Me Before You

Me Before You
Bab 10



Sudah genap seminggu Joshua berada di Gibbston Valley ini dan sudah seminggu pula ia mengenal Monica Frances. Ternyata pertemuannya dengan Monica memberikan kesan tersendiri bagi Joshua. Ia jadi lebih mengenal siapa Monica Frances sebenarnya. Ternyata dengan pergi berlibur seperti ini, Joshua merasa lebih terbuka dan secara tak langsung masuk ke dalam sebuah drama yang bahkan ia tidak tahu sebelumnya. Ia tanpa sengaja masuk ke dalam sebuah lembaran kisah yang tersurat oleh takdir. Padahal biasanya, Joshua yang membuat beberapa lembar adegan, tapi kali ini, dia yang menjadi tokoh penting dalam kisah tersebut.


Seolah ia dan Monica adalah tokoh utama dalam sebuah cerita.


Beberapa fakta bahkan terjadi secara kebetulan. Kebetulan bertemu, kebetulan Monica adalah penggemarnya, kebetulan bahwa Joshua bertemu lagi dengan Monica Frances, dan kebetulan bahwa dulu mereka pernah saling mengenal, namun lenyap karena salah satu dari mereka tidak memiliki satu pun kepingan kenangan mengenai masa lalu.


Dan sekarang Joshua sudah ingat. Kalau Monica Frances yang selama ini ditemuinya, adalah Monica Frances yang sama yang ia temui dua belas tahun silam.


Waktu berlalu begitu cepat, hingga tanpa sadar Joshua Spencer melupakan Monica Frances.


Untungnya, takdir mempertemukan mereka kembali, meski Monica Frances tidak sepenuhnya mengingat hal tersebut.


Well, hari ini Joshua berencana mengajak Monica pergi ke sungai setelah gadis itu diperbolehkan keluar rumah oleh sang ibu. Joshua lega melihat Monica Frances banyak tersenyum sekarang sejak kehadiran Angela. Mungkin selama ini gadis itu butuh teman untuk diajak bertukar pikiran. Joshua juga sadar, bahwa selama ia tinggal disini, ia belum bisa membuat Monica Frances tersenyum, seperti ketika gadis itu bersama dengan Angela. Omong-omong soal Angela, gadis itu masih menginap di rumah Monica. Ia terlihat betah sekali tinggal dengan sepupunya daripada berada di kota. Seperti yang dikatakan Adrian beberapa waktu lalu, Angela bahkan tidak mau pulang karena sudah betah tinggal dengan Monica.


Joshua saat ini berada didepan rumah Monica, menungu gadis itu keluar. Sesuai janji kemarin, Joshua ingin pergi jalan-jalan bersama Monica. Berhubung hari ini ia mau mencoba mengetik sesuatu untuk cerita terbarunya.


Beberapa saat setelahnya, Monica keluar bersama Angela disebelahnya. Heran sekali pada dua gadis itu, kemana-mana selalu bersama. Padahal Joshua berniat mengajak Monica saja, tapi Angela malah ikut.


"Pagi, Josh!" sapa Monica dengan senyum yang cerah, secerah sinar mentari. "Maaf menunggu lama, tadi Angela mengajakku bicara." katanya.


Joshua juga membalas dengan senyuman, kemudian dia berkata, "tidak masalah."


"Kalian mau pergi kemana?" Angela tiba-tiba ikut bergabung. "Aku rencananya mau ikut." katanya sambil menaikkan alisnya. Joshua tahu sekali kalau Angela sedang menggodanya karena ketahuan pergi berdua dengan Monica.


"Joshua mau mengajakku ke sungai, mau ikut?" tanya Monica dengan polosnya.


Angela kemudian menatap Joshua yang terlihat salah tingkah, kemudian laki-laki itu berdeham, menunggu jawaban Angela. Angela tahu sekali kalau Joshua ingin mendekati Monica. Sepertinya keinginan Angela untuk menjodohkan Joshua akan berhasil.


Angela tertawa sekilas, kemudian beralih menatap Monica. "Tidak, aku tidak ikut. Kalian pergi saja. Aku mau ikut paman membuat wine." ujar Angela.


Mendenga kata-kata Angela barusan, membuat Joshua Spencer tersenyum sumringah. Ternyata gadis peka juga. Pikir Joshua.


Setelahnya, Angela pamit untuk menyusul Ayah Monica di gudang,


Kini, tinggal Joshua dan Monica yang tersisa. Entah mengapa Joshua jadi kikuk begini didepan Monica, padahal kemarin masih biasa-biasa saja.


"Mau pergi sekarang?" tanya Joshua sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Boleh." Monica mengangguk sambil tersenyum.


...-οΟο-...


"Sebenarnya, ada yang mau aku tanyakan padamu." sahut Joshua, setelah mereka duduk dipinggir sungai kecil yang airnya begitu jernih dan dipayungi oleh pepohonan pinus yang rindang. Gemericik dari air sungai terdengar seperti sebuah musik ditelinga. Mereka saat ini sudah sampai di sungai, tempat yang sama ketika Monica Frances pertama kali mengantar Joshua Spencer jalan-jalan di desa.


"Apa?" Monica menoleh ke arah Joshua Spencer.


"Kalau disuruh memilih, kau lebih menyukai kehidupan sekarang atau kehidupan dulu?"


Monica sedikit terkejut, ia kemudian tertawa sekilas. "Kenapa tiba-tiba?"


"Hm... entahlah. Kalau kehidupan dulu, aku benar-benar merasa terlindungi karena ada kakakku, kalau sekarang... ada ayah, ibu, dan Angela. Kupikir aku menyukai keduanya."


"Pilih salah satu!" protes Joshua.


"Baiklah, baiklah." ujar gadis itu, sedetik kemudian dia menghela napas, lalu berkata, "aku memilih kehidupan masa lalu, karena aku punya kakakku, Alex. Walaupun aku tidak tahu dia, tapi ketika mendengar namanya dari ibuku, hatiku langsung terasa hangat. Seolah dia ada didekatku, menenangkanku, dan memberiku kekuatan. Mungkin aku tidak tahu apa yang dia lakukan untukku di masa lalu, tapi aku merasa bahwa dia melakukan banyak hal untukku agar aku bahagia."


Joshua terdiam. Dalam diam ia berpikir, sebesar itukah rasa sayang Monica pada sang kakak? Dan sebesar itukah rasa cinta Alex pada adiknya, padahal ia tahu kalau Monica bukan adik kandungnya. Hubungan kakak-adik yang patut dipuji. Bahkan Alexander Frances rela mati demi sang adik. Kekuatan cinta yang luar biasa. Bahkan Joshua mulai ragu, apakah suatu hari nanti ia bisa menggantikan posisi Alex dihidup Monica, setidaknya berada disamping gadis itu, melindungi gadis itu dan membuatnya tersenyum.


Dikala Monica kehilangan ingatannya, ia masih bisa mengenali Alex hanya dengan mendengar namanya saja. Perasaan yang sangat kuat. Andai saja dulu Joshua bisa sedekat itu dengan Monica, pasti gadis itu sekarang mengenalinya. Tetapi yang terjadi sekarang... Monica memang melupakannya. Dan Joshua tidak sanggup untuk mengingatkan Monica pada masa lalu.


"Ah, begitu." sahut Joshua sembari tersenyum miris. Setidaknya Monica sudah mengatakan kejujuran. "Aku sebenarnya penasaran pada kakak mu itu. Pasti dia orang yang baik." timpal Joshua.


Monica mengangkat kedua bahunya, masih dengan senyum yang sama, menghiasi wajahnya. "Aku rasa sih begitu." katanya.


"Omong-omong, kau suka baca novel, kan?" Joshua mulai mengubah topik pembicaraan.


"Ya! Sangat." seru Monica.


"Genre yang paling kau suka apa?"


Monica tampak berpikir sambil mengetuk-ngetukkan jemarinya didagu. Sedetik kemudian, ia menatap Joshua lagi. "Aku tidak begitu yakin suka genre apa, tapi kalau ceritanya dapat menyentuh hati, aku akan menyukainya." katanya. "Ah, jangan berikan aku novel yang aneh-aneh. Misalnya novel thriller, horror, dewasa, atau sejenisnya. Aku tidak suka."


Joshua Spencer terkekeh. "Yakin tidak suka genre dewasa?" goda Joshua.


Pipi Monica mendadak memanas. "Tidak! Aku tidak suka!" jawabnya penuh penekanan. Hal itu membuat Joshua tertawa dan berniat menggoda Monica lagi.


"Padahal suatu saat nanti kau akan mengalaminya." Joshua pun terkekeh.


"Mengalami apa?" Monica mulai mendelik ke arah Joshua, membuat laki-laki itu tertawa kencang melihat ekspresi Monica. Senang sekali bisa menggoda Monica seperti ini.


"Oke, lupakan." kata Joshua setelah menghentikan tawanya. "Cerita seperti apa yang menyentuh hatimu?" timpal Joshua, menyambung pembicaraan tadi.


"Hm... apa ya?" gumamnya sambil menggaruk ujung kepalanya yang tidak gatal. "Tentang sebuah pertemuan kembali mungkin? Menurutku itu bisa menimbulkan emosional tersendiri. Senang bercampur haru. Kupikir itu versi cerita yang aku suka."


"Lebih suka happy ending atau sad ending?"


"Semua orang pasti mengharapkan happy ending, kan?" jawab Monica sambil mengerling. Kemudian ia melanjutkan kata-katanya, "tapi tidak bisa dipungkiri kalau setiap cerita ada yang berakhir sedih. Dan kupikir aku menyukai keduanya. Setiap kisah punya akhirnya masing-masing, sama seperti kehidupan kita sekarang. Secara tidak langsung kita terjebak dalam sebuah drama."


Joshua tersenyum lebar, kemudian ia mengalihkan pandangan menatap langit pagi hari. Meskipun cuacanya agak panas, namun itu semua tidak dirasa, karena saat ini Joshua berada dibawah rimbun pepohonan dipinggir sungai, ditemani oleh air sungai yang segar, serta Monica yang mau berbagi cerita bersamanya.


Joshua rasa, saat ini pikirannya semakin terbuka setelah mengobrol banyak dengan Monica. Joshua merasa lega melihat Monica Frances baik-baik saja dan tumbuh menjadi gadis manis. Ia lebih banyak tersenyum ketimbang dulu.


Setelah ini, sepertinya Joshua harus mengobrol lebih banyak lagi dengan Monica. Saling bertukar pikiran masing-masing, supaya lebih terbuka. Tapi Joshua masih belum yakin untuk memberitahu Monica mengenai dirinya di masa lalu. Mungkin lebih baik membiarkan semuanya mengalir, pasti suatu hari nanti Monica kembali mendapat ingatannya.


Dan selama itu pula, Joshua hanya perlu menunggu.


...---...