
"Ingatanku sudah kembali, bu." Monica kembali mengatakan hal tersebut ketika melihat raut wajah sang ibu. Meski sang ibu tidak mengatakannya, tapi Monica tahu kalau ibunya sangat kaget mendengar kembalinya ingatan Monica.
"Aku ingat semuanya ibu, aku ingat. Bahkan aku ingat bagaimana kecelakaan itu terjadi." ujar Monica setengah terisak.
Michelle Frances langsung bangkit dari kursinya, "sayang?" lalu dia memandang Angela disebelahnya. "Bagaimana bisa?"
"Aku juga tidak tahu." jawab Angela setengah berbisik.
"Ibu, kecelakaan itu terjadi karena aku. Karena aku yang mencoba melaporkan perlakuan teman-temanku. Maafkan aku."
Sang ibu langsung mendekati Monica dan memeluk Monica dengan erat. "Tidak, anakku. Jangan katakan apapun."
Monica membalas pelukan ibunya. Suasana pun berubah menjadi haru.
"Semuanya sudah terjadi, yang penting kau baik-baik saja, sayang." kata sang ibu lagi sambil mengelus punggung sang anak.
Dalam eratnya pelukan sang ibu, Monica mengangguk, memahami perasaan sang ibu. Ibunya pasti kelewat khawatir sekarang. Monica tidak tahu seberapa besar rasa bersalah sang ibu karena telah menyembunyikan semua kebenaran darinya. Dan Monica memahami hal itu. Sang ibu ingin Monica bahagia dengan kehidupan barunya. Tapi semua berubah ketika Joshua Spencer datang kembali ke dalam hidup Monica. Saat itu Monica ingin mengetahui siapa Joshua Spencer itu, hingga akhirnya dia mengetahui fakta bahwa Joshua Spencer adalah orang yang tak asing bagi Monica.
Dunia telah banyak berubah, dan kini Monica menemukan Joshua Spencer dalam sosok pemuda tampan yang menjelma menjadi malaikat. Dia datang dengan membawa harapan besar bagi Monica, tapi sekarang laki-laki itu menghilang dan bahkan mungkin Monica tak bisa menemukannya lagi. Tapi untungnya, ada Angela yang memberikan harapan lagi pada Monica guna menemui sosok Joshua.
Monica melepas pelukannya dengan sang ibu, tetapi tangannya masih menggenggam erat kedua tangan sang ibu. "Ibu, Joshua itu... dia adalah orang yang sudah menyelamatkanku. Dia membantuku saat semua orang memperlakukanku tidak adil. Dia.... Dia pernah satu sekolah denganku."
"Benarkah itu, sayang?" tanya Michelle Frances.
Monica menggangguk. "Dia orang yang baik."
Michelle Frances langsung mengelus rambut putrinya. "Sayang sekali dia tidak ada disini, padahal ibu belum mengatakan apapun padanya, tapi dia sudah pergi."
"Bibi, aku rencananya mau mengajak Monica pergi ke kota untuk bertemu dengan Joshua." ujar Angela disela-sela suasana haru biru antara ibu dan anak itu. Dia daritadi tidak berani bicara, karena takut mengganggu. "... sambil bertemu dengan penulis favorit Monica." sahut Angela melanjutkan. Dia hampir lupa kalau Joshua adalah seorang penulis dan dia hampir membongkar fakta tersebut didepan Monica.
"Kau yakin mau mencarinya?" tanya sang ibu pada Monica, sambil menatap mata sang anak.
Monica mengangguk. "Aku..."
"Mereka saling mencintai, hanya saja terbatas jarak. Apalagi Joshua tahu siapa Monica, dia tertekan sekaligus khawatir pada kondisi Monica." sekali lagi, Angela menyela pembicaraan. Gadis itu memang berniat untuk membantu Monica keluar dari rumahnya, agar sang sepupu bisa bertemu kembali dengan Joshua.
Ibu Monica tak dapat menahan rasa lega. Ia lupa fakta kalau anaknya sudah dewasa dan sudah sepantasnya mencintai seseorang. Sementara Monica tidak dapat menahan malu, wajahnya tiba-tiba memerah. Tidak percaya kalau Angela akan mengatakan hal itu didepan sang ibu.
"Kau sudah dewasa sekarang, ibu tidak akan membatasimu lagi. Sekarang kau bebas mau melakukan apapun."
Monica membelalakkan mata. "Ibu serius?"
Ibunya mengangguk, "tentu saja." kemudian Michelle Frances menoleh lagi menatap Angela, "kapan kalian akan berangkat?"
...-oOo-...
Tepat satu minggu dari sekarang, acara jumpa penggemar akan berlangsung. Berbagai persiapan sudah Joshua dan teman-temannya lakukan guna menyempurnakan acara tersebut. Yeah, acara tersebut adalah acara pertama bagi Joshua, wajar bila dia merasa sedikit gugup, karena sebentar lagi ia akan berjumpa dengan para penggemarnya. Bukan hanya penggemar saja, dia juga akan bertemu dengan Monica Frances. Joshua banyak berharap pada Angela supaya gadis itu bisa membujuk Monica untuk datang.
Menurut Ferdinand, tiket yang tersedia untuk jumpa penggemar telah habis terjual dalam waktu beberapa menit. Jujur saja, Joshua sempat tidak percaya. Ia tidak percaya kalau dirinya punya begitu banyak penggemar. Ia juga tidak percaya bahwa karyanya begitu diminati oleh sekian banyak orang. Sungguh pencapaian yang luar biasa bagi seorang Joshua Spencer.
Joshua Spencer baru saja menyelesaikan bagian mendekor disudut ruangan, ketika Ferinand masuk dan berdiri dibelakangnya. Otomatis Joshua sedikit tersentak mendapati kawannya itu.
Joshua mengangguk, "tentu saja."
"Sepertinya kau jadi orang sibuk sekarang." sahut Ferdinand dengan dibumbui sedikit gurauan.
"Well, hanya saat ini saja." timpal laki-laki yang kini berjalan berdampingan dengan Ferdinand itu.
"Bagaiaman ceritamu yang baru?"
Joshua mengangkat kedua bahu. "Masih dalam proses."
"Apa aku boleh beritahu Felicya soal ini?" Kembali Ferdinand meperlihatkan tawa pendeknya, membuat Joshua membelalakkan mata.
"Kau beritahu dia, kita berhenti berteman!"
Ferdinand berdecak. "Kau tidak mengerti, itu namanya strategi supaya cepat dapat pasangan!"
"Kau yang diuntungkan, aku yang merasa rugi." sindir Joshua.
"Lagipula, apa yang membuatmu rugi? Felicya bukan orang yang suka pamer."
"Terserah." cibir Joshua.
"Omong-omong, bagaimana kabar Monica?"
Joshua langsung menghentikan langkahnya. Nama itu mengingatkannya kembali pada sosok perempuan yang pernah dikenalnya.
"Dia baik-baik saja kan? Ku dengar dari Adrian, Angela akan pulang dua hari lagi, apa mungkin dia mengajak Monica?"
"Aku tidak tahu dan tidak mau berharap." kata Joshua pasrah, lantas dia kembali melanjutkan langkahnya.
"Loh? Kenapa begitu?"
"Karena memang sudah tidak ada harapan lagi. Untuk apa aku terus berharap, sementara yang diharapkan tidak memberikan kepastian?"
"Benar juga." sahut Ferdinand sambil manggut-manggut. "Apapun itu semoga saja keinginanmu bisa terwujud dihari natal."
Joshua Spencer tidak membalas ucapan kawannya, dia memilih untuk menghembuskan napasnya, gusar. Entah mengapa ia tidak begitu tertarik dengan permohonan temannya itu, padahal Ferdinand membuat permohonan untuk Joshua.
Selama melewati beberapa hari tanpa Monica Frances, membuat Joshua menyadari kalau selama ini dirinya begitu merindukan sosok Monica. Dan hal yang paling sering Joshua lakukan kala merindukan Monica ialah melamun. Mungkin bagi Joshua melamun adalah selingan yang tepat dilakukan ketika waktu luang sembari mencari inspirasi. Hingga tanpa sadar pikirannya terus melambung memikirkan Monica Frances.
Bagaimana gadis itu sekarang? Apa dia masih suka terbangun malam-malam? Apa sekarang Monica sudah terbiasa dengan hidupnya lagi?
Tentunya ada banyak pertanyaan yang ada dalam benak Joshua, namun tak satu pun pertanyaan yang bisa ia jawab.
Mungkin kedengarannya agak klise, namun Joshua masih berharap Monica akan datang pada saat jumpa penggemar nanti. Meski kemungkinannya kecil, tapi Joshua percaya pada harapannya. Toh, kalau misalnya Monica tak datang, ia akan menganggap belum waktunya bertemu dengan Monica lagi. Bisa saja Tuhan mempertemukan mereka kembali lewat kejadian yang tak terduga.
Joshua sebenarnya tidak mau banyak berharap, karena baginya, terlalu banyak berharap dapat menghancurkan diri sendiri.
...----------------...