Married With CEO Dictator & Perfect

Married With CEO Dictator & Perfect
Bab 15



"Apa menikah"


Bunda Rachel dan Dyfan langsung menengok ke belakang karna sumber suara ada disana, Yang ternyata Faizah masuk sambil membawa beberapa map di tangannya.


"Tidak sopan sekali kamu, harusnya kamu ketuk pintu dulu sebelum masuk, apalagi mendengar pembicaraan kami"Kesal Dyfan


Bunda Rachel mendengar perkataan Dyfan membuatnya sontak terkejut, "Heh Abang, kamu galak banget sama calon tunangan kamu" Rachel langsung memarahinya dengan muka galaknya.


"Bukan gitu Bun, jadi kalau disini kita profesional aja Bund. Lagian pakai acara dengar pembicaraan kita, kan nggak ada sangkut pautnya dengan dia Bunda"


Bunda Rachel gemes dengan anaknya, "Dyfaaann, Bunda kesal sama kamu ya!! lagian kenapa Faizah nggak boleh dengar dia kan Calon tunangan sekaligus Calon istri kamu, Kamu itu Aneh"


Dyfan menggaruk kepala yang tidak gatal, Sedangkan Faizah malas banget dengan kelakuan Calon tunangan itu, udah sok perfect, Dictator, pemaksa bagi Faizah banyak minusnya.


"Masuk sini sayang, duduk sini" Ucap Rachel sontak Faizah sadar dengan lamunannya dia langsung masuk dan duduk disebelah Bunda Rachel.


"Kamu ada apa diruangan saya?"tanya Dyfan


"Yaah jelas buat ketemu calon Tunangannya lah, memangnya kamu yang nggak ingat sama pasangannya."Sewot Bunda Rachel.


"Eh bukan gitu Bun.."perkataan Faizah terpotong Rachel.


"Kamu udah makan nak?"tanya Rachel kepada Faizah.


Faizah tersenyum lalu menggelengkan kepala, Rachel melihat jawaban Faizah langsung melotot matanya sambil menengok ke arah Dyfan.


Dyfan merasa Bunda melotot ke dia, "Kenapa Bunda melototin Abang"Tanya Dyfan bingung.


"Ya Allah Abang... Harusnya kamu itu perhatikan calon tunangan kamu jangan cuekin gitu.. Kalau sakit gimana"protes Rachel


Dyfan kembali menghela nafasnya, "Bunda dia kan udah besar, kenapa harus Abang yang merhatiin"


"Abang perempuan itu butuh di perhatikan bukan dicuekin, udahlah sekarang kita makan siang bersama aja di luar. Yukk sayang" Rachel langsung menggandeng calon menantu kesayangannya.


Sedangkan Faizah panik kalau dia keluar bersama Bunda Rachel yang alias ibundanya CEO disini pasti di serbu pertanyaan, belum lagi menghadapi fans-fans tergila Dyfan membuat Faizah semakin pusing.


Faizah nahan tangan Bunda Rachel, "Bunda gimana Fai keluar duluan aja, Bunda bukan maksud apa-apa... Fai nggak ingin orang membeda Fai disini apalagi kalau tau Fai adalah calon tunangan pemilik perusahaan, mereka takutnya nggak enak buat menyuruh Fai " Faizah berusaha memberikan pengertian.


Bunda Rachel tersenyum "iya nak nggak masalah kok sayang, Bunda paham kok apa yang kamu maksud..." Bunda Rachel menghela nafasnya sejenak "Ya meskipun Bunda pengen pamer ke mereka semua kalau Bunda punya calon menantu yang cantik"


"Hii Cantik aja tapi kelakuannya minus sama aja bohong"gerutu Dyfan yang terdengar Faizah.


Faizah dengan sepontan melihat Dyfan sambil melototin, "Apa!" Nada pelan hanya terdengar Dyfan.


Rachel melihat interaksi mereka saat saling menatap sangat lucu menggemaskan dan so sweet, Rachel tidak tau apa mereka lagi adu sinis "Yaudah nak Bunda keluar dulu kita ketemuan di parkiran aja ya"Suara Bunda Rachel membuat mereka sontak langsung mengalihkan pandangan masing-masing.


Bundanya langsung berdiri mengambil tas dia hendak berjalan keluar berhenti, "Kalian kalau mau mesra-mesraan nanti aja ya, kita makan dulu habis itu terserah kalian mau ngapain aja asal tau batasannya Oke nak"


Mereka hanya mengganggu kepala sambil tersenyum kaku, "Yaudah jangan lama-lama Bunda tunggu di parkiran" Rachel melangkah keluar ruangan mereka hanya terdiam sambil menunggu Bundanya benar-benar pergi.


Setelah Bundanya sudah benar-benar pergi Dyfan langsung menghadap Faizah "Lo itu sebenarnya ngapain ke sini atau jangan-jangan lo yang ngajak Bunda ke sini.."


"Heh Sok tau banget sih loh!! Gue ke sini mau nganterin dokumen disuruh Bu Ika, lagian kalau nggak disuruh mana mau gue kesini apalagi lihat muka lo"


"Lo kenapa panik? lo takut gue apa-apain loh kan, tenang aja gue nggak bakalan ngapain-ngapain kok. Cuman.." Jantung Faizah bergedub begitu kencang.


"Cuman ap..a"gugup Faizah


Dyfan tersenyum melihat Calon tunangannya gugup. "Gue cuman kasih tau kalau lo harus terbiasa melihat muka gue yang tampan ini, karena sebentar lagi kita tunangan" Sambil mengusap wajah Faizah, Jantung Faizah makin tidak beraturan.


Faizah sedikit mendorong badan Dyfan agar menyingkir, "Minggir dulu lo"ketus Faizah.


Dyfan langsung menjauh berdiri semula, Lain dengan Faizah kesal sama kelakuan Dyfan. "Gue duluan, urusan kita belum selesai. Awas lo"geram Faizah meninggalkan Dyfan yang masih di dalam ruangan itu dengan senyum-senyum.


"Gue tunggu sayang" teriak Dyfan.


Dyfan tertawa, dia merasa punya mainan baru yang bisa membuatnya ketawa.


......................


Setelah melalui banyak drama akhirnya mereka sudah ada di salah satu restoran milik keluarga Dyfan, keluarganya mendirikan restoran yang berbeda dari yang lain. Biasanya restoran itu terkenal makanan luar negeri aja, tapi tidak dengan mereka makanan berbagai khas daerah ada, luar negeri juga ada.


Jadi mereka bisa menikmati makanan apa aja ya mereka cari, alhamdulilah banyak peminatnya bahkan restoran itu sudah berdiri selama bertahun-tahun dari belum ada anaknya Dyfan sampai ada restoran itu masih berdiri dengan tegak. Keluarga Dyfan banyak bersyukur apa yang diberikan Oleh Tuhan.


Faizah tidak tau kalau restoran ini milik keluarga Calon tunangannya, "Bunda bukannya kita harus reservasi dulu ya?"tanya Faizah


"Buat apa nak kita tidak perlu reservasi karena ini restoran milik keluarga sendiri"jawab Bunda


"Hehe maaf ya Bunda. Fai nggak tau kalau itu punya keluarga, soalnya dulu Fai sama keluarga makan disini harus reservasi dulu baru bisa dapat duduk hehe."


"Kenapa nggak bilang aja sama kita sayang.."ujar Bunda


"Kan kita belum tau kalau keluarga Bunda sudah ada di indonesia, Opa selalu cerita kalau beliau punya sahabat namun sahabatnya dan seluruh keluarga tinggal di luar negeri yang nggak salah Paris ya Bun"


"Iya itu waktu Bunda masih hamil muda tinggal disana setelah memasuki 6 bulan kita pindah ke United Kindom. Yaa setelah sekian lama tinggal disana akhirnya memutuskan kembali Indonesia untuk menemani Opa Dashuki mencari keluarga besar kamu, Beliau mengingat perjanjian mereka buat."


"Oh begitu maaf ya Bunda, kalau Fai banyak tanya."


"It's okay sayang, udahlah kita pesan aja dulu" Mereka langsung membuka menu dan mereka memilih pesanan sendiri, setelah pesan pelayan melangkah pergi untuk menyiapkan pesanannya.


Sambil menunggu pesanannya mereka mengobrol. "Oh ya persiapan pertunangan kalian sudah kami siapkan dengan seh perfect mungkin, Jadi kalian siapkan diri kalian aja oke" Ujar Bunda


"Bunda kenapa harus di percepat bukannya Opa melarang ya sebelum aku lulus"Tanya Faizah dengan heran


"iya sayang tapi dipikir-dipikir kelamaan juga kalau harus nunggu kamu lulus kuliah. Lebih cepat lebih baik, kan nggak baik nak ditunda-tunda kan"


"Kalau mau cepat bukan pertunangan tapi pernikahan"Sahut Dyfan membuat Faizah melotot ke arah Dyfan tapi dia tidak memperdulikan calon tunangan ngamuk.


"Wah ide bagus nak nanti malam kita bahas semua keluarga kalau kamu nggak mau melaksanakan pertunangan tapi minta langsung pernikahan."


"Hah apa! Ya ampun" lesu Faizah yang tidak semangat sama kali, dia udah pasrah.


"Mungkin ini memang jalan takdirku"gumam Faizah