Married With CEO Dictator & Perfect

Married With CEO Dictator & Perfect
Bab 9



Tak lama kemudian mobil berhenti di depan butik mewah milik saudara sepupunya


Dyfan keluar dari mobil, kemudian membukakan pintu mobil tempat Faizah duduk karena tidak ada tanda-tanda Faizah keluar dari mobil.


"Keluar dari mobil! kita singgah ke butik sebentar."ucap Dyfan datar.


"Ngapain gue ikut masuk, lo masuk sendiri aja! Gue 'kan cuman mau makan malam di rumah lo, bukan mau temanin lo shopping." Faizah heran nih orang masih aja sempat singgah ke butik cuman makan malam di rumah. Dasar cowok metroseksual.


"Lo nggak lihat baju lo kumel gini, gue pasti malu makan malam dengan lo terlebih lagi entar kita makan malam dengan keluarga gue."


"Bibir lo nyablak juga ya, gue juga jadi tadi mau pulang mandi dulu, tapi lo paksa gue buat ikut lo pulang bareng!"


"Lo keluar sendiri atau gue paksa lo keluar!"ancam Dyfan dingin dengan tatapan mencengkam.


"Gue keluar sendiri,"sahut Faizah pada akhirnya, ketimbangan dia di tarik paksa, apa kata-kata orang entar, intinya dia pakai pepatah yang waras mengalah, dengan berat hati dia keluar dari mobil.


Dyfan langsung memegang dan menarik tangannya Faizah.


"Gue bisa jalan sendiri, lepasin tangan gue." Faizah mencoba melepaskan tangannya yang di pegang Dyfan.


Dyfan mempererat memegang tangan Faizah. "Nanti lo kabur lagi, gue nggak mau kecolongan untuk ketiga kalinya."


"Menyebalkan! dulu maknya ngidam apa kok keluarnya modelan begini. Aarrghhh,"batin Faizah kesal sekali, ingin rasanya dia petokin bibir nih cowok di aspal.


Dyfan dan Faizah masuk ke dalam butik mewah, terlihat wanita cantik menghampiri mereka, kalau Faizah tebak pasti pemilik butik padahal cantik dan anggun gini, masa Dyfan tidak tertarik sama sekali sih. Wait, ini bukannya Felisya Wicaksono salah satu desainer terkenal di indonesia.


"Hai Dyfan," sapa Felisya.


"Kak Felisya..., kenalin ini Faizah Calon Tunangan gue," ucap Dyfan,  "Faizah kenalin ini Felisya, Kak sepupu gue dari bunda."


"Halooo, kak Felisya, "sapa Faizah yang terpesona.


"Halo, Faizah..., Calon tunangan lo cantik banget, Dyfan. tumben loh Dyfan datang ke sini ngajak cewek," goda Felisya.


"Biasanya Dyfan ke sini dengan cowok ya, Kak?"tanya Faizah langsung dan alhasil Dyfan juga langsung menatapnya dingin.


"Hahaha." Felisya tidak bisa menahan ketawa mendengar ucapan blak-blakan Calon Tunangan Dyfan.


Dyfan menggelengkan kepalanya mendengar perkataan Faizah yang tidak ada sopan-sopannya. " Felisya.. tolong pilihin Faizah pakaian yang sesuai selera gue, biar Faizah nggak kelihatan anak brandal, kumel, dan urakan seperti ini."


Faizah gereget sekali mendengarnya. "Wah, adik sepupu Kak Felisya, bibirnya nyablak juga ya." Faizah menatap tajam mata Dyfan Somplak.


"Walau bibir Dyfan nyablak, tapi  Dyfan aslinya berhati lembut juga berhati baik, setia dan bertanggung jawab kok Faizah." goda Felisya.


"Tapi tetap aja, teman kakak ini pemaksanya minta ampun, kejam, sok perfect, sok mengatur, sok berkuasa, terus ya Dyfan ini orangnya..."


"Lo mau jelekin gue sampai kapan? kita lagi nggak banyak waktu ya Faizah,"sahut Dyfan langsung. "Felisya, cepat ya."


"Ayo Faizah ikut kakak," ucap Felisya, calon tunangan Dyfan kelihatannya tidak ada takut-takutnya dengan Dyfan yang terkenal galak dan keras. Opa Dahsuki tidak salah menjodohkan Dyfan dan Faiza, haha.


Setelah selama satu jam kemudian akhirnya Faizah selesai juga mencoba beberapa setelan pakaian yang akan dia pakai saat magang, beberapa gaun beserta beberapa high hells, sepatu kalau dia jalan keluar dengan Dyfan yang sok perfect, padahal dia lebih senang dengan baju-baju casual daripada baju glamour dan feminim, dia serasa tante-tante nyetrik saja, hiks.


"Faizah, kakak titip Dyfan, ya,"ucap Felisya.


"Fai nggak bisa iyain, kak. Secara mana Fai bisa jagaiin Dyfan, yang ada Fai malah mau berpesan sama kakak. Kalau Fai nanti tinggal nama karena depresi kakak bisa tau'kan siapa pelakunya?!"bisik Faizah.


"Hahaha bisa aja kamu, Faizah." Felisya tertawa lepas mendengar apa yang dikatakan Faizah. "Sana gih udah di tunggu Calon tunangan kamu, sampai ketemu lagi , Faizah." ucap Felisya seraya mencium pipi Faizah.


"Bye, Kak Feli." Faizah lalu berjalan mendekati Calon tunangan somplaknya. "Dyfan.."panggil Faizah.


Dyfan berbalik ke arah Faizah.


Faizah langsung memberikan semua tas belajaan ke tangan Dyfan. "Dimana-mana yang bawa tas belajaan itu cowok." Faizah lalu melanjutkan langkah keluar dari butik, tanpa memperdulikan tatapan dingin Dyfan.


"Haha, gue rasa lo, nggak akan mati bosan seperti cewek - cewek yang lo kenal selama ini, Dyfan," Ucap Felisya di sela-sela tawanya, seraya memegang perutnya sakit karena tertawa. Selama menjadi Kakak sepupu Dyfan baru kali ini dia melihat Dyfan membawa tas belajaan.


"Yang ada, gue akan mati karena setress mengurusi kelakuan Faizah yang susah di atur," ucap Dyfan. "gue balik dulu ya, kak."


"Oke, Hati-hati  Dyfan. salam juga buat bunda Rachel." Sahut Felisya.


"Oke, salam juga buat Mami Cia." Dyfan berjalan keluar dari butik.


Setibanya di mobil, Dyfan memasukan tas belajaan di bagasi, cuman cewek ini yang berani memerintahnya seperti ini.


Dyfan masuk ke dalam kursi pengemudi lalu menjalankan mobilnya.


"Wait, seharusnya gue pakai bajunya aja langsung tadi masa tiba rumah lo gue ganti baju, sih."tanya Faizah yang baru sadar.


"Lo nggak mandi dulu?"tanya Dyfan seraya mengemudikan mobil.


"Mandi dong, gue gerah banget, berarti kita pulang ke rumah gue dulu, ya. Gue juga belum kabarin Bokap, Nyokap gue."


"Lo tenang aja gue udah telepon mami lo tadi"sahut Dyfan.


"Lo kok bisa tau nomor Mama gue?" Faizah menatap wajah Dyfan.


"Apa sih yang gue nggak tau! Nomor keramat lo aja, gue bisa tau."


"Ckck, Mama, Papa lo pasti pusing mengurusi putrinya yang nggak ada sopan santunnya sama sekali," sindir Dyfan


"Somplak, lo! gue heran ama lo, hidup ini berlika liku tapi gue lihat cara pandang lo terhadap hidup ini terlalu menoton."


"Bagus 'lah dari pada urakan seperti lo. yang nggak tau arah hidup kemana!"


"Aarghhh susah ngomong sama manusia batu yang otaknya primitif bahkan jauh lebih primitif dari manusia purba!"ketus Faizah, untuk kesekian kalinya calon tunangan somplaknya ini sukses memancing emosinya.


✨✨✨


Tak lama kemudian Dyfan dan Faizah berhenti di depan apartemen mewah.


"Wait, lo kok berhenti disini, setau gue alamat rumah lo bukan disini?" tanya Faizah yang bingung.


"Ini apartemen gue," sahut Dyfan seraya melepas seat belt, dia lalu keluar dari mobil dilihatnya Faizah tetap tidak mengikutinya keluar dari mobil.  Seharian ini dibuat pusing cewek brandal ini.


Dyfan mengambil inisiatif membukakan pintu mobil buat Faizah untuk kedua kalinya karena tidak ada tanda-tanda Faizah akan keluar dari mobil. "Keluar!"


"Memang makan malamnya di apartemen lo?"tanya Faizah dengan was-was.


Dyfan menghela nafasnya, "Makan malam di rumah orangtua gue."


"Terus ngapain kita kesini, memang gue cewek apaan main ke apartemen cowok,"protes Faizah


"Lo mandi, sholat di apartemen gue, lo kan calon tunangan gue, nggak masalah lo main apartemen gue."


"Gue nggak mau!"


"Lo dekil gini, kita juga belum sholat magrib, lagian gue juga nggak bakal macam-macam sama lo."


"Mulut lelaki itu nggak bisa di tebak! Lain dimulut  lain di pikirannya,"sindir Faizah.


"Buruan Faizah waktu sholat magrib cuman sebentar keburu habis, terserah lo mau bilang apa udah ayo Faizah." Dyfan menarik tangan Faizah agar keluar dari mobil.


"Nggak! Gue bisa sholat dimasjid, lebih baik gue nggak mandi daripada mandi di apartemen lo."protes Faizah seraya bersikeras bertahan dari tarikan tangan Dyfan.


Dyfan menghela nafas, Namun tiba-tiba Dyfan langsung menggendong paksa Faizah keluar dari mobil.


Faizah terkejut sekali sama apa yang dilakukan Dyfan. "Turunin gue!." Mencoba berontak turun dari gendongan Dyfan.


Terlihat seorang security menghampiri Dyfan dan Faizah. " Malam pak Dyfan," sapa Beno dengan nada formal.


"Pak Beno tolong ambilkan tas belajaan warna biru di bagasi mobil saya dan bawa ke apartemen saya, makasih."Perintah Dyfan seraya memberikan kunci mobil pada Beno.


"Baik Pak," sahut Beno seraya mengambil kunci mobil yang di berikan oleh Bossnya, dia kemudian berjalan menuju mobil milik Bossnya.


"Lo nggak malu apa dilihatin banyak orang! Gendong gue seperti ini!" Faizah malu di lihat orang-orang yang ada di sini memperhatikan mereka.


"Mereka semua orang-orang gue dan semua apartemen ini milik gue. Jadi, nggak ada yang berani ngomongin gue."


"Nggak usah pamer sama gue, Turunin gue sekarang!"Faizah memberontak dengan memukul  pundak tegak Dyfan.


Dyfan seakan tidak memperdulikan pemberontak Faizah.


Sesampainya di depan pintu apartemen, Dyfan menekan pin di kunci otomatis, dia lalu membuka pintu dan masuk ke dalam setelah itu dia menurunkan Faizah dari gendongannya.


"Dasar psikopat lo"ketus Faizah.


"Wah, julukan baru lagi buat gue tuh, lo buruan mandi terus jangan lupa sholat sana. gue nggak bakalan macam-macam sama lo," ucap Dyfan kemudian beranjak menuju salah satu kamar.


"Aarghhh, calm down Fai...,lo nggak mau 'kan wajah lo mengkerut gara-gara emosian dan amarah terus, "batin Faizah berusaha menenangkan dirinya. "Woii, gue mandi dimana nih!"teriak Faizah yang melihat Calon tunangan somplak ini malah meninggalkannya tanpa sepata kata.


"Di kamar sebelah kiri."tunjuk Dyfan.


Dengan malas Faizah melangkahkan kakinya menuju kamar yang di tunjuk Dyfan.


Dyfan lalu melangkah kembali ke kamarnya, Dia ingin langsung mandi biar bisa segera sholat meskipun tenaga dan pikirannya terkuras habis hanya mengurusi Faizah tapi dia tidak boleh meninggalkan Ibadahnya.


15 menit kemudian..


Setelah selesai mandi, sholat, sudah siap semua tinggal menunggu Faizah selesai bersih-bersih, Dyfan seraya menunggu Faizah dia menyempatkan membuka  dan membaca al-Quran sebentar..


Sedangkan Faizah selesai mandi, sholat. Dia masih memakai pakaian yang sudah dibeli tadi, dengan gaun berwarna putih beserta High hells, kelengkapan lainnya. Saat melihat gaun udah dipakai di tubuhnya Faizah melihat di kaca.


"Bagus juga, gue kelihatan cantik tinggal di poles aja udah beres deh, tapi tunggu ada yang kurang.." Faizah tidak lupa memakai bando di atas kepala pelengkap menjadi lebih elegan.


"Oke perfect, Sekarang waktunya samperin Om Siburuk rupa itu." Faizah mengambil tas dia langsung keluar kamar.


Faizah mecari keberadaan Dyfan namun saat mencari dia mendengar suara yang indah dan merdu, Faizah mengikuti arah suara itu berada. Dia terpaku melihat Dyfan yang sedang melantunkan membaca ayat suci Al- Quran.


"Masyallah indah sekali suaranya."ucap Faizah yang masih terpaku.


Dyfan menyadari Faizah sudah dia mengakhiri membacanya seraya menaruh Al-Quran di meja, lalu menghampiri Faizah yang masih terpesona begitu juga dengan Dyfan melihat Faizah sungguh cantik. "Kamu cantik Faizah."ucap Dyfan dengan nada pelan.