
Joshua Spencer mulai mengemasi barangnya sedikit demi sedikit, berhubung besok dia sudah harus kembali ke Wellington. Sayang sekali Joshua cuma punya waktu sebentar di Gibbston Valley, padahal ada banyak hal yang ingin dia lakukan bersama Monica. Tetapi jika ia terus berada disini, kemungkinan besar perasaannya akan semakin dalam pada Monica. Joshua merasa sudah terlalu banyak membuat kesalahan pada gadis itu, secara tak langsung. Bukan kemauannya juga untuk berada dilingkar situasi seperti sekarang ini. Joshua masih belum yakin pada perasaannya, meski jelas-jelas kemarin ia langsung memeluk Monica ketika pertama kali bertemu setelah tidak bicara selama beberapa waktu.
Ah, mungkin perasaan sesak ini akan bertahan sementara waktu. Kedepannya pasti Joshua bisa mengontrol perasaannya.
Saat ini, Joshua masih menyimpan harapan untuk Monica. Ia harap gadis itu bisa datang ke fanmeeting-nya, sebagai ucapan terima kasih, karena selama ini Monica telah banyak membantu. Yeah, bisa dikatakan secara tak langsung Monica telah membantu Joshua untuk kembali menemukan jati dirinya.
Joshua ingat, semalam dia menulis sesuatu di kertas. Ia pun menghampiri meja belajar didekat jendela dan menemukan sebuah lipatan kertas. Dia tersenyum sekilas. Meski Joshua tak yakin jika apa yang dilakukannya akan benar terjadi, tapi dia ingin mencoba. Joshua tahu kalau keajaiban itu hanya ada dalam dongeng saja. Kalaupun ada, pasti hanya satu dari sekian ribu kemungkinan. Dan Joshua harap satu kemungkinan itu dapat menjadi kenyataan, walaupun dirinya juga tak yakin.
Laki-laki itu menghela napas pasrah sebelum ia pergi dari kamar menuju ke suatu tempat. Kali ini tujuannya bukan lagi rumah Monica atau kebun, melainkan ke sebuah tempat yang ia yakini penuh dengan harapan.
Ia pun kini menyusuri Gibbston Valley sendirian, tanpa Monica. Ia ingat betul, kali pertama menyusuri jalanan ini bersama Monica Frances. Ia juga ingat bagaimana wajah sumringah gadis itu bak sinar mentari pagi. Senyumnya merekah layaknya bunga di musim semi. Joshua senang melihat Monica sebahagia itu. Gadis itu sudah tumbuh menjadi gadis yang manis, bahkan dia sampai membuat Joshua jatuh dalam pesonanya.
Setelah melewati jembatan yang dibawahnya mengalir sebuah sungai kecil dengan gemericik air yang menghanyutkan jiwa, Joshua Spencer sampai disebuah pohon besar, pohon pinus, tempat dulu Monica selalu membuat harapan. Joshua memang tidak terlalu percaya pada hal-hal diluar nalar seperti ini, tetapi.... untuk kali ini saja, ia akan menghilangkan segala logikanya dan menukarnya dengan sesuatu diluar pikiran, seperti percaya pada pohon pinus ini. Tidak, ia percaya pada keajaiban yang pohon ini bisa lakukan. Kalau memang benar, di bulan desember ini ia ingin menukar semua harapan yang dia punya untuk Monica. Apapun agar Monica bisa selalu tersenyum, dengan atau tanpa Joshua.
Ketika laki-laki itu akan meletakkan secarik kertas yang sedari tadi ada dalam genggamannya, ia menemukan sesuatu di pohon tersebut. Tepat disela-sela kulit pohonnya, Joshua menemukan lipatan kertas lain. Warnanya belum pudar, kemungkinan seseorang baru saja meletakkan kertas dipohon ini. Mungkinkah itu Monica?
Joshua pun mengambil dan mengganti kertas tersebut dengan miliknya. Dia pun perlahan membuka surat tersebut dan membacanya. Ternyata surat itu memang benar dari Monica. Laki-laki itu tidak melanjutkan membaca surat tersebut, ia memilih untuk menyimpan kertas tersebut dalam kantong celana. Kemudian ia menghela napas kasar dan mengangkat kepala, melihat ujung pohon yang kini tengah disinari matahari musim panas. Entah mengapa setelah mengetahui siapa yang menulis surat tersebut, hati Joshua makin kacau. Makin tidak menentu. Makin tidak tahu kemana arahnya.
Apapun tentang Monica selalu membuatnya tidak bisa berpikir jernih. Bahkan ada satu ruang dihatinya yang masih tidak bisa menerima kenyataan hingga terselip rasa ingin yang berlebih. Tiba-tiba saja dadanya terasa sesak.
Untuk sekarang saja... ia harus bisa... ia harus bisa pergi dari kehidupan Monica sebelum sesuatu yang buruk terjadi.
...-οΟο-...
Sekembalinya dari pohon harapan⸻yeah, Joshua mulai menyebutnya demikian, Joshua tidak kembali ke kamar. Tiba-tiba saja Angela muncul didepan rumah Monica dan memanggil Joshua untuk mengobrol sebentar didepan penginapan. Alhasil kini mereka duduk disebuah bangku sambil bertatap-tatapan, karena tidak ada satupun dari mereka yang memulai perbincangan.
Pada akhirnya, Angela menghela napas pasrah dan kembali menatap Joshua untuk membuka perbincangan. "Ku dengar kau besok akan pergi."
Joshua hanya mengangguk pelan. Tidak berniat untuk membuka suara. Pikirannya terlalu rumit untuk diajak bicara.
"Aku sudah mengajak Monica tadi, tapi dia memilih mengurung diri di kamar." ujar Angela.
Kali ini Joshua yang menghela napas. "Aku tahu, dia pasti tidak mau menemuiku." balasnya. "Perasaanku makin tidak menentu, apalagi setelah dia menyatakan perasaan padaku."
Angela menatap temannya, iba. Mengapa hubungan sepupunya dan Joshua begitu rumit? Kelihatannya memang perkara mudah, tetapi jika sudah menyangkut perasaan masing-masing, semuanya akan terasa rumit.
"Jangan bilang begitu, kau masih ingatkan? Aku akan selalu mendukung keputusan kalian." Angela tersenyum singkat, kemudian dia melanjutkan lagi, "sepertinya Ferdinand selalu bilang padamu untuk mendengar dan merasakan perasaanmu. Kau boleh memutuskan kalau itu memang sudah sesuai dengan perasaanmu."
"Aku tahu." jawab Joshua seadanya. Seolah tidak ingin menambah kata-kata lagi karena pikirannya sudah bercabang. "Aku rencananya akan memberikan undangan khusus untuk fanmeet-ku pada Monica, tapi sepertinya itu tidak mungkin melihat kondisinya tidak memungkinkan."
"Omong kosong!" protes Angela. "Aku akan mengajaknya ke kota dan memastikan kalian akan bertemu." ujarnya.
"Aku memberikannya undangan bukan untuk memberi kesempatan pada perasaannya, aku hanya ingin mewujudkan keinginannya, untuk bertemu dengan penulis favoritnya."
"Katakan saja tanggalnya dan aku akan pastikan dia ada disana." timpal Angela.
"Adrian bilang saat hari natal, untuk tempatnya kau bisa tanya Adrian." sahut Joshua. "Kau yakin bisa mengajaknya pergi?"
"Tentu. Aku akan membujuk bibi, supaya dia memberikan ijin untuk Monica."
"Terima kasih." kata Joshua sembari mengulas senyum tipis.
Meski dia tak yakin, tapi dia berharap banyak pada Angela juga harapannya untuk Monica
Joshua mengangkat kedua bahu. "Hanya jalan-jalan sebentar, cari angin." kilahnya.
"Sendirian?"
"Yeah, tentu."
"Biasanya kau akan mengajak Monica." ujar Angela, kemudian dia melanjutkan. "tapi aku tahu itu tidak akan mungkin disaat seperti ini."
Joshua tertawa pendek. "Tolong katakan saja padanya, besok sebelum pergi, aku akan menunggunya didepan rumah."
"Tentu, aku akan memberitahunya." gumam Angela. "Semoga saja dia mau menemuimu." lantas gadis itu tiba-tiba berdiri, membuat Joshua mendongak menatap Angela. "Sepertinya aku mengganggumu, kau harus bersiap-siap untuk pulang besok. Selamat berkemas-kemas."
Kemudian Joshua melihat Angela perlahan menjauh dari tempatnya dan akhirnya menghilang ketika gadis itu menutup pagar penginapan. Joshua menghela napas berat, lantas ia juga berdiri dan kembali masuk ke dalam penginapan.
...-οΟο-...
Monica mengangkat kepala ketika mendengar suara ketukan pintu kamarnya. Sejak tadi ia begitu betah dalam posisinya, menelungkupkan kepala diantara kedua lutut. Pikirannya diisi oleh kekalutan mengenai Joshua Spencer yang sebentar lagi akan pergi. Ia tidak bisa berhenti memikirkan Joshua meskipun ia tahu kalau Joshua meminta Monica untuk berhenti pada perasaannya. Tapi diluar dugaan, rasa itu makin lama makin melebar, hingga Monica tak bisa mengontrol perasaan tersebut.
Karena Monica tidak kunjung memberikan suara, seseorang dibalik pintu langsung membuka pintu kamar Monica. Ternyata dia adalah Angela. Gadis itu tersenyum sekilas, kemudian masuk ke dalam kamar Monica.
"Kau baik-baik saja?" tanya Angela, ketika ia sudah duduk dipinggir tempat tidur Monica.
Monica menggelengkan kepala, kemudian dia menyandarkan kepala ke pundak Angela. Angela pun memberikan pelukannya pada Monica. "Tidak apa-apa, sayang. Tidak apa-apa. Jangan menyerah, Joshua tidak benar-benar pergi meninggalkanmu."
Monica membuang napas berat. "Aku tahu, tapi kenapa hatiku tidak berhenti merasakan sesak begini."
"Karena kau mencintainya, hatimu tidak siap menerima kenyataan kalau dia akan pergi dan kalian akan berpisah."
Mendengar ucapan Angela, Monica tersenyum getir. "aku tidak tahu kalau jatuh cinta bisa sesakit ini."
Angela bungkam. Dia memilih untuk mengelus punggung Monica, menenangkan sepupunya yang akan ditinggal pergi oleh sang pujaan hati. Dia tidak tahu lagi harus berkata apa. Tidak mungkinkan dia bilang mengenai pertemuan rahasianya dengan Joshua? Dia ingin menyiapkan hadiah untuk Monica
"Kau mau bertemu dengannya?"
Monica menggeleng. "Aku akan semakin sesak kalau bertemu dengannya."
Angela menghela napas. "Besok dia akan pergi."
"Aku tahu."
"Dan dia masih mengkhawatirkanmu."
"Aku juga tahu itu." kemudian Monica menjauhkan kepalanya dari Angela. "Aku ingin bertemu dengannya, tapi aku tidak bisa."
Angela mengelus rambut Monica. "Jangan takut, aku temani. Aku sudah sering bilang, jangan sampai kau menyesal, Monica." kemudian Angela menurunkan tangannya dan beralih mengelus punggung tangan Monica. "Jadi, apa kau mau menemui Joshua besok?"
Angela benar, dia tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Kalau bukan besok? Kapan lagi ia bisa bertemu dengan Joshua? Dia tidak boleh menyesal. Tanpa pikir panjang lagi, Monica langsung mengangguk, mengiyakan ajakan Angela, sebelum akhirnya ia memeluk sepupunya.
...----------------...