Married With CEO Dictator & Perfect

Married With CEO Dictator & Perfect
Bab 11



Setelah selesai makan malam dan mengobrol sebentar. Faizah pamit dengan Bunda, Ayah, Akilla karena besok masuk KKP lagi.


Saat ini Faizah dan Dyfan dari makan malam bersama keluarga Dyfan. Sedari tadi Faizah berfikir keras dan belum menemukan jawaban kenapa sifat Dyfan jauh sekali dari sifat keluarga Dyfan.  Ajaib memang makhluk perfect  yang satu ini.


"Wait! kok, lo lewati perusahaan lo, mobil gue gimana?" Faizah bingung melihat melewati perusahaan Dyfan.


"Udah tenang aja, mobil lo aman disana nggak bakalan hilang." sahut Dyfan yang melihat Faizah seperti mengantuk, bagaimanapun juga Faizah sekarang tanggung jawabnya.


"terus besok gue berangkat KKP naik apa kalau mobil ditaruh di kantor" ketus Faizah yang kesal sekali karena makhluk yang sok perfect tidak menepati janjinya.


"Besok gue jemput jadi lo tenang aja"sahut Dyfan.


"What. big no! Gue nggak mau lo jemput, memangnya gue anak kecil,"protes Faizah seraya menoleh pada Dyfan yang fokus menyetir.


"Lo kan memang masih anak bau kencur kan buktinya dari kelakuan lo, udah gue nggak mau tau besok gue jemput, jadi lo tungguin gue dirumah lo dan satu lagi gue nggak menerima protes atau berkomentar kalau nggak jangan harap bisa KKP diperusahaan gue, mau lo?"ancam Dyfan.


"Bisa nggak sih lo nggak ngancam atau maksa gue hah! Ancaman lo itu aja daritadi!"Faizah emosi sekali. "Gue ingatin lo ya! setelah gue bebas KKP dari perusahaan lo nanti, bakal gue abisin lo!


"Hahaha, gue tunggu sayang. lo nggak lupa kan kalau bulan depan ada acara pertunangan kita dan lo ingat juga kesepakatan kita yang harus diturutin semuanya."


"Eh kesepakatan apa ya! gue nggak pernah setuju kesepakatan yang lo buat, dan satu lagi lo pikir gue bego bikin kesepakatan yang hanya menguntungkan diri lo sendiri. gue nggak mau mengikuti peraturan gila lo paham, gue nggak bakalan ikuti aturan gila lo tuh itu sampai kapanpun karena itu sama aja lo bunuh gue perlahan-lahan."


"Wah bentar lagi perlahan-lahan akan jadi duda, setelah kita menikah nanti."


"Ih, memang gue mau nikah sama lo! pede banget sih lo"


"lo pikir gue juga mau nikah sama lo! cewek yang nggak ada sopan-sopannya dan memiliki banyak sifat dan kelakuan mines! yang jelas gue akan buat lo mengikuti kesepakatan itu."tegas Dyfan.


"Brisik lo" ketus Faizah yang semakin kesal, 'phhuuff' kenapa bisa apes di jodohkan dengan pria yang tidak ada mengalahnya dengan cewek, terlebih lagi diktator, arogan dan sok perfect luar biasa.


tak lama kemudian mobil Dyfan berhenti di depan rumah Faizah, "gue nggak masuk ya, lagian ini udah malam nggak enak sama orang di rumah salam buat mama, papa lo. dan satu lagi ingat besok pagi tungguin gue.." ucap Dyfan sambil melirik Faizah hanya diam saja. "lo kok diam aja?"


Faizah menghela nafas " kalau gue protes lo nggak bakalan jemput gue? lo past akan tetap jemput gue juga kan mr. diktator" ketus Faizah sambil melepas seat belt.


"Good girl, gue balik ya. langsung istirahat, salam sama orang di rumah" Dyfan mengecup kening Faizah.


Sumpah Faizah terkejut sekali, saat keningnya di kecup Dyfan. dengan cepat Faizah keluar dari mobil begitu sadar dari rasa keterkejutannya.


"Faizah tunggu.." panggil Dyfan dari dalam mobil yang menurunkan kaca di kursi penumpang.


Faizah berbalik dengan malas, dia menghela nafas "Apa lagi sih!"


"Belajaan lo jangan lupa di bawa, ingat selama lo masih KKP, lo wajib pakai baju dari butik Felisya tadi," perinta Dyfan.


Faizah dengan malas mengambil barang belanjaan yang segitu banyaknya di tempat duduk belakang, ingin sekali mengucapkan terima kasih, tapi bibir ini mendadak membeku. dia lalu berjalan munuju pagar.


Dyfan melajukan mobilnya menuju rumahnya, baru sehari dia menguras tenaga  dan pikirannya sudah habis terkuras. hari ini dia merasa lelah sekali.


Faizah sudah berada didalam kamar sambil memegang keningnya, dia masih bisa merasakan bibir Dyfan menecup keningnya. Dia tidak sadar kalau tersenyum sendiri seperti orang jatuh cinta, namun tidak lama kemudian dia tersadar.


"Faizah lo ngapain senyum-senyum, tunggu.. dia cium keningku berarti.. Uwaaahh Mama Kening Faizah udah nggak perawan lagi" teriak Faizah yang kesal untung saja kamarnya kedap suara jadi orang di rumah tidak mendengar teriakan Faizah.


"Dasar mr sok perfect seenaknya cium-cium kening orang, Awas aja kalau ketemu gue caci maki itu orang. Aduuhh capek juga hari ini mending gue tidur biar besok gue nggak terlambat bangun" Faizah berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Faizah hanya membutuhkan 25 menit untuk membersihkan diri, Dia juga sudah siap memakai baju piyama lalu dia langsung naik keranjang tidak lupa berdoa lalu dia mematikan Lampunya di ganti dengan lampu tidur.


sedang Dyfan sudah memakai baju piyama tapi berbeda dengan Dyfan, justru bukan mau tidur tapi dia mau melanjutkan pekerjaan yang banyak sekali tertunda di kantor tadi. akhirnya Dyfan membawa pekerjaannya di rumah di tempat ruang kerjanya. Dia saking fokusnya tidak mendengar orang mengetuk pintunya.


"Dyfan nak.."panggil wanita parubaya yang cantik siapa lagi kalau bukan sang mama membuat Dyfan berhenti bekerja.


"Iya bun, duduk bun"ucap Dyfan dengan lembut membuat Rachel tersenyum kepada anaknya.


"Nak ini udah jam berapa? kenapa masih kerja aja"tanya Rachel.


Dyfan tersenyum "Iya bun, tadi di kantor nggak sempat selesain jadi aku bawa ke rumah"Jelas Dyfan.


"Nak kamu boleh kerja, tapi jangan lupa kalau kamu harus jaga kesehatan. sebentar lagi kamu mau menikah masa istri kamu nanti di cuekin kerja terus kan kasihan nak." Nasehat Rachel


Dyfan mengerti apa yang dikatakan sang mamanya, tapi bagaimana lagi ini udah menjadi hobinya adalah kerja hanya saja dia berusaha untuk segila dulu. "Iya bun, aku mengerti ke khawatiran Bunda. Aku janji kalau udah nikah nggak akan segila dulu, ini memang nggak bisa ditunda buat besok pagi. jadi bolehkah aku melanjutkan pekerjaanku terlebih dahulu"


Rachel menghela nafas, "sebenarnya Bunda mau tanya sesuatu sama kamu"ucap Rachel sambil menatap anaknya.


Dyfan ikut menatap sang Bunda tercinta, "Apa Bunda selagi aku bisa jawab, aku jawab"


"Apakah kamu bahagia dengan perjodoan ini?"tanya Rachel


Dyfan tersenyum sambil mengenggam tangan sang Bunda "Bunda, Bunda nggak perlu khawatir ya aku bahagia menjalaninya"Jawab Dyfan


Rachel membalas genggaman sang anaknya, "Maafin Bunda ya, Bunda belum bisa menjadi Bunda yang baik buat kamu dan adik kamu Akilla"


"Eh Bunda kok bilang begitu, bagi kami Bunda adalah Bunda terbaik, terhebag buat kami. Kami banyak terimakasih sudah menyayangi dan membesarkan kami, maaf kami belum bisa membahagiakan atau membuat bangga Bunda."


Rachel tersenyum melihat anaknya sudah dewasa apalagi sebentar lagi udah mau berkeluarga, " Bunda akan selalu bangga sama kalian, apalagi dengan kesuksesan kamu saat ini. Bunda semakin bangga sama kamu nak, Bunda selalu berdoa agar anak-anak Bunda bahagia selalu"


Dyfan menghampiri Bundanya, dia langsung memeluknya. " Aku juga berdoa yang sama buat Bunda sama Ayah dan yang paling penting Bunda  sama Ayah sehat terus biar bisa main sama cucu-cucunya nanti" Ucap Dyfan setelah melepaskan pelukannya.


Rachel ketawa kecil, " itu pasti sayang dan Bunda juga nggak sabar melihat anak kamu"


Dyfan ikut tertawa kecil, " Bunda ada-ada aja, aku aja belum menikah udah nggak sabar melihat anakku. tunggu aku nikah dulu baru deh bisa bilang gitu, apa di cicil dulu hehe"


Rachel memukul kecil ke Dyfan sambil ekspresi kesal, "Sembarangan aja kamu"  membuat Dyfan tertawa melihat muka kesal Bunda, Dyfan merasa seperti anak durhaka yang sudah membuat Bundanya kesal.