Me Before You

Me Before You
Bab 6



Pagi ini, Ferdinand Smith ingin menyambangi salah satu teman yang merupakan seorang manajer di kantornya. Ketika lift berhenti di lantai tujuh, laki-laki itu langsung keluar dengan posisi kedua tangan yang dimasukkan dalam saku celana.


Yeah, pagi ini Ferdinand mau menemui Louis Adrian atau mungkin yang akrab disapa Adrian. Adrian ini adalah teman Joshua dan Ferdinand. Laki-laki itu pula yang bertanggung jawab atas pekerjaan Joshua dan Ferdinand⸻kunci utama pekerjaannya ialah Joshua, kalau Joshua tidak melakukannya dengan benar maka akan berpengaruh pada Ferdinand, begitu pula dengannya.


Tinggal di kota besar membuat Ferdinand menyadari sesuatu, terlalu banyak orang menumpuk disatu tempat itu ternyata tidak bagus. Kota yang kecil ini akan lenyap tertelan lautan manusia jika lama-lama dibiarkan. Yeah, namanya juga ibu kota, pasti semua orang ujung-ujungnya akan lari ke Wellington ketika ada apa-apa.


Sebelum memasuki ruangan sang manajer, tentunya Ferdinand mengetuk pintu terlebih dahulu. Meskipun Adrian itu temannya, dia mesti tahu diri akan posisinya di perusahaan.


"Adrian, ini aku Ferdinand." ujar Ferdinand setelah mengetuk pintu. Setelah mendapat persetujuan, lelaki itu pun masuk ke ruangan Adrian.


"Hai, Fer! Lama tidak berjumpa setelah Joshua pergi liburan." itu Adrian. Dia baru menggantungkan jasnya di stand coat. Kentara sekali baru datang ke kantor. Kemudian Adrian mempersilakan Ferdinand untuk duduk. "Ada perlu apa pagi-pagi begini bertemu denganku?"


"Sebenarnya aku memang mau membicarakan sesuatu denganmu, tapi sepertinya ada masalah yang perlu ditanggapi dengan cepat." Ferdinand memberi jeda sejenak pada kalimatnya, kemudian ia melanjutkan, "ini tentang Joshua, omong-omong."


Adrian mengerutkan dahinya. "Ada apa dengannya? Apa terjadi sesuatu padanya?"


Ferdinand tersenyum miring. "Dia hanya membutuhkan waktu liburannya, setidaknya dua minggu dilebihkan dua hari."


"Aku menyesal mengatakan ini, tapi aku membutuhkan dia. Kau tahu sendiri kan, saat ini orang-orang mempertanyakan keberadaanya. Apalagi kita perlu menyeleksi beberapa naskah yang masuk. Kurasa kita benar-benar membutuhkan dia."


"Tapi Adrian, saat ini Joshua dalam keadaan tidak baik. Insomnianya belum hilang dan dokter sendiri pernah bilang kalau dibiarkan, kemungkinan besar Joshua akan menderita Alzheimer di usia muda." balas Ferdinand membela Joshua. Itu memang benar, Joshua pernah di diagnosis mengidap Alzheimer jika insomnianya tidak hilang. Joshua sama sekali tidak tahu tentang ini, waku itu dokter hanya memberitahu Ferdinand.


Adrian pun menunduk sembil melipat jemarinya, tengah berpikir mengenai keputusan apa yang seharusnya diambil ketika menghadapi masalah seperti ini. Memilih temannya atau tetap pada pendirian.


"Dia juga bilang akan menyetujui permintanmu waktu itu, kalau waktu liburannya diperpanjang." sambung Ferdinand lagi, berusaha meyakinkan Adrian untuk memberikan kesempatan pada Joshua. "Dia hanya butuh waktu tambahan dua hari saja untuk menyelesaikan masalah."


Tidak mudah bagi Adrian untuk membuat keputusan sekarang ini. Dia mesti memikirkan semuanya dengan matang. Berkoordinasi dengan para atasan, sebelum menentukan keputusan apa yang mesti diambil.


"Untuk saat ini, aku belum bisa memutuskan. Aku akan menghubungimu lagi nanti." ujar Adrian. Saat dia akan bangkit dari duduknya, Adrian ingat kalau tujuan Ferdinand menghampirinya bukan cuma menyampaikan pesan Joshua. "Oh iya, tadi kau mau membicarakan apa?"


"Ah... benar itu dia. Hampir lupa." katanya sambil menjentikkan jari, kemudian ia melanjutkan, "ku dengar Angela pergi ke tempat sepupunya di Gibbston Valley, ku pikir dia akan bertemu dengan Joshua."


Well, Angela ini merupakan kekasih Adrian. Dia juga yang merekomendasikan tempat berlibur untuk Joshua. Kebetulan sekali kalau keluarga sepupunya punya penginapan di Gibbston Valley.


Adrian mengangkat kedua bahunya. "Ya, dia baru tiba pagi ini. Tadi dia memberitahuku." terang laki-laki itu.


"Ah begitu." kata Ferdinand sambil lalu, kemudian laki-laki itu melanjutkan, "apa ada sesuatu sampai dia pergi kesana?"


"Sepupunya sakit, jadi dia diminta untuk menjaga sepupunya itu."


"Lalu bar anggurnya?"


"Tetap buka. Cuma di-handle orang tuanya."


"Berapa lama dia pergi?"


"Dia tidak memberitahuku, ku pikir dia akan pergi cukup lama."


"Kasihan sekali ditinggal pacar." seloroh Ferdinand yang membuat Adrian tertawa garing.


"Aku masih lebih baik daripada kau, Fer! Sebaiknya kau cepat-cepat cari pacar."


"Ah, sial... aku kena lagi."


Adrian menertawai temannya, beberapa saat kemudian wajahnya kembali berubah serius. "Cepat kembali bekerja! Aku harus ke ruang direktur mau membicarakan masalah Joshua."


...-οΟο-...


"Monica!" panggil Alex Frances dari parkiran. Laki-laki itu melambaikan tangannya kala menangkap sosok Monica yang sudah keluar dari gedung sekolahnya. Karena sekolah mereka satu lingkungan, Alex yang telah pulang lebih dulu, menunggu Monica pulang di parkiran. Sebelumnya, Monica sempat bilang pada Alex bahwa ia pulang sedikit terlambat lantaran ada pelajaran tambahan.


Mendengar panggilan sang kakak, Monica langsung menghampiri Alexander Frances di parkiran. Yang Monica ketahui, kakaknya ini sudah punya SIM, jadi dia diijinkan membawa mobil oleh orang tua mereka.


Hari ini Monica dijemput oleh Alex. Biasanya dia cuma diantar jemput oleh paman dan bibinya yang tinggal di kota. Monica dan Alex memang sengaja dititipkan kedua orang tua mereka di tempat paman dan bibinya, karena orang tua mereka ingin kedua anaknya menempuh pendidikan yang bagus di kota. Supaya wawasan mereka tidak hanya sebatas Gibbston Valley saja.


"Monica hari ini kau mau kemana?" tanya Alex setelah mereka berada dalam mobil, sambil laki-laki itu memanasi mobilnya.


"Kalau langsung pulang saja bagaimana? Angela minta ditemani belajar."


"Oke... tapi aku mau ke toko kue dulu ya? Temanku bilang mau datang, besok kan aku sudah berangkat untuk olimpiade."


Monica pun mengiyakan permintaan sang kakak. Hampir saja Monica lupa kalau besok kakaknya akan berangkat untuk turnamen renang. Pasti nanti dirumah akan ramai kedatangan teman-teman kakaknya ini.


Mobil mereka kini melaju meninggalkan sekolah. Kecepatannya masih standar.


"Alex, aku boleh buka jendelanya?"


"Tentu."


Monica pun membuka jendela mobil. Ia menempelkan sisi tubuhnya ke sisi mobil, tangannya terjulur menikmati angin diluar. Rasanya bebas sekali belakangan ini. Tidak ada yang menghujaminya dengan tatapan menusuk seperti dulu, tidak ada sampah di lokernya, juga tidak ada kejadian mengerikan lagi semenjak ia memberitahu perilaku teman-temannya pada guru. Namun, hal yang sangat disayangkan ialah... Monica kehilangan cahaya mataharinya, Joshua Spencer.


Joshua tidak akan bisa menemani Monica disaat sulit, karena sebentar lagi laki-laki itu akan pergi dan meninggalkan jejak kenangan besar dalam diri Monica. Kehadiran Joshua yang walau hanya sekelebat, membuat Monica lega dan merasa tidak perlu khawatir bila mengalami kesulitan lagi. Bisa dikatakan kehadiran Joshua Spencer seperti malaikat bagi Monica.


Selain itu, Joshua Spencer adalah alasan Monica bertahan sampai saat ini.


Ia berharap suatu saat bisa bertemu dengan Joshua Spencer lagi. Bagaimanapun keadaannya. Jika suatu hari ia diijinkan bertemu dengan Joshua, Monica ingin membantu Joshua sebagai bentuk ucapan terima kasihnya, karena laki-laki itu sudah peduli pada Monica.


"Tadi dapat pelajaran tambahan apa?" tanya Alex disela-sela fokusnya menyetir. Monica pun mulai mengalihkan pandangannya agar bisa menatap Alex.


"Matematika." sahut Monica ringan.


"Mr. Lee?"


"Mm." jawab Monica singkat. Kemudian gadis itu kembali mengarahkan pandangannya pada jalanan.


"Ku dengar kau dibully. Kenapa tidak cerita?"


Ah, ternyata sudah menyebar sampai ke SMA sebelah. Batin Monica.


"Aku baik-baik saja, Alex. Lagipula aku punya teman yang membuatku kuat."


"Seharusnya kau cerita padaku. Kalau kau cerita aku bisa saja menuntut mereka karena telah membully adikku."


Monica menghela napas. Dia pun menoleh dan menatap Alex lagi. "Itulah yang aku takutkan ketika bicara dengan orang lain mengenai pembullyan ku. Kemungkinan bukan aku saja yang kena, tapi orang-orang sekitar ku juga kena dampaknya." Monica menggigit bibir bawahnya. Kemudian dia berkata, "lagipula yang mereka katakan itu benar. Aku bukan bagian dari keluargamu."


Sejauh yang Alex ketahui, pemikiran Monica memang dewasa. Tapi, untuk masalah seperti ini, Alex tidak menyangka kalau kata-kata itu akan keluar dari mulut Monica. Gadis kecil yang sudah dianggap adik kandungnya ini malah membuka fakta mengenai luka lama.


"Kau tetap adikku. Kau bagian dari kami. Tidak peduli apapun yang terjadi." ujar Alex, meskipun saat ini dia sedang menyetir, namun Monica dapat merasakan kata-kata itu membuatnya merinding. Tegas dan mempunyai arti.


Monica memalingkan wajahnya. Gadis itu berpikir sebentar, lantas dia bertanya, "apa yang terjadi pada orang tuaku, Alex? Apa mereka masih hidup? Atau aku sengaja dibuang? Apa hidupku sesengsara itu sampai mereka membuangku?" Monica terus melayangkan pertanyaan yang membuat Alex menghela napas kasar.


"Monica cukup! Aku sedang menyetir. Kita bisa membahas ini setelah bertemu dengan ibu dan ayah." untuk pertama kalinya Monica mendengar bentakan dari seorang Alex Frances yang selama ini selalu menyayanginya, memanjakannya, memberikannya seluruh kasih sayang seorang kakak. Monica terkejut mendengar kata-kata tersebut, ia sampai menoleh menatap sang kakak dengan mata yang berkaca-kaca.


"A-Alex..." ini memang salahnya. Monica terlalu berlebihan, ia harusnya tahu keadaaannya sekarang. Monica terlalu memojokkan sang kakak yang tidak tahu apapun soal kehidupannya.


"M-Monica... aku tidak bermaksud... Monica."


Alex tak hentinya menatap sang adik. Tangannya mencoba memegang tangan sang adik, berusaha menenangkannya. Tepat saat dia meraih tangan sang adik, lampu traffic light diujung sana berganti menjadi merah. Alex berniat menginjak rem untuk menurunkan laju mobil, namun yang terjadi malah... mobil itu melewati batas dan akhirnya bertabrakan dengan sebuah bus.


Semua itu terjadi begitu cepat. Bahkan keduanya tidak pernah mengira hal buruk akan menimpa mereka.


Rasanya seperti sebuah putaran film yang singgah dalam benak. Lantas semuanya jadi gelap. Yang terdengar hanya suara orang-orang yang berteriak diikuti suara runtuhan keras.


Setelahnya, semuanya lenyap.


...-οΟο-...


"Kami tidak bisa menyelamatkan Alex. Kepalanya terbentur cukup keras."


Kata-kata itu masuk ke telinga Monica ketika dia baru kembali dari sadarnya. Sejenak, gadis kecil itu menerka dimana keberadaannya. Ruangannya cukup ramai dengan suara tangis. Mata sayu itu berusaha bergerak, tapi sayang tubuhnya belum baik dalam merespon. Tubuhnya masih merasakan sakit, terutama dibagian kepala.


Apa sesuatu telah terjadi sampai seluruh badannya sakit begini?


"Alex..." suara itu langsung mengisi rungu Monica. Seperti suara seorang wanita yang sedang menangis. Lama kelamaan suara itu terdengar histeris, hingga membuat telinga Monica sakit dan ia kembali tertidur.


Beberapa minggu setelah bangun dari tidur panjangnya, Monica seperti orang linglung. Ia tidak tahu orang-orang yang ada dalam ruangan itu, bahkan ia tidak tahu siapa dirinya. Monica terlihat seperti orang bodoh yang tersesat.


Ia tida tahu apa-apa.


Ia hanya bisa menangis.


...-οΟο-...


"Monica!" panggilan itu membuat Monica terkesiap, tepat pada saat itu pintu kamarnya terbuka. Otomatis gadis itu langsung mengarahkan pandangannya ke pintu kamar.


"Angela!" seru Monica bangkit dari tempat tidurnya, lantas berlari kecil menghampiri sang sepupu. "Kapan kau datang?" tanyanya setelah memeluk Angela singkat.


"Baru saja. Bagaimana keadaanmu, hm? Ku dengar kau jatuh pingsan." ujar Angela sambil melihat tubuh Monica secara bergantian, memastikan kalau sepupunya baik-baik saja.


"Aku tidak apa-apa, sungguh." jawab Monica karena merasa risih diperhatikan. Kemudian gadis itu menarik Angela untuk duduk di dekat tempat tidurnya. "Kenapa tidak bilang mau datang." Monica mulai memberengut,


Angela tersenyum lebar. "Surprise! Aku mau membuat surprise!" serunya.


"Kau menginap disini?"


"Rencananya sih begitu. Sekalian menjagamu." guraunya.


"Aku sudah dewasa, Angela. Aku bukan anak kecil."


Angela mengusap rambut Monica. "Kau masih perlu pengawasan, sayang." katanya.


Monica menghela napas. "Kenapa semua orang memperlakukan ku seperti ini, sih?"


Menyadari perubahan ekspresi Monica, Angela langsung menggenggam tangan Monica. Kemudian matanya menatap mata gadis itu. "Karena semua orang menyayangimu, Monica. Mereka tidak ingin kehilanganmu." lalu tangan Angela terangkat mengusap pipi Monica. "Kami semua sayang padamu." timpalnya.


Kembali Monica menghela napas, sedetik kemudian ia tersenyum. "Terima kasih." Katanya.


Angela tersenyum lebar, lalu gadis itu menepuk kedua tangannya. "Nah, setelah ini mau turun ke bawah? Aku bawa sesuatu dari kota khusus untuk sepupu kesayanganku."


"Mm." Monica pun mengangguk.


Kemudian mereka bangkit dan keluar dari kamar Monica, untuk turun menuju dapur.


...-οΟο-...


Joshua Spencer, laki-laki itu sedang mencoba untuk memfokuskan diri pada laptop. Ia masih berusaha untuk mengerjakan pekerjaannya, meski masih seperti sebelumnya, kursor itu dibiarkan berkedip.


Sejujurnya, pikiran Joshua belum begitu fokus. Entah mengapa, laki-laki itu masih memikirkan Monica Frances.


Merasa gusar, Joshua pun menghela napasnya kasar. Kalau begini terus, ia tak akan bisa kembali ke kota. Tapi untuk saat ini bukankah lebih baik memikirkan Monica? Gadis itu seperti orang tersesat ditengah-tengah kasih sayang yang diberikan keluarganya.


Ferdinand bilang kalau lebih baik ia menghabiskan waktu liburannya daripada memikirkan pekerjaan. Tapi, entah mengapa pikiran Joshua malah mengatakan sebaliknya. Pikirannya mulai memberontak, menyuruh Joshua mengerjakan sesuatu di laptopnya.


Lama bergelut dengan pikiran, Joshua pun akhirnya menutup laptopnya asal kemudian bangkit dari meja kerja. Sepertinya jalan-jalan di kebun anggur bisa membuat suasana hatinya membaik dibanding harus diam didalam kamar.


Laki-laki itu keluar dari kamar, kemudian menuruni tangga dan keluar dari penginapan. Baru juga Joshua keluar, ia sudah disambut dengan kilau sinar mentari, membuat Joshua menengadahkan tangannya untuk menghalau sinar tersebut masuk ke matanya.


Belum sampai berapa langkah ia berjalan, pandangan Joshua samar-samar melihat seorang gadis datang menghampirinya, membuat lelaki itu menyipit guna mempertajam penglihatannya. Gadis itu makin lama makin mendekat, menghampiri Joshua dengan senyum khas diwajahnya.


"Angela?" gumam Joshua.


"Hai, Josh!" sapa Gadis itu ramah. Ternyata gadis itu adalah Angela. "Bagaimana liburanmu?"


"Tidak begitu baik." sahut Joshua. "Omong-omong, kenapa bisa disini?" tanya Joshua sedikit penasaran melihat kehadiran Angela disini.


"Aku menengok sepupuku. Monica Frances. Kupikir kalian sudah saling mengenal." kata Angela sambil mengangkat kedua bahu.


Joshua hampir saja menanap. Mendengar pernyataan Angela. Kenapa dunia ini begitu sempit? Pikir Joshua disela-sela keterkejutanya.


"Maksudmu, Monica yang tinggal disana itu?" tanya Joshua lagi dengan menujuk rumah Monica, berusaha memastikan.


"Iya. Memang Monica siapa lagi, hm?" sahut Angela membenarkan. "Kau pikir dapat rekomendasi liburan dan penginapan ini dari siapa? Adrian? Adrian saja bertanya padaku, makanya ku beritahu tempat saudaraku ini. Memang Adrian tidak bilang padamu?"


Ternyata Adrian menyembunyikan fakta dibalik liburannya ini. "Dia memang begitu, suka tidak jelas." sahut Joshua sambil manggut-manggut dengan muka ditekuk.


Angela tertawa menanggapi Joshua mengenai pacarnya. "Mau mengobrol? Aku bawa daging domba panggang dan wine."


Joshua menyetujuinya, lantas laki-laki itu berjalan menuju kursi tamu yang berada didepan bangunan penginapan.


"Jadi ini semua punya keluargamu, ya?" tanya Joshua pada Angela setelah mereka duduk, sementara Angela menata makanan dan menuang wine. Well, gadis itu sudah mempersiapkannya sebelum pergi ke tempat Joshua. Ia meminjam dua buah gelas untuk wine dan kotak makanan dirumah Monica.


"Ya, begitulah. Kami mendapat jatah yang sama, keluarga Monica tetap di desa, sementara keluarga ku memilih di kota."


"Ah, begitu." gumam Joshua.


"Sebenarnya Joshua...." kata Angela sedikit menggantung, sedetik kemudian dia melanjutkan, "Monica itu satu-satunya sepupu ku yang masih tersisa."


Joshua mengerutkan dahinya. Ia tak mengerti dengan maksud perkataan Angela.


"Monica dia...." lagi, Angela menggantung kata-katanya. Entah memang sengaja membuat Joshua penasaran atau tidak. Tak berselang lama gadis itu menghela napasnya. "Belakangan ini ingatannya kembali dan kami takut kalau hal tersebut membawa dampak buruk pada Monica. Terutama traumanya."


"Maksudmu?"


"Dulu dia pernah mendapat pengalaman buruk, di-bully oleh satu sekolah karena dia bukan bagian dari keluarga Frances."


...---...