
Hari ini Dyfan tidak menjemput Faizah karena calon tunangannya bilang ada urusan di kampus bersama sahabatnya, Dyfan memberikan izin biarkan dia menikmati masa lajangnya sebelum dia menjadi istrinya.
Sebenarnya Dyfan tidak melarang Faizah berteman atau bermain dengan siapa pun yang hanya di takuti Dyfan adalah Faizah melupakan kewajibannya menjadi istrinya, Apalagi dengan sifatnya terkadang seperti anak kecil, kadang seperti anak brandal. Dyfan ingin mengubahnya meskipun itu sedikit sulit.
Dyfan berjalan dengan gaya berwibawa, muka datarnya, tegas tapi itu membuat ketampanannya naik lebih meningkat buat para wanita terpesona dengan ketampanannya.
"pagi pak"sapa dua karyawati disana, Dyfan hanya membalas dengan menganggukan kepalanya lalu dia melangkah lagi.
"Sumpah pak Dyfan ganteng banget tau, gue mau dong jadi istrinya."ucapnya karyawati dengan gaya centilnya.
"Emang loh aja gue juga mau kali pokoknya pak Dyfan itu perfect banget, eh tapi gue denger-denger Pak Dyfan mau tunangan loh"
"Hah seriusan! Lo tau darimana jangan nyebar gosip tau" Terkejut teman rekan kerjanya.
"Iihh iya gue dengar pas ibu Pak Dyfan datang kesini, nah pas gue mau jalan ke lobby ternyata ada ibunya Pak Dyfan yang lagi telfonan gitu gue cuman dengar Pertunangannya di majukan dan Dyfan juga udah setuju gitu."
"Wah berita hot nih.."
Tiba-tiba
"Bagus kerjaannya gosip aja sana bubar, Oh ya satu lagi yang bilang Tari itu benar kalau pak Dyfan mau pertunangan dan kalian tau sapa.."tanya Miska
Mereka hanya menggelengkan kepalanya,
"Yaa sama saya lah, saya kan cantik, pintar apalagi jabatan saya lebih bagus daripada kalian. Jadi kalian jangan mimpi deh bisa jadi istrinya pak Dyfan, kalian harus ingat pak Dyfan pantasnya sama saya bukan sama kalian atau siapapun"Sombong Miska lalu dia meninggalkan mereka dengan gaya yang sombong itu tidak lupa mengibaskan rambutnya.
"Sombong sekali bu Miska, tapi kasihan ya kalau pak Dyfan dapat pendamping seperti Bu Miska Hii"Ucap Rekan kerjanya Tari sekaligus sahabatnya juga.
"Udah biarin aja yuk bukan urusan kita kan"ucap Tari
"Bener juga, yaudah yukk" Mereka langsung melangkah pergi untuk kembali ke ruangannya.
Sedangkan Dyfan sudah berada di ruangan bersama assisten pribadinya. "Bagaimana persiapan meeting kita ke klien apakah udah disiapkan dengan baik"tanya Dyfan kepada Assisten Pribadinya.
"Sudah pak, semua dokumen yang kita butuhkan sudah siap semua dan di siapkan dengan secara matang tinggal menunggu pak Akkash"
"Oh iya tumben sekali belum datang, sebentar saya hubungi dia terlebih dahulu"ucap Dyfan sambil mengeluarkan ponselnya.
"Apa saya aja untuk menelfon pak Akkash" Assisent pribadinya menawarkan ke atasannya, namun di tolak.
Tidak butuh lama telfonnya di angkat oleh sahabatnya, "Dimana lo kok tumben jam segini belum datang, lo nggak lupa kan kalau kita ada meeting"ucap Dyfan.
Dyfan memutarkan bola matany pertanda malas sama sahabatnya yang satu ini, "Udah lo nggak usah, biar gue kesana kalau nunggu lo pasti lama lagi"Balas Dyfan dengan langsung mematikan ponselnya.
Dyfan berdiri sambil memasangkan kancing jasnya, "Kita berangkat sekarang" Dia berjalan melewati assistennya yang sedang menundukkan kepala, "Baik pak"jawabnya segera menyusul atasannya dan tidak lupa dengan cepat mengambil berkas-berkas yang sudah disiapkan.
•••••••••••••••••
Sedangkan ditempat lain Faizah masih di kampus karena dia harus mengumpulkan tugasnya yang belum selesai, Tentu saja dia tidak sendirian di temani oleh para sahabatnya.
"Untung kita nggak terlambat ngumpulin tugasnya kan"ucap Hamida
"Benar juga kalau kita terlambat bisa mati, apalagi harus mengulang ogah banget sama itu dosen killer"Faizah bergidik ngeri terlintas membayangkan kalau harud bertemu itu dosen killer.
Saat mereka berjalan ke parkiran, "Faizah kapan lo main basket lagi, tempat basket sepi nggak ada lo"Ujar Bastian teman sekampus.
"Iya Tian gue masih sibuk KKP nanti deh kita kabar-kabaran lagi gimana?"tawar Faizah.
"Bolehlah kan lo udah masuk grup, Oh ya satu project kita gimana jadi nggak?"
"Iya Faizah project kita udah lama nggak di bahas lo"sahut Karel
Faizah menghela nafasnya," Proposalnya sudah jadi?"
"Sudah ini Proposalnya kita bawa, tapi kita kekurangan dana Faizah. Kita harus cari penyutikan dana agar project kita bisa berjalan lancar"
"Gini aja, proposalnya biar gue pelajari nanti kalau sudah baru gue kasih tau kalian langkah apa selanjutnya gimana?"
"Boleh deh.."Jawab Karel lalu dia mengeluarkan dokumennya dan memberikan kepada Faizah."Nah ini nanti lo kabari kita kalau ada kurang-kurangya di dalam dokumen itu"
Faizah mengecek dokumen itu sambil mengaggukkan kepala, "Oke nanti gue kabari"
"Makasih banyak ya Faizah, Kita tunggu kabar baik dari lo."Ujar Bastian
"Iya Faizah kalau bisa jangan lama-lama ya, Biar project kita bisa segera di laksanakan."Sahut Karel.
"Iya gue akan kabarin kalian segera mungkin Oke, Gue duluan ya"
"Oke Faizah, Hati-hati lo"Ujar Mereka, Faizah membalas jawabanya dengan tangan ke atas berbentuk O.
Meskipun gaya Faizah kelihatan seperti preman tapi dia tidak pernah seenaknya ke teman-temannya seperti malak'in orang, menyuruh ngerjain tugas. Itu bukan gaya Faizah, Justru dia malah membela orang yang seenaknya sendiri seperti pembullyan dan sbb jadi mereka disana senang kalau Faizah.