
Faizah masuk ke ruangan kerja, dia melihat sudah ada beberapa pegawai yang sudah datang. "Selamat Pagi semua"Sapa Faizah dengan semangat, mereka melihat Faizag begitu semangat membawa energi pada mereka.
"Selamat Pagi juga Faizah"Balas mereka dengan kompak dan semangat,
Faizah senang bisa kenal dengan mereka yang begitu baik dan ramah, mereka tidak pernah seenaknya sendiri menyuruh seorang anak magang. Faizah mulai menyiapkan diri untuk melakukan tugasnya yang sudah menantinya, Saat Faizah mau fotocopy dia melihat seseorang yang dia sukai siapa lagi kalau bukan Akkash. Faizah hendak mau menyapanya namun dia tidak jadi karena Akkash sedang bersama perempuan, dia langsung melanjutkan pekerjaannya, "Perempuan tadi siapa ya? gak kelihatan lagi wajahnya, apa perempuan itu pacarnya kak Akkash, tapi siapa yang beruntung bisa mendapatkan hati dan jiwanya kak Akkash"batin Faizah sambil melamun.
Disya melihat Faizah melamun menghampirinya berniat mengagetkannya, "Faizah"teriak Disya membuat Faizah terjengkang kaget,
"Astagfirlah"ucap Faizah sambil mengelus dadanya yang berdegub kencang karna terkejut, sedangkan Disya ketawa melihat ekspresinya Faizah yang sangat lucu menurutnya.
Faizah kesal dengan kejailan Disya, "Hiii Mbak bikin kaget aja, kalau aku jantungan terus aku meninggal gimana? Faizah kan juga belum merasakan nikah, healing ke korea"protes Faizah
Disya masih ketawa," Oke.. Oke"ucap Disya sambil mengatur nafas biar tidak ketawa lagi, "sorry..sorry, aku nggak sengaja. lagian kamu ngelamun aja kayak ada masalah atau ada yang kamu pikirkan, kalau kamu mau berbagi sama aku nggak masalah tapi kalau nggak mau juga nggak maksa senyaman kamu"Ujar Disya.
Faizah masih merasa kesal, "Ya nggak gitu juga dong, nanti mbak mau dikabarkan Faizah Andra Wiratama meninggal karena di kagetkan oleh Disya kan nggak enak mbak. Sebenarnya aku lagi ngelamun hanya sedikit berfikir tapi lupakan saja, mbak butuh sesuatu atau gimana?"Tanya Faizah
Disya langsung mengingatnya, " Oh iya Faizah itu dokumen yang aku taruh di meja kamu udah kamu print dan di jilid belum?"
"yang mana mbak dokumennya segitu banyaknya" Ujarnya sambil berfikir,
"Aduhh dokumen semalam yang aku kasih itu loh yang tidak salah map warna coklat, iya map warna coklat"
Faizah langsung ingat, " Oh itu, udah mbak aku taruh di laci, kenapa emangnya mbak"
Disya bernafas lega, "sekarang kamu antar keruang meeting soalnya itu data dibuat meeting sekarang tolong kamu antarkan ya. Soalnya aku mau pergi "
Faizah mengerutkan keningnya, "kenapa harus aku mbak, terus berkas yang ini gimana mbak?"tanya Faizah yang sedang fotocopy
"bentar..."ucap Disya sambil mencari orang yang bisa gantiin tugas Faizah, "Fira"memanggilnya sedkit teriak, membuat yang punya nama langsung menengok dan mencari narasumber yang dimanggilnya.
Fira langsung menghampiri mereka, "Ya mbak Disya ada yang bisa di bantu?"tanya Fira.
"Iya Fira, tolong kamu antar dokumen ini keruang meeting ya"Jawab Disya
Fira mengerutkan keningnya, "Kenapa saya ya mbak? kan ada Faizah kenapa nggak minta tolong dia aja."
Disya menghela nafas, " Faizah masih ada itu tugas atau kamu mau tukaran? kamu gantikan Faizah" Tanya Fira agar dia bisa memilih sedangkan Faizah berdoa semoga Fira memilih antar dokumen itu dibanding berhadapan mesin fotocopy.
"Yaudah biar saya melanjutkan pekerjaan Faizah, dan kamu antar dokumen aja"jawab Fira membuat tubuhnya lemas.
...............
Mereka sudah berada di ruangan meeting tinggal menunggu Dyfan yang belum masuk keruangan meeting, tidak lama kemudian Dyfan masuk dan mereka langsung berdiri bentuk kehormatannya kepada atasannya.
"Pagi semua"sapa Dyfan yang langsung duduk, Dyfan memberi isyarat untuk kembali duduk.
"apakah meeting bisa dimulai"tanya Dyfan, salah satu pegawainya mengangkat tangannya.
"mohon maaf pak, bisa tunggu sebentar tadi saya, karena Pak Handy tidak masuk dokumennya di serahkan kepada Disya, jadi bisa menunggu sebentar"jelas Ghifari.
Dyfan mengangguk, "kalau boleh tau kenapa pak Handy tidak masuk"tanya Dyfan.
Dyfan mengerutkan keningnya, "kenapa tidak ada laporan sama sekali ke saya, kalau begini siapa yang mau tanggung jawab jika saya tidak tau"jawab tegas Dyfan.
"Kami dari divisi survey mau melaporkan pak. namun, saat saya mau melapor bapak udah pergi dengan terburu-buru jadi saya berfikir memberitahukan besok. ya ini saya langsung memberitahu Bapak, kejadiaannya kemarin sore pak"
Dyfan menghela nafas, "Baiklah, nantiĀ kamu sampaikan kepada pak Handy bahwa nanti biar di urus semuanya kepada assisten pribadi saya. mulai biaya pengobatannya dan yang lainnya"
"Baik pak, nanti saya sampaikan kepada Pak Handy"
Sementara mereka menunggu dokumen datang, mereka menyiapkan beberapa yang ada. tidak lama ada suara ketukan pintu,
"Ya masuk"ucap Dyfan
Faizah masuk dengan membawa beberapa map yang dia bawa, "Permisi, Maaf sudah mengganggu meeting kalian semua. Saya kesini hanya memberikan dokumen dari Bu Disya"Jelas Faizah.
Akkash mengerutkan keningnya, "Disya kemana Fai? kenapa kamu yang mengantarkan dokumen itu"Tanya Akkash,
Faizah terkejut yang ternyata ada Akkash membuat dia mendadak gugup, "Bu Disya ada pertemuan klien mendadak pak"ucap Faizah yang tidak berani menatap Akkash.
Dyfan melihat interaksi Faizah dengan Akkash ada sedikit aneh sama tingkah Faizah yang sedikit salah tingkah dan tidak berani menatapnya sama sekali, Dyfan merasa tidak suka. "Yasudah kamu bagikan map itu lalu kamu duduk disamping saya"Sahut Dyfan.
membuat Faizah terkejut langsung menatap Dyfan dengan tatapan tajam, "ini orang mintanya apa sih, ngapain coba gue disuruh di sebelahnya"batin Faizah kesal.
"Kenapa diam aja, buruan jangan sampai buang-buang waktu." Dyfan tidak peduli dengan tatapan Faizah, tidak tau dia ingin sekali semua orang tau bahwa Faizah itu miliknya.
Faizah langsung membagikan dengan kesal tapi dia tidak menunjukkan kepada semua orang yang ada di ruang meeting itu, setelah sudah membagikan Faizah berjalan ke arah Dyfan dan disana tidak ada kursi disamping. "Maaf pak saya duduk dimana ya pak? lihat disamping Bapak tidak ada kursi lebih baik saya kembali, lagian saya hanya anak magang kan"Ucap Faizah
Akkash berdiri, "Kamu duduk di kursi saya aja Faizah"tawar Akkash.
Dyfan tidak tau kenapa dia merasa panas, kesal. "tidak perlu pak Akkash, Andre bisa geser disana"Sahut Dyfan.
Akkash melihat tingkah sahabatnya seperti orang terbakar cemburu, "Apa perasaan gue aja"batin Akkash.
Andre mempersilahkan Faizah duduk dikursinya, dia sudah pindah disampingnya, Faizah semakin tidak tau sama kelakuan Dyfan, dia langsung duduk. Dyfan melihat calon tunangan sudah duduk dia langsung memulai meetingnya.
Faizah ikut menyimak pembicaraan pembahasan dalam ruang meeting sambil mencatatnya, baginya lumayan bisa menjadi bahan skripsi nanti.
.......................................
Setelah ada setengah jam meeting selesai mereka sudah pada bubar tinggal Faizah dan Dyfan di dalam ruang meeting itu, Sedangkan Faizah sibuk membereskan berkas-berkasnya. Dyfan Menatap Calon tunangannya itu sampai tidak berkedip, Faizah merasa dia di lihatin, langsung menatap Dyfan "Apa lihat-lihat"jutek Faizah.
Dyfan mengerutkan kening, "Kenapa emang gue tidak boleh melihat Calon istri gue"Jawab Dyfan dengan santai,
Sedangkan Faizah "huek" seolah-olah mau muntah mendengar apa yang dibilang Dyfan.
"Calon istri? siapa sorry gue nggak merasa punya calon suami seperti lo"Sahut Faizah sambil berdiri di tempat duduknya, dia hendak mau pergi namun tangannya di tarik oleh Dyfan hingga jatuh di pangkuannya membuat Jantung Faizah berdegub kencang.
"Youre mine"bisik Dyfan tidak lupa mengecup bibir Faizah, Sedangkan Faizah tubuhnya mendadak kaku tidak bisa bergerak.