
Setelah kejadian itu Faizah berusaha menjaga jarak, jaga sikap. Dia tidak ingin mereka tau kalau dia adalah calon tunangan bosnya yang sok perfect, dictator, pokoknya Faizah tidak siap.
Tiba-tiba ada yang memanggilnya
"Hai Faizah tolong kamu angkat kardus itu dong, terus kamu pindahin ke gudang"ucap Wanita sok cantik dengan penampilan kekurangan bahan.
Faizah terkejut, "Itu kan bukan tugas saya bu, itu kan tugas OB, kenapa harus saya"Tanya Faizah
"Hei kamu tidak lihat itu dokumen penting kalau orang lain yang bereskan terus data itu diambil gimana"tanya wanita itu yang bernama Miska dengan jutek.
"Iya sih bu..tapi kan.." Ucapannya Faizah langsung di potong,
"Tapi apa! Kamu itu anak magang udah banyak protes aja, tinggal kerjain aja apa susahnya, jangan-jangan kamu lemah ya tidak bisa mengangkat itu kardus" Kata Miska dengan nada meremehkan,
Sedangkan Faizah tidak suka di remehkan, dia menahan agar tidak terpancing emosi. Dia tidak ingin mencari masalah itu akan berdampak nilai aja tapi berurusan dengan Opanya juga, no way Faizah tidak ingin itu terjadi. "Baik Bu, saya akan kerjakan permisi"Jawab Faizah lalu pergi sambil berusaha mengangkat Kardus yang cukup berat, namun Dia tidak ingin orang yang ada di depan itu meremehkannya.
Faizah mengangkat dengan sekuat mampu, saat mau pergi "Tunggu..."
Miska menghampiri Faizah, "Setelah selesai mengangkat dan memindah kardus itu, kamu kerjakan dokumen yang ada di meja kamu, hari ini harus selesai" Setelah selesai bicara Miska langsung pergi.
"Gila itu cewek, udah kayak mak lampir aja. Enak banget nyuruh-nyuruh emang dia sapa, pakai acara meremehkan gue. Di kamus gue nggak ada yang nggak bisa, kecuali melawan Opa"gerutu Faizah sambil berjalan ke arah gudang.
Dyfan yang melihat Faizah membawa kardus ingin sekali membantunya, Namun dia tidak ingin Faizah di bully atau dibedakan sama karyawan yang lain. Dia hanya cukup mengawasinya aja,
Ditempat lain Faizah yang sudah berada di gudang yang kelihatan banyak debu seperti tidak pernah di bersihkan, "Ini tempat kotor banget ya apa nggak pernah di bersihkan oleh OB atau gimana ya"Ucap Faizah
"Kalau udah tau kotor ya kamu bersihin lah jangan bisa cuman komentar"Sahut seseorang dari belakang Faizah membuat dia terkejut siapa lagi kalau bukan miska,
"Kenapa tidak Bu Miska aja yang membersihkan?"Tanya Faizah dengan santai
Miska kesal melihat gaya Faizah yang sok banget, "Saya itu bukan OB, Saya itu jabatannya tertinggi disini dan paling senior"Jawab Miska dengan nada sombong
Faizah muka senyum tipis sambil menggeleng kepala, "Jabatan itu bisa hilang dengan begitu cepat jika ada orang yang angkuh dan sombong, apalagi dengan jabatan Quality Control itu bisa diambil ahli oleh siapapun bahkan bisa lebih baik daripada Bu Miska"Perkataan Faizah membuat Miska semakin kesal.
"Apa maksud kamu hah! Saya tidak lebih baik dari yang lain gitu" Balas Miska dengan Nada tidak bersahabat.
"Saya tidak bilang seperti itu Bu Miska, saya hanya mengingatkan aja semua yang Bu Miska capai belum tentu bisa bertahan kalau attitude nya tidak ada"
Miska yang mau menampar dengan cepat Faizah menangkap tangannya, "Saya bukan orang yang penakut seperti karyawan lainnya. Bahkan saya bisa saja membuat kamu kehilangan pencapaian yang Bu Miska raih dengan susah payah"bisik Faizah lalu menghempaskan tangan, Dia langsung meninggalkan ruang gudang itu tidak peduli dengan muka kesalnya.
................................
20 Menit Kemudian
Faizah berhasil menyelesaikan pekerjaannya dengan baik, dia melihat jam yang sudah menunjukkan waktunya istirahat, makan dan Sholat. Dia merenggangkan otot dibadannya lalu Dia berdiri bersiap-siap mau pergi keluar ruangan, namun tiba-tiba
"Mau kemana kamu?"tanya Miska dengan muka juteknya.
"Enak sekali kamu bilang pekerjaan belum selesai udah pergi saja, meskipun kamu bukan pegawai tapi sama aja kamu kerja disini jadi harus ikuti peraturan disini"
"Mohon maaf ya Bu Miska yang terhormat saya selalu mentaati peraturan disini, salah saya apa ya? Memang salah saya mau istirahat makan dan sholat, Lagian pekerjaan saya sudah selesai apa yang harus di permasalahkan"
"Kata sapa pekerjaan kamu udah selesai, bawa masuk dan taruh di meja Faizah"ucap Miska sambil menyuruh karyawan lain membawa tumpukkan dokumen membuat Faizah membolakan mata,
"Ini kamu harus selesai hari ini juga dan setelah selesai kamu langsung kasih ke ruangan saya, jangan sampai salah paham"Kata Miska lalu pergi meninggalkan Faizah sebelum menjawabnya.
"**** ! Dia punya masalah apa sih sama gue sampai segitunya gila itu orang ya, woy gue butuh makan"Kesal Faizah mau tidak mau dia kerjakan kalau tidak berdampak nilainya nanti.
Faizah kembali duduk, "Iihh Awas aja itu orang dasar nyi blorong" Umpat Faizah lalu dia mengatur nafas, tarik nafas buang setelah sedikit tenang, "Oke Faizah lo pasti bisa, jadi lo tetap tenang lebih baik dikerjakan biar lo bisa istirahat makan"
Faizah menggerakan jari-jari dia langsung memulai mengerjakan tugas, Di lain tempat Dyfan yang sama aja masih berkutat dengan pekerjaan yang begitu banyak.
Terdengar suara ketukan pintu,
Tok tok tok
"Iya masuk"jawab Dyfan,
Dyfan tetap fokus sama dokumennya hingga tidak menyadari bahwa tamunya adalah sang mama tercinta, "Bagus kerja terus sampai tidak lihat jam ya kamu Dyfan"Teriak Rachel
Dyfan terkejut mendengar teriakan dia langsung melihat yang berteriak, "Bunda.."
Dia langsung menghampiri sang Bundanya sambil mau mencium tangan tapi di tolak sama Bunda, Dyfan menghela nafas "Bunda maafin Abang ya, Ya gimana lagi kerjaan masih banyak Bunda dan kalau di tunda bis.."
"Stop.. Bunda nggak mau mendengar seribu alasan kamu ya Abang, kamu itu mau tunangan terus menikah kenapa nggak kamu luangkan waktu sama calon tunangan kamu hah!"kesal Bunda Rachel sambil memukul Dyfan dengan gemas.
Dyfan menggaruk kepala yang tidak gatal, "Bunda.. Gini Abang bukan nggak mau meluangkan waktu buat Faizah masalahnya ini kerjaan nggak bisa di tundah"
"Lalu gunanya karyawan kamu apa Abang, ayolah luangkan waktu buat calon tunangan kamu, sebentar lagi kalian bertunangan loh tinggal menghitung hari aja"
Dyfan mengerut keningnya, "Menghitung hari ? Loh bukannya satu bulan lagi ya Bund"Tanya Dyfan Heran.
Rachel langsung menjewer telinga anaknya, "Iihh Abang Dyfan kan sudah dibilang kalau kurang beberapa hari lagi, Kamu juga bilang iya Bunda sekarang kenapa sok-sok an kaget hah"
Dyfan meringis kesakitan, "Aduuhh Bunda sakit, ampun Bunda lepas dulu" Rachel langsung melepaskan jewerannya.
Sedangkan Dyfan mengusap teligah yang merah sekali, "Bunda tega banget sama anaknya sih, lagian ya Bunda Abang itu lupa kalau acara pertunangannya di percepat tinggal beberapa hari lagi" Dyfan menjawab dengan lesu.
Rachel menghela nafasnya, "Sebenarnya Bunda nggak setuju acara pertunangan di percepat karna Bunda maunya kalian menikah langsung aja"Ucap Bunda Rachel dengan santai.
"Apa Menikah?"