
Sejak tadi, Monica dibuat tertawa oleh Angela Frances berkat lelucon yang gadis itu lontarkan. Padahal sekarang sudah sore dan tugas mereka memanen anggur belum selesai. Yang mereka lakukan saat ini adalah tertawa lepas seolah tidak ada beban di kepala. Beberapa kali Joan Frances memanggil keduanya untuk segera menyelesaikan pekerjaan mereka, tetapi yang mereka lakukan malah bercanda dan saling rebutan gunting untuk memotong buah anggur.
"Angela kau memotong bagian yang salah nanti anggurnya tidak berbuah lagi." ujar Monica, memberitahu saudaranya. Padahal Monica sudah memberitahu Angela beberapa kali mengenai cara memotong buah anggur yang benar.
"Aku sudah melakukannya dengan benar, kok." elak gadis itu, menyanggah bahwa dirinya memang sudah benar melakukannya.
"Sudah ku bilang, kau bawa saja keranjang ini." timpal Monica, sambil menyerahkan keranjang dipunggungnya pada Angela.
"Tidak mau. Berat." sahut Angela sembari mencibir.
"Ih, menyebalkan!" kemudian Monica menggelitiki pinggang Angela. Dia tahu sekali pusat kendali tubuh Angela. Angela sangat tidak suka digelitiki.
"Monica, hei! Berhenti!" seru Angela sambil tertawa, dia tidak tahan karena geli. Pada akhrnya gadis itu pun menyerah. Lebih baik dia menuruti Monica daripada kena gelitikan gadis itu. "Monica! Iya, iya aku mau bawa keranjangnya."
Merasa mendapat kemenanangan, Monica tersenyum puas, kemudian ia kembali menyerahkan keranjang berisi anggur tersebut pada Angela. Mau tidak mau Angela harus menerimanya.
"Kau curang!" ujar Angela.
"Aku tidak curang." Monica balas mengelak.
Beginilah kelakuan asli dari Monica dan Angela, umur mereka memang sudah dewasa, tapi kelakuannya masih seperti anak umur lima tahun. Terkadang mereka terlihat akrab, kadang pula seperti kartun Tom and Jerry.
"Monica, aku lapar." kata Angela sambil memegangi perutnya.
"Makanya daritadi jangan bercanda. Ayo, cepat selesaikan." tegur Monica dan mendapat cibiran dari Angela.
"Omong-omong, Monica." Angela sedikit menggantungkan kata-katanya.
"Kenapa?" jawab Monica tanpa menoleh pada Angela. Gadis itu masih fokus memotong buah anggur.
"Belakangan ini aku perhatikan kau dekat sekali dengan Joshua."
Kata-kata Angela barusan, membuat Monica menghentikan aktivitasnya sejenak. Diam-diam gadis itu ternyata memperhatikan Monica. Padahal Monica rasa hubungannya dengan Joshua tidak sedekat yang dipikirkan orang-orang. Laki-laki itu cuma datang, menemaninya jalan-jalan, mengobrol tentang liburan musim panas dan sesekali bercanda. Tidak ada yang spesial. Bahkan Monica tidak tahu sisi lain kehidupan Joshua selain, insomnia dan suka membaca novel. Mungkin bagi Monica, Joshua itu orang yang terbuka, tapi ada satu sisi dimana Joshua tidak ingin membagi apapun pada orang lain. Seolah ada yang disembunyikannya.
Dan entah mengapa, Monica merasa Joshua menyembunyikan sesuatu darinya.
"Kami tidak sedekat itu." jawab Monica akhirnya setelah lama terdiam.
Angela tersenyum, ia berhasil menggoda Monica. Gadis itu perlahan mendekati Monica yang sudah lebih dulu mengambil langkah sembari menyisiri setiap tanaman anggur.
"Benarkah?" Angela berbisik ditelinga Monica, membuat gadis itu menghentikan langkahnya dan menatap Angela, kesal.
"Kami memang tidak dekat." katanya penuh penekanan.
"Jangan begitu, nanti kalau dia pergi, kau baru menyesalinya." Angela seolah tahu isi hati Monica. Angela tahu, perlahan-lahan pasti Monica mulai menyimpan perasaan pada Joshua, begitu pula sebaliknya. Hanya saja mereka belum memahami perasaan itu.
Mereka mungkin menganggap itu perasaan yang biasa, ketika pertama kali bertemu dengan seseorang dan memulai suatu pembicaraan. Namun, lama kelamaan tentunya ada perasaan tidak terduga, misalnya saling membutuhkan dan tidak ingin jauh. Semua itu terjadi karena mereka terlalu terbiasa dengan apa yang telah mereka lalui selama itu. Mereka akan sadar dengan perasaan tersebut setelah salah satu dari mereka pergi.
Serumit itulah kehidupan manusia. Terutama soal cinta.
Monica mungkin tidak menyadarinya sekarang, tapi mungkin setelah Joshua kembali ke Kota, Monica baru bisa menyadarinya.
Angela tidak ingin Monica menyia-nyiakan kesempatan yang dia punya, hanya karena terlalu terbiasa dengan kehadiran Joshua dan melupakan kenyataan bahwa Joshua tidak selamanya berada di tempat ini. Joshua punya kehidupannya sendiri di kota dan dia juga tidak mungkin bertahan selamanya di tempat ini. Kalau pun bisa, dia pasti punya alasan khusus.
Tapi, yang terjadi saat ini ialah... Monica dan Joshua sama-sama tidak punya alasan untuk membuat salah satu dari mereka bertahan dan tetap tinggal.
Kesempatan yang manusia miliki tidak datang dua kali. Kesempatan hanya datang sekejap, kemudian pergi. Dan ketika manusia menyadari kesempatan yang dia punya telah hilang, disitu mereka akan menyesal.
Angela kemudian tersenyum. "Kau belum menyadarinya, Monica." ujar gadis itu.
Awalnya Monica terdiam. Dalam diamnya ia berpikir mengenai kata-kata Angela. Ada benarnya juga kata-kata Angela barusan. Monica belum sepenuhnya sadar mengenai isi hatinya. Dia terlalu terbiasa dengan kehadiran Joshua disisinya, sampai ia lupa bertanya pada dirinya sendiri. Apakah ia menyukai Joshua Spencer?
"Aku tidak tahu, apa ini bisa dikatakan dekat atau tidak. Tapi dia... dia selalu ada disaat aku butuh. Dia selalu menemaniku, menghiburku, bahkan dia juga mengkhawatirkan ku disaat aku sakit." gumam Monica akhirnya. "Tapi, yang ku pikirkan saat ini ialah... kenyataan bahwa sebentar lagi dia akan pergi dan mungkin akan melupakanku."
Monica terlihat menghela napas, kemudian gadis itu melanjutkan, "untuk pertama kalinya aku merasakan hal seperti ini pada seorang turis." katanya sambil tertawa miris.
Angela mengelus punggung Monica, menenangkan gadis itu kalau saat ini ada Angela yang mendukung dan menyemangatinya. "Kau harus sadar, kalau kau mulai menyukainya, Monica."
Sejujurnya, Monica masih belum sepenuhnya percaya kalau dirinya ternyata menyukai Joshua Spencer. Rasanya pikiran Monica masih berada diawang-awang. Yang selama ini dia lakukan hanyalah meluangkan waktunya untuk Joshua. Hingga tanpa sadar, Monica mulai terbiasa dengan kehadiran laki-laki itu dihidupnya.
Bahkan tanpa sadar, waktu yang berlalu begitu cepat, mengharuskan Monica menjawab pertanyaan dalam dirinya, 'apakah saat ini Monica menyukai Joshua Spencer?'
Dibawah temaram purnama, Joshua Spencer jalan-jalan disekitar penginapan, guna membuang rasa lelah dalam pikirannya⸻supaya setelah ini ia bisa tidur dan bangun esok pagi untuk melanjutkan ceritanya. Ia cukup senang bisa kembali menemukan sesuatu yang hilang dalam dirinya selama ini.
Belakangan ini, insomnianya tidak muncul lagi. Pikirannya bahkan lebih ringan dibanding sebelumnya. Cuma tinggal satu masalah. Dia belum bisa jujur pada Moncia soal kejadian dua belas tahun lalu. Joshua mungkin memiliki keinginan yang sama dengan keluarga Monica, dia tidak ingin senyum diwajah Monica itu luntur, setelah mengetahui fakta tentang dirinya.
Baru beberapa langkah dia berjalan, tiba-tiba pintu rumah didepannya⸻yang mana itu adalah rumah Monica⸻terbuka dan menampilkan sosok gadis keluar dari tempat tersebut. Joshua menyipitkan mata, mempertajam penglihatannya untuk melihat siapa gadis yang malam-malam begini berjalan menuju arah kebun. Tepat dibawah lampu kuning itu, sosok si gadis pun tertangkap oleh penglihatan Joshua.
"Monica?"
Gadis itu mengangkat kepalanya. Dan mata mereka kini bertemu.
Perlahan, Joshua Spencer mendekati Monica. "Kenapa malam-malam keluar?"
"Aku hanya ingin jalan-jalan saja." katanya.
"Kau mimpi buruk lagi?" Joshua ingat sekali, kejadian ini mirip seperti waktu pertama kali mereka bertemu. Makanya ia bertanya untuk memastikan.
"Tidak. Aku barusan kepikiran sesuatu." gumam gadis itu.
Kalau boleh jujur, sebenarnya Monica masih kepikiran mengenai perkataan Angela sore tadi. Mengenai keberadaan Joshua Spencer yang tidak lama lagi. Laki-laki itu akan segera pergi dari Gibbston Valley. Meninggalkan kenangan yang membekas dalam diri Monica.
"Aku temani, ya." tanpa menunggu jawaban Monica, Joshua langsung mengambil langkah duluan sembari memasukkan kedua tangannya dalam kantong celana.
Monica mau tidak mau mengikuti langkah Joshua, tidak sampai lima detik, gadis itu kini berada disebelah Joshua.
"Kau insomnia lagi?" tanya Monica. Melihat keberadaan Joshua malam-malam begini, membuat Monica penasaran. Apakah laki-laki itu mengalami insomnia?
"Tidak." jawab Joshua singkat. "Aku hanya butuh refreshing."
Monica pun mengangguk mengerti. Syukurlah jika Joshua sudah tidak insomnia lagi.
"Ku dengar dari Angela, kau akan kembali ke kota." ujar gadis itu, dia mau memastikan kapan Joshua pergi. Dia ingin membuat lebih banyak kenangan bersama Joshua.
"Masih lama. Masih seminggu lagi."
Satu minggu, untuk waktu dijaman sekarang ini sangatlah cepat. Bahkan apa yang telah mereka lalui bersama satu minggu kemarin tidak terasa, saking cepatnya peredaran sang waktu. Jangankan satu minggu, terkadang waktu satu bulan saja tidak akan terasa.
Waktu benar-benar berlalu begitu cepat.
"Tidak terasa, ya? Kita sudah seminggu lamanya kenal." celetuk Monica pelan. Suaranya terdengar serak, seolah dipaksakan.
Joshua mengangguk. "Waktu berlalu begitu cepat." timpal Joshua, tanpa menyadari raut wajah Monica yang sedih.
"Oh, iya, kalau boleh tahu, apa pekerjaan mu di kota?"
Joshua menghentikan langkahnya. Untuk pertama kalinya, setelah berkenalan selama satu minggu, Monica baru menanyakan tentang pekerjaannya. Joshua tidak mungkin mengatakan yang sejujurnya pada Monica. Joshua juga tidak berniat untuk menyembunyikan identitasnya pada Monica, tapi dia tidak bisa memberitahu gadis itu sekarang. Ia masih belum siap.
"Konsultan marketing." kata Joshua akhirnya, ia berhasil menemukan kata yang tepat untuk berbohong.
"Oh, pantas saja kau mengalami insomnia. Ku dengar pekerjaan itu selalu mengejar target, benar begitu?"
Joshua tersenyum kemudian ia mengangguk. Ingin rasanya dia menjawab, 'pekerjaan ku memang selalu dikejar target, tapi aku bukan konsultan marketing'
"Pasti sulit sekali hidup seperti itu." katanya. "Tapi, aku yakin kau bisa menghadapinya. Semangat!"
"Terima kasih." dan tanpa sadar, Joshua mengelus puncak kepala Monica, lembut. Membuat gadis itu terdiam sejenak, menghentikan langkahnya. Melihat langkah Monica yang terhenti, Joshua pun ikut berhenti sambil mengernyitkan alisnya.
"Joshua?" entah mengapa ketika Monica memanggil namanya, Joshua merasa ada sesuatu yang selama ini gadis itu pendam dan ingin disampaikannya sekarang. Darah Joshua tiba-tiba berdesir dan jantungnya berdegup tak karuan. "Apa kau tidak punya alasan untuk tingal sebentar saja disini?"
Joshua terkejut mendengar kata-kata Monica. Apa maksudnya itu?
"Maks..."
"Tidak apa-apa, ayo kita lanjut jalan-jalan." katanya, kemudian gadis itu lebih dulu mengambil langkah, sementara Joshua masih berdiri ditempatnya, berusaha mengartikan apa yang barusan gadis itu katakan.
Mungkinkah maksud Monica... dia tidak ingin Joshua pergi?
...---...