
Seorang perempuan cantik dengan baju yang ketat telah memasuki sebuah ruangan CEO yang cukup bergaya minimalis. Ruangan itu begitu tersusun rapi dengan benda-benda antik yang terjejer rapi di pinggiran jendela besar. Di sebelah kanan terdapat sebuah jendela besar yang langsung mengarah ke sebuah bangunan gedung-gedung pencakar langit.
"Maaf, Pak. Saya membawakan hasil kegiatan rapat kemarin. Di sini, sudah tertanda tangan dari perusahaan yang kemarin telah di undang rapat," kata sekretaris itu dengan ramah sembari meletakkan sebuah map hijau di depan seorang laki-laki yang bertubuh atletis.
"Terima kasih," suara bariton itu terdengar dingin di telinga sekretaris itu yang bernama Claudya.
"Oh dan kemarin, saya juga sudah membatalkan rapat yang Bapak minta," kata Claudya sembari menundukkan wajahnya. Sebagai sekertaris laki-laki yang sekarang menatap layar lebar di depannya, sangat membuat Claudya sedikit takut.
Laki-laki itu menyudahi melihat layar laptopnya, lalu menatap Claudya yang masih menundukkan kepalanya. Sekali lagi, laki-laki itu menghela napasnya pelan sembari mengatakan, "hari ini saya bisa pulang, cepat?"
Claudya memberanikan diri untuk menatap laki-laki pemilik perusahaan tersebut. Sudah tiga tahun perempuan itu menjadi sekretarisnya, namun tetap saja jika bertemu dengan atasannya sendiri membuat Claudya harus menahan napasnya karena takut.
"Maaf, Pak sebelumnya. Jadwal hari ini cukup padat," kata Claudya dengan pelan.
Agam menganggukkan kepalanya, "oh ya udah nggak papa. Kalau begitu silahkan kembali ke tempatmu," kata Agam lagi yang membuat Claudya langsung membungkuk tubuhnya lalu keluar dari ruangan pemilik perusahaan itu.
Yups!
Agam memang CEO salah satu perusahaan yang cukup ternama di bidang teknologi maupun elektronik. Tidak mudah untuk duduk di kursi yang Agam duduki saat ini. Di usianya yang terbilang muda, Agam mampu menjalankan bisnisnya dan menjadi salah satu motivator bagi anak-anak remaja yang sedang membangun jati dirinya. Pertama kali perusahaannya berdiri ia berjuang bersama Ayahnya yang sudah meninggal tujuh tahun yang lalu sehingga membuat Agam harus menjadi seorang anak yang benar-benar mandiri. Agam harus jatuh bangun terlebih dahulu untuk bisa duduk di kursi yang ia duduki saat ini. Perjalanannya tidak mudah. Sebelum mengenal agamanya sendiri, Agam hanyalah seorang berandal yang suka mabuk dan memicu tawuran remaja. Hidupnya di penuhi dengan limpahan dosa.
Ia pernah menyekutukan Allah. Dan itu adalah hal yang paling Agam sesali hingga saat ini. Bagaimana mungkin Allah yang telah memberikan kehidupan untuk Agam, namun Agam malah membalasnya dengan air tuba. Agam menyesal! Bahkan sangat menyesal. Jika waktu bisa di putar kembali, Agam ingin mengenal agamanya lebih jauh.
Agam hanyalah berandal kecil yang menjadi buah bibir tetangga. Remaja yang tidak pernah mengenal kebaikan. Bahkan dulu Agam pantas di sebut dengan manusia bejat.
Waktu telah membantunya.
Waktu telah mampu membantu pertanyaan-pertanyaan manusia yang ada di pikirannya tanpa manusia sadari.
Entah ada apa dengan, waktu?
Times is life, dalam kehidupan mengajarkan untuk memanfaatkan waktu, dan waktu mengajarkan tentang nilai kehidupan. Waktu merupakan salah satu elemen dalam kehidupan, karena dengan waktu manusia mampu melakukan banyak hal yang membuat diri mereka melakukan perubahan dalam hidupnya. Namun itu semua tidak instan. Jika instan, pastinya waktu tidak akan pernah hadir untuk menjawab setiap pertanyaan-pertanyaan manusia. Untuk mendapatkan jawaban dari waktu, manusia di ajarkan untuk bersabar dalam menunggu sebuah jawaban. Karena semua butuh waktu berproses.
Kata William Shakespeare, "Waktu terasa lambat bagi yang sedang menunggu, terasa cepat bagi yang merasa takut, terasa sangat lama bagi yang sedang sedih dan terasa sangat pendek bagi yang merasa senang, tapi bagi mereka yang mencintai, waktu itu abadi,"
Waktu mengajarkan tentang sebuah perubahan. Times is life, tidak ada perubahan yang besar yang tercipta tanpa pengendalian waktu yang baik.
Sebagian besar seseorang menginginkan kebahagiaan di setiap waktunya, tapi kenyataanya saat ini orang-orang tidak merasa cukup. Mereka menyakini bahwa teknologi sangat membantu, banyak orang menyingkat buku menjadi artikel, table atau gambar karena mereka tidak punya waktu untuk membaca itu semua. Faktanya seseorang menginginkan kedekatan yang nyata, namun mereka lebih memilih teks di duunia maya. Ada banyak hal di dunia ini yang menjadi point dalam revolusi kehidupan, salah satunya adalah waktu. Waktu adalah separuh bagian kehidupan, karena ia sebagai penentu arah mindset untuk membangun dasar nilai dan tujuan hidup yang sebenarnya.
"Astaghfirullah anaknya Bang Somat!" suara bariton dengan helaan napas karena kesal dengan Agam yang sedari tadi di panggil namun tidak ada respon sama sekali.
Agam mengerjakan matanya lalu menatap sesosok laki-laki tinggi di depannya yang menatap dirinya dengan kesal.
"Ada apa ente, kesini?" tanya Agam santai sembari menyenderkan tubuhnya. Jas hitam Agam sudah ia lepas sejak tadi.
"Kepala ane pusing,"
"Ngopi dulu lah ente,"
"Makin pusing, Gam."
"Ane panggilin Alea aja,"
"Ane mending tenggelem ke laut aja daripada saat ini ente manggil Alea,"
"Biar seger,"
"Diem ente!" Sergah Alion dengan kesal.
Agam berdiri dari duduknya dan berjalan ke arah mesin pembuat kopi yang memang tersedia di ruangan kerjanya. Langsung saja Agam menyeduhkan dua secangkir kopi panas. Mesin pembuat kopi itu juga termasuk salah satu teknologi yang diciptakan oleh perusahaan yang di dirikan oleh Agam. Kemudian akan meletakkan satu cangkir kopi di depan alien yang saat ini sedang duduk di salah satu sofa ruangan Agam.
"Jangan terlalu fokus, ayo kita ngopi dulu," kata Agam dengan santai. Aku sangat menyukai kopi sehingga ia dijuluki coffeeholic. Oma Rasya pernah menyuruhnya untuk berhenti mengonsumsi minuman berkafein itu. Namun, Agam tidak bisa. Baginya, kopi adalah segalanya setelah istri. Eyaa!
"Ada banyak file yang harus ane tanda tanganin buat laporan minggu depan. Rasanya, kepala ane mau copot,"
"Copot saja kepala ente sebentar, nanti di pasang lagi kalau nggak pusing,"
Alion memutar bola matanya dengan malas, menghela napasnya dengan panjang lalu menegakkan tubuhnya. Ia menilik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul setengah satu. Alion langsung menyeruput kopinya yang lumayan panas hingga setengah, lalu berkata, "sholat dulu, Gam. Udah waktunya urusan akhirat. Jangan nyari duit mulu, urusan akhirat tetep number one,"
Sesekali mereka tertawa sembari memasuki lift yang didalamnya terdapat beberapa pegawainya yang asik tertawa, sepertinya topik yang di bicarakan sangat seru. Hingga Agam dan Alion masuk, pegawainya langsung menutup mulutnya cepat. Alhasil membuat suasana lift itu hanya bergema suara Agam dan Alion saja. Sedangkan beberapa bawahannya yang di belakang mendadak jadi patung.
Hingga membuat mereka jadi berkeringat dingin jika satu lift dengan pemilik perusahaan ini. Doa mereka hanya satu, yaitu cepatlah sampai ke lantai bawah karena sudah tidak tahan.
Akhirnya, Alion dan Agam keluar sehingga membuat mereka bernapas dengan lega.
Beberapa pegawai perempuan melihat Agam dan Alion langsung sedikit membungkukkan tubuhnya. Selain itu, mereka juga menikmati betapa tampannya mereka berdua sehingga membuat kaum hawa bisa tercekik napasnya.
Namun, kentang tidak akan bisa mendapatkan buah pir yang mulus dan juga segar. Kentang hanya bisa mendapatkan buah segar hanya di dalam mimpi saja.
"Wow! Duo Prince charming nya Maherson," teriak Angga yang baru saja keluar dari toilet yang tidak sengaja melihat Agam dan Alion berjalan bersama.
"Upil lo masih nempel. Nggak bersih lo ya, bersihinnya?" Alion mengeluarkan suaranya untuk Angga yang berjalan di sampingnya. Membuat Angga langsung menabok bahu Alion dengan keras sehingga laki-laki itu mengaduh sembari mengelus punggungnya yang panas karena Angga.
"Sialan lo!" umpat Angga kesal.
"Kira-kira kek kalo mukul!" sergah Alion.
"Makanya, ente kalo punya satu mulut yang normal harus di jaga. Karena mulutmu adalah harimaumu," Agam menimpali.
"Klasik banget!" tukas Alion sembari berjalan dulu. Namun, Alion sedikit terkejut karena di depannya ada suara teriakan yang Alion kenal dengan baik. Siapa lagi?
Benar saja. Dari ujung lorong, berjalanlah seorang perempuan dengan di belakangnya ada dua seorang satpam yang mengejar perempuan itu.
Alea dengan segala keahliannya datang membawa hadiah untuk Abangnya. Sebuah hadiah yang istimewa sehingga orang lain manapun tidak bisa memberikan hadiah semewah itu untuk Abangnya. Hadiah yang membuat Abangnya semakin pecah kepalanya.
Alion berhenti melangkah lalu mengusap wajahnya dengan frustasi. Hal itu membuat Angga langsung menampilkan ekspresi bahagianya. Jika Alea datang adalah hal yang menyenangkan bagi Angga karena bisa melihat sahabatnya menderita. Siapa lagi yang bisa membuat Bapak Direktur Maherson Group menderita jika bukan, Alea? Semua orang juga tahu hal itu. Namun, kebahagiaan Angga bertambah lagi jika Agam juga sudah memasuki lingkaran kejam yang di buat oleh Alea.
"Bini lo galak banget, udah mirip kayak singa yang ngamuk," Angga berkata di dekat Agam yang menatap Alea dan dua satpam yang melas karena meneriaki Alea. Karena Alea yang menyerobot masuk begitu saja.
"Dia memang istimewa," kata Agam tanpa ekspresi yang membuat Angga kebingungan untuk membaca ekspresi Agam. Laki-laki itu senang atau sedih?
Jangan di tanya lagi, sekarang Alea dan dua satpam melas itu sudah menjadi pusat perhatian orang-orang yang berada di lorong tersebut. Kejadian seperti ini sudah tidak sekali dua kali saja. Bahkan, Alea tanpa ragu-ragu telah membuat kehebohan di salah satu perusahaan ternama itu. Dan kalian harus ingat jika otak Alea sudah hilang entah kemana.
Gigi Alion sudah gemerletuk dengan gemas ingin sekali menarik Alea kasar lalu menenggelamkan adiknya sendiri ke dalam lautan. Selalu saja seperti itu yang ada di pikiran Alion. Dan besoknya akan ada berita jika Seorang Direktur Perusahaan Maherson telah tega membunuh adiknya sendiri karena Adiknya yang super bebal pantas untuk di lenyapkan di muka bumi ini.
Alion langsung membungkam mulut Alea yang akan meledak saat ini juga. Jika Alion berteriak di sini tentu saja akan menurunkan martabatnya sebagai salah satu pemimpin perusahaan. Bagaimana jika citra Abangnya memburuk karena kelakuan, Alea?
Alea meronta karena Alion telah membungkam mulutnya yang ingin nyablak. Dengan sisa kekuatan yang di miliki oleh Alion saat ini, ia menarik Alea agar mengikutinya. Alion menarik Alea masuk ke dalam ruang rapat yang kosong. Jangan di tanya seberapa kesalnya Alion dengan Alea. Alion sudah lelah dengan lembur kerjanya tadi malam sekarang di tambah Alea yang selalu saja membuat keributan di kantornya.
"MAU LO APA SIH, AL?!" teriak Alion dengan frustasi. Jika ini hanya sebuah permainan, Alion dengan senang hati akan memilih kalah dan memilih untuk tidak bermain lagi. Namun, sayangnya ini semua adalah kehidupan nyatanya. Dan mendapatkan adik secantik Alea juga hadiah dari Allah untuknya. Namun, perempuan itu benar-benar gila!
"Gue tau sekarang," kata Alea dengan sorot matanya yang tajam menatap Abangnya sendiri.
"Tau apa?"
"Lo kan yang nyuruh Bunda buat gue nikah sama, Agam? Ngaku lo! Atau jangan-jangan, lo di bayar berapa sama psikopat itu buat dapetin, gue?" Alea menatap Abangnya dengan curiga.
Lalu tanpa di duga, sebuah tangan besar telah menyentil dahi Alea dengan pelan, namun tetap saja membuat Alea meringis sakit dan kemudian mengelus dahinya. Alea melirik ke samping menatap Agam dan di belakang Agam ada Angga yang mengacungkan jempol karena menyukai apa yang Alea lakukan. Dasar Angga! Namun, Alea tidak peduli dengan Angga. Bagi Alea, Angga adalah sampah masyarakat yang nggak bermutu.
"Diem lo psikopat bobrok!" sergah Alea kejam. Namun, kekejaman Alea saat ini tidak berefek apa-apa untuk Agam.
"Alea jaga ucapan kamu! Bunda ngga pernah ngajarin kamu buat nyebut nama orang sembarangan," hardik Alion dengan kesal.
Agam menatap kedua manik mata Alea dengan ekspresinya yang datar. Alea yang merasa di tatap seperti itu malah semakin memelototkan matanya yang sipit. Tidak pernah sekalipun rasa takut muncul di mata Alea.
Agam membungkuk agar wajahnya sejajar dengan Alea yang terlalu rendah. Hal itu langsung memicu mulut Angga yang semakin bobrok, "jangan ngelakuin itu di sini woy!" teriak Angga dan langsung mendapatkan sebuah tinjuan dari Alion. Jika di pikir-pikir, mulut Angga seperti kenalpot sepeda motor yang rusak. Bobrok!
Wajah Alea semakin dekat dengan Agam sehingga membuat Alea harus mundur perlahan untuk menghindari Agam yang semakin maju.
Namun, apa yang terjadi berikutnya telah membuat detak jantung Alion dan juga Angga hampir copot.
To be CONTINUED..
Hay? Udah suka sama castingnya belum?