
Dyfan terbangun pagi ini Ia terbangun melihat wanita tertidur nyenyak sekali di pelukannya, Biasanya Dyfan terbangun tidak ada pemandangan yang begitu indah. Dyfan tersenyum senang. Dyfan menyingkirkan rambut Faizah perlahan-lahan agar bisa melihat wajahnya. "Kamu cantik sekali meskipun sedang tidur, aku jadi nggak sabar menanti hari pernikahan kita. Aku juga bingung kenapa aku takut kehilangan kamu apalagi kamu berinisatif membatalkan pernikahan kita. Itu nggak akan pernah terjadi, aku takut kamu jatuh cinta sama sahabatku tapi aku nggak akan pernah melepaskan begitu aka meskipun taruhannya sahabatku sendiri."gumam Dyfan lalu mengecup bibir Faizah.
Dyfan melihat jam dinding menunjukkan jam 5 subuh waktunya sholat, Dyfan turun lalu masuk ke kamar mandi untuk mencuci muka dan mengambil air wudhu. Setelah selesai Dyfan menggelar sejadah selesai memakai sarung dan kopya. Dyfan menjalankan ibadah sholat dengan khusuk hingga sampai selesai.
"Ya Allah Hamba mencoba mengikhlaskan apa yang terjadi kepada kehidupan hambamu ini, Tapi hamba percaya apa yang sudah di garis takdirmu itu yang terbaik buat hambamu ini. Ya Allah hamba memohon lindungan Calon istri hambamu, lancarkan dan permudahkan pernikahan kami. Aamiin."Doa Dyfan dalam hati.
Setelah selesai sholat Dyfan menghampiri Faizah yang masih tidur dengan muka lelahnya. Dyfan menyingkirkan sehelai rambut di muka Faizah sambil mengusap kepala Faizah penuh dengan kasih sayang. "Maaf aku melakukan itu demi kebaikan kamu, aku nggak tau apa yang terjadi padaku. Apa yang kamu kasih hingga aku seperti ini, yang nggak mau kehilanganmu. Kalau kamu dekat sama cowok lain hatiku rasa ingin marah sekali, apalagi aku mendapatkan info kalau kamu suka sama Akkash sahabatku sendiri. Tadi aku berniat melepaskan kamu tapi hatiku nggak bisa di bohongi kalau kamu di ambil orang lain hatiku sakit dan takut kehilanganmu. Aku akan berusaha menjadi lebih baik lagi, begitu juga dengan kamu."Dyfan Berbicara dengan pelan karena Ia tidak ingin tidur Faizah terganggu, Dyfan mengucup kening Faizah sebelum Ia keluar dari kamarnya.
"Aku buatkan sarapan buat kamu aja, semoga kamu suka."Gumam Dyfan.
Dyfan bangkit dari ranjangnya setelah melepas perlengkapan sholat yang ada ditubuhnya, Ia bergegas menuju dapur untuk memasak nasi goreng aja yang simpel.
Mengeluarkan beberapa bahan yang di butuhkan, setelah semua lengkap Dyfan mulai meraciknya. Ia bisa masak semenjak kuliah di luar negeri, karena biaya hidup di sana mahal makanya Ia berusaha menghemat. Dyfan tau orangtuanya masih mampu mengirim uang kapanpun Tapi, Ia ingin merasakan gimana cari uang sendiri.
Hingga Ia mencoba memulai belajar bisnis kecil sampai besar sekarang. Meskipun perjalanan yang tidak mudah tapi, Dyfan bersyukur masih ada yang mensupportnya seperti keluarganya apalagi Orangtuanya.
Dyfan masih banyak bersyukur bisa di lahirkan di tengah-tengah keluarga yang luar biasa, tidak pernah menuntut banyak hal. Ia juga di boleh memilih masa depan seperti apa yang kita di inginkan. Padahal Ayahnya juga punya perusahaan terbesar nomer 2 sebelumnya perusahaan terbesar nomer 1 tapi ke geser oleh perusahan Dyfan yang berhasil ke posisi satu. Sedangkan perusahaan terbesar nomer 3 milik keluarga Faizah.
Pernah Ayahnya minta Dyfan mengurus perusahaan milik Ayahnya suatu saat nanti. Sebenarnya Dyfan tidak mau tapi, siapa lagi kalau bukan dia kalau Killa sudah punya impian sendiri. Lulus kuliah mau menjadi dokter makanya adiknya mengambil fakulitas ke dokteran. Ayah ataupun Bunda tidak melarangnya karena mereka berfikir anak berhak memilih masa depan.
Alhamdulilah punya orangtua pengertian, dilimpahkan kasih sayang seperti mereka, Belum lagi ayahnya kalau sama bunda kelihatan begitu menyayangi tidak pernah membentak atau pun kasar sama Bunda. Masih banyak lagi Dyfan belajar dari orangtuanya. Ia ingin suatu saat akan menerapkan ke anaknya nanti.
Membayangkannya Dyfan suka menggelengkan kepala sambil tersenyum. Akhirnya jadi juga nasi goreng sosis sama susu hangat. Sebelum mengantar ke kamarnya Dyfan membereskan beberapa barang yang sedikit berantakan. Dyfan melihat ada proposal yang di baca Faizah. Karena penasaran Ia buka.
Mata Dyfan membola matanya, "570 juta buat beli tanah. Mau apa dia dengan tanah itu"gumam Dyfan
Dyfan masih membuka lembaran selanjutnya. "Tanah ini bukannya?" merasa tidak asing dengan gambar tanah di proposal dan nama daerahnya. Dyfan mengingatnya "Nggak salah lagi tanah ini yang akan dibeli oleh perusahaannya tapi Faizah buat apa dengan tanah itu." Dengan penasaran mencoba membaca keseluruhan ini proposal.
tiba-tiba.
"Kamu ngapain mas."Suara itu membuat Dyfan terkejut, Ia langsung menutup proposal dan menyembunyikan di belakangnya.
Faizah merasa aneh dengan perilaku Dyfan.
"Kenapa sih mas mukanya kayak kaget gitu. Itu dibelakang mas apa?"Tanya Faizah.
"Bukan apa-apa. Oh ya aku sudah masak buat kamu nasi goreng sama susu hangat pasti kamu udah laper yuk kita makan aja."Ucap Dyfan mengalihkan pembicaraan sambil membalikan tubuh Faizah dan mendorong pelan untuk membawa ke dapur. Tidak lupa manaruh proposalnya di tempatnya lagi.
"Ini coba makan masakan aku, ya kelihat simpel sih tapi mudah-mudah cocok sama lidah kamu"Ujar Dyfan sambil menaruh di piring didepan Faizah.
Faizah mengambil nasinya. Ia menyuapkan kemulutnya, Dyfan melihat merasa deg-degan. "Bisa nih nanti kalau aku malas masak kamu yang masak."Sahut Faizah.
"Maksudnya?"Dyfan tidak paham yang dimaksud Faizah.
"Iya kalau kita menikah terus lagi malas masak bisa gantian sama kamu. Belum lagi akan jadi favorite aku."
Dyfan tersenyum. "Jadi enak dong sampai di jadikan Favorite."goda Dyfan.
"Hmm lumayan masih bisa dimakan."Faizah gengsi untuk bilang masakannya enak.
"Hmm lumayan kenapa jadikan Favorite."Dyfan memasang muka heran untuk menggoda Faizah.
"Apaan sih. Sudah sana makan nanti kamu sakit." Perkataan Faizah membuat Dyfan tersenyum lebar.
Dyfan mengambil tangan Faizah lalu mengecupnya. Setelah langsung makan, Faizah di perilakukan seperti itu jantungnya tidak berhenti bergedup kencang.
"Seperti memang harus di bawah ke rumah sakit jantung untuk diperiksakan."Batin Faizah.
"Nanti sebelum ke kantor kita mampir ke butik dulu ya."Ujar Dyfan membuat Faizah tersadar dari lamunan.
"ngapain ke butik?"tanya Faizah dengan heran.
"Iya mau fitting baju pernikahan gitu aja masa lupa." jawab Dyfan santi sambil menyuapka nasinya di mulutnya.
Faizah menghela nafasnya.
"Hmm"