
Suara ketukan pintu yang tiba-tiba itu, menghentikan aktivitas Ferdinand yang tengah fokus pada layar monitor. Lelaki itu refleks mendongakkan kepala, memandang ke arah pintu. Tanpa menunggu perintah, seseorang diluar sana langsung masuk ke ruang kerja Ferdinand. Dia adalah Louis Adrian.
"Adrian?" Ferdinand mengerutkan dahinya kala sosok Adrian menghampiri dirinya dan duduk dibangku kosong yang berada tidak jauh dari Ferdinand. "Ada apa?" laki-laki itu pun melepas kacamata dan meletakkannya diatas meja.
"Aku sudah memutuskan." kata-kata Adrian itu, membuat Ferdinand semakin bingung. Alisnya semakin mengernyit tatkala melihat raut wajah Adrian yang tak bisa diartikan. "Ini tentang Joshua, omong-omong."
"Oh." sahut Ferdinand seadanya. "Kenapa?" Lanjut lelaki itu.
"Aku sudah berbicara dengan anggota lain dan sudah memikirkannya matang-matang." Adrian terlihat menghela napas. "Aku menyetujui permintaan Joshua. Tapi cuma dua hari. Dia sudah lama mengambil jatah libur. Pendapatan perusahaan menurun setelah dia hiatus."
Ferdinand tersenyum mendengarnya. Akhirnya, keinginan Joshua terkabul. Ferdinand dapat membayangkan bagaimana raut wajah Joshua ketika mendengar berita ini.
"Ku harap setelah dia kembali kau jangan langsung membebani dia dengan pekerjaan. Setidaknya berikan dia waktu santai." ujar Ferdinand.
Adrian mengangguk. "Setelah dia kembali aku akan menyiapkan jumpa penggemar untuknya." katanya. "Aku memeriksa media sosial dan banyak dari mereka yang ingin melihat sosok J.Dawn. Aku tidak percaya Joshua akan memiliki penggemar sebanyak itu untuk novel karyanya."
"Semua itu tidak lepas dari campur tanganku!" protes Ferdinand, terdengar seperti sebuah candaan. Dan Adrian menanggapinya dengan tawa.
"Jujur saja, setelah mengetahui dia mengidap insomnia dan terancam Alzheimer, aku khawatir pada kondisi kesehatannya. Kesuksesan yang dia dapat, hampir membawa malapetaka untuknya. Tapi, aku tidak bisa memungkiri kalau tanpa dia pendapatan perusahaan tidak akan berjalan." sahut Adrian dengan raut wajah menyesal.
"Kau benar. Sebagai teman setidaknya kita bisa membantunya. Walaupun tidak banyak." timpal Ferdinand.
Kembali Adrian mengangguk, sependapat dengan Ferdinand. "Ah, omong-omong, apa aku harus bicara langsung dengannya? Atau kau yang mau menyampaikannya sendiri?" tanya Adrian mepertimbangkan.
Ferdinand pura-pura bepikir, dengan meletakkan jemari telunjuk dan jempol didagu. "Hm, sepertinya kau harus sampaikan sendiri. Aku sedang sibuk mengedit. Joshua pasti muak mendengar suaraku." kelakarnya.
Adrian tertawa singkat. "Baiklah, baik. Aku akan menghubungi dia lewat Angela." sahut Adrian.
"Wah... pancingannya." seru Ferdinand.
"Kenapa?"
"Bilang saja mau menelepon pacarmu." goda Ferdinand.
"Itu lebih baik daripada aku harus menghubungi mereka satu-satu."
"Benar juga." kata Ferdinand. "Tapi kenapa tidak menghubungi Joshua langsung?"
"Kau lupa? Dia itu jarang mengangkat telepon ku."
"Ah, benar juga."
Well, dibandingkan Adrian, Joshua lebih dekat dengan Ferdinand. Jadi, ketika sesuatu terjadi, orang pertama yang tahu mengenai Joshua adalah Ferdinand. Kemudian Ferdinand memberitahukannya pada Adrian. Joshua jarang berinteraksi dengan Adrian. Tetapi, hubungan mereka tidak seburuk yang dipikirkan. Mereka dekat, hanya saja tidak sedekat Joshua dengan Ferdinand.
Sebenarnya, untuk masalah kali ini, Ferdinand enggan memberitahukan masalah Joshua kepada Adrian, karena jika Adrian tahu, mungkin waktu libur Joshua akan sama seperti sebelumnya. Tidak ada penambahan waktu. Adrian mungkin berpikir, akan lebih baik membahagiakan penggemar yang ada di Kota, karena mereka telah lama menantikan Joshua muncul ke publik.
Untung Ferdinand mengerti dengan perasaan Joshua. Joshua cuma ingin membahagiakan seseorang yang harus dia bahagiakan.
"Jadi... kau kesini untuk memberitahu hal itu saja?" ujar Ferdinand, yang membuat raut wajah Adrian berubah. Tidak lama setelah itu, Adrian mengangguk, mengiyakan pertanyaan Ferdinand.
"Menyebalkan sekali. Mengganggu saja." gumam Ferdinand.
"Sepertinya aku mengganggu mu karena ketahuan membuat janji kencan dengan seseorang." timpal Adrian tanpa rasa bersalah.
"Ya, ten.... Hei, kau bergurau! Aku sedang bekerja!" protes dari Ferdinand membuat Adrian menahan tawa. Laki-laki itu hampir mengatakan kebenaran soal ajakan kencan dengan seorang gadis.
"Aku tahu Ferdinand, Aku tahu. Felicya Sesya, kan? Semoga beruntung." Lantas Adrian bangkit, menghampiri Ferdinand dan menepuk pundak temannya. Sementara Ferdinand memberikn tatapan seolah bertanya 'bagaiamana kau tahu?' setelahnya Adrian pun pergi meninggalkan ruangan Ferdinand dengan senyum yang mengembang.
"Dasar penguntit!" gerutu Ferdinand setelah Adrian benar-benar keluar dari ruangannya.
...-οΟο-...
Sudah dua hari Angela Frances berada di rumah Monica dan selama itu pula Angela menemani Monica Frances. Menikmati malam bertabur bintang bersama, bersantai di dalam kamar atau di ruang keluarga, bercerita mengenai hal-hal yang mereka alami diselingi canda gurau dan masih banyak hal yang mereka lakukan berdua. Kehadiran Angela nyatanya membuat Monica tidak kesepian. Terlihat sekali kalau gadis itu banyak tersenyum, apalagi terkadang Joshua Spencer muncul ditengah-tengah mereka. Monica semakin merasa bahwa didunia ini dia punya banyak orang yang menyayanginya.
Seperti saat ini, ketika Angela, Monica dan Joshua berkumpul di dapur rumah Monica sambil tertawa riang. Entah apa yang mereka bicarakan. Seperti biasa, kedua orang tua Monica berada di kebun, mengurus anggur-anggur mereka dan katanya besok mereka akan pergi ke kota untuk menyerahkan wine. Begitu yang Monica dengar tadi.
"Jadi waktu aku pertama kali bertemu dengan Joshua aku memanggilnya Tuan." ujar Monica sambil tertawa, begitu juga dengan Angela dan Joshua yang berada di meja makan.
"Kau serius? Wah, Joshua aku tidak menyangka kau setua itu untuk dipanggil Tuan." tawa Angela mulai menggelegar.
"Aku bahkan tidak menyangka kalau gadis polos seperti Monica akan asyik diajak bercanda seperti ini." ucap Joshua yang membuat Monica menghentikan tawanya dan tersenyum dengan lebar.
"Bisa ulang sekali lagi, Tuan?" kemudian Monica kembali tertawa.
"Sudah, sudah, ini kita nanti tidak jadi makan." Lerai Angela sembari menyendokkan wafel ke dalam mulut.
"Omong-omong, Joshua." Joshua pun mendongak menatap Monica yang menggantungkan kalimatnya. "Aku belum selesai membaca buku mu. Maaf kalau aku lama mengembalikkannya." Kata Monica.
Joshua pun tersenyum. "Tidak masalah. Kau bisa ambil buku itu." kemudian laki-laki itu kembali fokus pada wafel dihadapannya. "Kau tertawa seperti ini saja sudah membuatku lega." Gumamnya kecil, namun didengar oleh Monica, begitu pula dengan Angela.
"Oooooo!" Angela yang berada disebelah Monica pun bersorak, gembira. Padahal kata-kata itu ditunjukkan pada Monica tetapi malah Angela yang senang. Gadis itu pun tertawa sambil menyikut Monica pelan. "Joshua khawatir padamu." gumamnya sambil menunjuk Joshua dengan dagunya.
Sementara Joshua Spencer menunduk karena malu. Ternyata kata-katanya didengar oleh Monica, bahkan Angela. Namun tidak lama setelah itu dia tersenyum tipis, mencoba menahan senyumnya agar tidak kentara. Tapi mau ditutupi atau tidak, terlihat sekali kalau Joshua saat ini sedang salah tingkah.
"Angela jangan begitu, kasihan Joshua." timpal Monica, yang membuat Angela langsung tutup mulut dengan tangan. Namun matanya masih menggoda Monica. "Sudah, sudah, ayo makan wafelnya lagi."
"Oh iya omong-omong Monica, apa kepala mu masih pusing?" itu Joshua. Laki-laki itu akhirnya membuka suara setelah mengontrol diri agar tidak salah tingkah lagi. Bahkan Angela yang tadinya menahan senyum, langsung mengubah ekspresi wajah menjadi serius, dengan menatap Monica.
"Tidak kok. Aku baik-baik saja. Selama ada kalian aku aman." jawab Monica dengan senyum yang lebar. Gadis itu kembali memakan wafelnya, tanpa mempedulikan tatapan khawatir Joshua.
"Kalau ada apa-apa cerita saja pada aku atau Angela, ya?"
"Tentu saja."
"Joshua kau harus banyak-banyak bersabar. Monica ini masih belum peka." celetuk Angela tanpa rasa bersalah. Ia langsung mendapat tatapan tajam dari Monica, seolah bertanya 'apa maksud mu?'
Sementara Joshua hanya tertawa pendek melihat tingkah kedua gadis dihadapannya. Kalau dilihat-lihat, Angela itu banyak sekali membantu Joshua, terutama dalam mengenalkannya pada sosok Monica. Tanpa diduga ternyata Monica Frances terhubung dengan masa lalunya. Sosok gadis yang selama ini dalam pikirannya itu ternyata adalah Monica Frances. Dunia yang awalnya ia kira luas, ternyata berubah menjadi sempit setelah bertemu dengan Monica Frances.
Tidak lama kemudian, ponsel milik Angela yang berada diatas meja bergetar, memperlihatkan nama Adrian dilayar. Oh, pacarnya menelepon. Batin Joshua.
Angela segera meletakkan garpu diatas meja dan mengunyah makanannya dengan cepat. "Tunggu sebentar, ya!" katanya, kemudian gadis itu menjauh dari dapur dan pergi ke ruang keluarga. Setelah Angela benar-benar menjauh dari mereka, Joshua segera menatap Monica yang ternyata memperhatikan kepergian Angela juga.
"Monica." panggil Joshua yang membuat Monica menatap Joshua juga. Kini mereka hanya berdua di meja makan dengan mata yang saling menatap satu sama lain.
"Ya?"
"Kau benar-benar tidak ingat padaku?"
"Hm? Maksudmu?" Monica sedikit mengernyitkan alis.
"Maksudku... apa kita pernah bertemu sebelumnya atau.... ah tidak jadi."
"Maksudmu kemungkinan kita pernah bertemu disuatu tempat, begitu?" sambung Monica akhirnya. Joshua langsung mendongak, memperhatikan Monica Frances. "Mungkin dulu kita pernah satu sekolah atau bertemu dimana saat kita masih kecil. Tapi kurasa itu kemungkinan kecil." katanya lagi.
"Kau sudah ingat?" seru Joshua dengan mata yang membulat.
Monica langsung menggeleng. "Tidak. Aku hanya dengar cerita dari ibuku kalau aku dan kakak ku pernah sekolah di kota."
Raut wajah Joshua langsung mengkerut lagi. Awalnya dia begitu bersemangat saat Monica mengatakan kalau mereka satu sekolah. Ternyata sulit sekali mengenalkan masa lalu pada Monica Frances. Tapi kalau dia mengingatnya, itu akan membuat trauma Monica muncul. Kejadian itu sangat mencekam. Oh, membayangkannya membuat Joshua ngeri.
"Jadi ibumu sering cerita mengenai masa lalu mu?"
"Tidak juga. Ibuku hanya cerita sedikit saat aku tidak tahu apa-apa mengenai diriku sendiri. Tapi tetap saja aku tidak ingat apa-apa."
Joshua hanya mengangguk paham. Ternyata selama ini Nyonya Frances tidak sepenuhnya menutupi masa lalu Monica. Malah wanita paruh baya itu sukarela memberitahu anaknya, meski ia tahu kalau hal tersebut sewaktu-waktu dapat menyebabkan hal buruk pada Monica. Tapi kalau ditutupi terus tidak akan baik. Tidak ada asap kalau tidak ada api, begitu penggambarannya.
"Apa sebelumnya kita pernah satu sekolah?" tanya Monica, membuat Joshua menatap gadis itu lagi.
"Entahlah. Aku juga tidak yakin." jawab Joshua ragu. "Tapi aku pernah mengenal satu nama yang sama seperti mu." Katanya.
Monica tertegun. Ia ia terdiam sejenak, kemudian meletakkan garpu diatas meja dan menumpu kedua tangannya. Ia sangat antusias pada kata-kata Joshua barusan. "Benarkah? Lalu?"
"Aku hanya ingat sedikit, karena dulu aku sempat pindah sekolah."
Mendengar hal itu, Monica langsung mendesah kecewa. Padahal ia ingin tahu sekali mengenai orang yang bernama 'Monica' itu. Mungkin saja setelah mendengar cerita dari Joshua, satu persatu potongan ingatannya muncul. Tapi yang terjadi malah... ah, sudahlah.
Monica pun lanjut memakan wafelnya, sementara Joshua memperhatikan Monica. Laki-laki itu tidak begitu yakin dengan ingatannya. Ia masih butuh beberapa bukti lagi untuk meyakinkan dirinya bahwa Monica yang ada didepannya ini adalah orang yang sama dengan gadis kecil dimasa lalunya.
...-οΟο-...
"Sebenarnya kau mau membicarakan apa, Adrian?" Angela mulai kesal lantaran pembicaraan Adrian yang memutar dari topik. Laki-laki itu seolah menyebunyikan sesuatu, terdengar jelas dari kata-katanya yang tidak karuan. Awalnya laki-laki itu membicarakan pekerjaan, kemudian mengarah pada Ferdinand yang sudah punya 'gandengan baru', lalu dia bilang kalau dia butuh Angela sekarang. Benar-benar pembicaraan yang tidak jelas arahnya.
Setelah mengatakan hal tersebut, dapat Angela dengar, suara helaan napas Adrian diujung sana. Sepertinya Adrian punya masalah. Pikir Angela.
"Sebenarnya aku mau bicara dengan Joshua, tapi aku ingin bilang juga kalau aku rindu padamu."
Seketika Angela tertawa. Ya ampun, terkadang Adrian itu bisa bersikap kekanak-kanakan seperti ini. Padahal biasanya mereka juga jarang bertemu di kota, karena kesibukkan masing-masing. Baru ditinggal pergi dua hari saja, Adrian sudah bilang rindu, bagaimana kalau ia memilih untuk tinggal bersama Monica.
"Kalau begitu, aku mau tinggal disini saja supaya kau bisa terus merindukanku." Gurau gadis itu.
"Kau mau membunuhku!?" umpat lelaki itu yang membuat Angela tertawa keras, sampai mengeluarkan air mata. "Pokoknya setelah kau pulang nanti, kita harus menikah!"
Angela menyemburkan tawanya lagi. Sebegitu protektifnya kah Adrian? Wah, ini benar-benar diluar kebiasaan laki-laki itu. Biasanya dia terlihat karismatik, berwibawa, dan tegas, tapi orang-orang tidak tahu bagaimana sikapnya berubah kala bertemu dengan Angela. Laki-laki itu akan berubah menjadi manis dan penuh kejutan seperti sekarang.
"Kita akan menikah kalau aku berhasil menjodohkan Joshua dengan Monica!" protes Angela pada Adrian.
"Monica?"
"Dia sepupuku."
"Oh, jadi namanya Monica."
"Rencananya aku mau mengajak dia ke kota, supaya bisa bekenalan denganmu dan Ferdinand. Aku kasihan padanya, umurnya sudah dewasa tapi dia tidak pernah pergi kemanapun." kata Angela yang menaruh simpati pada sepupu kesayangannya.
"Kenapa begitu?"
"Dia amnesia, dan kami takut kalau ingatannya kembali akan membuat dia trauma berat."
"Trauma?"
"Dia korban pembullyan."
"Apa!?"
"Kami pikir, lebih baik dia melupakan masa lalunya. Tapi tetap saja, aku merasa kasihan padanya." timpal Angela, kemudian gadis itu melanjutkan lagi, "omong-omong kau bilang ada sesuatu yang perlu dibicarakan dengan Joshua, kan?"
"Ah, itu. Iya aku mau bicara denganya. Apa kau sedang bersama dia sekarang?"
"Kebetulan sekali kami sedang berkumpul untuk makan wafel." sahut Angela. "Dia sedang bersama Monica sekarang." lanjut gadis itu.
"Oh." sahutnya pendek. "Omong-omong soal Joshua, aku memberikannya libur lebih dua hari dari waktu yang telah ku berikan."
"Kenapa begitu?"
"Perusahaan sedang krodit. Jadi aku membutuhkannya untuk melakukan fanmeeting terlebih dahulu. Sudah lama sejak dia debut, dia belum melakukan hal itu." ujar Adrian, membuat Angela menghela napas.
"Hah, hidupnya seperti artis." gumam Angela, kemudian gadis itu melanjutkan, "sebentar, aku akan periksa ke dapur dulu."
Gadis itu menjauhkan ponselnya dari telinga, lantas ia beranjak dari sofa ruang keluarga dan pergi ke arah dapur. Angela mengintip sejenak dari balik tembok dan melihat Joshua juga Monica fokus menikmati wafel mereka tanpa bersuara sedikit pun. Angela sedikit mengerutkan dahinya, ada apa dengan mereka berdua? Kenapa tidak ada salah satu dari mereka berbicara?
Kemudian Angela teringat akan ponselnya yang masih tersambung dengan Adrian, ia pun kembali menempelkan ponselnya ke telinga. "Adrian, kau ingin bicara dengan Joshua?"
"Ya. Apa dia sudah kembali ke penginapan?"
"Tidak. Dia masih disini, tunggu sebentar." kemudian Angela berjalan menghampiri Joshua yang sibuk dengan pikirannya. Dari jauh mungkin kelihatannya Joshua sedang makan, tetapi kalau dilihat dari dekat, laki-laki itu malah memainkan garpu ditangannya, seolah memikirkan sesuatu.
Angela tidak ambil pusing, dia segera menepuk pundak Joshua, membuat laki-laki itu terlonjak dan menatap Angela dengan matanya yang membulat. "Dari Adrian." gumam gadis itu, lantas Joshua segera mengambil ponsel ditangan Angela dan menjauh dari tempat itu.
Setelah Joshua menjauh, Angela kembali duduk disamping Monica dan menyikut lengan sepupunya pelan. Monica pun menoleh sambil mengernyitkan alisnya, seolah bertanya, 'ada apa?'
"Kau dan Joshua kenapa?" tanya Angela penasaran.
"Kenapa apanya?" Monica makin mengerutkan dahinya.
"Kulihat kalian diam saja, tidak ada interaksi apapun."
"Tadi aku bicara kok sebentar."
"Kalian tidak sedang marahan karena sesuatu, kan?"
"Ya, ampun, Angela!" kesal Monica. "Kau ini kenapa, sih?"
Angela mencibir. "Pokoknya kalian tidak boleh marahan. Kalau ada apa-apa, cerita padaku, mengerti?"
Monica tidak menanggapi Angela. Gadis itu kembali menyantap wafelnya dan berusaha memikirkan apa yang tadi Joshua katakan. Apa ada kemungkinan kalau Monica pernah mengenal Joshua Spencer?
Gadis itu menghela napas pasrah. Kenapa sesulit ini mengingat masa lalu?
Dia pun menepis pikirannya dengan menggelengkan kepala, berusaha menyingkirkan kemungkinan terburuk yang akan terjadi jika ia berpikir keras.
...---...