Married With CEO Dictator & Perfect

Married With CEO Dictator & Perfect
Bab 12



Pagi yang cerah seharusnya membuat semua orang ceria dan bersemangat tidak dengan Faizah, bagi Faizah hari demi hari tidak ada kata semangat dan ceria semenjak ada perjodohan apalagi dengan lelaki yang dictator banget.


Faizah turun untuk bergabung sarapan pagi bersama keluarganya, dia melihat sosok orang yang tidak diharapkan sama sekali untuk datang kerumah pagi-pagi siapa lagi kalau bukan Dyfan makhluk yang menyebalkan baginya.


"Pagi semua"sapa Faizah sambil menarik kursi lalu dia langsung duduk di depan Dyfan, semua membalas ucapan selamat paginya Faizah.


"pagi sayang"balas sapa semuanya orang yang ada di meja makan.


"Oh ya sayang, Dyfan datang mau jemput kamu. katanya mau berangkat kerja bareng, apa nanti pulangnya bareng juga ?"tanya Syifa.


"iya ma Faizah tau kok, semalam juga dia udah bilang sama Fai. kalau pulang seperti nggak deh ma soalnya mobil Fai masih di kantor,"Jawab Faizah sambil memakan sepotong roti.


"Iya gampang masalah mobil nanti Opa nyuruh orang buat ambil mobil kamu di kantor, kamu sama Dyfan satu kerjaan yaudah bareng aja"ucap Opa Wira


Faizah menghela nafas, "Opa nggak perlu lah, kan Fai bisa bawa sendiri. lagian Fai nggak mau ngerepotin orang lain,"mengelak Faizah karena males melihat bersama Dyfan yang membuat darah tinggi makin naik.


"Dyfan apakah kamu merasa direpotkan?"tanya Opa Wira sambil menatapnya,


Dyfan tersenyum sambil melihat Opa Wira, "Dyfan  nggak masalah dan nggak merasa direpotkan juga Opa, Lagian bentar lagi kita juga akan menikah biar nggak canggung dan akan terbiasa. Faizah juga sudah menjadi tanggung jawab aku juga Opa meskipun kita belum menikah"Jelas Dyfan.


Opa Wira tersenyum atas jawaban Calon cucu menantunya, "Kamu benar Dyfan, Opa harap kamu bisa sabar menghadapi tingkah anehnya Faizah ya."


"Semenjak Ayah bilang akan menjodohkan aku sama temannya Opa dari situ aku bisa menerima kekurangan, kelebihannya dan akan membimbingnya dengan baik" Semua tersenyum atas jawaban Dyfan tapi tidak dengan Faizah yang malas mendengar ocehan Dyfan.


"Opa senang mendengarnya, kamu bisa menerima Faizah dengan baik. Opa gak salah memilih kamu nak,  Kamu Faizah bisa menerima Dyfan dengan baik dan bisa menerima kekurangan, kelebihan Dyfan."ucap Opa Wira


"Insyallah ya Opa" Jawab Faizah dengan nada malas seperti tidak berniat menjawab.


Opa Wira mendengar jawaban cucunya yang seperti itu hanya menggelengkan kepalanya, "oh ya Opa lupa memberitahu kalian kalau pertunangan kalian di percepat minggu depan nggak apa kan Dyfan"tanya Opa Wira


Faizah tersedak, "huk huk.."


Mama Syifa langsung memberikan minum ke anaknya, " maka kamu kalau makan hati-hati sayang"ucap Mama Syifa


Setelah minum, " Fai uda hati-hati ma, Opa itu yang membuat Fai tersedak"protes Faizah yang sedikit kesal.


"Kenapa jadi Opa yang kamu salahkan, Opa hanya bertanya kepada Dyfan masalah pertunangan"Sahut Opa Wira


"Iya gara-gara Opa bilang begitu jadinya Fai kaget kan, Opa juga yang ditanyain cuman Dyfan aja nggak tanya Fai yang menikahkan berdua Opa bukan Dyfan sendiri"Protes Faizah


Opa Wira menghela nafasnya, "percuma Opa tanya kamu Opa sudah tau jawaban kamu dan isi di kepala kamu, pasti kamu minta di batalkan"


Faizah terdiam, "Kenapa Opa bisa tau ya isi dikepala gue ya? Jangan-jangan Opa punya indra ke tujuh"batin Faizah


Opa Wira hanya bisa menghela nafasnya, harus sabar menghadapi saat bersama cucu yang satu ini. "Opa nggak punya indra ketujuh ya Fai, udah kamu ini bikin sakit kepala aja lebih baik kamu berangkat aja sana udah jam berapa nih, nanti kamu telat"


Faizah bangun dari tempat duduknya sambil muka kesalnya, dia langsung mengcium tangan Mama,Papa,Oma dan juga Opa. Saat mau melepas ganggaman tapi Opa tidak melepaskan sama sekali sambil menatap Faizah tajam, "Faizah, Opa berharap kamu bisa menjaga sikap saat KKP di perusahan Dyfan jangan sampai di membuat malu keluarga dan satu lagi nggak boleh dekat sama cowok manapun ingat kamu udah ada Dyfan ngerti"Nasehat Opa


"Iya Opa, Fai akan selalu ingat pesan Opa. katanya  disuruh berangkat takut telat Fainya tapi ini diajak ngobrol terus"Sahut Faizah


Opa Wira melepaskan genggaman tangan cucunya, "Yaudah sana kalian berangkat nanti telat" sambil mendorong badan Faizah dengan pelan.


Faizah langsung berjalan meninggalkan Dyfan, sedangkan Dyfan masih bersalaman dengan keluarga Faizah. "Opa.. Aku berangkat dulu ya"Ucap Dyfan dengan lembut dan sopan,


"Faizah disana tidak bikin kekacau kok Opa, dia disana bekerja dengan baik, jadi Opa tidak perlu khawatir Aku akan selalu menjaga dan membimbing Faizah dengan semampunya Aku"


"Opa senang mendengarnya, semoga kamu sama Faizah bisa bahagia selalu ya dan dalam lindungan Allah"Doa untuk cucu tersayangnya.


Dyfan tersenyum "Aamiin terimakasih doanya Opa , aku berharap Opa selalu mendoakan aku sama Faizah terus. Aku juga akan berusaha untuk tidak mengecewakan semua orang termasuk Opa dan juga Om Andra"


"Panggil Papa aja Fan, Papa yakin kamu tidak akan mengecewakan kami nak. Pesan kami hanya satu kamu harus sabar menghadapi Faizah yang terkadang seperti anak kecil, suka aneh sendiri dan jangan pakai kekerasan kalau mau menasehatinya. Jadi, kamu bisa sabar menghadapinya."ucap Andra


"Insyallah Pa, Aku akan selalu ingat pesan kalian. yaudah kalau begitu aku pamit dulu kasihan Faizah sudah menunggu didepan, Assalamualaikum"Pamit Dyfan


"Walaikumsalam, hati-hati"Kata mereka sambil melihat Dyfan pergi keluar sampai tak terlihat, Mereka melihat Dyfan adalah sosok yang bertanggung jawab, tegas, bekerja keras dan juga penyayang. Mereka berharap Dyfan bisa membimbing Faizah dengan baik, mereka berharap tidak salah memilihkan jodoh untuk anak dan cucunya.


💘💘💘


Mereka sudah di dalam mobil, Pagi ini Faizah merasa di buat kesal olehnya dan Opanya, Orang yang mempunyai sifat tidak jauh berbeda. Dyfan melihat muka kesal Faizah tersenyum tipis, Entah kenapa Dyfan terkadang kesal sama sikapnya yang seperti brandal tapi disisi lain dia senang sekali melihat muka kesalnya.


"Selama gue KKP di tempat lo, jangan sampai orang di kantor lo tau kalau gue calon tunangan gue. Biar gue menjalankan KKP dengan tenang karena gue malas dengan banyak pertanyaan.."Ucap Faizah yang baru terlintas untuk bilang ke Dyfan.


Dyfan masih terdiam biarkan Faizah bicara sampai selesai baru dia akan membuka komentar,  Dyfan melihat Faizah seperti berfikir keras sampai mengerutkan kening, "Oh iya gue baru ingat satu lagi, Jangan menyuruh gue seenaknya sendiri biar orang itu nggak curiga, mengerti"Lanjut perkataan Faizah.


"Gue akan ikuti permintaan lo, Gue juga paham disana kita profesional aja. Anggap kita gue boss dan Lo anak magang, Gue berharap lo nggak mengecewakan Gue dan bisa menjaga sikap lo itu."Sahut Dyfan


Faizah mengerutkan kening, "Tumben dia mau menuruti kemauan gue, tumben biasa diajak debat dulu. Tapi bagus deh jadi Gue nggak capek" berdebat hehe"batin Faizah sambil terkekeh pelan.


Faizah masa bodoh dengan jawaban Dyfan yang penting dia mau menuruti permintaannya, jadi bisa lebih tenang menjalani KKPnya. Sedangkan didalam fikiran Dyfan kasihan jika Faizah harus di kejar-kejar pertanyaa jadi tidak bisa fokus menjalani KKP dengan baik, bisa-bisa calon tunangannya mendapatkan nilai yang di harapnya. Dyfan tidak ingin Calon tunangan mendapatkan nilai karena dari Dyfan pemilik perusahaan atau merasa takut memberikan nilai dengan sesuai kemampuan Faizah.


Tiba-tiba 'Stop' teriakan Faizah


Teriakan Faizah membuat Dyfan mengerem mendadak, Dyfan langsung menengok ke samping Faizah dengan tatapan tajam. "Apa yang lo lakukan Faizah"Ucap Dyfan penuh dengan penekanan membuat Faizah takut apalagi tatapanya seperti itu membuat bulu kudu Faizah merinding.


Faizah terkekeh "Sorry-sorry, gue cuman mau bilang. Gue berhenti disini aja lagian udah lumayan dekat"ucap Faizah dengan pelan


"Tapi nggak dengan cara seperti ini Faizah, untung aja dibelakang kita nggak ada mobil kalau ada bagaimana, ini membahayakan kita semua."Kesal Dyfan


Faizah menundukan kepalanya, "Ya maaf kan nggak sengaja, lagian gue udah bilang maaf kenapa lo masih marah aja"


Dyfan menggeleng kepala, "Lagian lo ngapain minta turun disini, di basement juga bisa kenapa memang takut ada yang lihat?"Tanya Dyfan.


"Iyalah kalau ada yang lihat gimana? kalau ditanyain Faizah kok lo bisa bareng CEO disini, Faizah lo punya hubungan ya dan bla bla masih banyak lagi. gue nggak mau,"protes Faizah.


Dyfan menghela nafas, "terserah lo ya, kalau memang lo mau turun disini silahkan gue nggak maksa, dikasih enak malah milih yang susah"sahut Dyfan dengan gerutu.


"Yeee terserah gue dong..udah bye.." saat mau membuka pintu ada yang menahannya siapa lagi kalau bukan Dyfan membuat berhenti, Faizah langsung menengok, "Apalagi sih"Ucap Males Faizah.


Dyfan langsung mencium kening Faizah seperti biasa mendapatkan serangan seperti itu membuat jantung berdegub kencang, dia juga merasa pipinya merah. Dyfan melihat Faizah menahan malu hanya tersenyum tipis, "Pulang tunggu gue, jaga diri baik-baik, jangan bikin ulah, mengerti"


Faizah mengangguk kepalanya, Dyfan tersenyum "Good job sayang, yaudah sana nanti lo telat pokoknya harus semangat KKNnya."


Faizah langsung buru-buru keluar dari mobil dengan muka makin merah saat mendengar Dyfan memanggil sayang, "seperti gue beneran harus ke dokter jantung dek, kenapa jantung gue berdebar-debar ya"gumam Faizah sambil berjalan sedangkan Dyfan masih mengikuti Faizah dari belakang dengan membawa mobil perlahan-lahan sampai akhirnya Dyfan lega Faizah sudah masuk ke kantor.