Me Before You

Me Before You
Bab 19



Monica masih berdiam diri diatas tempat tidur. Sejak mengetahui fakta perihal Joshua, ditambah lagi dengan kembalinya ingatan Monica mengenai masa lalu, Monica memilih untuk mengurung diri didalam kamar, tak mau menunjukkan diri pada siapapun. Dia juga tidak memberitahu orang-orang mengenai ingatannya yang telah kembali. Monica pikir jika ia beritahu, mereka semua pasti akan semakin khawatir mengenai kondisinya, terutama sang ibu.


Dengan kembalinya ingatan Monica, membuat ia mengetahui kalau dirinya bukanlah bagian dari keluarga Frances. Monica sangat takut akan fakta ini. Yeah, Monica mengingat dengan jelas bagaimana teman-temannya memperlakukan dia ketika di sekolah dulu. Tapi, untungnya Monica tidak mengalami gejala apapun ketika ingatannya kembali, hanya sedikit pusing. Jadi dia tidak perlu menyusahkan keluarganya lagi.


Kini Monica tahu, mengapa keluarganya begitu protektif pada dirinya. Alasannya, karena mereka tidak ingin Monica mengenang kembali masa lalu yang buruk itu. Keluar Frances pikir, ingatan lama Monica harus dikubur, agar gadis itu bisa tumbuh dengan lebih baik. Tetapi... Ada rasa sesak ketika ingatannya telah kembali, ia jadi semakin merindukan Alex.


Monica pun menghela napas, ia tidak boleh melihat masa lalu lagi. Semuanya sudah berlalu, yang saat ini perlu dia pikirkan adalah... bagaimana setelah ini ia bisa hidup tanpa Joshua? Joshua Spencer yang selama ini ia kenal, ternyata adalah teman lamanya. Bagaimana bisa ia semudah itu melupakan Joshua?


Ketika Monica mulai memikirkan cara untuk bertemu kembali dengan Joshua- agar dia bisa memberitahu laki-laki itu mengenai masa lalunya-tiba-tiba pintu kamar Monica diketuk oleh seseorang. Otomatis, Monica menoleh ke arah pintu. Sesaat setelahnya, ia melihat Angela Frances memunculkan kepala dari balik pintu.


"Boleh masuk?" tanya Angela, meminta ijin, sebelum ia benar-benar masuk ke dalam kamar Monica.


Monica tersenyum tipis. "Tentu saja."


Angela pun masuk ke dalam kamar Monica dan menutup kembali pintu kamar sepupunya. Dia lalu duduk dipinggir tempat tidur Monica. "Kau masih memikirkan Joshua?" tanya Angela.


"Hm." Sahut Monica singkat. Yeah, Monica memang memikirkan Joshua, tapi kali ini ada hal lain yang membuatnya terus memikirkan laki-laki itu.


Angela pun mengelus pundak Monica. "Dia juga pasti memikirkanmu." ujarnya, kemudian dia melanjutkan, "oh, kau masih menyukai J.Dawn kan? Aku baru saja dapat dua tiket jumpa penggemar."


"Serius!?" seru Monica, dengan mata yang berbinar, mendadak rasa gundahnya menghilang.


Angela mengangguk, semangat. Dia sangat senang melihat ekspresi wajah Monica. "Aku dapat gratis, acaranya saat natal. Mau pergi bersamaku? Sekalian aku mau pulang, nanti kita pergi bersama dengan paman dan bibi."


Kembali Monica memasang raut wajah sedih, senyumnya menghilang. Perlahan orang-orang terdekatnya mulai pergi, pada akhirnya Monica kembali sendiri di rumah.


Melihat ekspresi wajah Monica, Angela langsung meraih kedua bahu Monica. "Monica, hei?" Monica yang awalnya menunduk, kini menatap Angela. "Nanti kalau ada waktu aku akan main kesini." katanya.


"Aku mengerti." Sahut Monica sambil mengangguk. "Aku tidak boleh egois." Monica pun mengulas senyum diwajah.


Angela pun mengelus rambut Monica. "Okay, nanti kita beritahu bibi mengenai acara jumpa penggemar J.Dawn ya."


Saat Angela akan pergi dari kamar Monica, Monica pun memegang tangan Angela. "Apa acaranya di kota?"


Angela menepuk dahinya. Ia lupa kalau acara jumpa penggemar Joshua di kota. Pasti sangat susah membujuk bibinya. "Oh, aku lupa." ujar Angela. "Aku akan membujuk bibi supaya kau bisa pergi menemui J.Dawn." timpalnya.


Monica pun menghela napas. "Sebenarnya aku ragu untuk memberitahumu, tapi kalau aku pendam tentu saja tidak baik untukku." gadis itu terdiam sesaat, kemudian dia melanjutkan, "sebenarnya ingatanku sudah kembali dan aku berniat untuk mencari Joshua."


Tampak Angela langsung tercengang, dia membulat mata, tak percaya dengan apa yang baru saja didengar. "Bagaimana bisa? Ceritakan padaku? Kepalamu tidak pusing? Apa ada sesuatu yang terjadi?" Angela mulai mencecar Monica dengan banyak pertanyaan.


"Angela satu-satu." sahut Monica. "Aku baik-baik saja, oke? Aku tidak merasakan apapun, Cuma sedikit pusing. Soal keinginanku bertemu dengan Joshua, karena ada sesuatu yang ingin ku bicarakan dengannya. Ini tentang masa laluku, dia teman sekolahku dulu."


Angela menanap. Ia tidak bisa percaya, ia juga tidak bisa menutupi kenyataan bahwa dirinya benar-benar khawatir. "Kau... baik-baik saja?" tanya Angela sekali lagi, dengan nada ragu.


Monica tersenyum, kemudian dia mengangguk. "Aku baik-baik saja."


"Syukurlah! Ternyata apa yang aku dan yang lain takutkan tidak benar-benar terjadi." kemudian Angela memeluk Monica dengan erat. "Aku benar-benar takut Monica, aku takut." Gumamnya.


Monica pun membalas pelukan Angela, sambil mengelus punggung sepupunya. "Aku tidak apa-apa." kemudian Monica melepas pelukan dan meraih bahu Angela. "Kau bisa bantu aku kan, supaya bisa bertemu dengan Joshua?"


Angela mengangguk semangat. "Tentu saja, tentu saja kita akan langsung bertemu dengan Joshua saat jumpa penggemar."


"Serius?" Monica langsung membulatkan matanya.


"Iya." sahut Angela penuh penekanan, "bahkan kau bisa langsung menunjukkan rasa rindumu pada Joshua." gurau Angela.


Monica mendorong Angela pelan, kemudian dia tertawa. Dia hampir lupa kalau Joshua juga suka membaca novel, terutama novel milik J.Dawn. Monica jadi ingat ketika pertama mengunjungi Joshua di penginapan, ketika laki-laki itu mengalami kesulitan. Monica senang mendengar bahwa insomnia yang dialami Joshua berangsur-angsur membaik, bahkan kini Joshua telah kembali ke kota dan melanjutkan pekerjaannya.


Monica ingin tahu, apa yang Joshua lakukan saat ini? Apakah Joshua memikirkan Monica, seperti Monica yang memikirkannya? Joshua pasti sedang sibuk. Dan masih banyak lagi pemikiran mengenai Joshua dalam kepala Monica.


Monica merasa lega, karena ingatannya telah kembali. Ia akhirnya menemukan seseorang yang menjadi penguatnya dulu. Meski tidak bisa dipungkiri bahwa dia juga sedih mengetahui fakta kematian sang kakak. Tetapi yang saat ini menjadi prioritas pemikirannya adalah Joshua Spencer. Dia sudah mengubah pandangan Monica mengenai masa lalu dan masa depan. Masa lalu telah menjadi kenangan, sementara masa depan akan terus dihadapi.


"Angela." lama terdiam dan kalut dalam pikirnya, Monica memberanikan diri untuk memanggil Angela.


"Ya?"


"Tolong bantu aku membujuk ibu, supaya aku bisa pergi ke kota."


...-oOo-...


Hari pertama bagi Joshua Spencer untuk kembali bekerja, setelah mengambil jatah liburannya. Laki-laki itu berjalan menelusuri koridor kantor sembari membalas sapaan ramah dari para pegawai. Kali ini ia berniat ingin menyambangi temannya, Ferdinand. Joshua mau membicarakan soal novel barunya yang akan segera dirlis. Setelah sampai di apartemen, Joshua tidak langsung istirahat, dia memilih untuk menyelesaikan kumpulan cerita yang sudah ia rangkai sejak berada di Gibbston Valley. Kebanyakan kisahnya ia tulis mengenai dirinya dan Monica.


Joshua masih tidak percaya, kalau dia kini berada di Wellington. Suasananya begitu berbeda. Biasanya ketika bangun tidur ia akan mencium wangi anggur atau susu, tapi sekarang aromanya begitu berbeda. Mungkin karena dia sudah terbiasa dengan lingkungan di Gibbston Valley.


Joshua Spencer mengetuk pintu ketika sampai didepan ruang kerja Ferdinand, kemudian Joshua masuk dan melihat Ferdinand mendongakkan kepala. Terlihat pula wajah tak karuan dari Ferdinand, Joshua rasa Ferdinand mengambil waktu lembur untuk menyelesaikan naskah dari penulis freelance.


"Oh, hai, Josh!" sapa Ferdinand sambil menurunkan kacamatanya, kemudian dia meletakkan diatas meja. "Senang melihatmu kembali." timpalnya.


Joshua pun menghampiri Ferdinand dan duduk dikursi kosong sebelah meja Ferdinand. "Sepertinya kau sedang dalam kondisi tidak baik." ucap Joshua.


"Yeah, begitulah. Aku sedang mengurusi naskah penulis lain, aku harus mengambil lembur." katanya sambil membetulkan rambutnya yang urak-urakan. "Omong-omong, tidak ada oleh-oleh?" selorohnya.


"Maaf, tapi sepertinya aku lupa soal itu." kata Joshua sambil tertawa pendek.


"Kau berhutang padaku, Josh. Sekarang ceritakan bagaimana hubunganmu dengan Monica."


Joshua mengangkat kedua bahunya. "Sebenarnya aku kesini bukan untuk menceritakan itu, aku kesini mau memberikan hasil kerjaku selama liburan."


"Tolong, jangan sekarang!" serunya. "Kepalaku mau pecah."


Joshua tertawa pendek. "Okay, mari bicarakan hal lain."


Kini giliran Ferdinand mengangkat bahunya. "Aku mau mendengar hubunganmu dengan Monica."


"Kenapa kau bersikeras ingin tahu tentang aku dan Monica, sih?"


"Aku hanya ingin tahu, karena ini pertama kalinya kau jatuh cinta, kawan." ujar Ferdinand.


"Jatuh... apa?"


"Jatuh cinta, Josh! Orang-orang juga akan menduga kalau kau sedang jatuh cinta, Joshua."


Joshua sedikit ragu. Benarkah dia jatuh cinta pada Monica Frances? Dalam hati, Joshua mengakui kalau dia memang menyayangi Monica. Tapi untuk jatuh cinta? Sepertinya Joshua masih harus menelaah isi hatinya.


Sembari menunggu waktu jumpa penggemar, Joshua harus memastikan perasaannya pada Monica, sebelum ia bertemu dengan gadis itu. Omong-omong soal jumpa penggemar, Joshua sudah memberikan dua tiket khusus untuk Monica dan Angela. Ia harap Angela berhasil membawa Monica ke Wellington.


"Joshua, nanti saat makan siang, mau ikut denganku?"


Lamunan Joshua pun terbuyar, setelah sempat terdiam beberapa saat. "Tentu, mau makan dimana?"


"Didekat sini, sekalian aku mau mengenalkan seseorang." ujar Ferdinand.


"Siapa?" Joshua tampak mengernyitkan alis.


"Lihat saja nanti." Joshua melihat Ferdinand tersenyum lebar, kelihatan sekali dia sedang bahagia. Kemudian Joshua ingat, oh... sepertinya dia akan bertemu dengan 'gandengan baru', seperti yang dimaksud oleh Adrian waktu itu.


Joshua menanggapinya dengan sebuah anggukan, kemudian dia ingat tujuannya kemari. Dia lantas merogoh kantong celana. "Oh iya, aku harus kembali bekerja. Ini aku berikan flashdisk ku, kau bisa cek hasil kerjaku, aku menulis beberapa cerita pendek." Joshua pun memberikan flashdisk ditangannya pada Ferdinand, Ferdinand pun menerimanya.


"Oke, aku akan periksa nanti." ujarnya, kemudian dia melanjutkan, "saat makan siang nanti, aku akan tunggu di lobi."


...---...