
...Terkadang kita sebagai manusia hanya bisa memberikan sebuah harapan yang semu atau hanya sebuah bayangan yang akan menghilang jika matahari akan tenggelam. Namun, matahari akan sedikit memberikan sebuah keindahan sebelum matahari itu benar-benar tenggelam. Keindahan yang hanya sesaat untuk di nikmati oleh manusia. Lalu, pergi menghilang. ...
...-Meigasellaap...
...***...
Alea terkejut ketika ia melihat Agam yang duduk santai sembari menikmati kopinya di salah satu tempat duduk yang memang sengaja di letakkan di pojokan ruangan kamar itu, tepat di dekat kulkas kecil. Kamar itu memang terlihat luas. Dengan handuk putih yang yang menutupi tubuh naked nya, Alea beristighfar seperti melihat setan. Alea beristighfar? Demi apa?! Demi Lovato, Demian, Demiblabla dan lain sebaginya.
"NGAPAIN LO DI KAMAR GUE?! DASAR MESUM!"
"kamar kita," ralat Agam dengan santainya sembari menaruh secangkir kopinya yang baru saja ia minum.
"INI KAMAR GUE! KELUAR LO! DASAR DUKUN CABUL MESUMAN!" Alea kembali berteriak sembari memegang handuk putihnya, takut jika akan melorot saat ini juga.
"Aku memang dukun cabul lho, Al. Tapi dukun cabul private khusus buat kamu," Agam berkata sembari mendekati Alea. Dengan spontan, kaki Alea juga mundur sembari menatap tajam Agam. Laki-laki itu terlihat begitu tinggi. Atau mungkin karena Alea lah yang terlalu pendek untuk Agam. Alea terus mundur sehingga punggungnya menabrak pintu kamar mandinya.
"Jangan macem-macem sama gue lo!" Alea mengancam Agam sembari memegangi handuknya, takut akan jatuh.
"Memangnya tidak boleh ya macem-macemin istri, sendiri?" Agam semakin dekat dengan Alea. Alea semakin merapatkan tubuhnya ke pintu kamar mandi lalu tubuhnya bergeser beberapa senti karena di sampingnya juga tembok yang menjadi penghalang.
Sial! Umpat Alea dalam hati.
Alea sudah berantisipasi kalau-kalau Agam berbuat macam-macam dengannya. Tangan Alea tanpa sadar langsung menggenggam gagang sapu yang ada di pojokan.
Agam semakin mendekati Alea. Ia menatap kedua bahu putih Alea yang terbuka tanpa tertutup sehelai benang pun. Agam harus menundukkan kepalanya untuk bisa melihat Alea yang lebih rendah darinya. Ia juga melihat jika kedua mata sipit Alea dengan berani telah menatap tajam Agam. Agam mengakui jika perempuan seperti Alea adalah tipikal orang yang berani. Alea sudah mendorong Agam mundur namun tentu saja Agam tidak goyah sama sekali dengan dorongan kedua tangan Alea yang mungil.
Entah kenapa Alea yang baru saja mandi, kini ia terasa panas kembali. Keringat dingin mulai bermunculan di tubuh kembali. Bahkan AC kamarnya juga sudah menyala, namun tetap saja udara menjadi panas seketika. Agam semakin mendekatinya dan Alea juga melihat jika Agam sudah mengangkat satu tangannya. Agam menundukkan kepalanya.
Gawat!
Gawat gawat!
GAWAT GAWAT! INI GAWAT!
tuk...
Alea meringis kesakitan. Dengan spontan ia mengelus dahinya yang panas secara berulang-ulang akibat Agam yang baru saja menyentil dahinya. Membuat Alea mengaduh kesakitan.
"Jangan lupa matiin lampu kamar mandi," kata Agam sembari menekan tombol lampu kamar mandi.
Agam kembali menegakkan tubuhnya dan menatap Alea yang wajahnya memerah karena dirinya baru saja menggoda Alea. Sangat jelas sekali jika kedua pipi Alea bak kepiting rebus. Napas perempuan itu juga sempat tertahan ketika Agam semakin mendekatinya. Agam berbalik dan duduk kembali di sofa yang berada di kamarnya sembari menatap Alea yang masih berdiri di depan pintu kamar mandi.
"Kamu nungguin ciuman dari aku, ya?" perkataan Agam membuat Alea langsung pura-pura muntah di depan Agam. Lalu, Alea membenturkan kepalanya ke dinding sebanyak tiga kali sembari berkata, "amit-amit jabang bayi!" katanya yang langsung pergi begitu saja untuk mengambil bajunya. Bisa-bisanya psikopat gila itu mengatakan hal yang menjijikkan.
"Aku nggak akan nyentuh kamu jika kamu tidak mengizinkannya, Al," kata Agam begitu tulus sembari menatap Alea yang terus saja mencibirnya.
Agam menatap geli Alea yang masuk ruang ganti dengan wajahnya yang marah serta kilatan emosi perempuan itu tidak pernah luntur.
Tidak lebih dari sepuluh menit, Alea keluar dengan menggunakan kaos besar hitam polos yang panjangnya sampai di atas lutut Alea. Masih dengan ekspresi marahnya, Alea berjalan dengan kesal menuju kulkas kecil yang ada di pojokan kamarnya. Mengambil sebotol minuman bersoda dan meneguknya dengan cepat. Tenggorokannya terasa panas karena soda itu.
"Kamu nggak salah ambil baju kan, Al?" tanya Agam sembari mengamati Alea yang hanya menatapnya sekilas saja lalu perempuan itu beranjak naik ke atas kasur sembari membawa minumannya.
Agam tahu jika baju yang di pakai Alea saat ini adalah bajunya. Cukup besar untuk Alea sehingga membuat perempuan itu tenggelam jika memakainya. Entah kenapa, tiba-tiba Agam teringat masa dulu.
***
Seorang anak kecil yang sedang bermain hujan telah menumpahkan seluruh kebahagiaan bersama turunnya air hujan. Gadis kecil tertawa dengan riang sembari bermain bolanya.
Gadis kecil itu hanya sendirian. Asik dengan bolanya yang ia tendang kesana dan kemari. Ia juga tidak perduli dengan air hujan yang semakin deras menghantam bumi sehingga menciptakan genangan air yang mulai tinggi. Dan hal itu malah membuat gadis kecil itu semakin senang bermain. Hingga bolanya ia tendang keluar dari halaman pekarangan rumahnya. Gadis kecil bermata sipit itu langsung berlari untuk mengambil bolanya yang terus menggelinding keluar pagar rumahnya yang lupa tidak di tutup.
Bola itu mengarah ke jalanan raya. Dengan semangat, gadis kecil itu telah berlari sembari menikmati air hujan yang mengguyur tubuh mungilnya.
Tanpa memperhatikan ia sekarang berada di tengah-tengah jalan raya. Ia terus berlari untuk mengambil bolanya. Namun, gadis kecil itu melihat ke sampingnya ketika telinganya mendengar suara klakson yang terus berbunyi. Mata sipit gadis kecil itu semakin sipit karena tersenyum lebar sembari melihat sebuah truk besar yang terus saja mengklakson gadis kecil itu untuk menepi. Namun, bukannya takut. Gadis kecil itu malah tertawa dengan riang.
"Yeeee..." ia malah bersorak dengan riang sembari menatap lampu yang menyorot dari truk besar yang terus saja mengklaksonnya.
Tiba-tiba punggung kecil perempuan itu di dorong kuat oleh seseorang dari belakang hingga gadis kecil itu tersungkur di pinggir jalan aspal. Ia masih tersenyum lebar sembari melihat truk besar itu melintas di depannya.
"Kamu bisa membahayakan dirimu sendiri!" hardik seorang anak laki-laki yang memakai seragam sekolah dasar. Anak laki-laki itu kesal dengan gadis kecil yang terus saja tersenyum ketika ia berusaha memarahinya.
"Jangan pernah melakukan hal itu lagi!"
"Pakai kaos ku ini, supaya kamu tidak kedinginan," katanya begitu saja.
***
Alea gelisah di atas tempat tidurnya. Sedari tadi ia tidur dengan tidak nyaman sehingga membuat Agam sedikit terganggu. Laki-laki itu tidur di sofa karena Alea yang tidak mengizinkan dirinya untuk tidur di samping Alea.
"Kamu kenapa, Al?" tanya Agam sembari menoleh menatap Alea.
"Bukan urusan lo! Urus urusan lo sendiri!" tukas Alea sembari berbalik untuk memunggungi Agam.
"Tapi hati ku memberontak untuk mengurus urusanmu,"
"Gue bisa urus urusan gue sendiri!"
Kemudian, Alea menutup seluruh tubuhnya dengan selimut tebal miliknya tanpa memperdulikan Agam yang terus mengamatinya. Sekarang, hati Alea menjadi gelisah karena ia mendapatkan sebuah pesan dari Alex. Hal itu membuat jantung Alea berdetak dengan kencang. Sama seperti beberapa hari yang lalu ia bertemu dengan Alex. Alea merasa bersalah dengan laki-laki itu karena ia telah membohonginya. Lalu, Alea harus berbuat apa? Di hatinya masih terpatri dengan jelas jika Alex lah seseorang yang ia sayang. Namun, ternyata semesta berkehendak lain.
Alex mengiriminya pesan jika besok, Alex ingin mengajak Alea berjalan-jalan karena sudah lama mereka tidak pergi bersama. Biasanya, seminggu bisa tiga kali Alea dan Alex mencari tempat wisata untuk melepaskan penatnya karena tugas-tugas kuliah yang menumpuk sehingga membuat Alex ingin menyegarkan otaknya lagi. Apalagi bareng doi. Namun, keadaan sudah tidak sama lagi seperti dulu.
Terkadang kita sebagai manusia hanya bisa memberikan sebuah harapan yang semu atau hanya sebuah bayangan yang akan menghilang jika matahari akan tenggelam. Namun, matahari akan sedikit memberikan sebuah keindahan sebelum matahari itu benar-benar tenggelam. Keindahan yang hanya sesaat untuk di nikmati oleh manusia. Lalu, pergi menghilang.
Tiba-tiba, Agam membuka selimut tebal Alea dengan paksa sehingga membuat Alea terkejut.
"Ngomong sama aku, Al. Kamu, kenapa?" tanya Agam sembari duduk di pinggir ranjang.
"Kalo kamu sedang gelisah, ayo kita sholat. Kamu belum sholat isya' kan? Insya Allah hati kamu akan tenang setelah sholat," kata Agam dengan menatap Alea yang terus saja memunggunginya.
"SHOLAT TERUS! GUE BILANG ENGGAK YA ENGGAK!" Alea berteriak sembari menarik selimutnya kembali. Tentu saja dengan hati yang kesal.
Kapan Alea tidak, kesal?
"Kamu itu kenapa sih nyuruh aku sholat, terus?! Kayak nggak punya kerjaan lain aja! Mending nyari duit yang banyak!" tukas Alea yang membuat Agam menyunggingkan senyumnya lagi.
"Supaya kita sampai di surga-Nya Allah bareng-bareng," ucap Agam begitu santai.
Alea bangkit dari tidurnya lalu berjalan keluar kamar dan mengabaikan Agam yang menanyakan dirinya mau kemana. Alea dengan kesal menutup pintu kamarnya dengan keras. Jika di dekat Agam, otak Alea ingin meledak-ledak layaknya bom Israel yang menyerang Palestina. Bahkan bukan bom lagi, tapi nuklir terbesar yang siap meledak saat ini juga.
Alea berjalan menuruni tangga dengan perasaan yang kesal. Lalu, di tangga terakhir, tidak sengaja kaki Alea terpeleset hingga perempuan itu terjatuh dan tersungkur di lantai yang dingin.
"SIAL!" teriak Alea dengan wajahnya yang memerah karena kesal. Kakinya juga sakit karena terkilir. Tiba-tiba Alea menangis dengan keras sembari berkata, "KENAPA HIDUPKU SEPAHIT INI, YA ALLAH? DOSA APAKAH HAMBA?" Alea semakin menangis dengan keras di tengah malam itu.
Sembari mengelus-elus kakinya yang sakit, Alea berteriak memanggil Agam dengan keras sehingga membuat kepala Agam menyembul dari atas dan menatap kebawah dengan heran melihat Alea.
"Kamu kenapa, Al?" Tanya Agam dari atas dengan santainya yang membuat Alea semakin menghela napasnya dengan kasar. Bagaimana mungkin Agam bertanya seperti itu pada, Alea? Jelas-jelas jika Alea sekarang sedang terjatuh.
"Habis mainan loncat-loncatan, ya? Seru pasti," kata Agam yang membuat tangis Alea semakin keras.
"TOLONGIN SIALAN!" teriak Alea sembari menangis.
Agam sudah turun separuh lantai dengan ekspresinya yang masih terlihat santai.
Agam menggendong Alea yang masih terus saja menangis di dekapan Agam. Laki-laki itu membawa naik Alea ke dalam kamarnya kembali. Sebenarnya, telinga Agam sakit karena tangisan Alea yang semakin keras.
"Makanya sholat Alea. Supaya nggak kebanyakan dosa," Agam berbicara dengan santai sembari membaringkan Alea di tempat tidur. Perempuan itu meringis kesakitan karena kakinya.
Tanpa mengatakan hal apapun, Agam langsung mengambil minyak urut untuk Alea. Ia duduk di pinggir ranjang sembari membawa kaki jenjang Alea ke atas pangkuannya. Alea meringis karena Agam yang memijit kaki Alea yang terkilir.
"SAKIT, GAM! PELAN-PELAN!" Alea melenguh kesakitan karena Agam terlalu keras menekannya.
"Iya ini juga pelan-pelan. Kamu diam aja," kata Agam sembari berusaha pelan-pelan menekannya.
"SAKIIIITTT!" teriak Alea. Tidak tahan dengan rasa sakit itu, Alea meremas sprei tempat tidurnya. Berharap bisa menghilangkan rasa sakitnya.
"Alea, diam. Kalo kamu gerak terus, gimana aku ngobatin kaki, kamu?"
To be continued ...,
Hey gimana sama Alea dan Agam??