Married With CEO Dictator & Perfect

Married With CEO Dictator & Perfect
Bab 21



Setelah kejadian barusan di mobil jantung Faizah tidak berhenti bergedub, Dia hanya memandang keluar jendela kaca mobil. sedangkan Dyfan tersenyum bisa membuat Faizah terdiam tanpa mengeluarkan keprotesannya.


Faizah tersentak saat bunyi handphonenya, Melihat dilayar tercatum bernama Bagas. Tidak menunggu lama Faizah mengangkat telfonnya. "Ya Hallo ada apa Bagas?"tanya Faizah.


"Gimana lo udah baca proposalnya? Terus lo udah ada segitu nggak?"Bagas yang penuh pertanyaan.


Faizah menghela nafasnya, "Ya belum bego kan baru tadi lo kasih ke gue, Dan gue masih sibuk magang nanti kalau gue udah dirumah baru deh gue baca. Untuk masalah yang itu gue nggak mungkin minta bantuan bokap ataupun nyokap gue, nanti gue pikirin deh gimana caranya."Faizah menjawab semua pertanyaan Bagas.


"Hehe sorry habis gue nggak sabar buat segera terwujud misi kita, oh iya lo tau leo nggak?"


"gue juga kali segera mewujudkan misi kita tapi nggak segampang itu kali, lagian ya kita harus matengin lagi semua agar sesuai yang kita inginkan. Iya gue tau kenapa emangnya?"


Dyfan hanya bisa menyimak apa yang dibicarakan Faizah, namun Dyfan tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Hanya aja Dyfan merasa kesal saat telfonan sama laki-laki lain selain dirinya. "Nggak mungkinkan gue cemburu tuh bocah"batin Dyfan.


"Dia mau nantangin lo buat balapan motor karena dia nggak terima waktu itu lo yang menang dan lo harus tau kalau hadiahnya mobil kesayangannya terbaru, belum juga ditambah uang 500jt wah lumayan nggak tuh hadiahnya."


Faizah terdiam. Dia befikir apa yang di bilang benar juga, "Nggak lumayan lagi bisa masuk ke anggaran proposal nih"batin Faizah.


"Bagas gue mau, kapan itu? Gue pasti terima dengan baik kalau hadiah seperti itu." ucap Faizah membuat Dyfan semakin tidak mengerti, apa yang di bicarakan olehnya.


"Nanti malam Fai, Gimana lo bisa kan?"tanya Bagas untuk memastikan kalau Faizah bisa.


"Oke nanti gua datang ya, siapin semuanya aja. Jangan lupa bilangin gue pasti datang."


Bagas mendengar senang sahabatnya itu akan datang, Bagas percaya Skillnya tidak diragukan lagi. Ini bukan kali pertama Faizah mengikuti balapan motor, bahkan dia sudah sering memenangkan balapan motor itu. Hadiahnya bukan dibuat senang-senang tapi dia berbagi kepada anak-anak di pinggir jalan juga agar mereka bisa merasakan seperti anak lainnya. Bukan Faizah aja sendiri pasti dibantu teman-teman komunitasnya.


"Siap.. Nanti gua sampaikan ke Leo, sampai ketemu nanti Faizah. Bye." Sambungan langsung terputus.


Faizah senyum-senyum ia tidak sabar untuk nanti malam, "Gua harus menang, Gua pasti bisa."Batin Faizah dengan semangat.


Melihat Faizah tersenyum-senyum setelah mendapatkan telfon dari Bagas membuat Dyfan semakin kesal, "Mau kemana nanti malam."Dyfan bertanya dengan sesantai mungkin agar kelihatan kalau dia lagi kesal.


"Bukan urusan lo, lagian gue keluar sama teman-teman gue." Sahut Faizah.


Mobil berhenti Dyfan dengan leluasa bertanya sambil menatap Faizah"Iya aku tau, pertanyaannya mau keluar kemana? Mau ngapain? hadiah apa?" Pertanyaan itu yang Dyfan dengan dengar saat Faizah telfonan.


Melihat mobil berhenti di area kantor, Faizah segera turun namun di tahan oleh Dyfan. "Jawab dulu Faizah nanti malam mau kemana?"Tegas Dyfan.


Faizah menghela nafasnya."Mau nongkrong sama teman-teman gue ke cafe puas."dusta Faizah. Disaat mau turun lagi tetap ditahan oleh Dyfan karena jawaban Faizah kurang puas.


Dyfan menatap tajam. "Jawab dengan benar, pertanyaanku bukan itu aja."


Faizah berusaha tenang meskipun mendapatkan tatapan mengerikan, "Tadi lo tanya apa aja ya .. " sambil mengingat "Oh iya gue mau ke cafe mau nongkrong aja kalau soal hadiah ya itu mau taruhan si Dirga mau nembak cewek diterima atau nggak kalau gua jawab diterima dan ternyata benar gue dapat hadiah gitu.. Udah puas dengan jawaban gue sekarang gue mau masuk bye. Lepasin."Bohong Faizah dengan mengarang cerita.


•••••••••••••••••••••••••••••••••••••


Malam yang ditunggu Faizah pun datang ia sudah bersiap-siap dengan penampilan celana jeans hitam kaos putih di lapisin oleh jaket hitam dan tidak lupa mengikat rambutnya. Setelah selesai ia segera turun tidak lupa membawa tasnya.


Syifa melihat anaknya sudah rapi membuat mengerutkan keningnya, "Fai.. Kamu mau kemana nak?"Tanya sang Mama.


"mau keluar sama teman-teman ma."jawab Faizah dengan santai.


"Keluar? Kok keluar sih nak, kan nanti ada cara makan malam keluarga sama keluarga calon kamu untuk membahas pertunangan kalian." ucap mamanya yang bingung dengan kelakuan anaknya.


Sang mama memicingkan matanya. "Jangan bilang kamu lupa sayang."


Faizah meringis sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu. Syifa melihat reaksi anaknya membuat dirinya terkejut, "Beneran lupa kamu?"Memastikan kembali bagi Syifa tidak cukup dengan hanya reaksinya aja.


"Hehe maaf ya ma." Hanya yang keluar dari mulut sang anaknya, spontan Syifa membola matanya. "Astagfirlah naakk.. Kalau Opa tau kamu pasti dimarahin nak."


Faizah mendengar kata Opa langsung menatap mamanya. "Opa hari ini datang ma?"tanya Faizah panik.


"Ya datanglah, Opa masih perjalanan ke sini mending kamu ganti.." Sang mama belum selesai bicara Faizah sudah pergi begitu aja lari ke kamarnya.


Sedangkan Syifa melihat anaknya udah pergi masuk ke kamarnya membuat tersenyum geli sambil menggeleng kepala. "mendengar Opanya datang langsung takut pergi ke kamar. Ada-ada aja anak itu."gumam Syifa


Melihat istrinya tercinta menggeleng kepala membuat Andra mengerutkan kening, Andra yang baru pulang dari kerja menghampiri istrinya yang sedang duduk di ruang tengah. "Assalamualaikum sayang, kamu kenapa menggelengkan kepalamu? Bahkan kamu juga nggak sadar kalau aku pulang."


Syifa meringis. "Walaikumsalam maaf ya sayang aku lagi pusing melihat kelakuan Faizah." tidak lupa mencium tangan suaminya.


"Apa lagi yang dia buat sayang?"tanya Andra yang sudah duduk di sebelah istrinya.


"Iya itu.. Udah tau nanti malam ada acara eh dia malah mau pergi, apalagi penampilannya seperti anak tomboy. Saat aku bilang Opa mau datang dia panik langsung masuk nggak jadi masuk. Masa dia takutnya sama Opanya aja sama kita nggak."keluh kesah Syifa.


mendengar keluh kesah istrinya membuat Andra ketawa, sedangkan istrinya melihat suami tertawa membuat dirinya makin kesal. "kenapa tertawa? Ada yang lucu? Itu anak kamu bikin aku pusing terus. Punya anak kok kelakuannya kayak laki-laki."


"Iya ya maaf, setidaknya anak kita ada yang ditakuti daripada nggak ada sama sekali yang ditakuti apa kita nggak makin pusing. Satu lagi dia bukan anak aku aja tapi anak kita karena kita bikinnya berdua."Sahut Andra.


"Tau aahh mending aku nyiapin yang lain aja."Kesal Syifa langsung berdiri meninggalkan suaminya.


Namun saat meninggalkan Andra tidak lupa menggumam, "padahal Aku hanya menampung bibitnya eh jadinya seperti itu."


Andra makin gemas dengan istrinya. "Tapi tetap aja bibitku unggul bagus sekali tembak langsung jadi."sedikit teriak agar istrinya dengar