Married With CEO Dictator & Perfect

Married With CEO Dictator & Perfect
Bab 18



Setelah dari kampus mereka langsung ke kantor, mereka berjalan sambil bercerita saat menuju ke lift. Hamida terlebih dahulu keluar dari lift sedangkan Faizah harus naik dua lantai lagi untuk sampai ke ruangannya.


Lift pun terbuka Faizah melangkah ke ruangannya namun tiba-tiba,


"Hai anak magang"teriak seseorang membuat Faizah malas sebenarnya berhadapan dengan orang seperti itu siapa lagi kalau buka miska.


Faizah menengok kebelakang sambil memasang muka senyum termanisnya,


"Selamat pagi bu Miska"Ujar Faizah dengan nada selembut mungkin.


"Pagi katamu! Kamu nggak lihat ini udah jam berapa hah?!"Bentak Miska seolah-olah dia yang punya perusahaan.


Faizah tersentak mendengar bentakan Miska, "Ya maaf bu Miska, meskipun ini udah sedikit siang tapi semangat tetap seperti di pagi hari. sebenarnya bu Miska memanggil saya ada apa?"


Miska menatap tajam, "Saya kasih tau ya kalau perusahaan ini punya peraturan, sedangkan kamu jangan seenaknya datang sesuka hatimu. Kamu pikir ini perusahaan punya keluargamu hah! masih anak magang disiplinnya tidak ada, Bagaimana kalau kamu kerja disini mau jadi apa perusahaan ini kalau punya karyawati yang suka telat"ngomel Miska.


Faizah yang malas mendengarkan ocehan Nenek lampir yang kerjaannya ngomel terus, Dia hanya menggangguk daritadi. Sedangkan Miska masih ngoceh tidak jelas menurut Faizah. "Kamu harus bisa belajar disiplin, bertanggung jawab bukannya datang terlambat.. Bla bla.." itu yang Faizah tangkap dari tadi.


"Mengerti kamu awas aja sampai tau kalau kamu telat lagi, sekarang kamu bersihkan seluruh ruangan lantai 25 semuanya tidak boleh ada kotoran atau debu sedikit pun mengerti!" Faizah mendengar perintah Miska terkejut.


"Saya bu.." Faizah menunjuk dirinya sendiri, "Iya kamu masa saya, itu akibatnya kalau tidak datang tepat waktu."Ketus Miska


Faizah membolakan matanya, "Tapi kan bu saya ud.." Miska langsung menstop perkataan Faizah dengan tangan kedepan Faizah.


"Saya tidak menerima alasan apapun atau protesan dari kamu ya Faizah, sekarang.."Ucap Miska penuh dengan penekanan lalu dia pergi meinggalkan Faizah yang diam aja seperti patung.


Setelah Miska pergi Faizah tangannya menggenggam geram menahan emosi daritadi, "Iiihhh Sialan itu Orang punya dendam apa sama gue, dia nggak tau gue itu izin langsung sama CEOnya. Kok dia sok berkuasa banget sihh sumpah, apalagi tadi nyuruh gue bersih-bersih? Helo gue itu bukan cleaning service, gue juga bukan kuliah menjadi cleaning service. Aaaaahhhh nyebelin" Faizah yang kesal sama Miska mau tidak mau dia harus menjalankan perintahnya dia takutnya melapor ke Dyfan yang tidak-tidak lalu sampai di dengar opanya bisa gawat.


Faizah menghentakkan kakinya mempertandakan bahwa dia kesal banget, dia langsung masuk ke lift menekan tombol angka 25 sesuai yang di perintahkan tadi. "Semangat Faizah kalau masa magang lo habis, lo bisa bebas dan nggak akan ketemu nenek lampir itu"gumam Faizah.


••••••••••••••••••••••••••••••••


Sedangkan ditempat lain Dyfan meeting di luar berjalan dengan lancar, dia berhasil memenangkan tender itu. Akkash dan Assisten Pribadinya Ikbal, mereka berdua tidak meragukan dengan kemampuan Dyfan yang luar biasa.


"Hebat pak Dyfan bisa memenangkan tender terbesar ini"Puji Akkash,


Dyfan tersenyum tipis sambil menggelengkan kepalanya, "Ini juga berkat kalian dan juga team yang bekerja keras untuk perusahaan saya, saya juga berterima kasih sama kamu pak Akkash sudah menyiapkan konsep yang luar biasa."Kata Dyfan


"Saya hanya menggambar saja seperti yanv kamu minta Pak Dyfan ini semua kan ide kamu sendiri."Jawab Akkash.


Ikbal tersenyum, "Terima kasih kembali pak, ini sudah menjadi tugas saya. Tapi apa yang di bilang pak Akkash itu benar kami hanya membantu seperti apa yang anda perintahkan sedangkan Ide ini semua dari Pak Dyfan."


"Ya sama aja kalian juga bisa mengerti apa yang saya mau, belum tentu ada yang mengerti apa yang saya inginkan."


"Terimakasih pak."


Dyfan menghela nafas sejenak, "Oke selanjutnya jadwal saya apalagi."tanya Dyfan.


"Selanjut.." sebelum Ikbal melanjutkan perkataannya langsung di stop oleh Dyfan karena ada telfon masuk.


Dyfan melihat nama yang tertera di ponsel miliknya ternyata bunda tercinta, "Assalamualaikum bun"Salam Dyfan


"Walaikumsalam Dyfan bunda cuman mau mengingatkan, Jangan lupa nanti malam kita kerumah calon tunangan kamu ya"Ucap Bunda diseberang sana.


Dyfan menghela nafasnya, "Iya Bunda, Abang ingat kok makasih sudah mengingatkan Abang ya."


"Ya bunda takut Abang lupa, soalnya Abang kalau udah kerja udah lupa semua. Oh ya satu lagi jangan sampai lupa ataupun terlambat ok"


Dyfan memijatkan keningnya, "Iya Bundaku tersayang Abang pastikan tidak terlambat ataupun lupa ok bunda, Abang kerja dulu ya Assalamualaikum"


"Walaikumsalam Abang, jangan lupa makan ok" Dyfan tersenyum meskipun bunda cerewet tapi tetep aja perhatiannya bunda tidak pernah lupa kepada anaknya.


"Iya bunda. Abang matiin ya telfonnya"Izin Dyfan untuk mematikan telfonnya, Bundanya menjawab Iya langsung di matiin oleh Dyfan.


Akkash melihat sahabatnya seperti ada masalah, "Kenapa bro"tanya Akkash.


Dyfan tersenyum tipis, "biasa Bunda, bawel banget dan ada ada aja." Jawab Dyfan


"Memang bunda lo minta sesuatu atau gimana sampai langsung kusut gitu mukanya"Heran Akkash.


"Nggak gue ada janji sama Bunda dan sekeluarga untuk pergi takut lupa."


Akkash mengangguk, "Kirain masalah serius."


Dyfan hanya menggeleng kepala kecil, "Ya masalah serius ini menyangkut masa depan sorry ya bro gue belum bisa cerita, tapi gue pasti cerita ke lo. Cuman menunggu waktu yang tepat aja."batin Dyfan