
Besok saya khitbah kamu, ya."
Jelas sekali jika kalimat itu bukan sebuah pertanyaan. Namun, pernyataan yang ada. Dan jelas sekali jika nada terakhir yang di ucapkan oleh Agam adalah tanda titik.
Alea sudah tidak bisa berpikir. Oh iya! Jangan lupa jika otak Alea tertinggal entah dimana. Sekali lagi, siapapun itu yang menemukan otak Alea tolong segera wajib lapor.
"Om nya seriusan nanya ke saya?" tanya Alea yang sembari menoleh samping kanan kiri untuk memastikan jika Agam telah berbicara dengannya. Dan Alea langsung mendapatkan cubitan kecil dari Bundanya, "Alea! Kenapa kamu manggil om. Agam itu masih muda lho. Sama Abangmu saja masih muda Agam," kata Bunda Alea sembari memberikan kode pada Alea dengan tatapan tajam. Tentu saja jika saat ini Bundanya sedang menahan malu di hadapan Oma Rasya karena perbuatan putrinya yang cukup mengerikan.
"Emang kenyataannya gitu kok," kata Alea dengan cuek. Sekali lagi, ia mendapatkan teguran dari Abangnya.
Agam menatap Alea yang duduk di sebelahnya dengan jarak yang lumayan cukup jauh darinya.
"Alea! Jaga ucapan kamu!" geram Alion. Ingin sekali Alion mencekik leher adiknya itu dan menenggelamkan Alea ke dasar palung yang paling dalam.
"Saya sungguh-sungguh dengan ucapan saya untuk mengkhitbah kamu besok. Untuk mengantisipasi saja kalau kamu tiba-tiba sakit jantung dan malah tidak jadi saya khitbah. Jaga kesehatan sampai besok ya," Agam berkata dengan santai namun kalimat yang bermakna menyuruh itu terdengar tidak ada penolakan.
"Seriusan lo ngomong sama, gue? Gue nggak denger!" tukas Alea dengan berdiri mendekat ke arah Agam. Emosi Alea tiba-tiba memuncak karena mendengar pernyataan itu dari mulut psikopat itu. Tentu saja Alea tidak mau menikah dengan laki-laki tua bangka seperti Agam
"Saya bakalan ngulangin ucapan say--" tiba-tiba perkataannya terputus karena Alea lebih dulu menyelanya, "gue nggak butuh kalimat pengulangan lo! Nggak guna buat gue! Dan ingat! Sampai gue mati pun, gue nggak mau nikah sama lo!" kata Alea dengan menunjuk tepat di depan wajah Agam yang terlihat santai. Sedangkan Alea sudah lelah-lelah mengeluarkan otot-ototnya untuk berbicara dengan Agam.
Alion yang melihat adiknya semakin gila langsung menarik mundur Alea sembari menatap tajam Alea. Namun, Alea tidak peduli sama sekali. Bagaimana mungkin Alea yang statusnya masih mahasiswa harus menikah dengan om-om tua. Psikopat lagi!
"Alea!" tegur Bundanya.
Alion melihat Agam berdiri dari tempatnya duduk. Laki-laki itu cukup tinggi untuk berdiri di depan Alea yang tingginya hanya sebatas dada Agam. Dengan ekspresi yang terlihat begitu santai, Agam menundukkan kepalanya untuk melihat Alea yang marah dengannya.
"Maaf, saya nggak nerima penolakan," kata Agam dengan santai yang membuat Oma Rasya terkikik geli karena cucunya begitu santai. Sedangkan, Bunda Alea juga ikut tertawa dengan paksa.
"Jaga kesehatan sampai besok," kata Agam sembari berjalan mundur dan langsung pergi setelah berpamitan pada Oma Rasya.
Alea mengerang frustasi dan menjerit sembari melihat kepergian Agam. Mata Alea yang sipit menatap tajam Abangnya dan Bundanya. Kemudian, pergi begitu saja dengan perasaan yang jengkel. Bagaimana mungkin Bundanya dan Abangnya bersengkongkol untuk menjodohkan Alea dengan psikopat itu. Alea benar-benar marah dengan Bundanya dan Abangnya. Ini sama saja penjualan orang. Dan hati Alea sakit ketika ia memikirkan hal itu.
***
Perempuan dengan celana pendek levis di atas lutut di padukan dengan jaket levis sobek-sobek serta rambutnya yang panjang di kucir kuda dengan asal-asalan. Alea sedikit memoleskan lip cream ke bibirnya yang tipis. Setelah itu, ia mengambil tas kecilnya dan memasukkan iPhone nya ke dalam tasnya. Lalu, berjalan mengendap-endap mendekati jendela kamarnya. Membukanya perlahan agar tidak terdengar suara decitan jendela tersebut.
Setelah berhasil keluar dari kamarnya melalui jendela kamarnya, Alea bergegas mencari tangga yang biasanya ia siapkan untuk kabur dari rumah jika ia sedang frustasi. Jika sudah malam, Alea tidak di perbolehkan keluar oleh Abangnya. Abangnya memang otoriter yang menyeramkan bagi Alea. Namun, Alea malah bermain belakang dengan Abangnya. Abangnya melarang dirinya keluar malam karena Alea adalah perempuan. Dan perempuan tidak boleh keluar malam. Sedangkan Alea bukan tipikal anak rumahan. Alea suka main kemana-mana. Bagi Alea, hidup itu netral saja. Tidak apa-apa keluar malam asal tidak macem-macem. Begitu prinsip Alea. Apa salahnya jika Alea mencuci mata di malam hari. Melihat-lihat lampu kota misalnya atau menghirup udara segar di malam hari.
Alea turun dengan tangga tersebut pelan-pelan. Setelah kakinya berhasil menginjakkan tanah, Alea langsung bergegas berlari tanpa suara keluar dari gerbang rumahnya. Ternyata di luar gerbang sudah ada mobil Bella yang menunggunya. Alea langsung saja memasuki mobil Bella dan memutar musik dengan keras. Beban Alea seperti terangkat jika seperti ini. Alea sudah frustasi karena insiden tadi siang. Benar-benar frustasi jika psikopat itu akan mengkhitbahnya besok. Hei! Skripsi Alea saja selalu di tolak oleh dosen pembimbingnya. Apa kata dunia jika Alea nikah muda?
"LO KENAPA SIH, AL? KAYAK GALAU BANGET? LO LAGI MARAHAN SAMA ALEX, YA?" Bella berbicara dengan Alea terpaksa berteriak karena Alea memutar musiknya dengan volume full.
"NGGAK!"
"NGGAK APA?"
"NGGAK USAH KEPO!"
"TAI LO!"
"JANGAN BANYAK CINCONG! LANGSUNG KE KLUB AJA!" Teriak Alea yang di angguki oleh Bella.
Tidak sekali dua kali mereka seperti ini. Kegiatan Alea kabur dari rumah juga sudah sering di lakukan perempuan itu. Bahkan sering kali juga jika Alea tertangkap basah Abangnya. Abangnya marah membuat Alea takut. Namun, besoknya di ulangi kembali oleh Alea. Seperti masuk telinga kanan lalu keluar telinga kiri. Alea memang dunguk!
Tidak lama, akhirnya mereka sampai di sebuah klub ternama. Setelah memarkirkan mobilnya di basement parkiran, mereka langsung masuk. Keduanya di sambut oleh dentuman musik yang sangat keras mengisi ruangan tersebut serta lampu yang remang-remang ikut berdisko mengikuti alunan musik yang seru. Tubuh Alea ingin bergoyang mendengarnya. Beban Alea seperti terangkat semua. Alea dan Bella sering mengunjungi tempat ini ketika mereka merasa suntuk. Dan sering kali, Nitara--sahabat mereka-- juga melarang mereka untuk pergi ke tempat seperti itu. Tapi, mereka tidak mempedulikan sahabatnya sendiri. Entah masih pantaskah di sebut dengan sebuah persahabatan.
Alea mengamati banyak orang yang sedang menikmati dentuman musik yang keras sembari meliukkan-liukkan tubuh mereka. Alea ingin ikut bergabung, namun ia sedang di landa virus mager. Alhasil, ia hanya menonton sembari menikmati alunan musik yang keras. Sedangkan Bella sudah lebih dulu ikut bergabung dengan mereka yang menikmati alunan musik.
Jemari Alea mengetuk-ngetuk di meja sembari menatap nyalang jemarinya. Seolah-olah seperti sedang melamun. Alea hanya memikirkan apa yang terjadi hari ini. Tidak menyangka jika Bundanya dan Abangnya malah menjual dirinya pada psikopat itu. Alea kecewa dengan mereka. Mengapa mereka setega itu dengan, Alea? Alea salah, apa?!
Alea memang tidak salah. Namun, otaknya lah yang salah!
Sesekali perempuan itu menggeram marah ketika mengingat perkataan si psikopat tua itu. Rasanya, Alea ingin membanting tubuh atletis laki-laki psikopat itu. Alea jadi semakin takut jika Agam akan benar-benar menikahinya. Bagaimana jika Alea nanti akan menjadi tumbal pesugihan, Agam? Karena pada dasarnya, Alea tidak mengenal Agam sama sekali. Dan tiba-tiba, laki-laki itu muncul begitu saja dan yang lebih parah, malah menyatakan perasaannya. Apalagi jika tidak ada maksud tersembunyi dari, Agam? Tidak mungkin dengan tiba-tiba Agam menikahi perempuan yang tidak dikenalnya seperti, Alea!
Yaps! Kepala Alea semakin pening. Ia langsung menengak satu gelas alkohol karena frustasi. Banyak pikiran yang berkecamuk di otaknya saat ini. Tentu saja pikiran negatif untuk seorang Agam yang psikopat.
Tidak lama, Bella kembali dengan keringat yang membasahi tubuhnya karena ikut bergoyang. Ia melirik jam tangannya, lalu bertanya pada Alea, "udah jam 12. Lo nggak, papa?"
Alea menganggukkan kepalanya dengan mantap. Tiba-tiba, tidak sengaja mata sipitnya menangkap seseorang yang di kenalinya. Tapi, mungkin Alea salah lihat karena begitu banyak orang-orang di sini.
"Tequila Ley," kata Alea untuk gelas ke limanya. Bartender itu sudah berusaha untuk mencegah Alea untuk menghentikan minumnya. Namun, Alea menolak dengan keras hingga mau tidak mau, bartender itu tidak bisa menolak. Alea memang berhati keras.
"Orang pintar terkadang terpaksa menghabiskan waktunya untuk meminum alkohol karena kebodohannya sendiri. Karena mereka mengira, alkohol lah solusi terbaik masalah," tiba-tiba bartender seorang laki-laki yang terlihat muda itu berkata seperti itu sembari mengelap gelasnya.
"Nggak usah sok suci lo! Lo juga kenapa kerja di tempat kayak, gini?" walaupun kepalanya pening karena pengaruh alkohol, Alea masih bisa menangkap maksud dari bartender tersebut.
Bartender itu mendekatkan wajahnya di telinga Alea lalu membisikkan sebuah kalimat, "because, i want."
Kata bartender itu lalu kembali menegakkan tubuhnya. Ia melihat wajah Alea yang marah karenanya.
"Oke terima kasih atas kunjungannya disini. Maaf, saya tidak akan memberikan alkohol lagi untuk anda," kata bartender itu. Sebenarnya, ada maksud baik dari kalimat itu. Namun, Alea malah mengumpat dengan keras untuk bartender itu. Setelah membayar, Alea keluar dari klub ternama itu dan melupakan Bella yang masih asik meliukkan-liukkan tubuhnya di lantai goyang.
Alea memasuki mobil Bella karena Bella tadi menitipkan kuncinya pada Alea sehingga Alea bisa membuka mobil Bella dengan mudah. Kepala Alea pening sekali. Namun, ia tetap menjalankan mobilnya dengan keadaan mabuk seperti itu. Bodo amat! Begitu prinsipnya. Hari ini adalah hari sial untuk Alea. Di tambah bartender klub yang menyebalkan. Alea memutar musik dengan keras supaya menghilangkan rasa pening. Untung saja jalanan sepi. Namun, ia tidak mengarahkan mobil tersebut kerumahnya. Melainkan di jalan yang menunju ke rumah seseorang.
Dengan hati yang kesal, Alea menyetir mobil dengan ugal-ugalan. Sesekali ia terlihat oleng. Hingga mobil hitam milik Bella itu berhenti tepat di sebuah rumah yang banyak pepohonan tinggi di sekitarnya. Alea sudah tidak memikirkan jika tempat itu seperti salah satu tempat syuting film JUMANJI atau film action lainnya. Yang ia pikirkan saat ini adalah, BAGAIMANA CARANYA IA BISA MENGGAGALKAN ACARA LAMARAN BESOK!!!
Alea menjambak rambutnya sendiri ketika ingin keluar dari mobil. Lalu mengumpat dengan keras.
Dan tanpa ragu-ragu lagi, Alea keluar dengan langkah yang gontai karena pengaruh alkohol yang membuatnya semakin terbuai dan pusing. Alea mengendap-endap di depan jendela yang kordennya sedikit terbuka. Perempuan itu sudah mirip dengan maling ayam kampung.
Alea mengintip dengan tertawa sendiri seperti orang gila sembari bergumam, "gue nggak mau nikah sama lo!" perempuan itu sudah merancau tidak jelas. Lalu terkikik geli lagi.
Sehingga membuat pemilik rumah tersebut membuka jendelanya dan terkejut ketika melihat Alea yang berada di sini di tengah malah seperti ini.
"Yah, Alea ketahuan," rancaunya sembari terkikik geli lagi. Ternyata pengaruh alkohol membuat Alea jadi semakin tidak mempunyai otak.
"Alea! Kenapa kamu?"
"Lo seriusan nanya kayak, gitu? Ya gue mau nyantet lo lah! Karena gue nggak mau nikah sama lo!" kata Alea lalu kembali tertawa dan merancau lagi tidak ingin menikah dengan Agam.
"Besok bukan menikah Alea. Tapi saya akan mengkhitbah kamu,"
"Ya apalah itu namanya. Intinya, gue nggak mau nikah sama lo!" kata Alea sembari merosot di samping jendela Agam. Agam menengok perempuan itu. Sebenernya, Agam bingung harus berbuat apa. Menyentuh perempuan itu juga tidak boleh karena belum mahramnya.
Alea tiba-tiba bangkit dari duduknya di atas tanah, kemudian melepaskan ikat rambutnya di depan Agam secara pelan. Lalu mengibaskan rambutnya yang panjang dengan acak-acakan di depan Agam.
"Gue pulang dulu. Nggak jadi nyantet lo karena udah ketahuan," kata Alea kemudian berlalu pergi meninggalkan Agam yang berdiri di jendela.
Alea berlari memasuki mobil Bella. Lalu membawa mobil tersebut keluar dari pekarangan rumah Agam. Kepalanya semakin pusing dan matanya juga mulai kabur. Ia tetap melajukan mobilnya. Entah di letakkan dimana otak Alea sekarang. Karena perempuan itu sekarang benar-benar gila.
Alea berteriak sesukanya di dalam mobil karena frustasi. Berharap dengan berteriak bisa meringankan bebannya.
Tiba-tiba, di depan ada sebuah mobil yang tidak teratur berjalan sehingga membuat Alea panik seketika. Matanya silau karena lampu mobil dengan arah yang berlawanan. Sehingga membuat Alea bingung harus berbuat apa. Dan tepat ketika ia mengerem mobilnya, mobil di depannya juga berhenti. Alea mengumpat lagi. Entah sudah keberapa kali perempuan itu terus mengumpat dengan kasar.
Mata Alea sudah berkunang-kunang. Di tambah kaca mobilnya di gedor-gedor dari luar membuat Alea menggeram marah dan langsung membuka pintu mobilnya.
"MINGGIR LO!" teriaknya dengan marah.
Ternyata dua orang pria besar yang sedang membawa benda tajam. Membuat Alea membelalakkan matanya ketakutan.
"Apa lo?! Berani sama, gue? Gue atlet karate sabuk hitam. Jangan macem-macem lo!" Alea beralibi. Jangan di tanya lagi seberapa takutnya perempuan itu sekarang. Apalagi jalanan di tengah malah ini cukup sepi sekali. Alea menutupi ketakutannya dengan terus menerus beralibi. Kepala Alea juga semakin pusing. Samar-samar dua pria mabuk itu mendekat ke arah Alea dengan menodongkan pisaunya. Lalu tanpa aba-aba, salah satu pria itu malah melayangkan pisaunya untuk Alea. Alea ketakutan sembari menangis.
Alea menutup matanya dengan takut ketika pisau itu akan mengenai dirinya. Kepala Alea semakin pusing, matanya juga kabur karena pengaruh alkohol.
"ALEA!" teriak seseorang.
Seseorang dengan tubuh tinggi telah memeluk Alea. Laki-laki itu memeluk tubuh mungil Alea dengan erat. Seakan-akan tidak boleh satu pun orang menyakiti Alea. Dan dia telah merelakan tubuhnya untuk sebagai gantinya.
"Gam--" gumam Alea sembari menangis dan memeluk tubuh laki-laki itu dengan erat. Jelas sekali di mata Alea jika punggung laki-laki itu terkena tusukan pisau. Alea memeluk laki-laki itu dengan erat sebelum ia tidak sadarkan diri di pelukan Agam.
Iya, seseorang itu adalah Agam. Yang merelakan tubuhnya di tusuk oleh pisau tajam sebagai ganti tubuh Alea.
To be continued...
Eh gimana? Kasih saran dong. Hihi. Jangan lupa follow tiktok + Instagram aku @meigasellaap.
Semangat terus kalian semua.