Me Before You

Me Before You
Bab 7



Berita mengenai kecelakaan yang dialami Monica dan Alex sudah tersebar di Sekolah. Bahkan beberapa dari mereka sudah ada yang menjenguk Monica dan datang ke pemakaman Alexander Frances. Tidak ada satu orang pun yang menduga kalau kejadian mengerikan itu datang menghampiri Alex dan Monica. Bahkan Alex mesti kehilangan nyawa dalam kecelakaan tersebut.


Miss Sanders, salah satu guru di Sekolah Monica dan Alex hari ini datang menjenguk Monica. Yang ia dengar dari sang ibu waktu itu, Monica mengalami amnesia. Dokter bilang kalau amnesia yang dialami Monica kemungkinan tidak bisa sembuh dan kalau pun sembuh itu bisa saja memunculkan trauma akibat benturan keras dikepalanya.


Wanita paruh baya itu kini memasuki kamar rawat Monica. Sudah dua minggu semenjak kejadian itu, Monica masih dirawat di rumah sakit. Gadis kecil itu mungkin tidak tahu kalau kakaknya sudah mati. Monica yang malang. Bahkan setelah pembullyan itu usai, Monica masih mengalami mimpi buruk dikenyataan hidupnya.


"Monica? Bagaimana kabarmu?" well, ini adalah kunjungan kedua Miss Sanders ke ruang rawat Monica. Saat ini, di kamar tersebut ada Ibu Monica yang masih setia menemani putrinya.


"Oh, Anda sudah datang." sebelumnya, Miss Sanders sudah memberitahu Michelle Frances mengenai kedatangannya. "Dokter bilang Monica baik-baik saja, tapi dia masih butuh perawatan medis." Michelle memberitahu Miss Sanders mengenai keadaan Monica.


"Apa Monica akan istirahat?"


Michelle tidak langsung menjawab pertanyaan Miss Sanders. Wanita itu melirik Monica terlebih dahulu. Gadis itu masih sama seperti sebelumnya, terlihat linglung seperti tidak punya gairah. Michelle Frances mengelus rambut putrinya lembut, kemudian ia tersenyum pada Miss Sanders.


"Iya, sepertinya dia butuh istirahat."


"Ah, sayang sekali. Kalau begitu, boleh saya bicara dengan Anda? Ada beberapa hal yang perlu saya sampaikan mengenai kecelakaan itu."


Michelle pun mengiyakan permintaan Miss Sanders. Sebelum pergi keluar, wanita itu mencium dahi putrinya. Kemudian mereka keluar dan duduk di kursi dekat kamar rawat Monica.


"Saya harap anda tidak shock mendengar ini, Nyonya." Miss Sanders terlihat menghela napas terlebih dahulu. "Apa polisi ada menghubungi anda?"


"Polisi?" Michelle Frances bahkan tidak mengerti perkataan Miss Sanders. Ia lalu tersadar, selama berada di rumah sakit, ia tidak pernah menyentuh ponselnya sama sekali begitu pun dengan Joan Frances⸻ayah Alex dan Monica. Laki-laki itu bahkan sering bolak balik kota ke desa untuk mengurus kebun mereka. "Saya tidak tahu. Memangnya ada apa?" ujar Nyonya Frances.


"Saya sangat menyesal memberitahu ini, tapi mau tidak mau saya harus memberitahu Anda." katanya. "Kecelakaan yang dialami Alex dan Monica bukan murni kecelakaan lalu lintas. Tapi, ada yang sengaja membuat kecelakaan itu."


Kentara sekali Michelle Frances kaget. Ia bahkan mengerutkan alisnya. "Maksud Anda?"


"Polisi bilang ada yang sengaja menyabotase mobil Alex dan saat ini mereka masih memeriksa saksi, termasuk teman-teman Alex dan Monica."


Michelle terdiam. Ia masih tidak menduga kalau apa yang dialami anak-anaknya adalah ulah teman-teman sekolah mereka.


"Sebelumnya saya ingin bertanya, apa Monica dan Alex bukan saudara kandung?"


Satu pertanyaan itu, mampu membuah Michelle bungkam seribu Bahasa. Ia bingung untuk menjelaskan kalau ditanya. Lama terdiam, ia pun menghela napas jengah. "Bukan." jawab Michelle seadanya, kemudian ia menambahkan. "Kami mengadopsi Monica dari keluarga keturunan Korea."


Miss Sanders menanap mendengar kebenaran soal Monica. Ternyata yang dibilang orang-orang di sekolah itu benar. Ketika Miss Sanders akan membuka suara, Michelle kembali berbicara.


"Orang tua asli Monica adalah orang Korea dan tinggal di negara ini. Setelah kami mengadopsi Monica, kami mendengar berita bahwa orang tua asli Monica meninggal akibat kecelakaan pesawat."


"Nyonya Frances saya sedikit khawatir akan kondisi Monica. Kalau boleh jujur, sebenarnya Monica mengalami tindak kekerasan di sekolahnya. Baru-baru ini dia berani melapor mengenai pembullyan yang dia dapat dari teman-temannya."


Michelle Frances semakin tidak menyangka akan kondisi yang dialami putrinya selama tinggal di Kota. Ternyata penderitaan yang dia alami tak sepadan dengan senyum yang selalu gadis kecil itu torehkan pada semua orang, termasuk pada Michelle sendiri. Gadis itu tahu cara menjadi kuat sendirian.


Wanita itu tak dapat mengungkapkan perasaannya. Dia hanya terdiam. Tidak lama setelah itu, pertahanan Michelle mulai melemah. Ia pun menangis.


"Aku sendiri bahkan tidak tahu apa yang dialami oleh anak-anak ku."


Miss Sanders langsung mengelus punggung Michelle pelan, berusaha menenangkan hati wanita yang sudah rapuh ini. Dia sadar betapa sakitnya mengetahui kebenaran dari orang lain.


"Anda beruntung, Nyonya, karena memiliki anak-anak yang kuat." Miss Sanders berusaha menguatkan Michelle. "Bahkan Alex sendiri secara tak langsung mengorbankan nyawa demi adiknya."


Michelle tak dapat berkata apa-apa lagi. Wanita itu hanya bisa menangis meratapi nasib anak-anaknya yang malang. Seandainya saja ia tidak membiarkan Alex dan Monica pergi ke kota, pasti mereka masih berkumpul dan bermain di rumah.


Seandainya saja waktu bisa diputar.


Seandainya. Hanya kata-kata itu yang mampu Michelle ucapkan dalam hati.


Penyesalan memang selalu datang belakangan. Dan itu sudah menjadi rahasia umum yang sering diabaikan manusia.


...-οΟο-...


"Angela, kau bawa apa?" tanya Monica setelah menuruni anak tangga terakhir dirumahnya. Melihat Angela yang membuka kotak besar di dapur, membuat rasa ingin tahu Monica muncul.


"Aku bawa daging domba. Oh, iya kau punya wine di kulkas?"


Monica menghampiri Angela dan membantu sepupunya membuka kotak. "Sepertinya ada. Terakhir ayah menyimpannya beberapa botol."


"Oke." kemudian Angela berjalan ke arah kulkas yang tidak jauh dari tempatnya. "Oh, ada dua!" seru gadis itu ketika mendapati dua botol wine dalam kulkas. Angela pun mengambil satu botol dan meletakkan diatas meja makan.


"Oh, iya, Monica. Kotaknya jangan dibuka semua. Yang warna merah ini mau ku bawa untuk Joshua." ujar Angela yang membuat Monica mengerutkan alis.


"Eh? Joshua?"


"Kenapa?"


"Maksudmu, Joshua Spencer?"


Kali ini Angela yang mengerutkan dahinya. "Memangnya yang menginap di depan ada berapa Joshua?"


"T-tidak, maksud ku... aku sedikit kaget, ternyata kau mengenal Joshua."


Angela pun tertawa. "Ya, ampun Monica. Joshua itu temanku di kota dan yang merekomendasikan tempat ini, aku." Kembali gadis itu tertawa.


"Loh? Jadi?" Monica terdiam sebentar lantas menatap Angela dengan wajah polosnya. "Jadi Joshua kenalan mu?"


Angela menggeleng. "Sebenarnya dia teman pacarku. Ku dengar dia mengalami masalah kesehatan, makanya Joshua disuruh pergi liburan."


"Pacar?" Monica terheran. "Kau punya pacar? Wah, enak sekali tinggal di kota bisa berkenalan dengan laki-laki." Monica sedikit mencebik, membuat Angela gemas sampai mencubit pipinya.


"Aduh, Monica! Untuk apa pergi ke kota. Kan sudah ada yang dekat."


"Siapa?"


Angela menunjuk ke arah penginapan dengan dagunya. "Siapa lagi kalau bukan Joshua. Dekati saja dia."


Monica menghela napas. "Dia cuma kenalan saja. Paling setelah kembali dia lupa padaku."


Angela segera menggoyangkan telunjuknya di depan Monica. "Dia bukan tipe yang seperti itu. Aku sangat tahu dia." lalu gadis itu melipat tangan didepan dada. "Kupikir nanti setelah kau tahu siapa Joshua, kau akan terperangah." gadis itu pun cekikikan, setelahnya ia kembali menyiapkan makanan diatas meja makan.


"Terperangah bagaimana?"


"Tidak, tidak. Kau harus mencari tahunya sendiri."


Seperti tahu apa yang tengah dipikirkan Monica, Angela langsung berujar, "sudah, sudah... tidak usah dipikirkan. Cepat kita bereskan ini lalu makan. Kau harus minum obat, kan?"


...-οΟο-...


Setelah menemani Monica makan di rumah, Angela memutuskan untuk pergi ke tempat Joshua. Awalnya, Angela mau mengajak Monica pergi menemui Joshua, sayangnya Nyonya Frances tidak mengijinkan Monica pergi. Alhasil, Angela pergi sendiri ke tempat Joshua dengan membawa sebuah kotak besar yang berisi daging domba yang dia bawa dari kota dan wine dari rumah Monica. Angela sangat yakin kalau saat ini Joshua mengalami stress.


Baru saja Angela tiba di pekarangn penginapan, terlihat sosok Joshua keluar dari tempat tinggalnya. Kelihatan sekali kalau lelaki itu dalam keadaan yang tidak baik. Sepertinya setelah ini, Angela perlu memberitahu Adrian mengenai kondisi Joshua.


Laki-laki itu melihat ke arah Angela, sedikit menyipitkan mata. Gadis itu tersenyum sedikit sambil melanjutkan langkahnya. Ketika dia hampir dekat dengan posisi Joshua, laki-laki itu langsung berseru. "Angela?"


"Hai, Josh!" sapa Angela dengan ramah. Akhirnya Joshua mengenalinya. "Bagaimana liburan mu?"


"Tidak begitu baik." katanya. "Omong-omong, kenapa bisa disini?"


"Aku menengok sepupuku. Monica Frances. Kupikir kalian sudah saling mengenal." Jawab Angela sambil menaikkan kedua bahunya.


"Maksudmu, Monica yang tinggal disana itu?" Joshua sambil menunjuk rumah Monica yang berada didepan penginapannya.


Angela menyipitkan matanya. Dua orang yang ditemuinya hari ini seolah tak percaya dengan apa yang baru didengar. Mungkin mereka berpikir, dunia yang besar ini ternyata benar-benar sempit. Pasalnya, orang yang mereka kenal juga mengenal orang terdekat mereka.


Tadi Monica dan sekarang Joshua. Apa seperti itu mereka mengekspresikan rasa tak percaya mereka?


"Iya. Memang Monica siapa lagi, hm?" Angela mencebik. "Kau pikir dapat rekomendasi liburan dan penginapan ini dari siapa? Adrian? Adrian saja bertanya padaku, makanya ku beritahu tempat saudaraku ini. Memang Adrian tidak bilang padamu?" protes gadis itu pada Joshua.


Laki-laki itu lantas menghela napas sambil manggut-manggut dnegan wajah yang ditekuk. "Dia memang begitu, suka tidak jelas." katanya.


Angela tertawa sekilas, kemudian gadis itu mengubah topik pembicaraan. "Mau mengobrol? Aku bawa daging domba panggang dan wine."


"Tentu."


Joshua pun berjalan menuju kursi tamu yang memang disediakan didepan penginapan.


"Jadi ini semua punya keluarga mu?" tanya Joshua ketika mereka sudah duduk, sembari memperhatikan Angela yang sedang menyiapkan semuanya diatas meja.


"Ya, begitulah. Kami mendapat jatah yang sama, keluarga Monica tetap di desa, sementara keluarga ku memilih di kota." sahut Angela yang masih menyiapkan semuanya diatas meja. Setelahnya, Angela mendengar Joshua bergumam. "Oh begitu." setelahnya gadis itu terdiam sebentar sambil memperhatikan Joshua.


"Sebenarnya Joshua...." kata Angela sedikit menggantung, sedetik kemudian dia melanjutkan, "Monica itu satu-satunya sepupu ku yang masih tersisa."


Jelas sekali Angela melihat Joshua yang menatapnya heran, meminta penjelasan dari kalimat yang baru saja Angela ucapkan.


"Monica dia...." Angela menggantungkan kata-katanya. Dia menggigit ujung bibirnya, sedikit ragu untuk mengucapkan kebenaran tentang Monica. Tapi mau tidak mau dia harus memberitahu Joshua mengenai kebenaran tentang sepupunya. Gadis itu pun menghela napas, lalu berkata, "Belakangan ini ingatannya kembali dan kami takut kalau hal tersebut membawa dampak buruk pada Monica. Terutama traumanya."


"Maksudmu?" Joshua terus meneror Angela dengan keingintahuannya. Membuat Angela jengah untuk menggantungkan kata-katanya lagi.


"Dulu dia pernah mendapat pengalaman buruk, di-bully oleh satu sekolah karena dia bukan bagian dari keluarga Frances."


Joshua menanap. Bukan karena ia tidak percaya kalau Monica itu bukan dari keluarga Frances. Tapi ini tentang masa lalunya. Joshua rasa, kisahnya sama seperti kisah seorang gadis yang dulu di-bully di sekolah sebelum dia pindah.


"Coba ceritakan dengan jelas kejadiannya!" perintah Joshua. Laki-laki itu tidak bisa menahan keingintahuannya.


Angela pun menceritakan semuanya. Mulai dari awal Monica dan Alex mendaftar di sekolah yang berada di kota. Dia juga menceritakan selama berada di kota, Monica dan kakaknya tinggal di rumah Angela. Selama yang Angela tahu, Monica tidak pernah sekalipun bercerita mengenai pembullyan yang dialaminya. Gadis itu terlihat biasa saja ketika berhadapan dengan orang-orang rumah. Mungkin karena Monica adalah orang yang lebih banyak menghabisan waktu untuk diam, ketimbang mengumbar sesuatu didepan orang lain. Sampai pada akhirnya semua terkuak kala gadis itu mengalami kecelakaan, hingga menyebabkan Alex meninggal dan Monica amnesia.


Disitu Joshua memgambil kesimpulan bahwa Monica Frances bukanlah orang asing baginya. Dia pernah bertemu dan mengenal Monica Frances. Ingatan Joshua Spencer kini mulai terbuka. Sedikit demi sedikit, ia mulai mengetahui Monica Frances. Ternyata secara tidak langsung gadis itu terhubung pada masa lalu Joshua. Bahkan sampai saat ini.


Dunia memang benar-benar sempit.


"Omong-omong Joshua, kau sudah tahu kan kalau Monica suka sekali pada novel?"


Joshua mengangguk. "Ya."


"Itulah alasan kenapa aku menyuruh Adrian mengirim mu kesini. Agar kau bisa bertemu dengan Monica dan membuatnya tersenyum."


Joshua Spencer tertegun. Jadi, secara tidak langsung Angela sengaja mengirimnya kesini untuk bertemu dengan Monica?


"Tolong bahagiakan dia ya, J.Dawn!" ujar Angela dengan senyum yang lebar.


...-οΟο-...


Dua minggu yang lalu, Monica Frances diperbolehkan keluar dari rumah sakit. Setelahnya, Tuan dan Nyonya Frances langsung mengurus surat keluar Monica dari sekolah. Gadis kecil itu akan menjalani home schooling demi kebutuhan pendidikannya. Keputusan tersebut diambil karena Tuan dan Nyonya Frances tidak ingin kehilangan buah hati mereka lagi. Meski Monica bukan anak kandung Tuan dan Nyonya Frances, tapi mereka sudah mengangap Monica sebagai bagian dari keluarga Frances.


Monica Frances terlihat menjelajah isi ruang tamunya. Dia kini sudah berada di Gibbston Valley, setelah mengurus surat keluar dari sekolah, Monica langsung diajak kembali ke tempat asalnya.


Jemari Monica meraba perabotan rumah, yang ada, mencoba mengenali setiap jengkal yang ada dalam rumahnya. Keadaannya sudah lebih membaik, namun pikirannya masih linglung. Meski tidak separah dulu, tetap saja Monica perlu pengawasan dari kedua orang tuanya.


Sesaat jemari gadis itu berhenti pada sebuah bingkai foto diatas perapian. Gadis itu melihat foto tersebut dengan seksama. Ada empat orang dalam foto tersebut. Ibu, ayah, dirinya dan satu lagi...


Bukan itu saja, ada beberapa foto juga dipajang disana, ada dirinya, Angela dan... siapa laki-laki itu?


"Itu kakakmu Alex." ujar Nyonya Frances seraya mendekati anaknya. Sedari tadi wanita itu memperhatikan gerak-gerik Monica, seolah tahu apa yang ada dalam pikiran Monica.


"Alex? Kakakku?"


"Iya." sahut Nyonya Frances sambil mengelus rambut Monica lembut.


"Dimana dia, Ibu?" well, satu pertanyaan itu mampu membuat hati Nyonya Frances mencelos. Lidahnya terasa kelu untuk mengeluarkan sebuah kata. Ia bahkan tidak tahu apa yang harus diucapkannya untuk menjawab pertanyaan itu.


Pada akhirnya, Nyonya Frances menghela napas. "Dia sudah tidak bersama kita lagi." wanita itu tahu konsekuensinya saat mengatakan hal ini. Dan ia berharap reaksi kepala Monica tidak berdampak untuk kesehatan gadis itu.


Namun diluar dugaan, Monica malah memberikan respon, "ah begitu." gadis itu bahkan tidak menunjukkan reaksi pusing atau sejenisnya. Mungkinkah ini efek dari amnesia Monica? Nyonya Frances sedikit takut kalau ingatan Monica tidak bisa kembali, tapi disisi lain itu lebih baik ketimbang Monica harus mengingat kejadian yang membuatnya sakit hati dan menyalahkan diri sendiri.


"Ini sudah siang. Ayo makan dulu, lalu minum obat." Nyonya Frances langsung menggiring Monica menuju dapur, menjauhkan gadis itu dari kenangan lama.


Meski Monica terlihat seolah tidak peduli, tetapi sebenarnya pikirannya mulai dibayang-bayangi oleh pertanyaan tentang Alex. Apa maksud ibunya tadi, kakaknya sudah meninggal? Tepatnya kapan? Dan kenapa?


Tapi Monica punya keyakinan, mungkin ibunya belum siap untuk mengatakan sekarang. Suatu hari nanti pasti orang tuanya akan mengatakan sesuatu tengan diirnya. Menjadi orang yang lupa segalanya itu tidak enak. Rasanya seperti orang bodoh yang ingin tahu, tetapi tidak diberitahu.


Jika orang tuanya masih tetap bungkam, mungkin Monica harus mencari tahunya sendiri.


...---...