.


Alea dan Alex sudah berpacaran selama tiga bulan. Alex yang lebih dulu menyukai perempuan itu, sehingga membuat Alex menyatakan perasaannya untuk Alea. Cukup susah untuk meyakinkan Alea jika Alex ingin serius dengan Alea. Namun, dengan penuh perjuangan selama enam bulan lamanya, akhirnya mereka berpacaran.


"Itu jodoh lo lagi makan di sana," celetuk Alea dengan tiba-tiba sembari menunjuk ke arah Jono yang sedang makan di pojokan. Cowok dengan kacamata minus berbingkai hitam besar itu telah makan dengan lahapnya. Entah apa yang dimakannya sehingga makan selahap itu.


Bella langsung melirik tajam Alea yang terus saja menggodanya dengan si Ojon. Bahkan Alea malah bermotif ingin menjodohkan si Ojon dengan Bella. Alea rela menjadi mak comblang mereka. Haha!


"Bisa nggak sih lo itu diem! Gue nggak mau benci sama si Ojon. Lo tau kan kalo orang benci itu bisa jadi cinta. Nah, gue nggak mau kayak gitu sama Ojon. Amit-amit dah dapet si Ojon. Mending gue sama Alex aja. Iya kan, Alex?" tanya Bella sembari melirik Alex dengan senyuman yang semringah sehingga membuat Alex bergidik ngeri menatap Bella.


***


Alex dengan jiwa ke-cool-annya, telah memberhentikan mobil sportnya di depan kampus untuk menunggu Alea. Seperti biasa, Alea akan di antar pulang oleh Alex.


"Hai, Sayang!" sapa Alea setelah masuk ke dalam mobil Alex.


"Halo, Alea-ku. Mau makan, dimana?" tanya Alex dengan lembut dan penuh perhatian.


"Di kedai Ceriwisss aja kayak biasanya,"


Alex menyetujuinya. Hingga mereka akhirnya mengikuti hiruk pikuk kota Jakarta yang panas dan padat. Jalanan sedikit macet karena sore adalah waktu pulang para pekerja-pekerja. Di dalam mobil, Alex memutarkan lagu untuk mengisi kesunyian yang berpendar di dalam mobilnya. Sehingga Alea mulai bercerita panjang lebar masalah kucing tetangganya yang hamil dengan kucing kampung. Hingga Alea telah menceritakan Anjing tetangga sebelah rumahnya yang bernama Harder. Anjing yang galak, mampu membuat Alea takut jika di kejar. Perempuan itu juga menceritakan jika kambing milik Mang Odading penjual roti odading juga di beri nama Miki hingga Mang Odading juga rela mengadakan syukuran karena kambingnya baru saja melahirkan. Mungkin otak Alea sudah terjungkir dan terbalikkan begitu saja. Entah apa gunanya ia menceritakan hal seperti itu pada pacarnya sendiri. Alex yang mendengarkan cerita Alea juga ikut tertawa terpingkal-pingkal.


Hingga mereka sampai di salah satu kedai ternama yang cukup populer di Jakarta, yaitu kedai Ceriwisss. Tempat makanan itu memang terlihat biasa dari luar, namun di dalamnya cukup untuk mencuci mata. Desain tempat makan itu juga tidak membuat bosan para pelanggannya. Selain itu, makanannya juga terkenal dengan cita rasa yang lezat. Sehingga seperti yang di lihat sekarang, tempat itu selalu ramai. Karena pelayanannya juga ramah.


"Mau pesen, apa?" tanya Alex setelah mencari tempat duduk di pinggir jendela kaca yang besar.


"Martabak manis lagi yak," kata Alea dengan semangat.


"Suka banget makan martabak manis, pantes aja makin hari makin manis," kata Alex sembari tersenyum manis. Alex menyampaikan pesanannya pada salah pelayan kedai tersebut.


"Kamu pulang telat nggak papa, kan?" Tanya Alex hati-hati.


Alea menganggukkan kepalanya dengan mantap.


"Bagus deh kalo kayak gitu. Ntar malem ada waktu beneran, kan?"


Alea menganggukkan kepalanya lagi.


Sekarang, perasaan Alea membuncah senang karena dirinya berada di dekat Alex. Rasa nyaman langsung menyelimuti Alea. Dan ia juga telah melupakan satu hal. Apa itu?


Skripsi!


Ia melupakan skripsinya!


Alea merasa ada seseorang yang terus memperhatikannya dari kejauhan sehingga membuat Alea menoleh karena penasaran. Dan benar saja, ada seseorang laki-laki yang tersenyum manis menatap dirinya. Laki-laki itu berperawakan tinggi. Badannya cukup atletis dan berkulit putih. Senyuman itu malah membuat Alea bergidik ngeri karena ada orang asing yang tersenyum padanya. Jangan-jangan laki-laki itu psikopat yang sedang mengincar Alea. Tiba-tiba, rasa takut langsung menyelimuti Alea begitu saja. Keringat dingin langsung keluar dari tubuh Alea. Tanpa sadar, ia mencengkram rok pendeknya.


"Kamu kenapa?" suara bariton milik Alex telah mengagetkan Alea sehingga membuat detak jantung Alea semakin berdetak dengan kencang.


"Nggak papa kok," kata Alea dengan gugup.


Alex menatap curiga Alea. Namun, hanya sejenak karena pesanan mereka datang. Mereka menikmati makanannya dengan diam. Dengan Alea yang masih sedikit melirik ke arah laki-laki asing yang tersenyum padanya tadi. Namun, laki-laki itu sudah tidak ada. Mata Alea mencari keberadaan laki-laki asing itu. Tapi tetap saja tidak ada. Jantung Alea jadi semakin berpacu kencang. Bagaimana jika laki-laki asing itu telah merencanakan sesuatu untuk melukai dirinya? Atau menculiknya?


Jika masalah seperti ini, Alea sangat takut.


"Makan Alea!" kata Alex sedikit keras karena ia sedari tadi memanggil Alea namun tidak di respon sama sekali oleh Alea.


"Eh i-iya,"


"Alea! Kamu, kenapa?"


"Nggak papa kok, Sayang."


"Jelasin ke aku. Sedari tadi aku memperhatikan kamu gelisah terus,"


"Nggak papa. Tiba-tiba perut aku mules. Kayaknya mau pms deh,"


"Oh ya udah. Kalau gitu di makan itu martabaknya,"


Alea menganggukkan kepalanya. Ia melahap martabak manisnya dengan pelan, tidak seperti biasanya.


Alea langsung bertanya kemana ketika melihat Alex yang baru saja berdiri dari duduknya.


"Aku ke kamar mandi bentar," katanya yang di angguki oleh Alea.


Alea kembali memakan martabaknya dengan lahap tanpa lagi memperdulikan sekitarnya. Menurut Alea ada hal penting lagi selain mengurusi laki-laki asing itu. Hal penting itu adalah makan. Mungkin itu efek Alea lapar, makanya pikirannya kemana-mana. Alea menikmati makanannya dengan lahap. Kalau masalah Martabak manis, Alea sudah tidak bisa menolak lagi.


Tiba-tiba ada sebuah kertas yang jatuh di depan Alea. Kertas itu di remas sehingga menjadi gumpalan. Alea penasaran dan langsung membuka kertas tersebut. Namun, sebelumnya ia mencari seseorang yang menjatuhkan kertas tersebut tepat di depannya. Alea tidak menemukan siapa-siapa. Lalu, ia kembali membuka kertas tersebut. Di kertas yang lusuh itu ada sebuah tulisan yang membuat Alea memutar bola matanya malas. Langsung saja Alea membuang kertas lusuh itu ke dalam tempat sampah di dekatnya.


Sumpah demi apapun! Alea mencibir seseorang yang menulis di kertas tersebut. Memangnya dia siapa, Alea? Alea saja tidak tahu siapa yang menjatuhkan kertas tersebut.


Kamu cantik, dan cantik itu relatif. Tapi, menutup aurat itu wajib.


To be continued...


Hai guysss.


Ini ceritanya masih berbau spiritual kok. Hehe. Yang ada romance Islamnya kok hihi. Semoga kalian suka.


Follow ig ku yok @meigasellaap. Jangan lupa support akuu.