Me Before You

Me Before You
Bab 23



Hari natal telah tiba, seluruh orang di Wellington merayakan datangnya hari ini. Mereka memasang musik khas hari natal dimana-mana. Bahkan, toko pernak-pernik natal terlihat ramai hingga ke sudut-sudut jalanan. Perayaan natal sangat terasa sekali disini. Sayangnya, perayaan tersebut tidak ditandai dengan turunnya salju, sesuatu yang paling identik ketika natal datang. Karena, yeah.... Tiap bulan Desember, New Zealand selalu berada pada periode musim panas. Berbeda dengan bumi belahan utara yang merayakan hari natal penuh salju.


Tepat pada hari ini, Joshua Spencer melaksanakan jumpa penggemar pertamanya disebuah auditorium hotel yang telah disewa khusus. Beberapa orang telah berdatangan dan terlihat antusias dengan acara ini. Bahkan Joshua yang sejak tadi berdiri tidak jauh dari pintu masuk dapat mendengar seruan mereka tentang J.Dawn. Seulas senyum langsung muncul dibibir laki-laki itu. Sedikit malu tapi ia sangat senang, karena orang-orang sangat mengapresiasi hasil kerjanya.


Sebagian besar penggemar Joshua adalah perempuan, Joshua beranggapan kalau sisanya⸻laki-laki⸻kemungkinan datang pasti hanya mengantar pacarnya untuk bertemu dengan Joshua hari ini.


Joshua merasakan sebuah tepukan dibelakang bahunya, ia pun langsung menengok dan mendapati Adrian melambai ke arahnya disertai senyum khas laki-laki itu.


"Menunggu seseorang?" tanya Adrian.


Joshua mengangkat bahunya. "Yeah, mungkin." ujarnya.


"Kalau begitu kita sama."


Joshua menjungkitkan alisnya, seolah bertanya. Menyadari maksud tatapan Joshua, Adrian buru-buru mengatakan, "Ferdinand, dia bilang datang dengan seseorang."


"Oh." sahut Joshua pendek. Pasti pacarnya, pikir Joshua.


"Dia cerita katanya kau pernah bertemu dengan Felicya," kemudian Adrian mendekati Joshua, "apa dia cantik?" bisik Adrian, membuat Joshua tak bisa menahan tawa. Kebiasaan Adrian, matanya memang sering jelalatan, tak ayal kalau Angela sering was-was meninggalkan Adrian jauh.


"Semua perempuan itu cantik, asal kau tahu." ujar Joshua dengan bijaknya. Adrian sampai membuang napas kesal medengar kata-kata Joshua.


"Ya, ya, aku tahu... Tuan Spencer yang bijak, entah berapa banyak perempuan yang menyukaimu, maksudku tulisanmu." sindir Adrian.


Joshua langsung mendelik. "Tutup mulutmu, kau hampir membongkar identitasku." ucap laki-laki itu setengah berbisik.


Adrian memutar bola mata, jengah. Menyebalkan sekali bicara dengan Joshua. Kalau dipertemukan bersama memang mereka tidak pernah akur, meski tidak seterusnya. Ada sisi mereka bisa akur, tergantung suasana.


"YO, HALO!" sebuah suara tiba-tiba menggelegar diantara keributan kecil para penggemar. Dia adalah Ferdinand Smith, orang yang saat ini paling heboh. Dia tidak sendiri. Sesuai janji, dia datang dengan pacarnya, Felicya Sesya.


"O... lihat! Siapa yang datang!?" sahut Adrian tidak kalah heboh, ketika melihat Felicya menggandeng tangan Ferdinand.


"Kontrol sedikit, kalian sedang ditempat ramai." desis Joshua. Entah mengapa Joshua merasa lingkaran pertemanan mereka tidak sehat. Mereka suka sekali mengumbar aib sendiri.


"Hei, teman, santai saja. Toh, ini acara kita bersama. Oh, aku dengar Angela dan Monica dalam perjalanan kesini."


Joshua langsung terdiam ditempat begitu mendengar nama Monica keluar dari mulut Ferdinand.


"Kau serius?" ujar Joshua tak percaya, kalau Monica benar-benar akan datang.


"Barusan Angela mengabariku." jawab Ferdinand dengan santai sambil menunjukkan ponselnya.


"Wah, Angela benar-benar. Dia tidak membalas pesanku, tapi dia sempat mengabarimu." rutuk Adrian ketika berhasil meraih ponsel Ferdinand dan melihat isi pesan dari Angela.


Sementara Joshua masih diliputi rasa yang tak karuan. Antara kaget, senang, gugup, semuanya menjadi satu. Bahkan tiba-tiba saja jantungnya berdebar. Ini gila, sungguh diluar ekspetasi sekali.


Monica benar-benar datang dan akan bertemu dengannya. Oh, Joshua tak sabar untuk itu. Dia ingin tahu bagaimana ekspresi gadis itu saat mengetahui bahwa Joshua adalah penulis favoritnya.


Ketika pemikirannya melayang, tiba-tiba saja kedua orang tadi⸻Ferdinand dan Adrian⸻melontarkan kehebohan mereka lagi. Bahkan lebih heboh dari sebelumnya. Joshua pun menelisik apa yang menjadi pusat kehebohan temannya ini dan ternyata.... Angela telah datang bersama.... Monica Frances. Dan tepat sekali mata Joshua dan Monica bertemu. Membuat Joshua salah tingkah dan refleks berdeham tak karuan.


Pantas saja kedua temannya ini heboh, ternyata mereka menyambut kedatangan Monica Frances.


"Oh, jadi ini calon anggota baru kita?" seru Ferdinand sambil menyenggol Adrian, tapi matanya menunjuk Joshua.


"Hei, Angela, ternyata sepupumu cantik jug⸻AW!" sahut Adrian dan dalam satu detik, dia sudah mendapat cubitan keras di pinggangnya. Pelakunya tentu saja Angela. "Kau harusnya kira-kira kalau mau menganiaya, jangan ditempat umum." rutuk Adrian sambil memegang bekas cubitan Angela.


"Bisa tidak kau sekali saja meninggalkan mata keranjangmu itu. Aku benar-benar akan pergi kalau kau masih seperti ini." balas Angela tak kalah kejam.


Suasana berubah menjadi makin riuh berkat kedatangan Angela dan Monica. Begitu Angela datang, semuanya langsung bercakap-cakap ramah, berbeda dengan Joshua dan Monica. Mereka sama-sama memilih untuk diam.


"Sebenarnya Monica," sahut Angela tiba-tiba, "aku memang sengaja mengajakmu kesini untuk bertemu dengan Joshua dan... ada satu hal penting yang perlu kau tahu." kemudian Angela mendekatkan bibirnya ke telinga Monica, membisikkan sesuatu. Tak sampai lima detik, mata Monica langsung membulat, diikuti arah pandangnya pada Joshua.


Meskipun tak dapat didengar, tapi Joshua tahu kalau Angela baru saja memberitahu siapa sebenarnya Joshua pada Monica. Kemudian Joshua melihat Angela memberi kode pada Monica untuk mendekati dirinya. Monica perlahan mendekati Joshua diikuti oleh tatapan orang-orang⸻Adrian, Ferdinand, dan Felicya. Jelas sekali Joshua melihat kilauan dimata Monica. Well, mata gadis itu berkaca-kaca, seolah mengekspresikan haru atau semacamnya.


Monica langsung memeluk Joshua ketika gadis itu berdiri didepan laki-laki itu. Pelukannya begitu erat, seolah tak ingin kehilangan Joshua lagi.


Joshua tersenyum sekilas, kemudian dia balas memeluk Monica. "I love you." ucap Joshua, yang didengar sampai ke telinga Adrian dan Ferdinand. Keduanya langsung saling tatap, kemudian bersorak ditengah keramaian.


"Setelah ini bagaimana kalau triple date?" seru Adrian.


"Aku setuju." balas Ferdinand cepat. "Wah, penulis nasional kita sudah punya pacar sekarang, kira-kira bagaimana perasaan penggemar yang mengetahui ini, ya?" tatapan Ferdinand jatuh pada Felicya yang sejak tadi melihat momen Joshua dan Monica.


Menyadari dirinya ditatap, gadis itu pun menoleh pada Ferdinand, dengan mengerutkan alisnya.


"Bagaimana perasaanmu setelah tahu Joshua Spencer punya pacar?" tanya Ferdinand mengulangi.


"Itu bagus, aku senang mendengarnya. Lagi pula kalau aku cemburu nanti ada yang marah." sahut Felicya sambil lalu. Membuat Ferdinand kehabisan kata-kata.


Yeah, setidaknya sekarang semua sudah jelas, tidak ada yang perlu disembunyikan lagi.


...-oOo-...


"Kenapa tidak bilang dari awal kau itu J.Dawn?"


Joshua mengangkat kedua bahunya, kemudian berkata, "kejutan." katanya sambil tersenyum pada Monica.


Well, saat ini mereka sedang menghabiskan waktu berdua dengan jalan-jalan disekitar hotel. Selepas acara jumpa penggemar selesai, Ferdinand dan Adrian punya acara masing-masing dengan pacar mereka. Yeah, mereka ingin punya quality time berdua, apalagi Adrian, dia sepertinya sudah rindu berat dengan Angela.


Acaranya berjalan dengan lancar. Para penggemar terkejut setelah melihat Joshua, mereka tidak mengira kalau seorang J.Dawn sangat tampan. Bahkan ada yang bilang Joshua itu mirip tokoh dalam komik.


"Coba ceritakan padaku, bagaimana kau bisa ingat semuanya?" ujar Joshua kemudian.


"Aku juga tidak tahu. Yang aku ingat ketika aku membuka buku yang pernah kau berikan, tiba-tiba saja ingatanku tentangmu muncul."


"Kau tidak mengalami sesuatu kan? Maksudku pusing atau semacamnya."


"Ada, tapi tidak sampai sakit sekali."


"Lalu... perasaanmu setelah melihat kejadian itu?"


"Aku sedikit menyesal dan menyalahkan diriku. Tapi mau bagaimana lagi, semuanya sudah terjadi." Monica lalu menghembuskan napas keras. "Aku sudah cerita pada ibu, makanya aku diperbolehkan pergi ke Wellington. Awalnya ibu tidak memberi ijin, tapi aku memastikan kalau semuanya akan baik-baik saja, karena ada kau." Monica menghentikan langkah, kemudian menatap Joshua.


"Senang mendengar kalau kau baik-baik saja." balas Joshua disertai senyum.


"Aku lebih senang mendengar bahwa kau adalah Joshua yang sama yang kutemui dua belas tahu lalu dan sekarang kau malah jadi penulis favoritku." Monica memegang pipi Joshua dengan kedua tangannya.


Joshua langsung memeluk Monica, sesekali mencium puncak kepala gadis itu.


"Aku penasaran pada sesuatu." ucap Monica disela-sela pelukannya dengan Joshua. Joshua yang mendengar itu pun seketika melonggarkan pelukan, supaya dapat melihat gadisnya.


"Apa itu?"


"Kau pernah bilang sesuatu sebelum pergi, aku hanya mendengar kata 'A'." ujar Monica.


Joshua langsung tertawa. "Aku sudah mengucapkannya beberapa waktu yang lalu. Bahkan sebelum acara dimulai."


"Aku tidak ingat, memangnya apa?"


"I love you."


Seketika wajah Monica langsung memerah begitu mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Joshua Spencer. Wah, kalau seperti ini terus... Monica bisa gila dibuat Joshua.


"I love you." katanya sekali lagi sambil kembali memeluk Monica.


"Jangan bilang lagi, aku malu." sahut Monica sambil tertawa didalam pelukan Joshua. Tapi tentunya Joshua terus mengucapkan kalimat itu berulang kali, sampai Monica tidak tahan untuk terus tersenyum.


...----------------...