Me Before You

Me Before You
Bab 9



Hari ini mungkin adalah hari terakhir bagi Joshua untuk menghirup udara Wellington, karena sebentar lagi dia akan pergi ke Auckland bersama kedua orang tuanya. Ia harap kota baru itu bisa bersahabat dengannya. Meski tidak dapat dipungkiri kalau setiap saat dia akan merindukan kota Wellington serta teman-temannya.


Joshua bukan tidak senang melihat keempat sahabatnya berkumpul dirumahnya sebelum ia pergi. Tapi.... jika saja ia punya harapan, ia ingin Monica Frances juga datang kemari untuk melepas kepergiannya. Joshua tidak akan pernah tahu apakah suatu hari nanti ia bisa bertemu dengan Monica Frances lagi atau tidak. Ia harap setelah ini Monica bisa hidup lebih baik dari sebelumnya. Joshua hanya ingin melihat Monica Frances hidup seperti anak-anak normal yang lain.


Alasan Joshua peduli pada Monica ialah... karena mereka berasal dari keturunan yang sama. Namun, mendapat perlakuan yang berbeda.


Yeah, orang-orang disekolah itu terlalu naif untuk mengakui bahwa Monica memiliki keunggulan dibanding yang lainnya.


"Joshua, setelah ini jangan lupa padaku, ya!" satu tepukan dari Andrew, membuat Joshua membuyarkan lamunannya. "Aku benar-benar akan merindukan mu, apalagi saat kita berempat main game bersama." lanjut Andrew.


"Jaga dirimu baik-baik, Josh!" Joshua mendapat tepukan lagi dibahunya, kali ini dari Jason.


"Apapun yang terjadi, ingat saja kami, kami akan selalu ada untukmu." entah mengapa mendengar Kevin mengatakan itu, suasana menjadi bak melodrama.


Joshua tersenyum simpul kemudian memeluk sahabatnya satu persatu, memberikan salam perpisahan.


"Kalian tidak perlu khawatir, aku akan menghubungi kalian." Joshua baru ingat kala barusan teman-temannya memberikan nomor telepon rumah mereka pada Joshua, supaya laki-laki itu bisa menghubungi mereka dan tidak putus hubungan.


"Omong-omong Josh, kau sudah dengar soal Monica dan kakaknya?"


Joshua mengernyitkan alisnya setelah mendengar ucapan Jason. "Memangnya mereka kenapa?"


"Kecelakaan." celetuk Andrew, mendahului Jason. Tampak Joshua saat ini menanap.


"Alex meninggal dan Monica hilang ingatan." timpal Kevin. Joshua langsung menatap Kevin guna meminta penjelasan lebih dalam. Mengerti dengan tatapan Joshua, Kevin kembali melanjutkan, "katanya mobil mereka disabotase sehingga remnya blong. Polisi masih menyelidiki kasusnya."


"Aku heran kenapa masalahnya jadi serius seperti ini." sambung Andrew Lantas mereka semua mulai membicarakan tentang Monica dan kakaknya, tanpa melihat Joshua yang saat ini begitu terpukul mendengar apa yang baru saja temannya sampaikan.


Joshua tidak mengerti, mengapa masalah yang dihadapi Monica Frances semakin memburuk. Bocah laki-laki itu juga heran mengapa ada orang yang tega melakukan hal itu pada Monica dan kakaknya. Dalam hati, Joshua menyesali kepindahannya sekarang, seandainya dia bisa lebih lama lagi disini dan menemani Monica, menjadi teman disaat gadis itu mengalami kesusahan. Pasti berat bagi Monica sekarang, apalagi dia kehilangan ingatannya.


Tapi, tunggu... hilang ingatan?


Berarti Monica tidak ingat lagi pada Joshua? Ini benar-benar buruk.


"Katanya dia juga tidak mau melanjutkan sekolah lagi." lagi-lagi ujaran dari temannya itu, membuat Joshua menghentikan lamunannya.


"Apa!?" seru Joshua. Ini adalah pertama kalinya Joshua bersuara sejak bungkamnya tadi. Dia makin terkejut mendengar kata-kata terakhir tersebut. "Dia tidak sekolah lagi?"


"Iya, kudengar dia sudah kembali ke rumahnya di desa." sahut Kevin.


Entah mimpi buruk apa yang Joshua alami hingga hari ini dia mesti menelan kenyataan pahit bahwa ia tidak akan bisa lagi bertemu dengan Monica Frances, apalagi gadis itu sudah tidak punya ingatan apa-apa lagi tentangnya. Mustahil bagi Monica untuk mengenali Joshua Spencer lagi, apalagi untuk bertemu.


Mungkin sekarang saatnya mereka menjalani kehidupan masing-masing, sebagai Monica Frances dan Joshua Spencer.


"Jangan khawatir, Josh. Dia pasti baik-baik saja." kata Jason seolah mengerti dengan isi pikiran Joshua.


Bocah laki-laki itu pun tersenyum simpul. Namun, dalam hati dia menyesal tidak bisa melakukan apapun untuk Monica sampai gadsi kecil itu mendapat musibah. Bahkan Joshua tidak sempat menjenguk Monica Frances dan mengucapkan salam perpisahan. Seandainya waktu bisa diputar dan ia tahu mengenai kejadian ini... Joshua pasti akan membatalkan kepindahannya dan tinggal bersama paman juga bibinya disini.


Tapi, yang terjadi saat ini ialah... semuanya sudah terlambat.


Joshua tidak bisa melakukan apapun untuk Monica, bahkan melakukan sesuatu untuk dirinya sendiri dia belum bisa. Terkadang hidup memang tidak adil.


"Joshua, ayo kita berangkat!"


Ditengah-tengah pemikiran Joshua mengenai Monica, tiba-tiba sang ibu memanggilnya ketika beliau keluar dari rumah, membawa beberapa kotak besar yang berisi barang-barang mereka. Ibu Joshua lantas menghampiri Joshua dan teman-temannya. "Terima kasih ya kalian sudah datang. Setelah ini kalian jangan lupa pada Joshua, ya." ucap Ibu Joshua lembut, kemudian mereka semua langsung berseru semangat kalau mereka tidak akan pernah lupa pada temannya.


Sekilas Joshua tersenyum melihat teman-temannya yang begitu menyayanginya, seperti saudara.


"Ayah, jadi ingat waktu kecil dulu, Josh." tiba-tiba ayah Joshua muncul dihadapan mereka dan mengambil kotak besar dari tangan Ibu Joshua. "Biar aku saja." gumamnya pada ibu Joshua. Selanjutnya ibu Joshua pergi ke bagasi mobil untuk memperbaiki tatanan barang-barang mereka.


"Dulu, ayah juga punya teman sepermainan. Ayah dulu akrab dengan mereka, sampai akhirnya kita sama-sama dewasa dan punya kehidupan masing-masing. Setelah itu kami jarang komunikasi." timpal Ayah Joshua.


"Kenapa begitu paman?" Tanya Andrew.


Ayah Joshua tersenyum singkat. "Karena orang dewasa punya kehidupan sendiri yang menjadi prioritas."


"Pasti sulit jadi orang dewasa." gumam Andrew, membuat semua orang tertawa.


"Ya, sudah sekarang kami pamit dulu, ya?" kemudian Ayah Joshua menyusul Ibu Joshua yang sedang merapikan barang-barang di mobil. Sementara Joshua masih berhadapan dengan teman-temannya, mengucapkan salam perpisahan.


"Aku pergi, ya!" kata Joshua sambil melambaikan tangan pada temannya. Kemudian bocah laki-laki itu menghampiri kedua orang tuanya yang sudah berada dalam mobil.


"Dah, Joshua! Sampai jumpa." sahut ketiganya bersamaam sambil melambaikan tangan.


Entah mengapa melihat ketiga temannya yang berdiri didepan rumah membuat Joshua mengingat kenangan ketika ia dan teman-temannya bermain bersama. Yeah, namanya juga perpisahan pasti selalu berakhir sedih.


Tapi, yang lebih membuatnya sedih adalah kenyataan bahwa Moncia Frances lupa ingatan, secara tak langsung Monica juga melupakan Joshua.


Sepertinya Joshua juga harus melupakan Monica Frances, karena gadis itu tidak akan pernah mengingat masa lalunya.


"Ya, ini aku." Ujar Joshua ketika ia menempelkan ponsel milik Angela ditelinga. Laki-laki itu kini berada di ruang keluarga, tempat Angela tadi mengobrol dengan Adrian.


"Bagaimana kabarmu?" Adrian tidak langsung to the point, ia mau berbasa-basi dengan temannya terlebih dahulu, karena sudah lama tidak bertemu.


"Aku baik. Kenapa tidak telepon lewat nomor telepon ku?" Joshua mengernyitkan kedua alisnya. Lalu terdengar suara helaan napas diujung sana.


"Kau itu kebiasaan kalau aku yang telepon, pasti tidak diangkat." kata Adrian.


Benar juga. Batin Joshua. Laki-laki itu baru ingat kalau ia jarang menerima telepon dari Adrian saking stress-nya.


"Ah, aku lupa soal itu. Beritahu aku apa ada hal yang penting?" ujar Joshua.


"Mungkin iya, mungkin juga tidak." jawab Adrian yang membuat Joshua mengerutkan dahinya.


"Maksudmu?"


"Aku sudah dengar dari Ferdinand mengenai permintaan mu itu dan... yeah, aku mengijinkannya. Tapi dengan satu syarat." kata Adrian sedikit menggantungkan kalimatnya.


"Soal fanmeeting itu, kan? Aku sudah tahu Adrian. Dan aku mau melakukannya."


Adrian menghela napas lega, jadi Adrian tidak perlu menjelaskan panjang lebar pada Joshua soal fanmeeting itu. "Sepulang dari liburan, kita akan mempersiapkannya." ujar Adrian. "Omong-omong, Josh, kenapa kau mau melakukan fanmeeting ini? Padahal dari dulu aku sudah menyuruhmu untuk mengadakan acara tersebut, tapi kau tidak mau. Lalu sekarang, kau dengan gampangnya langsung menerima tanpa membantah." sambung laki-laki itu. Adrian terlampau penasaran, mengapa Joshua rela melakukan fanmeeting ini hanya dengan menawarkan perpanjangan liburan.


Adrian tahu kalau Joshua tidak ingin kehidupan pribadinya terlalu diakses orang lain, maka dari itu Joshua tidak ingin menampilkan sosoknya pada para penggemar, meski ia tahu ia memiliki banyak sekali penggemar berkat karyanya.


Tapi, untuk kali ini, mungkin Joshua punya keputusannya sendiri. Meski begitu, tetap saja Adrian penasaran pada temannya ini.


"Aku punya alasan khusus. Aku akan memberitahumu setelah pulang nanti." sahut Joshua singkat. Tidak mau jika ceritanya terdengar oleh Monica, karena gadis itu belum tahu siapa Joshua sebenarnya.


Lagi-lagi Adrian menghela napas. "Baiklah. Kau bisa beritahu kapan saja." katanya dengan pasrah.


"Omong-omong, bagaimana keadaan disana?" tanya Joshua berbasa-basi.


"Hm, lumayan baik. Aku punya dua kabar, baik dan buruk." kata Adrian.


Joshua tertawa mendengarnya. "Apa-apaan itu!" protesnya.


"Jawab dulu, kau pilih yang mana."


"Hm, aku mau dengar kabar baik."


"Ferdinand dia sudah punya gandengan baru."


Joshua tercengang mendengar kata 'gandengan' yang dikatakan Adrian, apa yang laki-laki itu maksud pacar?


"Dia sedang berkencan?"


Terdengar suara jentikan jari, membuat Joshua mengerutkan dahinya.


"Dia sedang dekat dengan seseorang." ujar Adrian.


"Eh? Secepat itu?"


"Kau bahkan tidak tahu kalau temanmu sekarang punya pacar." kemudian Joshua mendengar Adrian tertawa. Terkadang laki-laki itu suka sekali menggosip mengenai temannya.


Setelah itu, Joshua tersadar, kalau selama ini ia tidak begitu tahu keadaan temannya. Meski terlihat dekat, tetapi Joshua tidak pernah tahu kabar terbaru tentang temannya. Ia terlalu tenggelam dalam dunianya, dalam depresinya, dalam balutan pemikiran mengenai kekhawatirannya terhadap sesuatu. Joshua juga sadar, ia terlalu larut dalam masalah yang ia buat sendiri.


"Josh?" suara Adrian itu membangunkan Joshua dari lamunannya. Oh, memikirkan diri sendiri, membuat Joshua melalang buana.


"Ya, aku disini." katanya.


"Apa disana baik-baik saja?"


"Tentu saja."


"Kalau ada masalah, jangan sungkan cerita padaku, ya?"


Joshua tersenyum sekilas, ia kemudian menggeleng pelan. "Kalau kau punya masalah juga, cerita saja padaku. Kita saling berbagi cerita." katanya. Untuk pertama kalinya Joshua mengatakan ini pada temannya. Ada sedikit rasa lega dalam diri Joshua ketika mengatakan kalimat itu pada Adrian.


Kelihatannya mungkin sederhana, tapi bisa jadi, bagi orang lain itu adalah sesuatu yang berharga yang belum pernah seseorang lakukan untuknya.


Adrian terlihat tersenyum menanggapi kata-kata Joshua barusan. Tidak disangka Joshua akhirnya dapat membuka diri untuknya.


"Mari nanti kita sama-sama saling terbuka." kata Adrian.


...---...