
Faizah menghiraukan perkataan mereka, saking kesalnya dia masuk ke dalam tanpa mengetok pintu.
"Welcome, Faizah sayang.."sambut Dyfan dengan penuh kemenangan apalagi melihat muka jutek Faizah, memang tidak ada sopan santunnya seharusnya Faizah mengetuk pintu terlebih dahulu. membuat Dyfan kesal melihatnya.
"Sayang pala lo peyang, gila lo!"ketus Faizah.
"Haha Calm down, sayang." Dyfan bangun dari duduknya dan berjalan menghampiri Faizah yang memakai pakaian kerja terlihat dewasa, tapi tetap terlihat urakan. "Gimana rasanya menjilat ludah lo sendiri? karena pada akhirnya lo menginjakkan kaki lo di perusahaan gue," sinis Dyfan.
"Heh! gue nggak menjilat ludah gue ya, gue bisa di sini juga gara-gara lo memakai power lo. Kenapa lo mau pamer kalau lo punya segala?"ketus Faizah sambil menatap tajam mata Dyfan.
"Pamer? tentu tidak sayang, ini hanya bentuk kepeduliaan terhadap Calon tunangannya. Kenapa lo KKP di perusahaan orang sedangkan lo punya Calon tunangan yang memiliki perusahaan yang jauh lebih besar. Banyak sekali Mahasiswi yang ingin KKP apalagi magang disini , lo dan Hamida Mahasiswi yang diterima disini! walau pun nilai lo dibawah rata-rata."
"Please deh! lo ini nggak usah ke GRan ya, di pikir gue mau KKP disini! Oh tentu saja tidak. lebih baik gue KKP di perusahaan yang biasa-biasa aja, tapi gue menjalankannya dengan kegembiraan," ketus Faizah. "Oh ya satu lo ada perlu apa nyuruh gue datang kesini? Gue minta lo jangan seenaknya suruh gue datang keruangan ini!."
"Ckck lo tenang aja, gue hanya mau kasih ini ke lo nggak ada minat mau apa-apain lo" Dyfan menyerahkan selembar kertas kepada Faizah.
"Ini apaan ya?" tanya Faizah seraya mengambil selembar kertas itu.
"Ini kesepatan kita setelah bertunangan dan menikah."
KESEPAKATAN DYFAN & FAIZAH
FAIZAH HARUS SELALU MENURUTI SEMUA PERKATAAN DYFAN.
FAIZAH HARAP LAPORAN SAAT PERGI KEMANAPUN.
SETIAP ADA ACARA-ACARA PENTING!, FAIZAH WAJIB MENEMANI DYFAN DENGAN PAKAIAN YANG SESUAI SELERANYA.
FAIZAH HARUS MENGIKUTI SEMUA ATURAN YANG DI BUAT DYFAN. BERBICARA SOPAN, TIDAK BOLEH MENGEJEK ATAUPUN MENGHINA DYFAN APALAGI PROTES DAN MELAWAN.
BAJU YANG DI PAKAI FAIZAH TIDAK BOLEH URAKAN. HARUS MENYESUAIKAN DENGAN PAKAIAN YANG DIKENAKAN DYFAN.
TIDAK BOLEH ADA PERSELINGKUHAN, KARENA DYFAN TIDAK SUKA ADANYA PERSELINGKUHAN MESKIPUN TIDAK ADA CINTA DI ANTARA KITA.
FAIZAH WAJIB MEMATUHI ATURAN KESEPAKATAN INI, JIKA MELANGGAR PASTI AKAN ADA HUKUMANNYA.
Faizah sekalinya membaca membuat dia emosi, dasar pria egois. "Kesepakatan darimana? ini semua sih lebih tepat aturan gila yang lo tulis. untungnya dari gue apaan." ketus Faizah.
"Terserah lo mau bilang apa. lo harus setuju dengan kesepakatan ini," ucap Dyfan dengan nada dingin.
"Gue nggak mau! sampai kapan pun gue nggak mau mengikuti peraturan gila lo ini!" ucap Faizah dengan emosi yang memuncak ternyata ada yang lebih diktator dari Opa, jangan-jangan Dyfan cucu kandung Opa Wiratama.
"Gue akan membuat lo mengikuti kesepakatan ini," ucap Dyfan datar.
"Gue rasa kita nggak bakalan sampai menikah!"
"Yakin lo! setau gue Opa lo itu orangnya keras, mau nggak mau lo bakalan menikah sama gue. Walaupun, sebenarnya sial banget punya Calon tunangan apalagi istri brandal seperti lo."
"Berisik ya lo! Gue nggak akan menikah sama lo!"Hardik Faizah.
"Memang lo bisa menolak perjodohan ini?"ucap Dyfan datar.
"Bisalah karena gue udah keburu mati saking setressnya sebelum menikah sama lo!" ucap Faizah dengan emosi.
"Hahaha..." Dyfan tertawa dengan lepas mendengarkan perkataan Faizah.
"Eh gila lo ya! malah ketawa lagi, gue nggak lagi ngelawak ya. Dasar CEO tidak punya perikemanusiaan." Faizah dengan emosi langsung merobek kertas yang berisi kesepakatan gila hingga menjadi serpihan-serpihan kecil. "Asal lo tau, gue itu paling benci sama yang namanya aturan apalagi sampai terikat aturan gila lo ini."
"Lo itu bener-bener harus di ajarkan sopan santun, berani sekali lo merobek kesepakatan yang udah gue buat!" bentak Dyfan yang emosi
sekali melihat apa yang dilakukan Faizah.
"Bodo amat, gue nggak takut sama sekali sama lo"ketus Faizah sambil menatap tajam kedua mata CEO diktator.
"Gue minta sama lo! jangan pernah bilang sama pegawai-pegawai lo kalau gue calon tunangan lo, bye Bapak CEO yang terhormat." Faizah lalu menghamburkan serpihan-serpihan kertas itu seraya berjalan keluar ruangan CEO gila ini.
Gia dan Nila terkejut sekali mendengar suara teriakan Boss besar, terlebih lagi mereka melihat Mahasiswi KKP keluar dengan santai, padahal kalau Boss besar marah itu sangat menyeramkan.
Sedangkan Faizah melangkah dengan senyuman sinis, "lo pikir! lo bakalan menang. oh tentu tidak"gumam Faizah dengan geram.
💓💓💓
Faizah baru menyadari dia tidak di jadikan satu oleh sahabatnya. malah dia ditempatkan di HRD tidak tahu sampai kapan, sedari tadi tugasnya hanya fotocopy, ngeprint lalu di jilid begitu aja, nanti setelah KKP berakhir berfikir mau punya rencana mau buka usaha Fotocopy dll. hihi.
Terdengar dering telfon dari ruang HRD dan Mbak Disya yang cantik salah satu karyawati bagian HRD mengangkat telepon.
"Selamat Siang, ini bagian HRD, apa ada yang bisa di bantu."ucap Disya dengan ramah.
"Siang, ini saya Gia. Hmm, pak Dyfan meminta dibuatkan kopi sekarang."
"Ah! anda tidak salah menelpon, ini ruang HRD bukan pantry."
"Kata bos besar, Mahasiswi KKP yang harus membuat kopinya dan membawanya langsung keruangan Bos sekarang tidak pakai lama, makasih."Gia menutup telepon.
"Faizah, ke pantry sekarang. Bos besar meminta kamu buatkan kopi dan katanya Bos besar nggak pakai lama,"ucap Disya.
"Ah! kok saya yang buatin kopinya mbak? itu kan bukan tugas saya." menunjuk dirinya, sialan tuh makluk CEO sok perfect sungguh menyebalkan.
"Mbak juga nggak ngerti. tadi Mbak juga berfikiran sama seperti kamu, Hmm kecuali kamu dekat dengan pak Dyfan beda cerita Fai. apa benar kamu dekat dengan Pak Dyfan." tanya Disya dengan selidik.
"Saya nggak dekat dengan Pak Dyfan Mbak. mungkin ya Mbak, Pak Dyfan takut saya membuka aibnya makanya saya disuruh seperti itu." refleks perkataan Faizah keluar dari bibirnya begitu aja. "Ya Allah sekali lagi maafkan Faizah" batin Faizah.
"Ah, Mbak boleh tau nggak pak Dyfan punya aib apa ya?"bisik Disya yang kepo secara Bosnya terkenal perfect ternyata punya aib juga.
"Saya melihat Pak Dyfan terpleset hingga bajunya berlumuran tanah."
Disya membayangkan Bos besarnya yang tampan luar biasa bisa terpleset seperti pemandangan langkah sekali, "Walau begitu pak Dyfan pasti masih terlihat sangat tampan."
"Nggak Mbak, Salah besar justru muka pak Dyfan terkena kotoran ayam."
Disya tidak bisa menahan ketawa, "Hahaha pasti mukanya lucu sekali, sekarang kamu buatkan kopi nanti kamu kena omelan lagi."ucap Disya, secara Bos terkenal pria yang paling galak luar biasa.
"Oke Mbak," Faizah dengan malas berjalan keluar dari ruangan HRD. dia langsung menuju ke pantry, sesampai ke Pantry Faizah langsung membuatkan kopi.
Faizah tersenyum devil, "Sepertinya sekali-kali cowok sok perfect itu di kerjain nggak masalahkan" gumam Faizah.
Setelah membuat kopi Faizah langsung melangkah keruangan CEO sok perfect itu.
15 menit kemudian...
Faizah masuk ke dalam ruangan CEO sok dictator, setelah tadi dia sedikit basa basi dengan duo rumpi sekertaris Dyfan.
Sesampainya di dalam ruangan, Faizah terkesima dengan ketampanannya saat menggulung lengan kemeja, memegang bulpoin dan konsentrasi dengan dokumen-dokumen. belum lagi terlihat otot tendon pergelangan tangan Dyfan sangat seksi dan indah. "andai aja dia nggak nyebelin mungkin gue udah jatuh cinta, tapi sayang sekali dia menyebalkan. Aduhh Fai lo mikir apa sih" batin Faizah yang tersadar dengan kekagumannya pada CEO gila ini. Dia lalu meletakkan secangkir berisi kopi di atas meja. "Ini kopinya, gue balik ya."
"Tunggu!" Dyfan bangun dari duduknya lalu berjalan menghampiri Faizah.
"Apa lagi sih!"ketus Faizah menatap datar mata CEO gila ini.
"Minum kopinya," perintah Dyfan seraya menunjuk secangkir yang berisi kopi.
"Gue nggak suka kopi,"protes Faizah.
"Siapa tau lo masukan sesuatu yang aneh-aneh didalam kopi ini!"
"Uh, lo tuh ya curigaan banget, gue nggak suka kopi, "ketus Faizah.
"Gue nggak mau tau. ini perintah atau lo mau gue paksa lo minum kopi ini," ancam Dyfan menatap datar Faizah yang terlihat keberatan.
Dyfan melihat Faizah tidak bergeming, "Kenapa lo nggak minum? Jangan bilang lo taruh macam-macam di kopi ini ?" sindir Dyfan.
"Berisik lo!" Faizah lalu mengambil cangkir dan meminum kopinya.
'Byurr'
Kopinya langsung menyembur tepat di wajah Dyfan. Sumpah asin sekali, ini sih namanya senjata makan tuan. Faizah melihat raut wajah Dyfan seperti gunung merapi yang akan meletus, dia dengan segera keluar dari ruang kerja Dyfan. Bodo amat!.
"FAIZAH....." Teriak Dyfan yang geram sekali, anak ini benar-benar selalu bisa membuat tempramennya memburuk. Kepala semakin pusing sekali. Apa yang dia lakukan untuk menghadapi cewek brandal.
Untuk kedua kalinya Gia dan Nila terkejut sekali mendengar teriakan Bos besar mereka dan melihat mahasiswi keluar dengan berjalan santai. ckck.
Akkash berjalan menuju ruangannya kerja sahabatnya, dia seperti mengenal cewek yang barusan keluar dari ruangan kerja sahabatnya. dia selalu mendekati meja sekertaris CEO.
"Kenapa wajah kalian tegang? Jangan bilang Bos kalian lagi badmood," tebak Akkash yang tidak heran dengan sifat sahabatnya yang tempramen dan mudah emosi.
"Iy..a pak Akkash," Sahut Nila yang sadar dari keterkejutannya.
"Haha." Akkash tidak bisa menahan ketawa melihat wajah mereka yang takut sama sahabatnya, Akkash lalu melangkah masuk ke dalam ruangan Dyfan.
Sesampainya di dalam ruangan kerja sahabatnya. Akkash melihat sahabatnya terlihat memakai setelan jas yang berbeda dari yang tadi dia lihat, dia tidak heran dengan sahabatnya yang memiliki tingkat kebersihan di atas rata-rata dan selalu tampil sempurna.
"Brother, meetingnya kita undurin setengah jam lagi," ucap Dyfan.
"Oke! Oh iya, thanks ya bro udah bolehin adek gue KKP disini. Tapi tunggu dulu deh, itu tadi gue lihat ada Faizah? jangan bilang Faizah juga KKP disini? " tebak Akkash.
"Iya bro sama-sama santai aja, seperti sapa aja. soal Faizah iya dia KKP disini."sahut Dyfan datar.
"Wait! kirain adik gue aja ternyata ada Faizah, tapi kok bisa dia KKP disini? dia yang menaruh atau lo ambil sendiri? apalagi lo nggak kenal banget sama Faizah. tapi bagus deh jadi adek gue nggak merasa kesepian." tanya Akkash dengan penasaran.
Dyfan memijat keningnya, "lo bisa diam nggak kepala gue makin pusing nih sama pertanyaan lo! berisik lo!"
"Hahaha.. ya udah gue keluar dulu ketimbang lo makin badmood." Akkash lalu berjalan keluar dari ruangan, tentunya masih dengan tanda tanya besar. Akkash akan menunggu moment yang pas untuk bertanya lagi.