Married With CEO Dictator & Perfect

Married With CEO Dictator & Perfect
Bab 19



Akhirnya Faizah berhasil menyelesai tugasnya dengan baik, dia merenggangkan otot tubuh yang merasa capek sekali. Bayangkan aja lantai 25 itu ruangannya ada banyak sekitar 10 ruangan, belum lagi ruangannya itu besar-besar.


"Heran gue ini setiap ruangan besar banget, apa setiap lantai ruangannya banyak? Aish udahlah yang penting tugas gue udah selesai waktu jam makan siang, gue mau makan siang dulu aah." Faizah melangkah menuju ke lift untuk turun ke kantin.


Saat Faizah sudah berada dilantai bawah dia hendak memberitahu sahabatnya bahwa dia menunggu sudah menunggu dibawah, namun saat mau mengabari tiba-tiba. "Mau kemana kamu"tanya dengan nada jutek siapa lagi kalau bukan Miska.


Faizah menghela nafasnya, "Kenapa gue bertemu dia terus sih. Kayak dia titisan iblis deh masa gue kemana aja tau, bahkan gue udah selesai aja sama pekerjaan gue dia tau, padahal gue nggak kasih tau."Batin Faizah


"Heh ditanya malah diam aja, dasar nggak sopan kamu ya!"bentak Miska.


Faizah menghembuskan nafasnya, "Iya bu Miska ini kan waktunya jam makan siang, jadi saya mau makan siang dulu ya bu. Permisi"ucap Faizah dengan lembut sambil memasangkan muka tersenyum semanis mungkin.


Saat melangkah satu, "Eehhh Tunggu kamu.." Miska memberhentikan langkah Faizah.


Faizah langsung berhenti melangkah. Dia membalikan tubuhnya menghadap Miska, "Iya bu ada apa ya."


Miska melipat kedua tangannya di dada seakan dia bosnya diperusahaan ini. "Tadi kamu bilang apa ? Mau makan siang ? Heh kamu aja tadi datang terlambat pakai mau makan siang, nggak bisa sekarang kamu kerjakan dokumen ini, kamu fotocopy sekarang karena data ini akan di buat meeting jam setengah satu."


Faizah melihat jam ditangannya membuat matanya membola terkejut, "Bu yang bener aja ini dokumen begitu banyak sedangkan ini sudah jam 12.15 saya hanya dapat waktu sedikit aja."


Miska tersenyum sinis, "kenapa sudah mengakui kalau kamu tidak mampu hah? Begitu aja udah mengeluh" sewot Miska.


Faizah geram sekali sama Miska yang selalu memancing emosinya, Apalagi Faizah tidak suka di remehkan."Kata siapa saya tidak mampu?saya akan buktikan saya mampu dan selesai tempat waktu." Faizah langsung mengambil dokumen segitu banyaknya di sebelah Miska lalu dia pergi.


Kelihatan Faizah membawa dokumen begitu banyak membuatnya kesusahan, tapi Faizah membawa dokumen itu keruangan khusus fotocopy dan jilid buku. "Oke Faizah lo harus semangat nggak boleh menyerah, lo harus buktikan kalau lo mampu. Fighting!" Faizah menyemangati diri sendiri, dia memulai menyeleseaikan pekerjaan.


••••••••••••••••••••••••


Dyfan sudah kembali ke kantor, dia sebentar lagi ada meeting dengan seluruh divisi untuk membahas proyek terbesarnya, sebenarnya meeting sekitar setelah jam makan siang makanya Dyfan berniat mau mengajak makan siang bersama calon tunangannya.


Namun daritadi Dyfan tidak melihat sama sekali keberadaan calon tunangan, Disya berjalan melewati Dyfan tidak lupa untuk menyapanya. Saat mau melangkah Dyfan menghentikan langkah.


Dyfan seperti orang kebingungan, "Eehh kamu lihat anak magang yang kamu pegang nggak?"Tanya Dyfan balik.


"maksud bapak Faizah? Kalau Faizah saya tidak lihat sama sekali pak, saya aja lagi nyariin dia. Saya tanya Hamida katanya sudah balik ke kantor sama hamida tapi mereka berpisah saat di lift tadi. Memang kenapa pak mencari Faizah ada yang salah dari Faizah"


"Oohh tidak kok saya hanya ada perlu sedikit, Oke makasih infonya saya duluan." Saat mau melangkah Dyfan mengingat sesuatu hingga dia berhenti dan menghadap Disya. "Oh ya saya lupa sesuatu, kalau kamu melihat Faizah suruh ke ruangan saya mengerti."ucap Dyfan dibalas mengangguk kepala aja, setelah itu pergi begitu aja.


Disya melihat tingkah atasan menjadi bingung, "Kenapa dia nyariin Faizah yaa.. Itu anak kemana coba hufft, yaudahlah sapa tau udah balik ke ruangannya"gumam Disya.


Dyfan jadi bingung mencari Faizah kemana di telfon tidak diangkat, nyari kemana-kemana di seluruh ruangan ini juga tidak menemukan. "Itu anak kemana, sengaja nggak ngangkat telfon gue. kalau nggak disuruh bunda untuk makan siang bareng nggak mau gue nyariin kayak gini." Gerutu Dyfan sambil melihat jam sudah menunjukkan waktu makan siang mau habis. "Ini jam kenapa cepat sekali, yaudah gue siap-siap buat meeting aja urusan bocil itu nanti aja."


Ditempat lain Faizah masih sibuk dengan dokumen begitu banyaknya. Saat Faizah melihat jam di tangannya menunjukkan pukul 12.25 membuat Faizah melotot mata, "Aish shibal"gumam Faizah.


Faizah mempercepat lagi pekerjaannya jangan sampai lebih dari setengah satu, setidaknya kalau selesai lebih cepat dia bisa makan siang lebih cepat. Dua hari ini Faizah telat makan siang, apalagi tadi pagi cuman sarapan sedikit. Tiba-tiba perut Faizah menyerang sakit, "Ini kenapa ya perut, aah bodoh amat yang penting ini selesaikan terlebih dahulu. Sepertinya perut gue mau minta diisi"


Dengan keseriusannya, ketekunannya dan ke fokusan akhirnya Faizah berhasil menyelsaikan dengan baik, dia langsung menyusun dokumen lalu membawa ke ruang meeting. Faizah melihat jam lagi 12.29 dia langsung buru-buru naik lift menekan tombol ke arah meetinh.


Saat sampai didepan ruang meeting tidak ada siapapun disana, Faizah mengerutkan keningnya. "Pada kemana semua ya? Masa gue salah ruangan nggak mungkin kan."gumam Faizah sambil melihat sekelilingnya.


"Benar ini ruang meetingnya kok, apa mungkin mereka masih perjalanan kesini ya. Yaudah deh gue susun aja dokumennya terus gue bisa makan siang deh." Faizah menyusun dengan menaruh satu dokumen di meja meeting, setelah selesai "nah sekarang waktunya makan siang."ucap Faizah dengan tersenyum senang karna pekerjaannya selesai dengan baik.


Faizah keluar dari ruang meeting, Ada yang memegang bahunya membuat Faizah sontak terkejut dia langsung menengok kebelakang. "Iihh bisa nggak sih biasa aja, gausah ngagetin gue."kesal Faizah sama siapa lagi kalau bukan Dyfan calon tunangannya.


Dyfan menatap tajam,"Darimana aja lo hah! Dari tadi gue nyariin lo"ucap Dyfan penuh dengan penekanan


"lo ngapain nyariin gue aneh lo, kangen sama gue. Gue udah bilang kalau dikantor kita nggak saling kenal ok. Sekarang gue mau makan siang dulu bye.."sahut Faizah sambil mau melangkah namun tangannya di tahan oleh Dyfan. "Makan siang bareng, nggak menerima penolakan paham." Dyfan langsung menarik Faizah untuk makan siang.


Mereka tidak sadar bahwa ada yang melihat dan mendengarnya bahwa atasannya mengajak anak magang itu makan siang, namun perempuan yang melihatnya menahan amarah merasa hatinya terbakar semua.


"Awas aja kamu Faizah bocil tengil."geram perempuan itu.