
Monica dan Joshua kembali menelusuri jalanan menuju hutan pinus yang dikelilingi oleh sungai kecil. Diatas sungai tersebut terdapat sebuah jembatan kayu yang menghubungkan kawasan tempat tinggal Monica dengan hutan pinus rindang.
Berbeda dengan sebelumnya, mereka berdua berjalan sambil bergandengan tangan. Menikmati pemandangan disekeliling mereka. Suasanya sangat sejuk. Matahari yang bersinar tidak terlalu terik, karena saat ini sedang musim semi.
Angin sepoi-sepoi yang berasal dari angin musim semi pun ikut menyertai langkah keduanya dalam menapaki jembatan kayu ini. Suara gemericik air sungai membawa mereka mengingat masa lalu, dimana Monica mengajak Joshua berkeliling Gibbston Valley untuk pertama kalinya. Sampai pada akhirnya mereka tiba disebuah tempat yang diyakini penuh harapan.
Pohon pinus besar itu masih berdiri ditempat yang sama, tidak ada yang berubah. Rindangnya juga kulit pohonnya yang sedikit terkelupas masih sama seperti satu tahun yang lalu. Mereka berdua pun menghentikan langkah didepan pohon itu.
"Sudah lama aku tidak kesini." celetuk Joshua, sambil mendongak menatap ujung pohon diatas.
"Hm, benar." jawab Monica, membenarkan.
Yeah, setelah kejadian tahun lalu, Monica memutuskan untuk tinggal di Kota bersama Angela. Namun tinggalnya di Kota tidak membuat Monica lupa pada orang tuanya di Desa. Monica pulang tiap akhir pekan dan kembali lagi ke Kota saat hari kerja. Gadis itu kini bekerja di bar anggur milik Angela, membantu mengurus toko keluarganya.
"Aku rindu memetik buah anggur dan bermain kesini." sambung Monica lagi, membuat Joshua Spencer menengok ke arah Monica.
Joshua tersenyum tipis, "apa kau bahagia?"
Monica balas menatap Joshua, dahinya mengerut bingung. "Bahagia?"
"Aku hanya bertanya, apa kau bahagia dengan kehidupanmu sekarang?"
"Ya, aku sangat bahagia. Tapi, kalau aku ingat masa lalu, aku jadi rindu dan ingin kembali ke masa itu."
"Aku paham. Masa lalu memang tidak akan bisa lepas dari manusia, tapi kita tidak bisa berada dalam masa itu. Karena ada masa depan yang menunggu kita. Walau tidak bisa dipungkiri kalau masa depan ada hubungannya dengan masa lalu."
Kini giliran Monica yang tersenyum tipis. Dia membenarkan kata-kata Joshua, sayangnya dia tidak membalas perkataan laki-laki itu.
"Oh, ya, aku mau mengatakan sesuatu." ujar Joshua, mengalihkan pembicaraan. "Kau bilang kalau kau ingin punya acara sendiri untuk acara lamaran, benarkan?"
"Ya, benar. Kenapa? Apa kau sedang memikirkannya?" Monica tertawa kecil.
Joshua menggeleng, "aku sudah memikirkannya dan aku akan segera merealisasikannya."
"Oh, benarkah? Seperti apa itu?" goda Monica.
Joshua tersenyum miring, kemudian dia mendekat pada Monica dan memegang kedua tangan Monica. "Mungkin kau akan mengira ini sedikit cringe atau apalah. Tapi aku benar-benar ingin kau menjadi bagian dariku,"
Joshua menghela napas terlebih dahulu, kemudian dia berkata, "jadi, Monica Frances, maukah kau menikah denganku? Menikmati hidup bersamaku, menjadi teman hidupku, menjadi orang tua bersamaku dan tumbuh tua bersamaku."
Monica tersenyum lebar. "Kau tidak perlu menanyakan pertanyaan yang sudah jelas jawabannya."
"Siapa bilang aku tahu jawabannya? Aku belum tahu jawabannya. Kau bisa saja bilang 'tidak' ditengah jalan, kan?'
"Sebegitu inginnya tahu jawabanku?"
"Sebenarnya aku hanya butuh pengakuanmu, karena aku sama sekali tidak pernah mendengar kau mengatakan cinta atau semacamnya padaku."
"Begitukah? Aku pikir kau tahu semuanya walaupun aku tidak mengatakannya."
Monica mengangkat kedua bahunya, lalu gadis itu mengatakan, "baiklah, aku akan mengatakannya." ujarnya, "Joshua Spencer..." Monica meggantungkan kata-katanya, kemudian gadis itu melanjutkan, "Tanpa kau mengatakannya, aku dengan senang hati akan selalu berada disampingmu, menjadi apapun yang kau mau. Menerima segala kelebihan dan kekuranganmu."
Joshua Spencer tersenyum lebar mendengar pengakuan Monica untuk pertama kalinya. Laki-laki itu sedikit lega, karena selama ini bukan dia saja yang jatuh cinta. Sedikit kekanakan memang, Joshua yang seolah membutuhkan pengakuan dari seorang wanita.
"Apa kau butuh pengakuan lagi, Tuan Spencer?" tanya Monica berusaha meyakinkan Joshua mengenai pengakuannya yang sederhana. "Kalau mau, aku bisa memberikannya lebih banyak dari sekarang, disaat kita sudah menikah nanti."
Kali ini Joshua Spencer menunjukkan tawa kecilnya, tidak menyangka kalau Monica akan sesumbar ini dalam menyampaikan perasaannya pada Joshua. Tanpa pikir panjang lagi, Joshua Spencer langsung memeluk Monica dengan erat ditengah embusan angin musim semi dan sinar mentari yang menyejukkan.
Saat itu juga Joshua membuat janji pada diri sendiri, kalau dirinya akan terus mencintai Monica, tidak peduli bagaimana beratnya tantangan hidup ke depan. Meskipun kembali terpisah jarak ataupun ingatan yang kembali menghilang.
...----------------...
...Letter From Joshua to Monica...
...----------------...
Sebenarnya, aku tidak tahu persis apa yang terjadi belakangan ini. Tetapi begitu mengenalmu, aku merasakan sesuatu yang tak biasa. Mungkin kedengarannya terlalu biasa dan konyol, aku ingin tahu tentang mu lebih banyak. Namun, yang terjadi, ketika aku mengenalmu, aku semakin tidak mengerti dengan perasaanku.
Aku seakan tidak punya harapan lagi ketika orang-orang disekitarmu menginginkan kamu yang seperti sekarang ini. Tersenyum bahagia tanpa memikirkan apapun. Aku mengerti kekhawatiran mereka, bahkan aku sendiri khawatir padamu.
Tapi untuk sekarang....
Aku tidak bisa.
Aku ingin, tapi aku tak bisa.
Aku butuh waktu untuk memikirkannya. Tentu saja semuanya akan baik-baik saja, kalau kita sudah terbiasa.
Kalau kau membaca surat ini, aku hanya ingin kau tahu bahwa aku adalah Joshua Spencer yang pernah kau kenal.
Maaf aku tidak bisa memberitahumu secara langsung. Aku terlalu tertekan untuk mengatakan ini langsung padamu,
Kau tidak perlu mengenalku dengan baik, cukup aku saja yang menyimpan kenangan lama kita. Semuanya demi kebaikanmu.
Waktu itu, aku tidak bisa menjengukmu karena tepat di hari itu aku pindah dan hanya mendengar kabarmu dari teman-temanku. Melihat kau seperti sekarang, aku sangat yakin kau pasti bahagia dengan kehidupanmu sekarang, bahkan sebelum bertemu denganku lagi.
Sebenarnya, kalau kau bisa pergi ke tempatku, aku ingin sekali mengajakmu pergi dan menjadi pemandu wisata mu. Seperti yang kau lakukan hari itu, ketika kita bertemu lagi.
Masih ada satu rahasia yang tak bisa ku beritahu padamu sampai saat ini. Mungkin ketika kau pergi ke kota dan bertemu lagi denganku, aku akan menjelaskan semuanya.
Terima kasih untuk dua minggu kemarin, aku senang kita bisa bertemu lagi.
^^^From your past,^^^
^^^Joshua Spencer^^^