Me Before You

Me Before You
Bab 20



Ferdinand dan Joshua memasuki sebuah kafe kecil yang berada tidak jauh dari kantor mereka. Sesuai janji, Ferdinand mengajak Joshua untuk makan siang sekalian bertemu dengan seseorang. Setelah berada didalam kafe, mata Ferdinand menari-nari, mencari seseorang yang katanya sudah menunggu kedatangan Ferdinand dan Joshua.


Tak berselang lama, atensinya terisi oleh sosok gadis yang tengah duduk didekat jendela paling pojok. Ferdinand tersenyum, kemudian ia menyikut Joshua yang sedang menatap sekeliling kafe, dengan maksud supaya Joshua mengikuti langkah Ferdinand.


"Hai, Felicya! Sudah lama menunggu?" sapa Ferdinand, membuat gadis dihadapannya berpaling menatap Ferdinand. Ferdinand dan Joshua mengambil tempat dihadapan Felicya.


"Tidak juga, aku baru saja sampai." katanya.


"Maaf sudah membuatmu menunggu." ujar Ferdinand dengan wajah menyesal.


"Tidak apa-apa, santai saja." ucap Felicya.


Tidak berselang lama, seorang pelayan menghampiri mereka sambil memberikan buku menu. Mereka pun menyebut satu persatu pesanan, kemudian si pelayan mencatatnya. Setelahnya, pelayan tadi mengambil menu dan kembali ke belakang.


"Jadi... kenapa tiba-tiba kau minta bertemu, Tuan Ferdinand Smith?" tanya Felicya, setelah hening sesaat.


"Ah, itu aku..." Ferdinand sedikit terbata, kemudian ia melihat pandangan Felicya ke arah Joshua. Sepertinya gadis itu baru menyadari kehadiran Joshua. Mengerti dengan tatapan Felicya, Ferdinand pun mengatakan, "ini temanku Joshua. Kurasa aku pernah mengatakannya padamu."


"Joshua?" terlihat Felicya mengernyitkan alisnya sembari memandang Joshua.


Joshua membalas dengan seulas senyum. Daritadi dia hanya diam, tidak tahu mau bicara apa ketika bertemu dengan orang baru.


"Kau hanya cerita soal J.Dawn, tapi-tunggu!" kemudian tatapan Felicya jatuh pada Ferdinand yang tengah tersenyum lebar. "Jadi, maksudmu... dia..."


Mengerti dengan kata-kata yang baru saja dikeluarkan Felicya, Joshua pun menoleh ke samping, menatap Ferdinand, berusaha meminta penjelasan. "Aku menunggu penjelasanmu." ujar Joshua penuh penekanan.


Sementara Ferdinand sudah tersenyum kikuk melihat ekspresi Felicya dan Joshua. "Oke, oke, aku jelaskan. Tolong jangan tatap aku seperti itu, kalian seperti mengintimidasiku." katanya sambil mengangkat kedua tangan. Kemudian laki-laki itu menghela napas dan menatap temannya, Joshua. "Maaf, Josh, aku memberitahu soal identitasmu. Tapi aku hanya memberitahu Felicya saja, kok. Tenang saja." lantas dia menatap Felicya dihadapannya. "Kau benar, dia J.Dawn, sekarang kau sudah bertemu dengannya, kan?"


Felicya menanap. Ia tak percaya kalau orang disebelah Ferdinand adalah J.Dawn, penulis novel favoritnya. "Jadi namamu Joshua?"


Joshua mengangguk diiringi seulas senyum. "Joshua Spencer." timpalnya. Dan... yeah, Joshua bertemu dengan satu penggemarnya lagi. Ini mengingatkan laki-laki itu pada Monica Frances. "Senang bertemu denganmu."


"Oh My God!" seru Felicya, kemudian mendekat ke arah Ferdinand dan berbisik. "Kau tidak bilang kalau dia tampan, aku belum siap bertemu dengannya kalau begini." seloroh Felicya.


Ferdinand merasa tersaingi disini. Joshua Spencer sangat berbahaya bagi para wanita, dia bisa saja menaklukan hati wanita saat pertama kali bertemu. Benar-benar berbahaya.


Tidak berselang lama, Ferdinand melihat Felicya mengarahkan tangan pada Joshua. Joshua yang bingung pun balas menjabat tangan si gadis. "Felicya Sesya. Harap ingat itu." katanya sambil malu-malu. "Boleh aku minta tanda tanganmu?"


Joshua melepas jabatan tangannya, kemudian dia berkata, "maaf, aku tidak bisa. Kau harus datang saat hari natal nanti, saat jumpa penggemar."


"Ah, sayang sekali. Tapi tak apa, aku senang bisa bertemu denganmu." Felicya tersenyum.


"Kalau kau mau, aku akan menjemputmu saat jumpa penggemar nanti." celetuk Ferdinand kemudian. Ia tidak mau kalah dengan Joshua. Tentunya ia juga tidak ingin melewatkan momen bersama dengan Felicya.


"Hm, oke." sahut Felicya sambil mengangguk.


Tepat pada saat itu, makanan dan minuman yang mereka pesan datang, Mereka pun langsung menyantap makanan sambil mengobrol santai.


...-oOo-...


Setelah mengobrol dengan Monica, Angela Frances turun ke lantai bawah untuk mengambil minuman dingin. Yeah, mengobrol dengan Monica tadi membuatnya merasa haus, ditambah lagi suhu udara dimusim panas ini, makin hari makin menjadi. Gadis itu menghampiri lemari es yang berada didapur, mengambil air, kemudian meminumnya. Saat gadis itu berbalik, ia mendapati bibinya-Michelle Frances-menuju dapur.


"Bibi mau minum?" Angela membuka percakapan dengan sebuah penawaran. Sang bibi pun langsung menoleh, tersenyum singkat ke arah Angela.


"Boleh." katanya. Kemudian Angela kembali membuka lemari es dan mengambil sebotol minuman untuk bibinya. "Ini." ujarnya sembari memberikan pada sang bibi.


"Paman masih dikebun?" tanya Angela setelah duduk dihadapan sang bibi.


"Dia di gudang sedang memeriksa wine." sahut Michelle, sedetik kemudian, ia meminum air yang diberikan oleh Angela. "Terima kasih, sayang." wanita paruh baya mengelus pundak keponakannya.


"Sama-sama, bibi."


"Monica dimana?" tanya sang bibi.


"Biasa, sedang dikamar."


"Masih tidak mau keluar?"


"Aku barusan dari kamarnya, dia sepertinya memang butuh waktu sendiri."


Michelle Frances mengerutkan dahi. "Apa ada sesuatu? Apa ingatannya kembali?"


Angela menggeleng. "Bukan. Tapi sepertinya karena dia memikirkan Joshua."


"Joshua?"


"Joshua Spencer." jawab Angela. "Aku pikir mereka saling menyukai, tapi terhalang oleh jarak. Dan Joshua tidak yakin soal hubungan jarak jauh."


Michelle Frances langsung terdiam. Wanita paruh baya itu menyadari kalau saat ini Monica Frances sudah tumbuh dewasa dan ia perlu menemukan orang baru dihidupnya, terutama laki-laki. Gadis itu perlu menemukan cintanya. Tapi yang Monica lakukan saat ini hanya diam di rumah sembari membantu pekerjaan orang tuanya. Bukan maksud Michelle Frances menutup mindset Monica, dia hanya tidak ingin hal buruk terjadi pada anaknya. Cukup Alex saja, dia tidak mau kehilangan Monica.


"Bibi bahkan tidak pernah melihat Monica sampai sedekat itu pada tamu di penginapan. Joshua yang pertama. Bibi pikir keduanya memang sudah tertarik sejak pertama kali bertemu." ujar Michelle Frances.


"Nah itu dia, aku berencana ingin mengajaknya ke kota untuk bertemu Joshua, sekalian aku mau pulang. Dari kemarin pacarku sudah bilang rindu." sahut Angela diakhiri dengan sebuah kelakaran. Sang bibi pun tertawa pendek.


"Dasar anak muda!" ledek Michelle. "memang ayah ibumu tidak ada menelepon?"


"Tidak, mereka pikir aku pasti baik-baik saja, karena ada kalian. Kecuali kalau aku pergi ke luar kota atau luar negeri, mungkin mereka sudah menerorku."


"Meneror bagaimana?"


"Meneror minta oleh-oleh." sontak kata-kata tersebut mengundang gelak tawa Michelle Frances. "Omong-omong, apa aku boleh mengajak Monica pergi ke kota, bibi?"


Tawa Michelle langsung menghilang digantikan raut wajah yang tidak bisa diartikan Setelah terdiam sejenak, wanita paruh baya itu angkat bicara. "Bibi tidak yakin, sebaiknya paman dan bibi perlu bicara dulu."


"Tidak perlu." suara itu membuat Angela dan Michelle langsung menoleh ke arah tangga dan mendapati Monica yang berdiri disana. Perlahan tapi pasti, Monica menuruni tangga rumahnya lalu berjalan menuju dapur-mendekati sang ibu dan Angela yang tengah asyik mengobrol. "Aku sudah dewasa, bu. Aku sangat ingin mengenal dunia luar." katanya.


"Tapi, Monica..."


"Ibu tidak perlu khawatir, karena ingatanku sudah kembali."


...---...