Me Before You

Me Before You
Bab 22



"Bagaimana dengan ini? Ini kelihatannya bagus." Angela sambil membentangkan pakaian milik Monica.


"Memangnya aku mau kemana pakai baju itu?" tanya Monica.


"Ya ampun, Monica, kau kan mau bertemu dengan Joshua, bagaimana sih?" Angela berdecak sebal.


Well, saat ini Angela sedang berada di kamar Monica sambil membantu sepupunya mengepak beberapa potong baju yang akan dibawanya ke Kota. Rencananya besok pagi-pagi sekali mereka akan berangkat, sekalian mengantar Angela pulang ke rumah. Monica adalah orang yang paling bersemangat, karena ini pertama kalinya Monica bisa pergi dari rumah, setelah kejadian yang menimpanya dulu,


"Aku tidak terbiasa menggunakan dress, toh Joshua juga sudah sering melihatku mengenakan pakaian biasa." ujar Monica menambahkan.


"Aduh, Monica, kau itu harus tahu fashion, paham? Gadis-gadis di kota tentunya lebih modis dari penampilanmu, memang kau tidak ingin membuat Joshua terkesan?"


"Oke, oke kita bawa yang itu, yang itu juga, dan yang ini. Pokoknya yang menurutmu bagus." Monica akhirnya mengalah, karena tidak mau berdebat panjang dengan sepupunya.


Angela tertawa singkat, kemudian meletakkan baju yang dipegangnya. "Aku ingin tahu, seberapa inginnya kau bertemu dengan Joshua Spencer."


"Sangat ingin! Bahkan ketika ibu memperbolehkan aku pergi, aku benar-benar sangat senang."


Angela tersenyum lebar, sangat lebar. "Aku ingin tahu reaksi mu setelah melihat Joshua, aku juga ingin tahu ekspresimu ketika tahu siapa Joshua itu."


Monica mengerutkan alis. "Memangnya kenapa? Apa ada sesuatu yang salah?"


"Hm?" Angela cepat-cepat menggeleng. "Tidak, tidak, aku akan memberikanmu kejutan." katanya sambil melanjutkan kegiatan. Monica sangat tahu pasti ada yang disembunyikan Angela. Monica ingin tahu, tapi ia tidak berani menuntut meminta jawaban. Ia penasaran, kejutan apa yang Angela berikan ketika Monica bertemu dengan Joshua nanti. Apa mungkin....


"Kita akan bertemu keluarga Joshua?"


"Pfft..." Angela tiba-tiba menyebur tawa. Masalahnya, disaat hening, Monica langsung menyentakkan kalimat tersebut. Angela merasa tidak tega membuat Monica berpikir sampai sejauh itu. "Tunggu sampai kita ada di Kota ya, sayang?" sahut Angela sambil mengelus kepala Monica.


Monica berdesis, ia menyentakkan tangan Angela. "Oke, oke, mari kita lihat apa kejutannya." kemudian Angela mendengar Monica menggerutu kecil, membuat Angela tersenyum geli.


"Kalau aku beritahu sekarang, bukan kejutan namanya." timpal Angela lagi.


"Iya, iya aku tahu." sungut Monica, kemudian ia beralih untuk melipat baju-bajunya kembali. Tapi tak sampai satu detik, ia tersentak. Kalau yang dikatakan Angela benar, apa mungkin Joshua yang tinggal di Kota pernah tertarik pada wanita disana? Oke, Monica akui ia khawatir akan kenyataan itu. Kalau semisal itu terjadi, sudahkah Joshua melupakan gadis itu?


Angela menyadari perubahan yang terjadi, ia menatap Monica yang tengah termenung, kemudian mengguncang tangannya. "Kenapa?"


Monica cepat-cepat menggeleng, "tidak." katanya singkat. Lagi pula hal seperti itu tidak pantas untuk....


"Apa Joshua dulu pernah punya pacar?"


..... ditanyakan. Huh, Monica menyerah, dia tidak tahan dengan rasa ingin tahunya, jika itu menyangkut Joshua Spencer.


Mendengar pertanyaan dari Monica, Angela lagi-lagi tertawa.


"Loh? Memang ada yang salah?"


Angela mengangkat tangannya dan melambai didepan wajah Monica. "Tidak, tidak." kemudian gadis itu berdeham sedikit. "Joshua tidak pernah punya pacar, asal kau tahu. Hidupnya terlalu penuh dengan pekerjaan. Bahkan pacarku sempat mengenalkan Joshua pada kenalannya, tapi itu tidak mempan. Kupikir dia orang yang pekerja keras. Makanya saat aku tahu dia akan kesini, aku benar-benar sangat bersemangat. Mungkin saja sepupuku yang cantik ini bisa meluluhkan hati Joshua, dan ternyata itu benar."


"Kau serius?" Monica mengangkat kedua alisnya.


Angela tidak berbohong. Dia terlihat serius ketika mengatakan kalau Monica memang satu-satunya orang yang berhasil mempengaruhi hidup Joshua. Monica jadi tidak sabar untuk bertemu Joshua kembali. Monica harap perasaan Joshua masih sama seperti sebelumnya, karena sekarang adalah waktunya Monica melangkah maju untuk menggapai apa yang diinginkannya. Monica pasti akan melakukan hal terbaik untuk Joshua, sama seperti yang laki-laki itu lakukan dua beals tahu lalu.


"Angela, aku boleh minta tolong padamu?"


"Tentu."


"Tolong beritahu aku semua tentang Joshua, aku ingin mengetahui dia lebih dari dia mengetahui aku."


...-oOo-...


Waktu menunjukkan pukul enam sore, tetapi matahari masih berada diatas kepala. Periode musim panas memang selalu seperti ini, Waktu terasa lebih panjang lantaran matahari belum menunjukkan aktivitas terbenamnya.


Setelah pulang kerja, Joshua Spencer tidak langsung kembali ke apartemennya, ia menyempatkan diri untuk refreshing sejenak ditengah padatnya rutinitas. Yeah, sebelum kembali pada kenyataan⸻kalau dia seorang penulis⸻Joshua mau menenangkan pikiran, belakangan ini pikirannya agak kacau, apalagi setelah meninggalkan Monica. Jujur saja dia sedikit menyesal dengan keputusannya, tapi mau bagaimana lagi, kalau diteruskan tentunya akan berujung sesuatu yang buruk pada Monica. Tentu saja Joshua memikir itu, dia khawatir pada kondisi Monica.


Dan tadi, ketika dia baru beberapa langkah meninggalkan kantor, Angela mengiriminya sebuah pesan, katanya Monica akan ikut dengannya pergi ke kota. Ini benar-benar diluar dugaan, tentunya dalam hati Joshua bersorak. Dia sangat senang, karena akhirnya Monica mendapat ijin untuk pergi ke Wellington.


Joshua senang, tapi dia tidak menutupi kegugupannya. Untuk pertama kalinya, dia akan memperlihatkan jati dirinya didepan khalayak ramai, dan untuk pertama kalinya juga ia bertemu dengan Monica Frances sebagai J.Dawn yang diidam-idamkan gadis itu. Joshua takut kalau dia sampai melakukan kesalahan ketika melangsukan acara nanti, karena tak dapat menahan detak jantungnya. Maklum saja ini pertama kalinya Joshua jatuh cinta, jadi dia tidak tahu harus bagaimana ketika berhadapan dengan Monica nanti.


Saat ini Joshua Spencer berdiri dipinggir jalan yang berseberangan dengan sungai besar, jalan ini adalah jalan yang biasa ia lewati setelah pulang kerja dan sebelum pergi ke stasiun bawah tanah. Meski saat ini musim panas sedang berlangsung, jalanan masih terlihat samai dengan orang-orang yang melintas. Entah itu bersantai didalam kafe atau berteduh dibawah pohon di taman. Bahkan dibawah terik yang menyengat ini, orang-orang masih bisa bersepeda. Yeah, ini memang sudah menjelang sore, namun udaranya masih sama seperti siang hari.


Sedetik kemudian, laki-laki itu teringat akan sesuatu. Ia lantas menyelipkan tangannya ke dalam kantong celana dan mendapatkan apa yang dia cari. Well, itu adalah surat Monica yang terselip beberapa waktu lalu diantara kulit pohon. Bukan hanya sekali dua kali Joshua membacanya, bahkan ia sampai membawanya kemana-mana. Padahal isinya masih sama seperti sebelumnya, hanya saja keadaan kertasnya yang berbeda. Kertasnya sudah sedikit lecek dan kusam, karena terlalu sering dibawa.


Mungkin orang-orang mengira Joshua adalah orang bodoh, tapi bagi Joshua surat dari Monica adalah motivasinya. Surat itu memberikannya kekuatan untuk terus menulis, supaya ia bisa bertemu lagi dengan Monica Frances dan membuktikan pada gadis itu bahwa ia tak sendiri, karena Joshua juga merasakan hal yang sama seperti Monica.


Well, biarlah diwaktu kemarin Joshua menghindari Monica, tapi untuk waktu yang akan datang, Joshua tidak akan menghindari Monica lagi. Justru ia akan melangkah maju lebih dulu, meski gadis itu telah melangkah mundur. Dan Joshua berjanji dia tidak akan menghindari apapun lagi.


...-oOo-...


Monica masih tidak percaya kalau dirinya sekarang sedang dalam perjalanan menuju Wellington. Pengalaman ini merupakan yang pertama dalam hidupnya, setelah sekian lama ia mendekam didalam rumah. Ia hanya ingat sepotong kecil kenangan dimasa lalu, hanya sebagian kecil. Kebanyakan diisi oleh bayangan Joshua Spencer ketika masih kecil.


Monica mungkin akan menandai hari ini sebagai hari dimana ia bisa mendapat kebebasannya. Dia tak perlu takut pada dunia luar, kini dia bisa hidup dengan bebas.


Monica tak henti memandang jendela luar, menatap seluruh objek yang dilewatinya. Bahkan dari balik kaca jendela, dia bisa melihat birunya laut ketika ditimpa sinar matahari. Monica lantas menurunkan kaca jendela mobil dan mengeluarkan tangannya agar dapat merasakan semilir angin. Kembali ia mengingat kenangan ketika bersama Alex, senyumnya yang mengembang perlahan memudar.


"Kenapa?" tanya Angela, ketika tanpa sengaja dia menatap Monica disebelahnya.


"Tidak apa-apa, hanya tiba-tiba ingat Alex." katanya. Kemudian Angela langsung mengelus punggung Monica.


"Nanti kita ketemu Alex, dia juga pasti merindukanmu." ujar Angela disertai senyum.


Monica mengangguk, kemudian dia kembali menaikkan jendela mobil dan kembali bersandar pada kursi penumpang. Setelah sampai di Wellington, ada tiga orang yang harus ditemuinya, pertama Joshua Spencer, kedua J.Dawn, dan yang ketiga kakaknya. Tapi yang saat ini masih menjadi prioritas dalam pikirannya ialah Joshua Spencer. Meski waktu itu Joshua bilang supaya Monica cepat-cepat melupakannya, nyatanya melupakan tak semudah yang dikatakan. Dengan melupakan berarti bersiap-siap menghilangkan bayang orang yang kita cintai untuk seterusnya. Hidup tanpa memikirkan dia lagi.


Dan sejujurnya, Monica belum siap untuk melupakan Joshua Spencer, meski suatu hari dia bisa melupakan, tapi tentunya ingatan tentang Joshua akan selalu singgah. Walaupun Monica harus berlari sejauh mungkin, dia tak akan mampu untuk melupakan Joshua Spencer. Monica sudah mencintai Joshua dan sulit sekali untuk dihilangkan, karena perasaannya sudah jatuh sangat dalam, apalagi Monica telah menyerahkan seluruh hatinya pada Joshua. Akan sangat sulit baginya untuk menghilangkan nama Joshua serta sosoknya dalam benak dan hati Monica.


Oleh sebab itu, Monica tidak akan pernah menyerah pada perasaannya untuk Joshua.


...---...