Mr. Impeccable

Mr. Impeccable
6. my sister idiot



"DASAR CEWEK SINTING!" Bella berteriak dengan keras sehingga menarik perhatian pengunjung salah satu restoran Ceriwisss.


"Lah sekarang lo bayangin ada di posisi gue. Gue nggak cinta sama dia, kenal aja kagak. Dan tiba-tiba, gue di buat tumbal sama Bunda dan Abang gue. Bayangin aja! Lo menikah sama orang yang nggak lo sayang!" Geram Alea dengan wajahnya yang memerah karena marah, "kenapa nggak mati aja sih psikopat itu!"


Nitara yang duduk di samping Bella mengelus punggung Alea dengan lembut. Berharap bisa menghilangkan sedikit rasa kesal Alea, "jangan pernah berprasangka buruk sama orang lain. Apalagi sama ibu sendiri. Coba dengerin dulu penjelasan orang tua lo dan Abang lo. Karena biasanya, pilihan orang tua itu nggak salah. Karena mereka ingin kita mendapatkan yang terbaik,"


Alea bergidik ngeri menatap Nitara yang mengomel, "sumpah demi Lee Min Hoo jadi pacar gue, lo mirip banget kayak Abang gue. Jangan-jangan, kalian jodoh ya?" tiba-tiba Alea berkata dengan senyumannya yang lebar. Kemudian, ia mendekat ke arah Bella dan menepuk bahu Bella sedikit keras hingga perempuan itu meringis.


"Sakit ogeb!" ketusnya.


"Bel, lo bisa bayangin nggak sih kalo Abang gue ketemu sama Nitara? Misalnya kalo mereka nikah terus anaknya kayak gimana ya sifatnya? Apa lebih otoriter?" Alea berkata dengan senyumannya yang jahil.


"Ogah gue sama Abang lo!" tukas Nitara dengan cepat.


"Jangan ogah-ogahan, siapa tau ujung-ujungnya jadi cinta," sahut Bella dengan cepat. Rupanya, Alea dan Bella bersengkongkol menjahili Nitara.


"Gue sama Abang lo kayak air sama minyak. Nggak bisa nyatu. Ogah gue punya suami yang otoriter kayak gitu," sahut Nitara sembari bergidik ngeri.


"Heleh! Omong doang!" tukas Alea.


"Bilang aja kalo Abangnya si Alea ganteng," tambah Bella sembari terkikik geli. Entah kenapa menjahili teman adalah salah satu termasuk surga dunia bagi Alea dan Bella. Apalagi melihat wajah korbannya yang memerah. Semakin bertambah kepuasan mereka. Seakan-akan, dunia hanya milik berdua. Halah! Itu hanya sebuah persepsi yang sangat mengsedihkan. Haha!


"NGGAK!" tukas Nitara cepat.


"enggak apa, hayo?" Alea semakin menggoda.


"NGGAK SUKA! nggak boleh ngebayangin yang belum jadi mahramnya,"


"Kutil badak, Alamak! Tara sudah ngasih kode tuh sama calon adek iparnya," Bella semakin menggoda.


"Tenang aja, Ra. Gue bantuin kalo emang lo suka sama Abang gue," selanjutnya, perempuan itu tertawa dengan keras sehingga menarik perhatian pengunjung restoran tersebut. Nitara langsung saja membekap mulut Alea yang tidak punya malu sama sekali. Sudah di bilang kan, jika urat malu Alea sudah putus dan tidak bisa di sambungkan lagi.


Mereka meneruskan menggoda Nitara yang semakin lama semakin jengkel dengan kedua sahabatnya yang otaknya sudah miring atau mungkin otaknya sudah hilang. Lebih baik, ia pergi saja meninggalkan sahabatnya sendiri. Tidak peduli mereka mencecar apa untuk Nitara. Yang jelas, telinga Nitara sudah panas mendengarkan ocehan mereka.


***


...


...


Laki-laki berjas cokelat dengan rambut yang sedikit pirang telah berjalan memasuki ruangan yang di dalamnya berisikan kardus-kardus besar. Walaupun tampak seperti gudang, ruangan itu cukup bersih. Agam berjalan menyusuri setiap lorong sembari membawa secangkir kopi pahitnya dengan salah satu tangannya telah di masukkan ke dalam saku celananya.


Setelah ia puas berada di ruangan itu, Agam keluar dengan cangkir gelasnya yang kosong. Agam berjalan memasuki sebuah ruangan yang di dalamnya di desain Eropa klasik.


Agam menaruh cangkir kosongnya di meja rendah sembari ia duduk di salah satu sofa yang empuk warna hitam. Cukup elegan jika di padukan dengan desain ruangan ini. Ia menghela napasnya dengan panjang sembari melihat seseorang yang sedang berkonsentrasi mengerjakan kerjaannya.


"Jangan terlalu di pikir, santai aja," celetuk Agam dengan santai sembari menyenderkan tubuh atletisnya ke sandaran sofa. Sembari melihat penampilan Alion yang cukup berantakan karena efek lembur tadi malam. Kacamata Alion sudah turun tidak beraturan. Matanya juga menghitam karena tidak tidur selama dua hari.


"Ane lagi kejar setoran,"


"Ngejar setoran boleh, tapi jangan lupa sama kopinya," kata Agam sembari berjalan ke arah mesin pembuat kopi. Lalu ia menuangkan dua cangkir kopi lagi untuknya dan Alion. Ia menaruh satu cangkirnya di meja Alion. Lalu, ia duduk di pojokan meja kerja Alion dengan santai sembari menyeruput kopinya yang sedikit panas. Cangkir kedua setelah ia menikmati kopi di ruangan gudang tadi.


Alion menghela napasnya dengan panjang. Ia melepas kacamatanya dan menatap Agam yang sedang menyeruput kopinya lagi, "gue minta maaf buat kesalahan adik gue kemarin," kata Alion tiba-tiba, "karena dia kabur, ane jadi merasa bersalah sama ente. Nama ente jadi tercemar," lanjutnya.


"Santai aja kali. Ane kagak apa-apa,"


"Udah dua hari, dia kagak balik kerumah karena kecewa sama ane,"


"Lantas?"


"Dia tidur di rumahnya Bella,"


Alion merasa bersalah dengan Agam karena ia mencemarkan nama baik Agam karena Alea yang kabur di hari pertunangannya. Alion meregangkan tubuhnya lalu berjalan menuju ke sofa yang berada di ruangannya di ikuti oleh Agam. Laki-laki itu juga ikut menghela napasnya dengan panjang lalu menyeruput kopinya lagi. Agam lebih memilih membicarakan dunia kerjanya ketimbang harus membicarakan masalah pribadinya.


"Sempat ada masalah di jaringan sistemnya," celetuk Alion setelah menyeruput kopi panasnya.


"Kenapa?"


"Desain kita di curi orang,"


"Endingnya, apa?"


"Ane berhasil balikin lagi kayak semula. Ente harus berterima kasih banyak sama ane," celetuk Alion sembari membanggakan diri.


"Terima kasih," ucap Agam yang terlihat datar yang membuat Alion jengkel dengan laki-laki itu. Alion bangkit dan duduk di sebelah Agam yang langsung bergeser sembari berkata, "ane nggak mau deket-deket ente," kata Agam dengan datar yang membuat Alion memutar bola matanya malas.


"Proyek ente, gimane?" tanya Alion sembari menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa hitam yang empuk.


"Alhamdulillah, kelar dan berjalan dengan lancar. Semua karena izin Allah swt," kata Agam sembari menyeruput kopinya.


"Kagak pusing, ente?"


"Apapun yang di jalani dengan niat, nggak ada rasa pusingnya sama sekali," Agam berbicara dengan santai yang membuat Alion lagi dan LAGI menghela napasnya dengan panjang.


"Terus aja lo bilang kayak gitu," kata Alion kesal lalu bangkit dari duduknya dan berjalan menuju meja kerjanya. Entah kenapa, Alion sangat jengkel dengan Agam. Mungkin, karena Agam yang terlihat santai. Berbanding terbalik dengan Alion yang super sibuk di tambah lembur.


Tiba-tiba, ruangan kerja Alion di gedor-gedor oleh seseorang sehingga menimbulkan suara yang cukup bising. Padahal ruangan tersebut telah di lengkapi dengan peredam suara. Alion langsung bangkit dari duduknya lagi sembari mengelus dadanya dengan sabar. Berharap hal itu bisa menyimpan kemarahannya saat ini juga karena gedoran pintu itu. Siapa lagi tersangkanya jika bukan adiknya tercinta.


Alion membuka dengan cepat lalu menatap tajam Alea yang tangannya melayang ingin menggedor pintu ruang kerja Alion lagi. Dengan satu satpam yang berdiri dengan napas yang tersengal-sengal karena lelah mengejar Alea. Jangan di tanya lagi, Alea menerobos paksa masuk ke dalam kantor tempat bekerja Abangnya.


"Maaf, Pak. Ma--" ucapan satpam itu terputus karena Alion menyelanya dan menyuruh satpam itu kembali.


"Lo bukan adik gue," kata Alion dengan cepat sembari membalikkan badannya tanpa memperdulikan Alea yang ingin menyemprot Abangnya.


"Dasar Abang durhaka!"


"Lo bukan adik gue, Alea!" kata Abangnya sembari menutup telinganya.


"ABANG!" teriak Alea dengan kesal. Namun, Abangnya malah duduk di kursi kerjanya sembari masih menutup kedua telinganya. Membuat Alea merengek seperti anak kecil yang meminta balon pada Emaknya.


Agam yang melihat hal itu dari sofa yang ia duduki, hanya menghembuskan napasnya dengan pelan. Ia mengamati penampilan Alea yang menurutnya sangat berantakan. Perempuan itu terlihat seperti habis mencangkul sawah 10 hektar.


"Gue sumpahin duit lo makin banyak!" kata Alea dengan marah sembari menatap tajam Abangnya. Alea lebih suka menyumpahi Abangnya dengan doa yang baik. Konon katanya, karena Alea mengerti jika sumpah serapah akan terwujudkan suatu saat nanti.


"Abang, gue bilangin ke bunda lo!"


"Gue nggak takut!"


Alea menghentak-hentakkan kedua kakinya dengan kesal. Sepertinya, urat malu perempuan itu sudah putus sehingga dengan percaya dirinya yang tinggi, ia tidak memperdulikan Agam yang mengamatinya dari sofa yang laki-laki itu duduki.


"Abang minta duit. Gue pengen beli martabak," rengek Alea di depan Alion. Perempuan itu berusaha menggapai kedua tangan Alion yang masih menutupi telinganya.


"NGGAK!"


"nggak apa? Nggak papa kan?" rayu Alea seperti anak kecil.


"NGGAK MAU NGASIH DUIT!"


"ABANG IH!"


"GUE BILANG ENGGAK YA ENGGAK!" Abangnya ikut mengeras.


Alea memutar bola matanya dengan malas.


"orang pelit kuburannya sempit. Matinya nggak ada yang nolongin. Ngubur sendirian," cecar Alea dengan kesal.


Alea masih belum pantang menyerah untuk merayu Abangnya setelah ia dua hari tidak pulang. Dan yang membuat Alea kecewa, Bundanya dan Abangnya tidak mencarinya sama sekali. Itu membuat hati Alea terluka parah, seperti di sayat pisau yang tajam. Hwa! Alea lebay!


Tentu saja karena tingkah Alea yang konyol, telah menggagalkan tunangannya dengan Agam. Dan hal itu telah membuat Alea senang bukan main.


Ekor mata Alea melihat seseorang yang berjas cokelat sedang duduk santai sembari menyeruput secangkir kopinya, seolah-olah laki-laki itu sedang menonton teater. Lalu, Alea melihat sepenuhnya laki-laki itu yang ternyata Agam. Ia mendekat ke arah Agam dengan tatapannya yang tajam sembari kedua tangannya berada di pinggangnya.


"Jangan harap lo jadi suami gue!" tukasnya dengan tiba-tiba, "gue nggak mau nikah sama psikopat kayak lo!" lanjutnya lagi.


"ALEA! JAGA UCAPAN KAMU!"


"Kenapa gue harus jaga ucapan di depan, dia? Pasti dia kan yang nge-bujuk Abang supaya Alea menikah sama dia. Dasar buaya! Ternyata laki-laki di dunia ini sama aja!" kata Alea marah dengan kata buaya yang di tujukan pada Agam.


"Atas dasar apa lo ngomong kalo cowok di dunia ini sama, aja?" Abangnya bersikeras.


"Atas undang-undang dasar yang gue bikin sendiri!" kata Alea menyolot.


Alion mendekat langsung membekap mulut adiknya dengan paksa. Tentu saja Alea meronta dalam pelukan Abangnya. Namun, apalah daya, tenaga Abangnya lebih besar ketimbang dirinya. Alion yang kepalanya sudah pusing karena lembur dan kerjaannya, sekarang di tambah adiknya lagi yang membuat kepalanya ingin meledak saat ini juga. Alion sudah beberapa kali bertobat menghadapi Alea yang cukup bebal. Namun, karena rasa sayangnya yang terlalu besar untuk Alea, membuat laki-laki itu harus banyak mengucapkan istighfar dan mengelus dadanya dengan sabar. Jika tidak, Alion akan menenggelamkan Alea sampai ke dasar Palung Marina yang tidak terjamah oleh makhluk hidup.


Alion dengan paksa menyeret Alea keluar dari ruangannya. Namun, tangan Alea malah memeluk Abangnya dengan erat.


"Astaghfirullah, Alea. Gue harus pake cara kayak gimana buat menghadapi, lo?" kata Abangnya dengan lemas. Abangnya sudah kesal dengan sikap Alea yang seperti anak kecil. Alion hanya berdoa, jika suatu saat nanti Alea akan berubah menjadi wanita yang sholehah. Semoga saja Allah mengabulkan permintaan Alion. Walaupun hanya 2 persen permintaan Alion akan di kabulkan. Namun, siapa tau waktu telah mengubah segalanya. Karena segala sesuatu hanya Allah yang berkuasa.


"Alea nggak mau nikah muda!" bentak Alea.


Abangnya langsung mendorong Alea keluar lalu menutup pintu ruangannya dengan cepat. Ia mendengar suara gedoran pintu yang cukup keras, namun karena ruangannya di fasilitasi peredam suara, jadi tidak terlalu keras.


Alion menghela napasnya dengan lega. Lalu membanting tubuhnya di sofa empuk.


"Gue setres ngadepin adik gue sendiri," curhat Alion sembari menenggelamkan wajahnya di sofa empuk tersebut.


***


Setelah kepalanya pusing karena Alea yang mengacaukan pekerjaannya, sekarang otak Alion menjadi segar kembali karena ia baru saja melakukan ritual sholat dhuhurnya. Hatinya selalu menghangat jika mengingat nama Allah swt. Setelah itu, ia berjalan keluar dari ruangan yang di sediakan khusus untuk ruang beribadah. Banyak pegawai yang menundukkan kepalanya ketika melihat Alion berjalan menyusuri lorong untuk menuju ke ruangannya.


Laki-laki tampan itu terlihat memukai dengan kemeja putihnya yang berantakan karena sehabis sholat.


Ketika berjalan, tidak sengaja ada seorang anak kecil yang menabrak Alion. Anak kecil perempuan itu tersenyum lebar sembari meminta maaf pada Alion, "maaf ya om. Cece nggak sengaja," katanya dengan nada yang cadel. Anak kecil perempuan itu terlihat mungil dan cantik. Mempunyai lesung pipi di kedua pipi chubbynya.


Alion berjongkok untuk menjejarkan tingginya dengan anak kecil itu. Tangan besarnya mengelus puncak kepala gadis kecil itu dengan lembut sembari berkata, "nggak papa, Sayang. Cece lagi main, apa?"


"Cece lagi main bola, Om."


"Anak cewek masak main bola?"


"Kata Bunda, jadi pelempuan itu halus bisa apa aja. Bial nggak di lemehin sama cowok," ucapan gadis kecil itu cadel sehingga membuat Alion tertawa karena kecadelan gadis kecil itu.


Alion mengacak lembut rambut gadis kecil itu, "pasti Bundanya pintar kayak Cece, ya?"


Gadis kecil yang bernama Cherissa itu mengangguk dengan mantap sembari mengatakan hal yang cukup pilu untuk di dengar oleh Alion, "Bunda pintal, Bundanya juga cantik lho, Om. Sekalang Bunda udah tenang di sulga sama Allah," kata Cherissa sembari tersenyum manis.


Sepertinya, Alion salah bertanya.


"Cece di sini sama, siapa? Kok sendirian?" Alion mengalihkan topik pembicaraan.


"Cece habis pulang sekolah pengen menjenguk Bunda, Om. Eh pas Cece dateng, Bunda udah pelgi duluan," kata Cherissa sembari mengeluarkan air matanya. Gadis kecil itu menangis karena Bundanya telah meninggalkan dirinya.


"Bunda pergi kemana, Sayang?" tanya Alion.


"Kata Ayah, Bunda pelgi ke sulga. Ke lumah Allah,"


Alion langsung memeluk erat gadis kecil itu.


Setelah itu, Cherissa mengusap air matanya yang terus mengalir, "Bunda juga bilang, kalo jadi pelempuan halus kuat dan kata Ayah, Cece nggak boleh nangis," kata Cherissa sembari mengusap air matanya lagi.


Alion menghapus air mata Cherissa, "Cece nggak boleh sedih ya. Nanti, Bunda di atas sana jadi ikut sedih kalo liat Cece nangis kayak gini. Gimana kalo kita jalan-jalan beli es krim sesuka kamu?"


"Cece nggak mau, Om."


"Kenapa, Sayang?"


"Cece belum kenal sama Om. Kata Ayah, kalo beltemu dengan olang yang nggak di kenal, nggak boleh ikut kalo di ajak jalan-jalan,"


"Ya udah kalo gitu kita kenalan dulu. Nama Om, Om Alion," kata Alion sembari mengulurkan tangan besarnya pada Cherissa yang di terima gadis kecil itu dengan senyuman yang lebar, "Perkenalkan nama panjang Cece, Cherissa Kanaya,"


To be continued