Me Before You

Me Before You
Bab 18



Ketika mentari mulai menampakkan sinarnya, Joshua Spencer sudah berada didepan penginapan dengan koper dan tas ranselnya. Hari ini ia akan pergi meninggalkan Gibbston Valley, meninggalkan Monica, dan meninggalkan kenangan yang pernah ia buat bersama Monica. Laki-laki itu mulai menarik kopernya pergi menemui Nyonya Frances untuk memberikan kunci kamar pada beliau, sekaligus bertemu dengan Monica.


Joshua lumayan terkejut kala mendapati Monica Frances bersama Angela sudah berada didepan rumah, seolah menunggu Joshua datang. Laki-laki itu tersenyum sekilas, ternyata Angela berhasil membujuk Monica. Tanpa pikir panjang lagi, Joshua menghampiri keduanya sembari menarik koper miliknya.


"Selamat pagi." sapa Joshua pada Monica sambil mengelus puncak kepala gadis itu,


Monica tidak membalas, gadis itu memegang tangan Joshua yang berada dikepalanya, kemudian menggenggamnya erat. Matanya mulai berkaca-kaca.


Joshua pun mengelus pipi Monica lembut, sembari tersenyum tulus pada gadis itu. "Jangan menangis, hm?"


Melihat senyum dibibir Joshua, membuat Monica tidak bisa menahan hatinya lagi. Dia menunduk dan satu tetes air matanya jatuh. Otomatis Joshua megangkat wajah Monica pelan, agar mata mereka bertatapan.


"Aku pastikan kita akan bertemu lagi dan saat kita bertemu, aku akan memastikan perasaanku padamu." katanya.


Percaya atau tidak, kata-kata itu baru saja membuat hati Monica menghangat, membuat gadis itu mengulas senyum.


"Saat ini aku tidak bisa mengatakan apapun karena jujur ada sesuatu yang membuat kepalaku merasa beban. Dan ketika waktunya tiba nanti, mari kita mengingat semuanya, tanpa ada rasa bersalah."


Terakhir, dan tanpa diduga, Joshua Spencer mendekatkan dirinya pada Monica, perlahan menunduk dan mencium kening gadis itu cukup lama. Pemandangan itu tentunya dilihat oleh Angela. Angela pun menutup mulutnya dengan kedua tangan, tidak menyangka kalau Joshua akan melakukan hal tersebut. Disitu Angela meyakini, bahwa sebenarnya Joshua memang mencintai Monica.


Setelahnya Joshua kembali menjauhkan diri dari Monica setelah mengacak pelan rambut gadis itu. Dia pun kini beralih pada Angela, menghampiri gadis itu sambil merogoh kantong celananya.


"Kalau bertemu dengan Nyonya Frances, tolong berikan ini ya?" ujar Joshua sembari memberikan kunci kamar penginapan pada Angela.


Angela pun mengangguk. "Iya, tentu." katanya sambil menerima kunci tersebut dari tangan Joshua.


"Terima kasih." Ujarnya, "terima kasih sudah membujuk Monica." sambung Joshua.


Angela mengulas senyum diwajah. "Sama-sama."


Kemudian Joshua kembali menatap Monica yang sejak tadi hanya diam dan memperhatikannya.


"Tidak mau bicara sesuatu padaku?" laki-laki itu mengerling pada Monica.


Monica tertawa singkat. Sebenarnya ada satu kalimat yang belum bisa ia ucapkan sejak lama. Monica juga tak yakin untuk mengucapkannya sekarang didepan Joshua, apalagi saat ini ada Angela. Tapi, kalau tidak sekarang, mungkinkah ada waktu lagi suatu hari nanti?


Pada akhirnya, Monica memutuskan untuk mengatakannya.


"A....."


Namun...


Kata-kata Monica terhenti ketika sebuah kendaraan berhenti didepan kebun dengan membunyikan klakson besar. Well, itu adalah mobil travel Joshua. Inilah waktunya, waktu perpisahan.


Seluruh pandangan yang awalnya tertuju pada mobil tersebut, kini beralih ke arah Joshua Spencer. Yang diperhatikan pun cuma memperhatikan Monica Frances. "Aku pergi?" katanya dengan senyum tipis yang menghiasi wajahnya.


Tanpa berkata apa-apa, Monica langsung berhambur memeluk Joshua. Joshua pun membalas pelukan Monica.


"Aku akan mengatakannya saat kita bertemu lagi." gumam Monica.


Joshua tidak mengerti apa yang diucapkan oleh Monica, tapi ia tetap mengangguk, mengiyakan permintaan Monica. "Sampai jumpa." ucapnya setelah melepas pelukan Monica dan memberikan lambaian tangan pada gadis itu.


Perlahan tapi pasti, ketika Joshua akan masuk ke dalam mobil, ia melihat Monica melambaikan tangan padanya. Ia pun balas melambaikan tangan gadis itu, sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil.


Joshua menengok ke belakang kala mobil sudah berjalan meninggalkan penginapan. Entah mengapa dadanya makin sesak, apalagi melihat Monica dan Angela yang masih berdiri didepan rumah mereka. Membuat Joshua menghela napas kasar dan memilih untuk kembali pada posisi yang seharusnya, menatap jalanan yang berada didepannya, meski saat ini dia sedang duduk dikursi belakang.


Tiba-tiba Joshua menyadari sesuatu, ia segera melepas tas ranselnya, membuka, kemudian mengambil sebuah buku. Dia menemukan sebuah kertas dihalaman depan buku tersebut. Yeah, itu surat kemarin yang dia temukan dipohon harapan. Surat milik Monica. Permohonan dan harapan Monica. Kemarin malam ia sudah membacanya, isinya membuat hati Joshua tergugah, ia langsung merasa sesak. Seandainya ia bisa mengabulkan keinginan Monica itu.... tentu saja ia bisa, satu-satunya cara adalah lewat acara temu penggemar dihari natal.


Waktu berjalan begitu cepat, tanpa terasa dia sudah dua minggu berada di tempat ini. Berawal dari pertemuanya dengan Monica, berujung seperti pertemuan kembali dengan teman lama, hingga pada akhirnya perasaan mulai muncul akibat kebersamaan tersebut. Tidak salah memang, karena mereka sudah dewasa dan sudah sepantasnya merasakan cinta.


Haruskah Joshua menuangkan segala perasaannya pada Monica dalam novel berikutnya?


...-οΟο-...


Sekembalinya dari bawah, Monica langsung pergi ke kamar. Saat ini hatinya terasa lebih nyaman dari kemarin, apalagi setelah bertemu dengan Joshua, laki-laki itu meyakinkan Monica kalau mereka akan bertemu. Seolah memberi kesempatan bagi Monica untuk terus memperjuangkan perasaannya pada Joshua. Monica tidak sendiri, karena kemungkinan besar Joshua juga merasakan hal yang sama. Apalagi dengan perlakuan laki-laki itu yang tiba-tiba mencium keningnya.


Oh, Monica tak berhenti memegang keningnya sekarang.


Tanpa sengaja, tatapan Monica jatuh pada buku bersampul kuning yang berada diatas meja. Sejak kemarin dia ingin sekali membuka buku itu, tetapi karena mood-nya tidak memungkinkan, dia berulang kali mengurungkan niat.


Dia pun kini melangkah mendekati meja belajar yang penuh dengan buku-buku miliknya. Monica mengambil salah satu buku yang sejak kemarin menjadi pusat perhatiannya.


Kekuatan Sebuah Perubahan.


Monica menatap buku tersebut. Judul yang bagus, mungkin isinya juga bagus. Pikir Monica.


Monica mulai membuka lembaran pertama buku tersebut, kemudian membuka halaman selanjutnya, dan seterusnya. Sebuah novel, kental dengan filosofi hidup. Gadis itu pun mulai membaca bagian pertama dari buku tersebut.


"Manusia begitu rentan dengan keterpurukan dan keputusasaan, hal tersebut menyebabkan tumbuh ketidakpercayaan diri dalam diri mereka."


Monica pun membaca kata demi kata dari buku tersebut, hingga tanpa terasa ia berada diujung terakhir bagian pertama. Monica terkesiap, ketika mendapati sebuah foto hitam putih milik seorang anak laki-laki berwajah oriental, khas orang Asia. Bagaimana bisa sebuah foto bisa terselip di buku ini? Padahal Monica sendiri tidak pernah membukanya.


Apa mungkin ini foto Alex?


Tapi wajah Alex tidak seperti ini. Monica sangat tahu wajah Alex, walaupun dia hanya melihat wajah kakaknya di foto. Tapi, Monica dapat pastikan kalau anak laki-laki ini bukan Alex. Alex punya wajah khas orang barat.


Lalu siapa anak laki-laki ini?


Monica tidak mau ambil pusing. Ia menghiraukan foto tersebut dan beralih membaca bukunya lagi. Perlu diketahui, meskipun Monica berusaha menghiraukan foto tersebut, nyatanya pikiran Monica tidak demikian. Pikiran Monica terus bekerja, memutar segala memori untuk menemukan jawaban 'siapa sebenarnya anak laki-laki dalam foto tersebut?'


Seperti sebuah putaran film, kelebat bayangan itu benar-benar mengganggu Monica, sampai dirinya sulit konsentrasi dalam membaca.


"Jangan biarkan orang lain terlalu mengatur hidup⸻akh!"


Monica merasa kepalanya sedikit berdenyut, gadis itu pun memegangi kepalanya yang tiba-tiba sakit. Ini buruk, pasti sesuatu yang buruk akan terjadi. Mungkin sekarang ingatannya akan kembali?


Monica terus mengerang kesakitan, hingga ia jatuh terduduk diatas lantai. Buku beserta foto yang sejak tadi ia pegang juga ikut terjatuh entah kemana. Kini Monica merasa pandangannya sedikit berat. Monica memekik dalam hati, kalau dia tidak boleh jatuh pingsan. Kemudian gadis itu merasa ada putaran dalam benaknya. Seperti ada sebuah celah dimana dia bisa masuk ke masa lalu.


Monica berusaha menahan rasa sakit sembari membiarkan dirinya masuk lebih dalam ke alam pikirnya yang berputar begitu cepat layaknya sebuah roda. Dari keseluruhan memori yang muncul, ia dapat melihat sosok anak laki-laki yang persis dengan yang ada di foto tadi. Monica juga bisa melihat anak laki-laki itu memberikan buku kuning tadi padanya. Bukan cuma itu saja, anak itu bahkan membantu Monica keluar dari mimpi buruknya di dunia nyata. Yeah, benar... anak itu...


Monica ingat semuanya sekarang. Dia ingat siapa dirinya. Dia ingat pembullyan itu. Dia juga ingat pada Joshua Spencer.


Anak di foto itu adalah Joshua Spencer. Joshua Spencer yang baru saja ia temui dan kini pergi meninggalkannya lagi.


Tanpa memikirkan apapun lagi, Monica Frances segera keluar dari kamarnya, menuruni tangga dan melesat pergi keluar rumah tanpa mengindahkan panggilan Angela yang melihat Monica tergesa-gesa,


Awalnya Monica ingin pergi ke penginapan, lalu dia teringat kalau Joshua Spencer baru saja pulang. Dengan kekalutan yang masih ada dalam pikir, gadis itu langsung berlari menuju jembatan dan berakhir di pohon pinus besar, yang biasa ia sebut pohon harapan. Entah mengapa gadis itu tiba-tiba pergi ke tempat tersebut,


Dengan napas yang terenggah-enggah, Monica mengambil surat yang masih tersisip dikulit pohon tersebut. Monica kira surat itu masih miliknya, tetapi begitu dibuka, ia seketika membatu. Surat itu bukan lagi miliknya, tapi itu adalah surat untuknya.


Dan kisah masa lalu kini terulang kembali. Joshua Spencer baru saja pergi membawa harapan Monica, meninggalkan harapan miliknya untuk Monica


...---...