
Monica membuang napas kasar setelah menjatuhkan diri diatas tempat tidur. Gadis itu tidak mengerti mengapa dirinya cukup kesal setelah mendengar kata-kata Joshua tadi siang. Dan kenapa pula dia mesti menghindari Joshua ketika laki-laki itu memanggilnya?
Kalau boleh jujur, disisi terdalam hatinya, tidak terima dengan perkataan Joshua. Laki-laki itu seolah tidak memiliki keinginan untuk berada disisi Monica. Joshua lebih memilih menyerah pada keadaan.
Ah, menyebalkan. Kenapa pula dia memikirkan Joshua Spencer sekarang? Dikala laki-laki itu sudah tidak punya niat untuk berhubungan dengan Monica lagi.
Monica berdecak. Ia benar-benar kesal sekarang.
Gadis itu pun bangkit dan perlahan berjalan ke arah pintu. Tanpa sengaja, Monica melirik meja yang penuh dengan buku-buku miliknya. Kemudian Monica teringat sesuatu. Lantas ia menghampiri meja tersebut dan mulai mengobrak-abrik buku yang sudah tersusun rapi diatas meja, seolah mencari sesuatu. Beberapa menit kemudian gadis itu menemukan apa yang dia cari, menatap barang tersebut lekat, kemudian mengumpulkan keyakinan diri.
"Aku harus mengembalikannya pada Joshua." gumam Monica.
Selanjutnya, ia kembali melakukan hal yang sama, berusaha mencari buku-buku yang telah Joshua pinjamkan padanya beberapa waktu lalu. Laki-laki itu sebentar lagi akan pergi, untuk apa pula Monica menyimpan barang yang bukan miliknya. Lebih baik dia kembalikan pada tuannya.
Saat sedang serius mencari buku milik Joshua diantara tumpukan buku, tiba-tiba salah satu buku milik Monica terjatuh. Otomatis gadis itu langsung menengok ke bawah, guna melihat apakah buku itu yang dia cari. Monica mengerutkan dahinya ketika melihat buku tersebut, sedetik kemudian, ia menurunkan tubuhnya untuk mengambil buku itu.
Kekuatan Sebuah Perubahan.
Monica tidak ingat kalau dia punya buku berjudul demikian. Tidak mau membuang waktunya, Monica memilih untuk meletakkan buku tersebut asal, kemudian kembali mencari buku milik Joshua yang tercecer entah kemana.
...-οΟο-...
Angela Frances mendengar suara gaduh dari arah tangga ketika dia baru kembali dari gudang. Gadis itu langsung mendongakkan kepalanya ke arah tangga dan mendapati Monica sedang menuruni tangga sambil membawa sesuatu ditangannya.
Angela mengerutkan dahinya. Apa yang dilakukan Monica sampai terburu-buru begitu?
"Angela!" panggil Monica ketika gadis itu sampai dibawah, ia pun langsung menghampiri Angela yang baru saja masuk ke dalam rumah. "Kau baru datang, ya?"
"Mm. Aku baru akan ke kamar." sahut Angela sambil mengangguk.
"Bisa minta tolong sebentar?"
"Apa?"
"Tolong berikan ini pada Joshua." ujar Monica sambil menyerahkan beberapa buku milik Joshua.
Angela melirik buku tersebut sekilas, kemudian ia menatap Monica dengan tatapan yang bisa diartikan. "Kenapa tiba-tiba menyuruhku?"
"Tolonglah, Angela. Sekali ini saja." pinta Monica.
Angela mengernyitkan alis. "Kalian ini kenapa, sih?" ujarnya. "Sudah kau kembalikan sendiri saja, aku mau istirahat, diluar panas sekali."
"Angela, tunggu!" Monica meraih tangan Angela yang hendak kabur ke kamar. Alhasil, Angela pun berbalik dan kini mereka berhadapan. "Aku sedang tidak ingin bertemu dengan Joshua." aku Monica.
"Kalian bertengkar?" timpal Angela.
Monica menggeleng. "Cuma tidak mau bertemu saja."
"Apa yang terjadi?"
"Tidak ada apa-apa, aku hanya ingin terbiasa tanpa kehadirannya."
"Maksudmu?"
"Dia sebentar lagi akan pergi, kan? Untuk apa aku harus⸻"
"Tidak. Maksudku, apa kau mulai... menyukainya?" sela Angela.
Monica pun menunduk, tidak berani memberikan jawaban. Mengerti dengan situasi, Angela lantas menarik Monica duduk di sofa ruang keluarga.
"Ceritakan padaku apa yang terjadi."
"Aku tidak tahu, tapi setelah mendegar kalau dia tidak pantas aku harapkan, entah mengapa aku merasa kesal padanya. Apa aku terlalu berlebihan?"
Angela mengambil sebelah tangan Monica dan mengelusnya. "Tidak, sayang. Itu artinya kau butuh kepastian." jawab Angela sambil tersenyum tulus. "Kau hanya tidak ingin semuanya menghilang."
"Lalu kalau begitu apa ini salah Joshua? Dia mengatakan hal itu seolah tidak ada apapun yang terjadi antara kami, selain hanya teman."
"Dia hanya belum menyadarinya. Atau mungkin dia sudah sadar, tapi belum mau mengakuinya." balas Angela sembari mengangkat kedua bahu. "Tidak ada yang tahu dalamnya isi hati manusia, kan?"
"Kalau begitu aku tetap tidak ingin menemuinya."
"Kenapa?"
"Rasanya hatiku tidak sanggup. Melihatnya membuatku merasa menjadi manusia paling egois."
Angela tersenyum. "Tapi kau harus menemui Joshua secepatnya sebelum dia pergi. Katakan padanya apa yang kau rasakan."
Monica pun mengangguk, meski hatinya masih tidak rela. Kemudian gadis itu bangkit dari tempat duduknya untuk pergi ke kamar. Namun, tiba-tiba tangannya dihentikan oleh Angela, membuat gadis itu menatap Angela.
"Sini bukunya, biar aku saja yang kembalikan pada Joshua." ujar Angela dengan senyum yang masih sama seperti sebelumnya.
...-οΟο-...
Joshua Spencer menghabiskan waktu sorenya dengan duduk sembari menengadahkan kepala ke atas, menatap langit senja diatas. Ada beberapa hal dalam kepalanya yang membuat ia sedikit berat untuk meninggalkan tempat ini. Entah mengapa itu menjadi beban tersendiri bagi Joshua. Apalagi melihat tindak-tanduk Monica tadi siang, membuat Joshua merasa bersalah karena mengatakan hal yang kurang mengenakan pada si gadis.
Laki-laki itupun menghela napas kasar. Kenapa masalah selalu menderanya disaat seperti ini?
Tidak lama setelahnya, Joshua mengalihkan pandangan ke arah pintu penginapan yang tiba-tiba terbuka, menampilkan sosok gadis yang dikenalnya.
"Angela?" gumamnya.
Gadis itu terlihat tersenyum seiring langkahnya yang terus mendekati Joshua.
"Kenapa diluar?" tanya gadis itu setelah mengambil tempat dihadapan Joshua.
"Aku sedang bosan di kamar." sahutnya.
Angela pun tersenyum kemudian mendorong buku-buku yang dia letakkan diatas meja pada Joshua. "Monica menyuruhku memberikan ini padamu."
Joshua tampak mengernyitkan alisnya. Berusaha mencerna maksud Angela.
"Kudengar kau pernah meminjamkan Monica buku saat dia sakit." timpal Angela setelah melihat ekspresi wajah Joshua.
"Oh." kemudian laki-laki itu menerima buku-bukunya.
"Kalian marahan?" celetuk Angela kemudian.
"Marahan? Siapa bilang?"
"Bukannya sudah terlihat jelas ya dari cara kalian yang tidak mau bertemu satu sama lain."
Joshua kembali menghela napas kasar. "Aku juga sebenarnya tidak mengerti, kenapa kami seperti ini."
Angela menopang dagunya dengan sebelah tangan. "Apa yang tidak kau mengerti?"
"Tentang hubungan kami. Aku tidak menyangka kalau Moncia manaruh perasaan padaku."
"Bukannya sudah jelas, ya, kalau kalian itu saling menyukai."
Joshua terdiam, ia berusaha memikirkan apa yang baru saja Angela katakan. Kalau dipikir-pikir, sikap peduli dan khawatirnya pada Monica selama ini menimbulkan kesan tersendiri dalam hati Joshua. Terutama disisi terdalam perasaannya. Ada rasa senang, lega, dan bahagia. Tapi ketika mengingat kejadian tadi siang itu, entah mengapa dada Joshua langsung merasa sesak, seakan sulit sekali untuk bernapas.
Apa tadi siang Joshua salah bicara pada Monica?
"Jangan sampai kau menyesal, Josh." timpal Angela kemudian.
Joshua langsung tertegun. Kata-kata Angela barusan berhasil meringsek masuk ke dalam hati dan pikiran Joshua. Oh, apalagi ini?
"Kalau kau mau menemuinya, dia ada di rumah." kemudian gadis itu bangkit dari tempatnya.
"Angela!" Joshua langsung menghentikan Angela yang akan melangkah meninggalkan Joshua. "Aku mau membicarakan sesuatu." katanya.
Dengan wajah yang bingung, Angela kembali duduk dihadapan Joshua. "Apa itu?"
"Tentang Monica dan memori lamaku."
Angela mengernyitkan alisnya, dan sedikit mendekat pada Joshua. "Ceritakan padaku!"
"Kau pernah menceritakan tentang Monica yang pernah dibully padaku, kan?"
Angela mengangguk.
"Baru-baru ini aku mengingat memori masa kecilku. Ternyata aku dan Monica dulu pernah satu sekolah sebelum akhirnya aku pindah ke Auckland." sahut Joshua. Terlihat Angela melebarkan matanya, seakan tak percaya dengan apa yang Joshua katakan. "Aku juga tahu soal dia yang dibully oleh satu sekolah⸻"
"Kau mengatakannya!?" sela Angela.
"Mengatakan apa?"
Angela menutup kedua matanya sambil menggigit bibir bawah. "Apa kau sudah bilang semuanya pada Monica?"
Joshua menggeleng. "Tidak."
"Jangan katakan apapun, kumohon." pinta Angela. "Kau tidak boleh buka suara apapun mengenai masa lalunya."
"Aku memang berniat untuk tidak mengatakannya."
"Lalu maksudmu memberitahu ku?"
"Aku hanya ingin memberitahumu saja." Joshua kembali menghela napas. "Aku tahu alasan kalian semua menyembunyikan kenangan lamanya." Joshua kini menatap Angela. "Kalian tidak ingin senyum diwajah Monica luntur setelah mendengar kenyataan yang sesungguhnya, ditambah lagi dia bisa menyalahkan dirinya sendiri atas kematian kakanya. Benar kan?"
Angela mengangguk. "Selama kau berada disini, jangan pernah memberitahu apapun pada Monica."
Joshua memang tidak ingin mengatakan apapun pada Monica mengenai masa lalunya, tetapi setelah mendengar perkataan Angela, Joshua semakin merasa bersalah, karena membiarkan gadis itu terjebak dalam dunianya yang sekarang. Tidak mengetahui apa-apa soal siapa dirinya yang sesungguhnya. Dan alasan kenapa orang-orang begitu protektif padanya.
Entah mengapa perasaan itu membuat Joshua tertekan jika terus berada disamping Monica. Apakah ini pertanda Joshua harus pergi sekarang?
...---...