
Semua orang tahu, bahwa putaran waktu saat ini berjalan sangat cepat, bahkan tanpa mereka sadari. Orang-orang juga mungkin tidak sadar, kalau mereka terlalu nyaman pada situasi yang mereka jalani, padahal faktanya tidak selamanya berada dalam zona nyaman itu membuat diri nyaman. Bisa saja, zona itu membuat kita terkukung dan tak mau mengenal dunia luar yang indah.
Hal itu lah yang dirasakan oleh Joshua Spencer. Dia yang awalnya terlalu fokus dengan dirinya sendiri, sampai akhirnya menemukan Monica Frances. Tentunya semua itu tidak berjalan lancar, selalu ada yang menjadi hambatan. Sampai Joshua sendiri tidak sadar kalau sebuah cerita dapat berkamuflase menjadi kenangan.
Awalnya Joshua hanya ingin menyelamatkan Monica dari ketidakadilan, tapi siapa sangka ketika waktu telah berlalu perasaan itu muncul dan berubah menjadi cinta. Semua kebiasaan itu mengubah persepsi dan perasaan masing-masing hingga tumbuh yang namanya cinta. Semuanya timbul karena sebuah proses. Didunia ini tidak ada yang tanpa proses. Bahkan hidup pun perlu proses.
Satu bulan berlalu sejak kejadian itu. Semuanya terlihat membaik. Bahkan tanpa disangka, pasangan Adrian dan Angela tengah merencanakan pernikahan mereka. Well, menyambut awal bulan di tahun yang baru, mereka ingin memulai hidup baru. Maklum saja, diantara tiga serangkai itu, Adrian lah yang paling lama pacaran.
Omong-omong soal waktu, Monica Frances masih berada di Wellington. Dia belum berniat kembali ke desanya. Meskipun ia sering mendapat telepon dari orang tuanya kalau mereka rindu pada Monica. Monica bukannya tidak mau pulang, tapi dia masih ingin berada disini, ingin menikmati rasanya hidup di kota besar, selain ingin dekat dengan Joshua.
Setelah acara jumpa penggemar itu berakhir, Joshua Spencer tidak langsung berlega hati. Dia malah makin sibuk, yeah project novel itu hampir menyita waktunya dengan Monica. Apalagi sekarang wajah Joshua sudah menghiasi layar internet. Kemunculan Joshua didepan publik memang menyita perhatian orang-orang. Monica akui dia sedikit cemburu ketika para wanita melirik Joshua. Terkadang Monica pun harus menahan kesal ketika Joshua diminta foto bersama dengan penggemarnya saat sedang berduaan.
Sebulan telah berlalu dan hari ini, Monica juga Angela akan pergi ke pemakaman mengunjungi Alex. Semenjak kejadian tragis yang menimpa Alex, Monica sama sekali belum mengunjungi Alex. Bahkan disaat terakhir kakaknya, Monica tak bisa datang lantaran masih dalam masa perawatan. Angela bilang kalau pemakaman Alex waktu itu hanya didatangi oleh kerabat dekat saja.
Kalau boleh jujur, Monica sangat bersemangat mengunjungi sang kakak. Bahkan gadis itu sudah bangun pagi buta dan mempersiapkan diri.
"Sudah siap?"
Monica yang tadinya menatap pemandangan musim panas dari balik jendela kamar, langsung berbalik dan mendapati Angela yang sudah berdiri didepan pintu kamar Monica di lantai dua. Kamar Angela hanya berada didepan kamar Monica.
"Hm, sudah." katanya, kemudian gadis itu menghampiri Angela dan turun dari kamarnya.
Ketika sampai di ruang tamu, Monica terkejut dengan kehadiran Joshua yang tengah duduk di sofa. Mata mereka bertemu dalam beberapa detik, setelahnya mereka sama-sama tersenyum.
"Joshua bilang mau ikut ke pemakaman kemarin, jadi aku ajak saja sekalian." ujar Angela memberi klarifikasi.
"Oh." jawab Monica singkat.
Joshua berdiri, kemudian menghampiri Monica. "Maaf ya, aku tidak mengabari."
Monica menggeleng. "Tidak apa-apa, kau pasti sibuk, ya?"
"Maaf, kalau setelah dari pemakaman, kita pergi bagaimana?"
Monica pun mengangguk singkat. "Boleh saja." katanya.
...-oOo-...
Diluar dugaan, ternyata bukan hanya Joshua yang datang ke pemakaman Alex. Saat sampai di kompleks pemakaman, Monica melihat Adrian juga ada disana, tiba lebih awal darinya. Laki-laki berpostur tegap itu membawa buket bunga besar.
Jujur saja, Monica menyimpan rasa haru. Bahkan Alexander Frances masih dicintai meski kini dia telah tiada. Mungkin orang-orang kira Adrian itu pencintraan semata, tapi Monica yakin, tidak mungkin orang datang ke pemakaman hanya untuk mencari eksistensi publik. Kalau pun iya, dia tidak mungkin datang tanpa mendoakan. Walaupun hanya pencitraan, pasti mereka juga merasa berbelasungkawa dan mengirim doa pada mereka yang telah meninggal.
Monica merasa bersalah karena selama ini dia tidak pernah datang ke pemakaman Alex. Bahkan disaat terakhirnya pun, Monica tidak datang. Hari ini dia benar-benar bersyukur diberi kesempatan datang ke makam sang kakak. Belum terlambat untuk Monica mengucapkan terima kasih pada sang kakak secara langsung.
Kini mereka turun dari mobil dan menghampiri Adrian yang menunggu kedatangan Monica dan yang lainnya didepan kompleks pemakaman.
"Kau tiba lebih dulu." sahut Angela. Monica sudah menebak, pasti Angela memberitahu mengenai rencana mereka pergi mengunjungi Alex.
"Yeah, kebetulan aku ingin minta doa restu pada Alex sebelum kita menikah." kata Adrian dengan entengnya. Padahal Angela sendiri tahu kalau keinginan Adrian itu tulus mengunjungi Alex.
Mereka pun langsung menuju makam Alex, meletakkan bunga dan mulai berdoa untuk Alex. Setelahnya, Monica maju selangkah lebih dekat, bermaksud untuk mengatakan sesuatu.
"Alex." sapanya. "Tidak terasa ya, waktu sudah berlalu. Ada banyak hal yang ingin sekali aku ungkapkan padamu, bahkan aku tidak tahu mau mulai darimana mengatakannya." Monica kemudian menghela napasnya. "Maaf kalau aku sempat melupakanmu, maaf karena telah mengambil hidupmu, maaf juga karena aku, kau harus berpisah dengan orang-orang yang kau sayangi."
Pertahanan Monica akhirnya runtuh. Ia menundukkan kepala dan mulai menangis sesenggukan. Melihat hal itu, Angela berniat menghampiri Monica tapi ditahan oleh Joshua.
"Biarkan dia mengungkapkan isi hatinya." ujar laki-laki itu.
"Seharusnya aku yang berada diposisimu, harusnya aku yang mati. Mereka semua tidak menginginkan aku. Aku bukan anak dari keluarga Frances, aku bahkan tidak tahu orang tuaku siapa." Monica sekeras mungkin menahan air matanya, tapi yang terjadi dia malah menangis sampai sesenggukan. "Aku minta maaf, Alex. Aku minta maaf."
Tepat pada saat itu, Angela langsung menghampiri Monica dan memeluk Monica dengan erat. Dia hampir menangis melihat Monica.
"Tidak apa-apa, semua ini bukan salahmu. Kami menyayangimu. Kau adalah bagian dari kami, keluarga Frances. Sejak mereka memutuskan untuk mengadopsimu, kau sudah sepenuhnya keluarga kami." ujar Angela sambil mengelus punggung Monica pelan.
"Jangan menangis, hm? Nanti Alex lihat dan ikut sedih, karena adik kesayangannya menangis." Angela menangkup wajah Monica dan menghapus air mata gadis itu. "Jangan pernah menyesali hidupmu, Monica. Alex sudah memberikanmu sepenuhnya kehidupannya untukmu, sekarang kau harus buktikan bahwa kau bisa hidup tanpa dia, apalagi sekarang kau sudah dikelilingi orang-orang yang menyayangimu. Jangan pernah merasa bersalah lagi, ya?"
Monica yang masih sesenggukan, hanya membalas dengan anggukan, tanpa memandang Angela. Dia masih menunduk, menyembunyikan kesedihannya.
...-oOo-...
Setelah meninggalkan pemakaman, mereka tidak langsung pulang ke rumah. Adrian mengajak Angela pergi ke suatu tempat, katanya mau mempersiapkan perlengkapan pernikahan. Jadi, mereka berdua berpisah dengan Joshua dan Monica. Tapi, sebelum pergi, Angela membisikkan sesuatu pada Joshua.
"Aku percayakan Monica padamu, jaga dia dengan baik. Kalau kau bisa menjaga kepercayaanku, aku orang pertama yang merestui hubungan kalian." katanya.
Joshua sampai menahan napas ketika mendengarnya. Angela Frances memang orang yang sangat peka.
Saat ini, Joshua dan Monica berada disebuah kafe, dengan latar belakang laut yang cantik. Mereka duduk bagian luar kafe, sehingga bisa menikmati pemandangan pagi hari saat musim panas.
"Maaf ya, aku merepotkanmu." celetuk Monica ditengah kebeningan, membuat Joshua membelalakan matanya, kaget.
"Tidak, sama sekali tidak. Kau sedang bersedih, jadi ya.... Aku menghiburmu."
Monica tersenyum sekilas, kemudian menghembuskan napasnya pelan.
"Sudah, jangan terlalu dipikirkan. Semuanya sudah terjadi, tidak ada yang perlu disesali." kata Joshua sambil mengelus rambut Monica.
"Hidup itu diluar dugaan." celetuk Monica. "Awalnya kita tidak saling mengenal, begitu waktu berputar ternyata kita bukan orang asing. Hidup itu tidak terduga akibat sempitnya dunia."
Kini giliran Joshua yang tersenyum.
"Aku bahkan tidak sadar bahwa Joshua Spencer yang selama ini aku kenal adalah seorang penulis dan jadi penulis favoritku."
"Lalu setelah tahu semuanya, apa yang mau kau lakukan?" tanya Joshua, memandang tepat kedua manik mata Monica.
"Menghabiskan waktu bersamamu." katanya, "dan tidak menyia-nyiakan apa yang diberikan Alex padaku."
Terdengar cheesy, tapi Joshua akui itu membuatnya tersipu.
"Bagaimana dengan orang tuamu omong-omong?" tanya Joshua tiba-tiba mengalihkan pembicaraan.
"Mereka baik-baik saja dan tidak memintaku pulang cepat." ujar Monica.
"Ah, sayang sekali."
"Kenapa?" tanya Monica sambil mengerutkan dahi.
"Aku jadi tidak bisa minta restu pada mereka dengan cepat."
"Maksudmu?"
"Memangnya menikah tidak butuh restu orang tua?"
"Oh, My! Joshua!" giliran Monica yang tak bisa berkata-kata dibuat Joshua.
Yeah, mereka tahu ini bukanlah akhir dari sebuah cerita, melainkan sebuah awal untuk kehidupan yang lebih baik. Mungkin setiap hari merupakan sebuah awal, karena kita memiliki cerita yang berbeda setiap harinya.
Dan Joshua merasakan sekali perbedaan hari-harinya sebelum mengenal Monica Frances. Hidupnya terlalu datar, tidak ada sesuatu yang menyentuh perasaannya. Tetapi tanpa sadar, Monica telah membantu Joshua keluar dari zona nyamannya.
Begitu pula dengan Monica. Sebelum mengenal Joshua, Monica hanya gadis biasa yang tidak tahu apa-apa. Dia seperti terbelenggu dalam pengawasan orang tuanya, padahal dia sudah dewasa. Tapi jauh sebelum itu, sebelum mengenal Joshua Spencer, Monica bukanlah gadis pemberani. Dia lebih banyak diam dan tidak mau melawan.
Semuanya belum berakhir, masih ada awal-awal lain yang menanti didepan mata. Dan semuanya terjadi secara sadar atau tanpa kita sadari. Sebelum atau sesudah mengenal seseorang yang mungkin ada disekitar kita.
...---...