Me Before You

Me Before You
Bab 13



"Hei, Joshua!" sapa Ferdinand lewat telepon, ketika teleponnya dengan Joshua tersambung. "Bagaimana kabarmu, kawan?"


Joshua Spencer tidak langsung menjawab, ia lebih dulu turun dari tempat tidurnya sembari mengucek kedua mata. Lelaki itu pun berjalan menuju jendela dan membuka jendela tersebut, agar mendapat udara segar pagi hari.


"Lumayan baik." jawabnya singkat dan terdengar serak.


"Kau baru bangun?" celetuk Ferdinand cepat.


"Hm." kemudian Joshua menguap. "Aku begadang mengerjakan cerita baru." katanya.


"Apa!?" seru Ferdinand diujung sana, membuat Joshua menjauhkan ponselnya dari telinga. "Akhirnya Joshua Spencer sembuh dari writer block." timpal laki-laki itu.


Joshua hanya tersenyum sekilas, kemudian ia mengingat kejadian tadi malam. Saat Monica mengatakan secara tidak langsung dia ingin Joshua lebih lama lagi ada disini. Joshua ingin mengabulkan permintaan Monica, tapi dia sendiri tahu kalau dirinya tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Dia sudah meminta waktu libur lama. Dan dia sudah tidak punya penawaran apapun lagi pada Adrian.


Awalnya Joshua memang ingin membuat Monica kembali mengingat masa lalunya, tapi setelah ia mulai ingat dengan masa-sama sekolahnya dulu, ditambah cerita dari Angela tentang Monica, membuat Joshua mengurungkan niat untuk membantu Monica. Ia khawatir kalau Moncia tidak bisa tersenyum seperti sekarang dan menikmati waktunya sebebas sekarang. Joshua takut Monica sepenuhnya menyalahkan dirinya atas apa yang menimpa Alex.


Terkadang Joshua juga merasa was-was kalau gadis itu tiba-tiba mengeluh pusing.


Entah itu cuma perasaan khawatir atau kasihan. Tapi yang jelas Joshua merasa kalau ia harus membahagiakan Monica. Apalagi Monica itu salah satu penggemarnya.


"Josh?" Joshua sedikit tersentak, ketika Ferdinand kembali memanggil namanya, ternyata ia sedikit melamun. "Ku dengar permintaanmu dikabulkan. Jadi bagaimana hubungan mu dengan si Monica, Monica itu?" timpal Ferdinand.


Joshua tersenyum tipis. "Tidak ada yang spesial. Kami hanya berteman."


"Terus menerus bersama pasti akan jadi dekat, kan?"


Joshua terdiam. Ferdinand benar. Tapi untuk saat ini, Joshua merasa kedekatannya pada Monica hanya sebatas teman. Kalau dibilang teman, kenapa Joshua rela melakukan banyak hal untuk Monica? Kalau dia memang kasihan atau khawatir pada gadis itu, kenapa hatinya menolak alasan tersebut?


Tetapi mendengar permintaan Monica kemarin, entah mengapa darah dalam diri Joshua tiba-tiba berdesir dan napasnya tercekat. Permintaan itu seolah sinyal yang diberikan Monica bahwa ia membutuhkan Joshua. Sama seperti beberapa tahun lalu.


Tidak ada yang berbeda antara Joshua yang dulu dengan sekarang, laki-laki itu tidak bisa menuruti permintaan Monica untuk tetap tinggal, meski Joshua ingin.


Dalam hati Joshua bertanya, mengapa di dunia ini segalanya perlu alasan? Bahkan untuk tinggal dan bertahan saja mesti butuh alasan. Dan sampai detik ini, Joshua belum menemukan alasan mengapa ia harus bertahan untuk tinggal lebih lama lagi.


"Aku yakin kau punya perasaan padanya." celetuk Ferdinand diujung sana, membuat Joshua bergeming.


Mungkinkah itu? Kedengarannya sedikit aneh, tapi...


"Kau mungkin belum menyadarinya sekarang." timpal Ferdinand lagi, seolah tahu apa yang dipikirkan Joshua.


Benar. Bisa jadi itu benar. Apa mungkin Joshua Spencer mulai tertarik pada Monica? Tiba-tiba jantungnya berdebar. Oh... apalagi ini?


"Kita bicarakan hal lain saja." ujar Joshua, berusaha menghindari segala kemungkinan diluar logikanya.


"Baiklah." jawab Ferdinand. "Aku ingin kau bertemu seseorang, dia juga penggemarmu." lanjut Ferdinand membuka permbicaraan dengan topik baru.


Joshua mengerutkan dahi. "Siapa?"


"Seseorang yang baru ku kenal." Joshua tidak tahu kalau diujung sana Ferdinand tengah tersenyum dengan lebar.


"Pacarmu?" tebak Joshua.


"Mungkin."


Joshua kembali mengerutkan dahi. "Mungkin?" ulangnya.


"Mungkin iya, mungkin tidak." jawab Ferdinand dengan ragu. "Kami baru kenal dan bisa saja setelah aku pertemukan dia denganmu, kami akan pacaran." katanya.


"Maksudmu? Kalian membuat kesepakatan, begitu?"


"Yeah." jawab Ferdinad sembari mengangkat kedua bahu. "Makanya bantu aku supaya bisa pacaran dengan dia."


"Memang apa yang bisa aku bantu?" tanya Joshua.


"Kau harus kembali dan melaksanakan acara fanmeeting itu. Kau harus tahu seberapa antusiasnya dia." sahut laki-laki itu. "Kau juga bisa ajak Monica." timpal Ferdinand lagi.


"Dia belum tahu soal itu."


"Apa!?" seru Ferdinand. "Bagaimana bisa kau tidak memberitahunya?"


"Aku tidak bisa memberitahunya sekarang. Kalau pun aku beritahu, mungkin dia tidak diperbolehkan pergi oleh kedua orang tuanya."


"Kenapa begitu?"


"Ibunya tidak mengijinkannya pergi ke kota, karena suatu alasan."


"Kenapa?"


"Ceritanya panjang dan itu berkaitan dengan masa lalu ku juga. Kukira aku sudah pernah menceritakannya padamu" sahut Joshua.


"Berarti sebelum bertemu, kalian sudah saling kenal?"


"Begitulah." jawab Joshua smeabri menghela napas.


"Cepat-cepatlah beritahu dia. Aku yakin dia akan sangat senang, kau ingin melihatnya tersenyum, kan?"


Kembali, tenggorokan Joshua tercekat, tidak bisa mengeluarkan suara. Kenapa untuk satu pertanyaan itu, dia sampai harus menahan suaranya. Haruskah Joshua memberitahu Monica mengenai siapa dirinya?


Ah, benar juga. Sebentar lagi hari natal. Dan Joshua melupakan hal itu.


Apa yang harus ia berikan pada Monica?


Joshua menghela napas lalu tersenyum sekilas. "Akan ku pikirkan."


...-οΟο-...


Monica Frances tampak mengusap peluh didahinya sesekali mengipaskan tangan didepan wajah. Dia baru beberapa menit berada ditengah kebun, tapi kulitnya terasa seperti terbakar. Apalagi saat ini dia berada di tengah kebun anggur ditemani terik matahari di musim panas.


Tidak tahan dengan panasnya udara, Monica pun memilih untuk pergi ke arah penginapan, tepatnya ke arah bayangan yang timbul dari penginapan tersebut. Ia pun meletakkan alat-alat yang dia bawa, kemudian memilih berbaring diatas rerumputan yang tertutupi oleh bayangan. Oh, dia baru merasakan sejuknya udara. Sepertinya suhu udara hari ini meningkat daripada kemarin.


Meski kini dia berada ditempat teduh, Monica tetap masih mengipaskan tangannya didepan wajah sesekali mengelap keringat yang mengalir sampai ke dagu.


Baru beberapa detik Monica berbaring, seseorang tiba-tiba ikut berbaring disebelahnya. Gadis itu pun langsung menoleh dan mendapati Joshua Spencer kini menatapnya sambil tersenyum. Entah mengapa pipi Monica langsung memanas setelah bertatapan langsung dengan Joshua.


"Mau istirahat didalam penginapan?" tawar Joshua.


"Tidak. Aku disini saja."


"Mau aku ambilkan minum?"


"Tidak usah repot-repot." lalu Monica menegakkan tubuhnya, memposisikan diri duduk dengan kaki bersila. Joshua pun mengikuti. "Kenapa keluar?"


"Tadinya aku mau jalan-jalan, tapi setelah melihatmu, aku mengurungkan niat."


"Kenapa?"


"Cuma ingin."


Monica mengangguk, entah dia paham atau bagaimana.


"Angela dimana?" tanya Joshua lagi.


"Di gudang dengan ayah. Mereka sedang mengecek wine."


"Jadi kau sendirian saja di kebun?"


Monica menggeleng. "Ibuku sedang menyiram tanaman anggur disana." Monica menunjuk salah satu bilik kebun tempat ibunya berada.


"Oh." sahut Joshua manggut-manggut. "Omong-omong setelah keluar, kenapa udaranya jadi panas sekali, ya?" timpal Joshua.


"Benar, bahkan ini lebih panas dari kemarin." kata Monica. "Aku jadi khawatir pada anggur-anggur di kebun."


Joshua Spencer merogoh kantong celananya, sedetik kemudian dia mengeluarkan ponsel dan melihat layar utama ponselnya. "Pantas saja panas, suhunya 32 derajat."


"Yang benar?"


Joshua langsung mengarahkan ponselnya ke depan wajah Monica, tanpa bicara.


"Dunia sekarang jadi tidak menentu." gumam gadis itu setelah melihat layar ponsel Joshua.


"Benar." balas Joshua singkat sambil memasukkan kembali ponselnya ke dalam kantong celana, kemudian ia memandang langit diatas.


"Aku harap setelah ini hujan datang." kata Monica dengan arah pandang lurus ke depan.


"Kalau hujan datang, kau tidak bisa beraktivitas di kebun." gumam Joshua yang kini menatap Monica.


"Satu kali saja. Aku ingin menikmati hujan di musim panas."


"Perkiraan cuaca tidak bisa diminta."


"Aku tahu. Makanya aku bilang aku harap."


Joshua pun tertawa singkat, sementara Monica tersenyum tipis.


"Sama seperti aku yang mengharapkan mu untuk tetap tinggal." gumam Monica tanpa sadar, namun sayangnya terdengar oleh Joshua dan membuat laki-laki itu mengubah ekspresi wajahnya.


"Kalau aku bisa aku akan melakukannya." Monica yang awalnya menyebarkan pandangan ke arah lain, langsung menoleh menatap Joshua bingung. "Aku dengar yang kau bilang." sahut laki-laki itu, yang membuat Monica menanap.


"A-Aku tidak..."


"Tidak apa-apa, aku mengerti." sela Joshua dengan cepat. "Ini semua terjadi karena kita sudah terbiasa bersama. Apalagi kita sudah banyak menghabiskan waktu bersama dan kupikir setelah aku pergi, semua akan kembali seperti semula."


"Tidak!" Monica langsung melayangkan protesnya. "Itu tidak akan mudah. Maksudku membuat keadaan seperti semula seolah tidak terjadi apa-apa itu sulit."


"Kau pasti bisa, Monica." laki-laki itu mengambil sebelah tangan Monica, kemudian mengelusnya. "Jangan terlalu mengharapkanku. Orang seperti ku tidak pantas untuk diharapkan."


Monica langsung menarik tangannya paksa, kemudian langsung berdiri dan menepuk bagian belakang tubuhnya yang sedikit kotor akibat berbaring tadi. "Aku mau lanjut membantu ibu." lantas gadis itu pergi dan tak mengindahkan panggilan Joshua.


Joshua masih diam ditempatnya dan memperhatikan Monica yang perlahan menghilang dibalik tanaman anggur.


Apa sekarang Monica marah pada Joshua?


...---...