Me Before You

Me Before You
Bab 25



Riuh suara mulai meramaikan suasana rumah Monica di Gibbston Valley. Mulai dari teman, saudara, dan rekan-rekan bisnis berkumpul dibelakang rumah Monica yang dikelilingi oleh savana⸺rumput-rumput hijau serta pepohonan yang rindang. Ditambah dengan cicitan para burung juga sinar mentari pagi yang cerah.


Ayah dan Ibu Monica sibuk bercakap-cakap dengan salah satu pemilik restoran yang dibawa oleh keluarga Angela dari kota. Berbeda dengan Ayah dan Ibu Angela, mereka berdua tengah menyambut para tamu yang mengucapkan selamat. Sebenarnya Monica masih tidak percaya bahwa hari ini akan datang. Rasanya waktu begitu cepat berlalu dan kini dia berada dalam acara yang sangat dia tunggu-tunggu.


Dapat Monica lihat, Angela dan Adrian berdiri di pelataran sana sembari menerima sambutan hangat dari keluarga dan kawan mereka. Hari ini bukan hanya hari bahagia bagi mereka, namun Monica juga sangat berbahagia. Karena semua bahagia, Monica juga ikut bahagia. Apalagi sekarang dia punya hal yang dimiliki oleh orang lain ketika dia berusia dua puluh lima tahun, yaitu kebebasan. Rasanya sangat bahagia.


Ditambah lagi sekarang dia punya Joshua Spencer.


Well, laki-laki itu kini berada disebelah Monica, ikut menyaksikan pernikahan Angela dan Adrian.


Angela dan Adrian memutuskan untuk menikah tepat di awal musim semi. Hampir setahun berlalu sejak kejadian di hari natal. Awalnya mereka ingin menikah diawal tahun, namun karena ada sesuatu, mereka memutuskan untuk memundurkan hari pernikahan mereka.


Dan.. yeah, Natal tahun ini tentu saja akan berbeda bagi Angela dan Adrian, karena sekarang status mereka sudah resmi sebagai sepasang suami istri. Rona senyum keduanya terlihat begitu jelas, kentara sekali kalau saat ini mereka sangat bahagia.


"Sudah tidak sabar ingin meresmikannya?" tanya Joshua, membuat Monica yang tadinya fokus memperhatikan Angela dan Adrian, langsung menoleh ke samping.


"Meresmikan apa?"


"Hubungan kita, tentu saja." jawab Joshua sambil mengangkat tangannya yang kini tertaut dengan tangan Monica, sampai cincin 'pasangan' mereka terlihat dengan jelas.


Monica pun tersenyum malu-malu. "Mau diresmikan bagaimana lagi? Bukankah sebentar lagi...."


"Aku belum melamarmu dengan resmi didepan banyak orang." ujar Joshua memotong ucapan Monica.


"Tidak, Joshua. Jangan sekarang." sahut Monica sambil tertawa. "Kita baru saja tunangan minggu lalu."


"Kau tidak ingin menikah denganku?" celetuk Joshua, dengan raut wajah kecewanya.


"Bukan begitu, Joshua." kemudian Monica memegang kedua pipi Joshua, "ini acara milik Adrian dan Angela. Aku ingin kita punya acara khusus untuk meresmikannya."


Joshua langsung melepaskan tangan Monica dari wajahnya dan mulai berdeham. Monica sangat tahu cara membuat Joshua salah tingkah. Sementara Monica tertawa puas melihat tingkah kekasihnya.


"Kenapa? Ada yang salah?" tanya Monica, tanpa rasa bersalah.


Joshua tidak membalas pertanyaan Monica, laki-laki itu masih berdeham sesekali terbatuk untuk menyembunyikan kegugupannya. Sedetik kemudian, Joshua mengambil wine yang ada diatas meja dan meminumnya dalam sekali tegukan.


"Pelan-pelan Joshua." sahut Monica sambil mengelus punggung Joshua.


Disela-sela kegiatan Joshua dan Monica, tiba-tiba muncullah Ferdinand bersama pasangannya, Felicya. Keduanya tampak bergandengan mesra ditengah pesta pernikahan Adrian dan Angela. Bahkan keduanya terlihat lebih mesra dibanding pasangan pengantin didepan sana.


"Hei, calon pengantin!" seloroh Ferdinand pada Monica dan Joshua. Panggilan itu serta merta membuat Joshua dan Monica menoleh ke arah sumber suara. Keduanya kompak berpikir kalau panggilan tadi bukan ditujukan untuk mereka.


"Kalian terlihat lebih mesra ketimbang pengantinnya sendiri." seloroh Ferdinand lagi begitu menyadari Joshua dan Monica menoleh bersamaan menatap dirinya yang saat ini mendekat ke arah mereka. Sementara Felicya yang berada disebelahnya tersenyum lebar ke arah Joshua dan Monica.


"Hai!" sapa Felicya ramah. "Kalian daritadi disini?"


Monica menggeleng, "kami tadi sempat berkeliling."


"Benarkah? Aku juga tadi sempat berkeliling disekitar sini, ternyata tempatnya sangat sejuk. Mungkin aku akan menyewa penginapanmu lain kali kalau aku mau liburan."


Kemudian Monica dan Felicya melanjutkan bicara mereka, sama seperti Joshua dan Ferdinand yang saat ini tengah mengumbar candaan khas laki-laki.


"Kapan menyusul, huh?" celetuk Ferdinand sambil memukul bahu temannya pelan.


"Menyusul apa, huh?"


Ferdinand berdecak, "jangan pura-pura tidak tahu!"


Joshua memutar kedua bola matanya. "Aku hampir melamarnya tadi kalau kau tidak datang dan merusak semuanya." sindir Joshua, sedikit kesal karena Ferdinand sudah merusak momennya bersama Monica.


"Wow, jadi hubungan kalian sudah sejauh itu?"


"Kami sudah tunangan minggu lalu, omong-omong."


"Hah? Serius?"


Joshua mengangguk.


Joshua menggeleng, "belum. Kami cuma meresmikannya berdua. Aku ingin membuat kejutan untuk keluarga besar."


"Wah, Joshua... tidak ku sangka kau akan secepat ini..."


"Apa yang cepat?" well, suara cempreng itu membuat dua laki-laki tadi menoleh dan mendapati pasangan pengantin⸺Adrian dan Angela menghampiri mereka berdua. Suara tadi berasal dari Angela.


"Oh, hai kalian!" sapa Ferdinand, langsung menghampiri keduanya⸺lebih tepatnya menghampiri Adrian dan memberikan rangkulan pada karibnya itu, kemudian laki-laki itu mendekat ke arah temannya dan berbisik, "sudah siap malam pertama?"


Adrian yang mendengarnya langsung melempar tatapan tajam ke arah Ferdinand, didapatinya laki-laki itu sudah tertawa jahil.


"Bisa tidak kau jangan terlalu frontal?"


Ferdinand masih terkikik geli. Angela yang berada disebelah Adrian mengerutkan dahinya, tidak lama setelahnya dia mengalihkan tatapan ke arah Joshua.


"Apa yang tadi kalian bicarakan?"


"Bukan apa-apa." balas Joshua.


Angela mulai menatap curiga. "kalian pasti membicarakan sesuatu tentang Monica, kan?" tebak Angela dengan benar.


"Wah, Angela tebakanmu...."


"Tidak ada, kami membicarakan hal lain." Joshua segera menyela omongan Ferdinand sebelum laki-laki itu mengumbar rencananya untuk melamar Monica. Mata Joshua langsung melotot ke arah Ferdinand yang masih menunjukkan senyum jahilnya.


"Aku tadi hanya membicarakan pekerjaan dengan Ferdinand." sambung Joshua lagi, "oh, ya, kenapa kalian kemari? Sudah selesai acara salam-salamnya?"


"Sebenarnya belum, tadi Angela mengeluh sakit kaki dan mau duduk dulu." sahut Adrian.


"Heels-nya terlalu tinggi, kakiku jadi pegal." keluh Angela sambil memegang betisnya.


"Kalau begitu ajak dia duduk disana." Ferdinand langsung menunjuk salah satu kursi yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri.


"Oke, kalau begitu kami pergi kesana dulu ya." kemudian Adrian membawa Angela beristirahat, ke tempat yang dituju tadi. Menyisakan Joshua dan Ferdinand yang masih menatap kepergian dua pengantin tersebut.


"Dasar ember!" cibir Joshua ke arah Ferdinand, lalu meninggalkan laki-laki itu seorang diri.


...-oOo-...


"Lain kali aku akan mengajak keluarga ku kemari. Bahkan mungkin kalau sedang penat aku bisa melarikan diri kemari." ujar Felicya yang tak hentinya mengutarakan keinginannya setelah melihat keindahan tempat tinggal Monica.


"Kau bisa pergi kesini kapan saja. Syaratnya cuma satu, kau harus beritahu aku kalau mau kemari. Aku akan mengajakmu jalan-jalan." balas Monica dengan ramah.


"Itu bagus. Aku pasti akan menghubungimu."


Saat mereka sedang asyik bicara, tiba-tiba Joshua datang dan menepuk bahu Monica. Otomatis, gadis itu langsung menoleh dan mendapati Joshua yang kini tengah tersenyum padanya.


"Hai, Josh! Sudah selesai bicaranya dengan Ferdinand?" tanya Monica.


Joshua mengangguk, kemudian dia menatap Felicya disebelah Monica. Gadis itu menatap Joshua, takjub. "Felicya, maaf, apa aku boleh minta bantuanmu?"


"O-oh... ya, tentu. Ada apa?"


"Tolong urus Ferdinand sebentar. Aku harus membicarakan sesuatu dengan Monica, jangan sampai dia mengikuti kami."


"Ah, ya, tentu." sahut Felicya menyanggup, kemudian gadis itu segera menghampiri kekasihnya yang saat ini tengah berdiri menatap sekeliling pesta.


Joshua ini menatap Monica. "Mau berkeliling denganku lagi?"


Monica mengerutkan dahinya. "Kemana?"


"Ke suatu tempat yang pernah kau tujukan padaku."


...----------------...