
“itu kan..” Faizah semakin metajamkan penglihatannya, Faizah membolakan matanya dengan spontan. “STOPP…” teriak Faizah membuat Akkash menginjak rem mendadak hingga kepala mereka hampir tebentur.
Dyfan terkejut dengan teriakan Faizah, saat mau bertanya Faizah sudah keluar mobil dan Dyfan melihat Faizah berlari tanpa melihat kanan kiri. Dyfan langsung keluar mengejar Faizah. Begitu juga dengan Akkash berniat mengejar juga tapi udah terdengar suara klason membuat Akkash tidak jadi menyusulnya.
Faizah teriak. “kakak tunggu..” Faizah terus berlari dan berteriak memanggil kakak sepupunya, Saat mau menyebrang ada suara klason membuat Faizah menengok ke samping.
“AAHHHH”teriak Faizah.
Ia merasa ada yang mendorongnya, Faizah mendongakan wajahnya hingga bisa melihat wajahnya ternyata Calon suaminya dengan memasang muka khawatir. “Dyfan”suara gemetarnya tidak lama Faizah menangis dipelukan Dyfan.
Dyfan mencoba menenangkan Faizah yang masih terus menangis tersendu-sendu. “Aku takut.”hanya itu yang keluar dari mulut Faizah.
“It’s okay. Ada aku ya kamu tenang ya.” Dyfan memegang muka Faizah sambil mengelus mukanya yang merah habis menangis.
“kita kembali ke mobil ya, kalau kamu udah tenang bisa cerita sama aku ada apa ya.”ucap Dyfan.
Faizah hanya menganggukkan kepala. Dyfan menutun Faizah kembali ke mobil. Mereka berjalan dengan perlahan-lahan sampai di depan mobil Akkash. Dyfan membuka pintu belakang membawa masuk ke dalam, saat Faizah sudah masuk dan duduk dikursi belakang. “gue nemenin Faizah dulu di belakang, oh ya nggak apa kan kalau gue sama Faizah nggak nemenin lo.”Tanya Dyfan.
“Dari dilihat kondisi Faizah memang tidak memungkinkan dibawa ke lokasi, lagian Faizah habis lihat apa sampai seperti itu.”Akkash dengan muka herannya.
“gue juga nggak tau, nanti kalau udah tenang baru gue tanyain dia. Sekarang lo antarin ke apartemen gue aja dulu.”ucap Dyfan.
Akkash dengan muka bingung. “kenapa harus di apartemen lo, kenapa nggak dibawa pulang langsung aja.”Akkash jadi bertanya-tanya.
“gue juga nggak mungkin membawa Faizah dengan keadaan kacau seperti itu kan.”Dyfan mencoba memberikan penjelasan yang masuk akal dan tidak membuatnya curiga.
“tapi lo nggak bakalan macem-macem kan?” Akkash memastikan kalau teman adiknya baik-baik saja. Ya meskipun Akkash tau dan percaya tidak melakukan itu kepada perempuan, Karena sahabatnya sangat menghargai wanita jadi tidak mungkin berbuat macem-macem. Tapi kembali lagi kita hanya manusia biasa dan setan dimana-mana jadi tidak ada yang tau. Makanya Akkash memastikan aja.
Dengan muka kesal Dyfan. ”memang gue ada tampang mesum hah! Lo kenal gue berapa lama?”
“ya kan gue cuman mastiin aja takut tiba-tiba imam lo luntur.”ucap Akkash.
Dyfan memukul lengan Akkash. “Kalau lo udah nggak sayang sama hidup lo bilang.”
“eh jangan dong bro nanti kasihan Disya nangis gimana, udah yuk gue anterin dulu kerjaan gue banyak.” Akkash langsung masuk kursi pengemudi.
Dyan mendengarkan itu hanya mengangkat bahu. Lalu ia masuk duduk disebelah Faizah sambil menaruh kepalanya di pundak Dyfan. “Kamu tenang aja ya, ada aku disini.”bisik Dyfan.
Sebenarnya Akkash penasaran dengan perilaku sahabatnya itu yang begitu lembut padahal dia sangat cuek banget sama perempuan, Akkash curigain mereka seperti ada something. “nanti gue coba cari tahu deh”batin Akkash.
Mobil mereka sudah ada di depan lobby apartemen, sedangkan Faizah tertidur mungkin karna shock yang hampir tertabrak. “thanks ya bro. nanti kabarin gue soal proyek jadinya gimana. gue duluan.”ucap Dyfan saat mau buka. “bro kabarin ya keadaan Faizah. Gue udah menganggap Faizah seperti adik gue sendiri. Kalau soal proyek lo tenang aja.”sahut Akkash.
Setelah mengiyakan Dyfan menggendong Faizah untuk membawa keluar dari mobil. Faizah menggeliat semakin memeluk leher Dyfan. Mobil Akkash melaju meninggalkan mereka. Dyfan berjalan masuk kedalam. Mereka menjadi banyak tontonan seluruh apartemen yang berada disana, Namun Dyfan cuek aja terus berjalan masuk ke lift saat mau nekan tombol ada sedikit kesulitan. “biar saya bantu pak”ucap salah satu penghuni apartemen sana.
“terimakasih, tolong tekan tombol 35.”sahut Dyfan.
Pria itu menekan tombol seperti yang Dyfan minta. “istrinya kenapa pak?”Tanya kembali pria itu.
Dyfan menghela nafasnya. “nggak apa hanya sedikit kecapekan aja.” Sebenarnya malas menjawabnya tapi Dyfan tidak enak karena dia sudah menolong.
Lift terbuka angka 25. “saya permisi dulu ya pak.”pamit Pria itu. Dyfan hanya mengangguk, saat pria itu udah keluar pintu tertutup membuat Dyfan bernafas lega.
Akhirnya mereka sudah ada didepan pintu apartemen Dyfan. Ia buka pintu memakai sidik jarinya. Berhasil terbuka Dyfan membuka pintu tidak lupa menutupnya kembali. Ia berjalan menuju kamarnya, menaruh Faizah diranjang dengan perlahan-lahan. Dyfan juga tidak lupa menyelimuti Faizah.
Melihat muka Faizah tidur dengan tenang hati Dyfan juga ikutan tenang, merapikan rambut Faizah yang menghalangi wajah cantiknya. “aku akan selalu ada buat kamu, siapa yang berani mengganggumu aku nggak akan tinggal diam.”gumamnya. Dyfan mencium kening Faizah yang cukup lama sebelum meninggalkan Faizah tertidur di kamarnya.
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>
Hari semakin sore sedangkan Faizah baru saja bangun yang masih menggeliat, Faizah melihat disekitarnya. “ini dimana gue ya. Sepertinya nggak asing tempat ini.”gumam Faizah.
Ia turun dari tempat tidurnya mengamati kamarnya. “oh gue dikamarnya sok perfect itu.” Faizah berjalan kearah balkon, Faizah menikmati angin disini.
Membuat Faizah tenang apalagi mengingat kejadiantadi siang membuat Faizah penasaran. “gue yakin itu kak Alnira. Berarti kak Alnira ada disini? Tapi dia tinggal dimana?”Faizah jadi bertanya-tanya didalam benaknya.
Faizah terkejut ada yang melingkar dipinggangnya siapa lagi kalau bukan Dyfan calon suaminya. “kamu kenapa? Lagi mikirin apa hmm? Jangan disimpan sendiri.”
Dyfan mengerutkan keningnya. “kamu bilang apa sih, ya tentu tau lah. Kenapa kamu masih keberatan dengan perjodohan ini.”Dyfan melepar pertanyaan.
Faizah menghela nafas lalu menundukkan kepala. “sebenarnya aku udah nggak keberatan cuman..”perkataan Faizah terhenti membuat Dyfan bingung.
“Cuman apa.?”Karena penasaran Dyfan bertanya.
“Sebenarnya bukan aku wanita yang akan dijodohkan sama kamu, sebenarnya kak Alnira. Kamu tau itu nggak?”
“aku tau semuanya, sebelum kamu cerita aku dan keluargaku tau kalau wanita yang di jodohkan bukan kamu tapi kakak sepupu kamu kan.?” Membuat Faizah mengangguk.
“terus apa yang jadi masalah aku tau
semuanya. Bahkan aku tau kalau kamu mau ikut-ikutan kabur seperti kakakmu. Tapi kamu nggak punya cukup berani melakukan itu, karena kamu nggak punya uang buat kabuur.”ucap Dyfan.
Faizah membola matanya bagimana dia tau itu semuanya. “kamu mata-matain aku ya? Kok bisa tau semua.”
“kalau soal kamu apapun aku tau. Bahkan aku tau kalau..”ucap Dyfan berhenti saat ada dering telfon yang ternyata assistennya.
“bentar aku angkat telfon sebentar ya.” Masih dalam posisi Faizah di pelukkan.
“Ya kamu atur aja sebagaimana baiknya. Saya percaya sama kamu dan juga Akkash. Yaudah makasih.” Dyfan memutus telfonnya lalu menaruh disakunya.
“maaf ya ada sedikit gangguan, kita ngobrol sampai mana?”Dyfan bertanya.
“aku juga lupa kamu bilang apa tadi, aku cuman pengen bertanya..”perkataan Faizah berhenti sejenak, Ia mengambil nafas sejenak. Faizah menatapnya dengan dalam.
“kalau kak Alnira datang dan minta melanjutkan perjodohannya apakah kamu mau melanjut dengan Kak Alnira atau..”
“tetap sama kamu. Sampai kapan pun aku nikahnya sama kamu, yang dari awalnya aku tau kamu. Maka aku nikah sama kamu.”tegas Dyfan.
Aneh dihati Faizah merasa hangat, harusnya ia sedih dengan jawaban Dyfan dan seharusnya bukan itu jawaban yang Faizah inginkan. Tapi hatinya merasa berbeda dengan logika. Faizah juga tidak tau apa yang terjadi padanya.
“kamu nggak perlu khawatir ya, aku tetap mau sama kamu bukan yang lain.”ucap Dyfan seperti menggoda,
“Apaan sih. Udah lepasin aku laper butuh asupan.” Faizah meronta minta dilepaskan pelukannya.
“yaudah yuk.. makanan udah siap di meja makan, habis makan aku anter kamu pulang ya.” Mereka berjalan menuju ruang makan. Dyfan menarik kursi buat Faizah. Membuat tersenyum sama perilaku Dyfan yang sedikit berubah.
“makasih ya.. maaf merepotkanmu.” Faizah merasa tidak enak merasa sudah menyusahkan Dyfan.
Dyfan tersenyum lalu mengenggam tangan Faizah. “Itu sudah menjadi kewajiban aku sekarang, ya meskpun kita belum menikah tapi kamu sudah menjadi tanggung jawabku untuk menjaga kamu.”
“Oh gitu, terus waktu ngangkat kardus sendiri kenapa diam aja? Kenapa nggak bantuin?”Faizah bertanya ke Dyfan soal dirinya disuruh kerja yang bukan pekerjaannya.
“sekarang begini siapa yang mau dirahasiakan soal status ini, terus kalau ditolong kamu pasti bilang kenapa kamu nolongin aku kalau ada yang melihat gimana? Kalau ada yang curiga sama kita gimana? Jadi masih salah aku?.”
Faizah menarik tangan dengan muka kesal. “Iya kamu harusnya tau itu kan bukan pekerjaanku ngangkat kardus, bersih-bersih gudang. Terus belum lagi disuruh bersihkan semua lantai 25 dan parahnya lagi masa aku nggak ada istirahat sama sekali. Waktu sholat nggak dibolehin.” Keluh Faizah.
Muka Dyfan seketika berubah. “siapa yang melakukan itu semua.”Dyfan bertanya dengan muka datarnya.
Faizah memejamkan mata sambil memukul mulutnya pelan. “bego Faizah pakai keceplosan juga.”gumam Faizah.
“Oh iya ini kamu masak sendiri apa beli?”Tanya Faizah mencoba mengalihkan pembicaraan tadi.
“nggak perlu mengalihkan pembicaraan, sekarang jawab pertanyaanku?” Dyfan orang yang tidak mudah teralihkan.
“hem ternyata enak juga ya makannya.” Faizah tidak menyerah untuk mengalihkan pembicaraannya.
“Oke masih nggak mau ngomong, yaudah aku bisa cari tau sendiri. kalau sudah ketemu aku kasih pelajaran yang menarik. Udah kamu lanjut makannya.”
........................
...Sorry baru update soalnya mau update datanya hilang jadi harus ngetik ulang, aku usahakan untuk update tiap hari ya. Makasih dukungannya...