Married With CEO Dictator & Perfect

Married With CEO Dictator & Perfect
Bab 10



Faizah tersadar dari rasa kagum saat mendengar Calon tunangan mengucap sesuatu, "eh..lo bilang apa?"tanya Faizah.


Dyfan tidak menjawab pertanyaan Faizah dia justru memasang kalung berbandol huruf DF kecil di lehernya, Sumpah Faizah terkejut sekali dengan posisi Dyfan yang sangat dekat.


"Ini apa?"tanya bego Faizah melihat kalung indah berbandol berinisal DF itu nama mereka berdua yang sangat kecil tapi terlihat elegan.


"Kalung"sahut Dyfan datar.


"Eh gue juga tau ini kalung, maksud gue! Ngapain lo kasih gue kalung." ketus Faizah.


"Ini sebagai petanda kalau lo calon tunangan gue, sebelum hari pertunangan kita."sahut Dyfan. "Dan satu lagi yang harus lo ingat, kalung ini tidak boleh lepas harus dipakai terus pahamm."


"Lo pikir gue sapi pakai dikasih penanda,"protes Faizah dengan begonya.


"Hahaha, lo itu lebih cocokan jadi banteng betina ketimbang sapi sih. apa lo berharap gue korban pas saat idul adha biar di potong sekalian, tapi gue nggak yakin orang bakalan suka sama daging lo secara daging lo keras secara lo keras kepala." Dyfan mengelus kepala Faizah.


"Dasar spikopat lo."ketus Faizah yang benci sekali sama pria sok perfect ini.


Dyfan tersenyum, dia meraih tangan Faizah dengan lembut, "aku nggak mau, kamu direbut oleh siapapun Fai. karena apa yang jadi milikku tidak boleh ada yang merebutnya."ucap Dyfan seraya mencium kening Faizah sedangkan tubuh Faizah membeku.


Dyfan hanya tersenyum melihat Faizah seperti itu, "yaudah yuk kita berangkat." Dyfan menarik tangan Faizah dengan lembut lalu mereka berjalan keluar dari apartemen.


Selama perjalan mereka hanya diam tidak seperti biasa yang selalu debat, mereka hanya membutuhkan tiga puluh menit sampai kerumah orangtua Dyfan.


Faizah terpukau melihat rumah mewah elegan dengan halaman sangat luas, mobil berhenti Dyfan melepas seat belt lalu keluar dari mobil tapi tidak ada tanda-tanda Faizah keluar dari mobil.


Dyfan mengambil inisiatif membukakan pintu mobil buat Faizah entah ke berapa kali, "Keluar, kita udah sampai."


Faizah pun keluar mobil, Dyfan meraih tangan dan menarik tangan Faizah. Tapi, Faizah tidak bergerak sama sekali membuat Dyfan mengerutkan kening, "Ada apa?"tanya Dyfan.


"Kenapa gue gugup banget ya, aduhh."sahut Faizah.


Dyfan menghela nafas, "ini pertemuan bukan untuk pertama kali kan? kenapa harus gugup sih. udah ayo jangan banyak drama,"


Faizah kesal dengan jawaban Calon tunangan, wajar dong kalau gugup meskipun ini bukan pertemuan pertama mereka. Faizah hanya pasrah saat Dyfan menariknya.


tok tok tok


Saat pintu terbuka ternyata yang membukakan pintunya Bundanya membuat Faizah bingung harus bersikap apa, sedangkan Rachel tersenyum akhirnya yang di tunggu datang juga.


"Assalamualaikum Bunda."salam mereka seraya mencium tangan Rachel.


"Walaikumasalam akhirnya kalian datang juga, yuk masuk."jawab Rachel lalu membawa mereka masuk kedalam.


"Kak Fai..."teriak seorang gadis cantik siapa lagi kalau bukan adiknya Dyfan sambil memeluknya.


Faizah hanya tersenyum kaku, " Hai kabar kamu gimana"tanya Faizah yang sudah melepas pelukkannya.


"Baik, Kak Fai sendiri apa kabar? aku kangen banget sama Kak Fai."tanya Killa kembali.


"Aku juga kangen sama kamu, kapan-kapan kita main bareng yuk."


Killa mendengar itu langsung antusias, "Boleh itu di agenda kan aja, tapi aku nggak punya nomer Kak Fai. Nanti minta boleh?"


"Boleh dong kan kita mau main bareng,"Jawab antusias Faizah.


"Kalau curhat boleh nggak?"tanya Killa.


Faizah tersenyum, "tentu aja boleh, kamu anggap Kak Fai teman kamu. Jadi kamu nggak perlu malu kalau butuh bantuan ok,"


Rachel dan Danial mendengar ocehan anak perempuan dengan Calon menantunya tersenyum senang melihat kehangatan itu, Begitu juga dengan Dyfan yang tersenyum tipis.


"Udah kalian kalau ngobrol nanti aja, Kasihan Faizah sudah lapar yuk kita langsung makan aja"ucap Danial.


"Benar kata Ayah, Nanti setelah makan baru kita ngobrol sepuasnya."sahut Rachel.


Mereka pun berjalan ke arah meja makan, Faizah melihat makanan begitu banyak di meja berbagai macam makanan sampai terpesona. Rachel melihat reaksi Faizah tersenyum, "Pasti kamu pikir banyak banget ya, habis gimana ya Bunda bingung kamu sukanya apa yaudah Bunda buatin ini semua buat kamu."ucap Rachel.


Faizah menengok ke arah Rachel, "Ini semua Bunda bikin sendiri? segini banyaknya."tanya Faizah.


"Iya sayang, kenapa kamu nggak suka ya?"


Faizah langsung menggeleng kepala, "Bukan nggak suka Bunda, justru Fai suka banget Bunda udah capek-capek buatin ini semua buat Fai. Fai jadi nggak enak sama Bunda, lain kali Bunda jangan capek-capek buatin ini semua. Fai kasih tau ya Bunda, Fai apapun yang di buatin Bunda Fai suka. karena Fai orang yang nggak pemilih makanan jadi apapun Fai suka. yang Fai takutkan ini jadinya mubazir kalau nggak habis, sorry bukan Fai apa-apa,"Jelas Faizah tidak enak dengan Bunda Rachel.


Rachel tersenyum, "Bunda mengerti kok sayang, kalau makanan ini nggak habis bisa bagikan sama orang dirumah seperti art disini. Yaudah sekarang kamu duduk jangan malu anggap aja rumah sendiri." Rachel menarik Faizah untuk duduk, Faizah pun akhirnya duduk.


Faizah saat ini menikmati santap malam dengan keluarga Dyfan. Bunda, Ayah dan Adiknya Dyfan sangat ramah dan bisa diajak bercanda berbeda jauh dengan sikap Dyfan yang dingin luar biasa.


"Gimana Fai rasanya? enak nggak?"tanya Rachel.


"Mantap Bunda, Fai suka masakan Bunda luar biasa enak. kapan-kapan ajarin Fai buatin ya Bun."Sahut Faizah seraya menyatap makanannya.


"Wah Bunda senang mendengarnya, Jadi kapan-kapan Bunda masakan lagi buat Bunda. Oh ya Bunda dari Mama kamu, Katanya kamu bisa masak ya."Tanya Rachel dengan penasaran dan antusias.


Faizah menggeleng kepala, dia menelan makanannya terlebih dahulu sebelum menjawab Bunda Rachel. "Bisa masak, tapi nggak sejago Mama dan Bunda."


Rachel tersenyum, "Tapi kapan-kapan kita masak bareng mau?"


"Boleh Bunda nanti di agenda kan aja." jawabnya dengan antusias.


"Gimana hari pertama KKP Fai?"tanya Danial yang daritadi menyimak pembicaraan Faizah dan Istrinya.


"Lumayan Om, ternyata kerja itu capek banget, beda sama kuliah."


"dibawa santai aja buat menambah pengalaman, jangan panggil Om, kamu aja panggil Rachel bunda masa sama Om beda."


"Hehe iya, Ayah"sahut Faizah dengan sopan, tapi gimana mau santai kalau dia KKP di perusahaan yang CEOnya sangat menyebalkan.


"Kalian berdua bisa jadi lebih dekat karena sering bertemu, sangat baik untuk perkembangan hubungan kalian ke depannya," goda Rachel "dan Bunda juga bisa sering mengajak kalian makan siang bareng."


"Gue berharap selama KKP lo bisa bertindak lebih dewasa,"bisik Dyfan dengan nada dinginnya, bagaimana tadi seharian ini Faizah membuatnya kepala pusing dengan ulah kekanak-kanakkan ini.


"Somplak lo ! Dasar cowok menyebalkan, "batin Faizah kesal sekali.


"Oh ya kak Faizah, kuliah dimana? "tanya Killa.


"Universitas Pelita Bangsa, dek"sahut Faizah seraya menyesap minuman.


"wah, Kak Fai seniornya Killa dong. Killa baru pertama kali ospek."


"ya sayangnya kakak lagi nggak ada di kampus. Jadi, kakak nggak bisa lihatin kamu, tapi kalau ada senior yang ngerjain kamu saat ospek, kasih tau kakak biar kakak habisin tuh orang."sahut Faizah dengan nada horor.


Akilla terkekeh mendengar perkataan Faizah.


Dyfan menggelengkan kepala mendengar perkataan Faizah yang kelihat seperti preman.