Me Before You

Me Before You
Bab 15



Monica dihantui rasa penasaran sejak menemukan buku bersampul kuning yang terjatuh beberapa hari lalu, ketika dia berniat mengembalikan buku milik Joshua. Gadis itu daritadi memandang buku tersebut tanpa ada niat untuk membukanya. Buku tersebut terlihat asing, karena seingat Monica, dia tidak punya buku yang seperti ini. Mungkinkah buku ini milik Joshua juga?


Entah mengapa, gadis itu tampak ragu untuk menyentuh buku tersebut. Tapi sepanjang yang dia ketahui, buku ini tidak pernah Monica sentuh apalagi dibaca. Bukunya juga terlihat usang dan penuh debu.


Monica jadi uring-uringan sendiri sekarang. Antara melihat atau tidak, mungkin saja bukunya sudah lapuk dan beberapa tintanya sudah menghilang. Gadis itu pun akhirnya mengurungkan niat membuka buku tersebut dan berjalan ke arah tempat tidur untuk berbaring sejenak.


Sejak kejadian di kebun waktu itu, Monica jadi kepikiran pada Joshua. Entah itu rasa bersalah atau rasa rindu. Tunggu, rindu? Sejak kapan Monica rindu pada seorang Joshua Spencer? Oh, Moncia berani bersumpah kalau dirinya bisa gila kalau terus menerus memikirkan Joshua. Monica sampai tidak keluar rumah setelah terakhir bertemu dengan Joshua. Gadis itu takut jika dia bertemu dengan Joshua, ia tidak bisa menahan perasaannya. Bisa saja Monica langsung memeluk Joshua.


Tak berselang lama, tiba-tiba, terdengar suara ketukan pintu yang membuat Monica terkesiap dan langsung bangkit, memposisikan diri duduk bersila diatas kasur.


"Hi, morning." itu Angela dengan sapaan ramahnya, muncul dari balik pintu. Kemudian si gadis masuk ke dalam kamar Monica dan duduk disisi tempat tidur. "Sudah sarapan?"


Gadis itu menggeleng.


"Masih tidak mau turun?"


Monica terdiam, tidak menanggapi pertanyaan Angela.


Yeah, sejak kemarin Monica tidak mau turun untuk makan bersama dan Angela rasa mood Monica sedang tidak baik karena masalahnya dengan Joshua. Mereka sebenarnya tidak bertengkar hebat, hanya saja salah satu dari mereka berusaha untuk menghindar. Dan orang itu adalah Monica. Joshua sebenarnya mengatakan hal yang benar, tetapi dia tidak jujur pada perasaannya. Setidaknya itulah yang Angela lihat dari tindak tanduk keduanya. Dan semuanya seakan menjadi rumit. Melihat keduanya yang saling berjauhan, membuat Angela mau tidak mau menjadi penengah.


"Masih memikirkan Joshua?" tebak gadis itu, tanpa perlu menunggu gadis itu bicara. "Joshua ada didepan, dia bilang mau membicarakan sesuatu."


Monica masih tidak mau menjawab. Kepalanya penuh terisi oleh berbagai pemikiran mengenai Joshua. Dia tahu apa yang ingin Joshua bicarakan, pasti mengenai kepergiannya. Monica cukup tahu saja kalau Joshua tidak punya alasan untuk bertahan. Dan Monica rasa, ia sudah tidak punya harapan lagi untuk bisa bertemu dengan Joshua.


Melihat kebungkaman Monica, Angela pun kembali bicara. "Terkadang manusia itu memang butuh sikap egois dan setiap manusia pasti pernah mengalaminya. Bersikap seakan semua yang ada didunia ini adalah miliknya, lebih memprioritaskan kepentingan sendiri. Coba pikirkan ini sekali lagi. Aku hanya boleh bersikap egois, kalau dia milikku."


Monica langsung menoleh, menatap Angela setelah mendengar kalimat terakhir itu. Tanpa bersuara, Angela tahu apa yang saat ini ada dipikiran Monica.


"Monica dengar, kalau terus-terusan seperti ini, kau yang tersiksa, sayang." ujar Angela sambil menyibak sisi rambut Monica ke belakang telinga. "Setidaknya kau turun dan berikan dia waktu untuk menjelaskan."


"Tapi aku...."


"Aku tidak mau kau menyesal, Monica." sela Angela dengan cepat. "Dia sekarang ada dibawah, menunggumu sejak pagi."


Sisi terdalam hati Monica langsung tersentuh ketika Angela mengatakan kalau Joshua menunggunya sejak pagi, hanya untuk bertemu dan bicara dengannya. Kenapa dia harus seperti itu? Kenapa dia harus berkorban begitu besar untuk Monica? Padahal laki-laki itu tahu, kalau tidak ada hubungan apapun diantara mereka. Salahkah kalau Monica jika ia salah paham menanggapinya?


"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Monica akhirnya.


"Pergi dan temui dia." ujar Angela.


Namun, yang Monica lakukan saat ini hanya diam. Dia masih ragu, haruskah dia menemui Joshua Spencer? Atau membiarkannya begitu saja. Tapi tidak baik membiarkan seseorang menunggu. Monica tahu itu. Tanpa berkata apa-apa lagi, Monica mengangguk mengiyakan suruhan Angela.


Angela pun tersenyum, lantas gadis itu mengelus pundak Monica dan memeluk sepupunya. Angela berharap penuh pada keduanya. Dan Angela juga berharap Joshua tetap menjaga rahasia masa lalu Monica, setidaknya sampai saatnya tiba. Entah kapan itu.


"Tapi kalau aku melakukan kesalahan bagaimana?" tanya Monica setelah melepas pelukannya dengan Angela.


"Kesalahan apa?"


"Misalnya aku melakukan hal seperti.... memeluknya."


Angela tersenyum. "Itu bukan kesalahan, itu sesuatu yang wajar untuk dilakukan."


"Tapi kami tidak punya hubungan apapun." timpal Monica lagi.


"Maka jelaskan padanya, tentang perasaanmu."


Monica terdiam, haruskah seperti itu? Apakah tidak cukup kemarin dia mengatakan pada Joshua untuk tidak pergi? Apakah tidak cukup Monica bertanya mengenai alasan agar Joshua bisa bertahan? Entah laki-laki itu tidak peka atau memang dia tidak bisa bersama Monica. Ini hanya masalah waktu. Dan Monica lebih dulu menjatuhkan hatinya pada Joshua, sementara laki-laki itu... bahkan Monica tidak tahu pemikiran Joshua mengenai dirinya.


Dan... untuk meluruskan semua ini... Monica harus menemui Joshua Spencer dan mengatakan pada laki-laki itu bahwa ia jatuh cinta pada Joshua. Apapun jawaban Joshua, Monica akan menerimanya. Apapun itu.... Meskipun itu buruk sekalipun.


...-οΟο-...


Sejak pagi tadi, Joshua Spencer rela berdiri didepan rumah Monica guna menunggu si gadis keluar, meskipun ia tahu kalau penantiannya akan sia-sia saja. Entah Monica tidak mau kelaur rumah atau Monica sengaja menghindari Joshua. Gadis itu masih tidak mau bicara dengan Joshua. Memang tidak ada yang salah dan benar disini, terkadang manusia memang begitu, menunggu untuk dicari dan ketika orang yang mencari mulai menyerah, mereka baru menyadari perasaan mereka.


Joshua tahu kalau saat ini Monica butuh waktu sendiri, tapi setidaknya satu kali saja... dia ingin bicara dengan Monica sebelum hari itu datang.


Joshua menghembuskan napasnya kasar. Dia sampai tidak bisa tidur karena memikirkan Monica Frances. Gadis yang bukan siapa-siapanya, tapi berhasil membuat Joshua merasa khawatir belakangan ini. Ditambah lagi, gadis itu bisa-bisanya mendapat prioritas utama dalam pikiran Joshua.


Ketika pintu rumah Monica terbuka, Joshua langsung sumringah dan berniat ingin menghampiir gadis itu. Tapi yang terjadi, Joshua malah berhenti bergerak ketika mendapati bukan Monica yang keluar, tapi sosok Angela Frances. Dan Joshua menduga Angela akan pergi ke kebun.


Dapat Joshua lihat, gadis itu kini tengah berjalan menuju gerbang. Sepertinya dugaan Joshua memang benar kalau Angela akan pergi ke kebun. Joshua masih bergeming, namun matanya tetap memantau pergerakan Angela yang sebentar lagi akan membuka pagar. Benar saja, gadis itu langsung membelalakan mata ketika melihat Joshua.


"Joshua?"


Dengan terpaksa, Joshua menautkan senyum diwajah. Berusaha terlihat ramah didepan gadis itu.


"Sudah daritadi?"


Joshua pun mengangguk. "Apa Monica ada didalam?"


"Iya, dia didalam. Mau aku panggilkan?"


"T-tidak!" Joshua langsung menyela ketika gadis itu berniat masuk ke dalam lagi, untuk memanggil Monica. "Biarkan saja dia keluar. Aku akan tetap menunggu disini."


"Kalau begini terus, kalian kapan baikannya?" rutuk Angela. "Ini waktu yang tepat kalian berdua jujur sebelum kau pergi, Josh."


Joshua menghela napas pasrah. "Aku bahkan tidak tahu mau menjelaskan bagaimana, aku cuma ingin dia tidak terlalu mengharapkan ku. Tanpa sadar, aku telah membuatnya kecewa."


Angela mengernyitkan alisnya. "Kecewa? Soal apa?"


"Aku pernah berjanji untuk mengembalikkan ingatannya, tapi setelah aku mengetahui siapa Monica itu, aku..." lelaki itu menggeleng, kemudian dia melanjutkan, "aku tidak bisa memberitahunya dan aku tidak bisa bertahan untuk berada disampingnya."


Angela pun mengangguk, mengerti dengan kondisi Joshua. Gadis itu pikir, Joshua pasti merasa tertekan dengan janji yang tidak bisa dia tepati itu. Apalagi Angela pernah menekan Joshua untuk tidak mengatakan sepatah katapun mengenai masa lalu Monica.


"Tidak apa-apa. Lagipula aku yang salah, karena sudah pergi sampai sejauh ini. Aku berusaha menghindari dunia, tapi nyatanya dunia mempertemukanku dengan masa lalu." laki-laki itu pun memasukkan kedua tangan dalam kantong celana. "Kemungkinan besok atau dua hari lagi aku akan berangkat, Ferdinand bilang dia sudah memesankan ku kendaraan travel."


"Dan kau masih tidak mau bertemu Monica? Joshua, ingat! Jangan sia-siakan kesempatan yang kau miliki. Setidaknya disaat terakhirmu berada disini, kau bisa beri kejelasan padanya, supaya dia tidak berharap dan kau bisa melupakannya."


Melupakan Monica. Entah mengapa kata-kata itu membuat hati Joshua mencelos, dadanya tiba-tiba terasa sesak. Ada satu titik dalam hatinya yang merasa keberatan dengan kata-kata itu, tetapi Joshua tidak bisa apa-apa. Dia tidak ingin memberi harapan pada Monica lagi, dia juga tidak ingin menyakiti Monica. Berada disamping Monica membuat Joshua merasa tersiksa, karena ia harus menyimpan banyak rahasia dari gadis itu, Apalagi dia pernah membuat janji dan tak bisa ia tepati.


"Baik, aku akan menemuinya. Tapi, aku tidak punya alasan lain untuk bisa bertahan disini."


"Apapun itu, katakan langsung pada Monica." sahut Angela.


Setelah berkata demikian, Angela kembali masuk ke dalam rumah untuk membujuk Monica supaya mau bertemu dengan Joshua, meskipun Angela tahu bahwa Monica mungkin akan sulit dibujuk.


Joshua kembali menghela napas, entah mengapa kali ini menghembuskan napas terasa begitu berat. Laki-laki itu menatap pemandangan sekelilingnya, setidaknya ia masih punya waktu besok sebelum ia benar-benar pergi dari tempat ini. Waktu untuk mengingat beberapa kenangan yang ia buat serta janji yang waktu itu pernah dia katakan pada Monica. Joshua masih punya waktu untuk mengingat sebelum waktu benar-benar mengharuskannya melupakan.


Tak berselang lama, ponsel di kantong celananya bergetar, tanda seseorang meneleponnya. Ia pun segera meraih ponselnya dan melihat siapa yang menelepon.


Ferdinand Smith.


Ternyata yang meneleponnya adalah Ferdinand. Lekas Joshua menggeser layar ponselnya dan menempelkan benda tersebut ke telinga.


"Ya, halo, Fer!"


"Joshua, aku sudah memesankan travel untukmu. Persiapkan dirimu karena dua hari lagi kau akan berangkat."


"Hm, aku mengerti." desahnya pasrah.


Mendengar suara serak Joshua, membuat Ferdinand menyernyitkan alisnya. "Josh?"


"Ya?"


"Kau baik-baik saja?"


"Hah, entahlah. Aku tidak tahu. Rasanya aku tidak siap untuk pergi dari sini." kata Joshua.


"Karena Monica?" tebak Ferdinand.


Joshua terdiam, tidak mau menjawab.


"Memang responnya bagaimana?"


"Dia marah padaku, padahal aku belum bilang apa-apa."


"Hah?"


"Dia tahu aku akan pergi."


"Lalu soal perasaanmu?"


"Aku akan mengatakan padanya sekali lagi, kalau aku bukan orang yang pantas dia harapkan. Dia akan banyak kecewa jika bersamaku."


"Kenapa kau bisa bilang begitu?"


"Karena aku pernah berjanji untuk mengembalikan ingatannya, tapi aku malah mengingkarinya."


"Setidaknya kau sudah mencoba membuatnya bahagia, Josh."


"Aku tahu, tapi tidak bisa seterusnya."


Sebenarnya Ferdinad tidak tahu apa yang dirasakan oleh Joshua. Dia juga bingung mau menanggapi apa, karena dia tidak terlalu paham dengan masalah yang dihadapi Joshua. Masalah yang menyangkut batin biasanya lebih rumit untuk diselesaikan. Jadi Ferdinand sebagai teman hanya bisa memberi saran untuk membantu meringankan beban Joshua.


Ferdinannd pun membuang napas keras. "Oke, oke itu keputusanmu. Aku hanya bisa mendukung." katanya. "Tapi setelah ini kau tidak boleh goyah pada keputusan yang kau ambil."


"Hm, aku mengerti."


"Persiapkan dirimu, Josh. Aku dapat panggilan, teleponnya kututup. Bye." kemudian sambungannya diputus oleh Ferdinand.


Perlahan Joshua menurunkan ponselnya dan kembali memasukkan benda tersebut ke kantong celana. Kini Joshua menatap sekelilingnya. Sebentar lagi ia akan pergi. Tidak akan ada lagi pemandangan hijau seperti ini. Ia juga tidak bisa mencium aroma wine juga keju ketika keluar rumah. Ia juga tidak bisa bertemu dengan Monica lagi.


Pandangannya langsung mengarah pada pagar rumah Monica yang berbunyi 'kriet', menampilkan sosok yang selama ini Joshua tunggu kehadirannya. Monica Frances. Si gadis yang dari dulu sampai sekarang selalu membuat Joshua khawatir. Joshua dapat melihat sinar mata Monica yang menyiratkan sesuatu. Dan Joshua tahu.... Gadis itu merindukannya. Sama seperti dirinya.


"Hai." Sapa Joshua akhirnya diiringi dengan senyum.


Tampak mata Monica Frances mulai berkaca-kaca, membuat Joshua mendekat dan langsung mendekap gadis itu. Hal yang tak pernah terbayangkan sama sekali dipikiran Monica kalau Joshua memeluknya. Gadis itu pun membalas pelukan Joshua. "Kenapa menangis, hm?" tanya Joshua begitu dia mendengar suara sesenggukan.


Perlakuan Joshua saat ini tentunya membuat Monica goyah. Ia semakin tidak bisa merelakan Joshua pergi. Diluar dugaan, laki-laki itu malah makin mengeratkan pelukan sesekali mengelus rambut Monica. Sebenarnya ada apa dengan Joshua Spencer? Kenapa dia bisa jadi seperti ini?


"Jangan buat dirimu merasa tersiksa." ujar Joshua tepat ditelinga si gadis. "Maaf atas perkataan ku kemarin. Tapi aku memang tidak bisa terus berada disini. Aku punya pekerjaan dan tempat tinggal di Kota. Aku yakin setelah ini kita masih bisa bertemu, ada Angela yang akan menemanimu pergi."


"Percuma. Ibu tidak akan mengijinkan." balasnya dengan sesenggukan.


Joshua kembali mengelus rambut si gadis, berusaha menenangkan Monica.


"Kita pasti akan bertemu." sahut Joshua. "Tapi aku harus pergi. Dua hari lagi aku akan dijemput. Makanya aku bilang kau tidak bisa terus mengharapkan ku, aku bukan orang yang pantas diharapkan."


"Joshua aku menyukaimu, apa kau tidak punya alasan untuk berada disini?" akhirnya Monica mengakuinya. Meskipun ia tahu pengakuan itu tak akan membuat Joshua berada disisinya.


"Maaf." hanya satu kata itu yang mampu Joshua ucapkan kala ia mendengar kata-kata gadis itu. Tidak ada hal lain yang mampu dia ucapkan pada hati yang rapuh. Sedikit saja ia bicara, tentunya akan membuat bendungan dalam diri si gadis hancur.


Joshua berharap Monica bisa memahaminya dan segera melupakannya. Gadis itu harus melanjutkan hidupnya tanpa Joshua. Hidup seperti sebelum bertemu kembali dengan Joshua. Untuk saat ini, Monica cuma perlu belajar untuk menjadi terbiasa tanpa kehadiran Joshua. Didunia ini tidak ada yang abadi, bukan? Begitupula dengan perasaan Monica. Pasti setelah ini dia bisa melupakan Joshua Spencer.


...---...