
Ferdinand memasuki sebuah kafe kecil diujung jalan dekat tempat kerjanya. Hari ini laki-laki itu ada janji dengan seseorang, namanya Felicya Sesya. Gadis keturunan Korea Selatan yang dikenalkan oleh sepupunya. Katanya Felicya itu seorang model Instagram. Awalnya Ferdinand kira Felicya itu gadis yang sombong⸻melihat kehidupan Felicya yang dikelilingi segalanya, tetapi ketika ia mengajak gadis itu mengobrol lewat chat, ternyata Felicya orang yang ramah dan polos. Terkadang manusia cuma menilai seseorang dari satu sisi saja, padahal di dunia ini banyak sekali hal yang tak terduga.
Ferdinand tahu kalau dia sedikit terlambat, makanya ia agak tergesa ketika membuka pintu kafe. Untungnya saat itu keadaan kafe tidak begitu ramai pengunjung, jadi ia bisa leluasa menelusuri seisi kafe, mencari sosok Felicya. Tidak lama setelah itu, Ferdinand menemukan Felicya duduk disudut kafe dekat jendela. Gadis itu tengah fokus membaca sebuah buku.
Awalnya, Ferdinand mengira gadis yang kini duduk diujung sana bukan Felicya, karena Ferdinand melihat Felicya menundukkan kepalanya ditambah lagi ia memakai topi putih, Ferdinand perlu menajamkan mata untuk mengenali Felicya.
Perlahan, Ferdinand menghampiri meja disudut kafe dan memilih duduk tepat didepan Felicya.
"Oh, ya ampun! Aku kaget." Felicya sedikit terlonjak sambil memegangi dadanya.
Sementara Ferdinand tersenyum lebar, namun senyum itu terlihat kikuk. "Sudah menunggu lama, ya? Maaf." katanya.
"Tidak apa-apa, aku juga baru sampai. Kupikir aku yang terlambat." lanjut Felicya.
"Sudah pesan sesuatu?"
Felicya menggeleng. "Belum."
"Ah." sahut Ferdinand pendek, lantas laki-laki itu mengangkat tangannya, memanggil pelayan, untuk memesan sesuatu. "Mau pesan apa?" Ferdinand menatap Felicya.
"Lemonade."
Si pelayan mengangguk dan mencatat pesanan Felicya. Kemudian pelayan itu menatap Ferdinand, menunggu laki-laki itu menyebutkan pesanannya. Ferdinand masih fokus menatap buku menu dihadapannya, sedetik kemudian, ia menoleh menatap si pelayan.
"Caramel Machiato."
Setelah mencatat pesanan, si pelayan tadi langsung menjauh dari tempat Felicya dan Ferdinand. Kini mereka berdua saling tatap menunggu siapa yang memulai pembicaraan. Keduanya sama-sama malu untuk memulai. Sampai akhirnya Ferdinand berdeham dan memulai perbincangan.
"Omong-omong apa yang kau baca? Sepertinya asyik sekali." tanya Ferdinand.
Felicya langsung menunjukkan sampul buku yang ia baca tadi pada Ferdinand. "Aku baca novel. Dia pengarang favoritku, ceritanya bagus." Felicya tersenyum.
Kembali Ferdinand menyipitkan mata, menajamkan penglihatan. J.Dawn? Oh, ya ampun, Joshua ternyata punya penggemar perempuan yang banyak. Buktinya, hanya dengan modal ribuan kata saja, dia bisa mendapatkan hati banyak perempuan. Ferdinand tertawa sekilas.
"Kenapa?" Felicya mengerutkan dahinya, heran ketika melihat Ferdinand tertawa.
"Tidak, tidak apa-apa." Ferdinand berusaha menahan tawa agar tidak dikira aneh oleh gadis yang baru diajaknya kencan.
"Kau tahu? Menurut yang aku baca di internet, penulis buku ini tidak pernah menunjukkan identitasnya. Padahal aku penasaran sekali padanya." ujar Felicya sambil melihat sampul novel tersebut.
Ferdinand kembali memasang senyum diwajahnya. "Seberapa penasaran kau pada penulis itu?"
"Hm, sangat." katanya. "Kalau aku bertemu dengannya, aku hanya ingin bilang kalau karakter perempuannya sangat cocok denganku." selorohnya sambil tertawa pendek.
Ferdinand ikut tertawa, kemudian ia berkata lagi, "kalau aku berhasil mempertemukanmu dengannya, apa yang akan kau berikan padaku?" laki-laki itu tiba-tiba menyampaikan sebuah penawaran pada Felicya, membuat gadis itu sedikit kaget. Tentu saja Felicya mengira kalau Ferdinand cuma bercanda.
Felicya tidak langsung menjawab, dia mengetukkan ujung jemarinya di meja, mencoba berpikir apa yang menjadi jawaban dari penawaran menarik itu. Entah cuma bercanda atau betulan. Sedetik kemudian Felicya memberanikan diri untuk menjawab, "kalau itu benar, mungkin aku akan mentraktirmu?" kemudian gadis itu tersenyum lebar.
Ferdinand menggeleng, seolah tidak terima dengan balasan yang diterima. "Hanya ditraktir? Kurasa itu tidak sesuai dengan penawaran yang aku berikan."
"Lalu, kau mau apa?"
"Bagaimana kalau memulai sebuah hubungan yang serius?"
"Eh?" Felicya mengerjapkan matanya, tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
"Kenapa? Tidak mau?"
"Tidak mau, tidak apa-apa." ujar Ferdinand, santai.
"Kau curang!" protes Felicya.
"Aku tidak curang."
"Kita baru kenal."
"Lalu kalau baru kenal, tidak boleh serius?"
"I-itu...." Felicya terlihat menggigit bibir bawahnya ragu, sedetik kemudian dia memilih bungkam. Ia tidak percaya kalau Ferdinand sepandai ini dalam bicara.
Dalam diamnya ia berpikir, bukankah tawaran yang ditawarkan Ferdinand itu bagus? Felicya mendapat dua keuntungan. Pertama keinginannya bertemu dengan J.Dawn terwujud dan yang kedua, dia bisa menjalin hubungan secara serius dengan laki-laki dihadapannya ini, mengingat dia sering putus nyambung dengan laki-laki saat menjalin hubungan. Jujur saja, dia bosan hidup begitu. Diumurnya yang sudah menginjak dua puluh lima ini, Felicya butuh laki-laki yang serius. Bukan cuma mengandalkan dirinya untuk mendapatkan popularitas.
Dan Felicya rasa, Ferdinand ini adalah laki-laki yang baik. Dia orang yang sangat pengertian.
"Aku tidak akan memaksa⸻"
"Aku setuju!" sela Felicya dengan cepat.
"H-hei, aku tidak memaksa." Ferdinand terlihat kaku sekarang.
"Aku serius mau. Bukan karena J.Dawn, tapi karena...." Felicya terdiam beberapa saat, kemudian ia melanjutkan, "karena itu kau, aku setuju." gumam gadis itu pelan.
Kini giliran Ferdinand yang tidak bisa berkata-kata. Padahal tadinya cuma bercanda. Ah, kenapa dia jadi segugup ini didepan seorang gadis.
Tepat ditengah suasana yang tidak mendukung itu, tiba-tiba pelayan tadi datang mengantarkan pesanan mereka. Setelah pelayan tersebut pergi, keduanya sama-sama terdiam dan fokus pada minuman masing-masing. Padahal mereka yang membuat keputusan, tapi mereka juga yang pada akhirnya gelagapan.
Ferdinand kembali berdeham, mencoba menyelamatkan kencan pertamanya, sebelum memulai perbincangan selanjutnya.
"Ayo, kita bicarakan hal lain." katanya.
...-οΟο-...
Joshua Spencer meluruskan jari-jarinya yang kaku akibat seharian berkutat laptop. Hari ini dia senang karena bisa menyelesaikan bab pertama dari cerita barunya. Akhirnya setelah lama menderita depresi karena tidak tahu mau menulis apa, kini ia bisa bernapas lega. Saat ini pikirannya benar-benar lancar. Semuanya berkat Monica Frances, ia jadi punya inspirasi menulis.
Sejak dua hari yang lalu, Joshua Spencer sudah mulai sibuk merangkai kerangka cerita sebelum dibuat cerita sepenuhnya. Ditengah-tengah kesibukkannya, dia masih bisa berinteraksi dan menemani Monica Frances. Joshua senang melihat perubahan Monica, semakin hari gadis itu semakin banyak tersenyum. Dalam hati, Joshua merasa lega kalau kehidupan Monica yang sekarang lebih baik ketimbang dulu.
Ia tidak dapat memungkiri, kalau Monica terlihat bahagia di tempatnya dibesarkan.
Joshua selalu memperhatikan Monica tiap gerak-gerik Monica. Bahkan ekspresi wajah gadis itu tak luput dari pandangan Joshua.
Joshua pikir, mungkin lebih baik Monica melupakan masa lalunya, karena dia sudah hidup dengan baik saat ini. Laki-laki itu sedikit ragu untuk membantu Monica mengingat masa lalunya. Joshua tidak tega kalau Monica harus kehilangan senyum diwajahnya.
Joshua pun menghela napas jengah. Ia lantas menarik kursi ke belakang dan berdiri, mencoba meluruskan punggungnya. Laki-laki itu pun membuka kunci ponselnya guna melihat jam. Dan.... ya ampun, ini sudah memasuki pukul tiga sore. Joshua bahkan baru sadar kalau dia belum makan dari pagi, pantas saja sejak tadi perutnya berbunyi.
Joshua lantas berjalan menuju jendela kamar, mencoba menghirup udara sore hari di bulan Desember. Mungkin biasanya bulan Desember erat kaitannya dengan salju, tapi tidak untuk New Zealand. Negara ini punya musim saljunya sendiri, yaitu dibulan Juni hingga Agustus. Saat ini New Zealand sedang memasuki awal musim panas. Jadi udara sorenya terasa begitu hangat.
Lelaki itu menyipitkan mata ketika mendengar suara tawa riang disekitarnya, ia mencoba mencari sumber suara itu. Tidak lama kemudian, dia menemukannya, ternyata suara tawa itu berasal dari dua orang gadis yang sedang bercanda di kebun anggur. Kalau dilihat-lihat, sepertinya Joshua mengenal kedua gadis itu dan benar saja, setelah ditelaah, dua gadis itu memang orang yang dikenal Joshua. Monica dan Angela. Keduanya sedang bercengkrama sesekali tertawa ditengah aktivitas mereka memetik buah anggur.
Satu lagi momen dimana Joshua Spencer bisa melihat senyum Monica Frances.
Tanpa sadar lelaki itu tersenyum. Ada sebersit rasa senang dalam diri Joshua ketika melihat Monica bahagia. Melihat gadis itu bahagia, tentunya membuat Joshua ikut bahagia. Hal itu menandakan kalau Monica baik-baik saja. Dan tugas Joshua untuk membuat ingatan Monica kembali, tidak akan dilakukannya, karena gadis itu sudah lebih bahagia sekarang.
...---...