
Saat ini mereka sudah berada di depan toko butik yang sudah dibuat janji oleh orangtua untuk fitting baju pernikahan, Butik yang mereka datangi butik milik Bunda Rachel orangtuanya Dyfan.
Mereka berjalan masuk ke butik sambil tangan bertautan. Saat mereka sudah didepan pintu sudah di sambut oleh tiga pegawainya.
“Selamat Siang Tuan, Nona. Tuan Dyfan dan juga Nona Faizah sudah ditunggu di dalam oleh beliau.” Sambut mereka sekaligus menyampaikan pesannya.
Dyfan hanya mengangguk dengan muka datar, berbeda dengan Faizah tersenyum rama. “Baiklah mbak. Kita masuk dulu ya, terimakasih infonya.” Ucap Faizah.
Mereka mundukkan kepala, “Silahkan Nona,Tuan. Terimakasih kembali Nona.” Sahut salah satu pegawai disana. Faizah
menarik Dyfan untuk masuk kedalam.
“Itu yang cowok ganteng tapi sayang nggak ada senyumnya sama sekali, Apalagi mukanya datar terus sepertinya galak. Kasihan yang jadi ceweknya pasti tersiksa banget.”Pengakuan dari teman pegawai satunya.
“betul banget, kalau gue ogah nikah modelan seperti itu. Udah yuk pasti mereka menunggu kita.” Mereka segera menyusul Faizah dan Dyfan yang sudah didalam.
Sebenarnya mereka banyak pekerjaan tapi orangtua terlalu berisik akhirnya memutuskan untuk datang. “ Assalamualaikum.”salam mereka membuat kedua wanita paruhbaya berhenti memilih gaunnya, menengok sapa yang datang.
Akhirnya yang ditunggu datang juga. “ Walaikumsalam, akhirnya datang juga. Ini Bunda dan juga Mama kamu sudah memilih beberapa gaun yang akan di coba.”ucap Bunda Rachel.
Faizah melihat gaun yang begitu banyak kira-kira ada 10 gaun. “Bunda, Mama ini nggak salah gaun sebanyak ini Faizah harus mencobanya?”Tanya Faizah.
“Iya soalnya Mama sama Bunda bingung yang cocok sama kamu itu yang mana sayang”Jawaban Mamanya membuat tubuh Faizah melemas.
“Harus banget ya? Ini banyak banget loh, apalagi itu gaun makainya pasti ribet banget.”keluh Faizah.
“tenang aja sayang, Nanti kamu dibantu Rizka, Alke dan Nike. Kalian sini dulu”Rachel memanggil 3 pegawai yang menyambutnya.
Mereka langsung berjalan menghampiri
atasannya. “Iya Bu Rachel ada yang bisa dibantu. “ Ucap Rizka.
Rachel merangkul calon menantunya. “Kalian bantuin menantu saya untuk mencoba gaun yang sudah saya dan besannya pilihkan. Ingat jangan sampai terlewatkan, Sayang kamu ikut mereka kerruangan fitting room ya, jagain menantu saya.”
“Baik Bu, Mari Nona Faizah ikut kami.” Faizah dengan langkah malas, Tapi mau gimana lagi mau tidak mau harus mengikuti kemauan orangtua.
Berbeda dengan Dyfan yang sudah duduk santai di sofa sambil menunggu Faizah ganti baju Ia buka email sebentar, Rachel menghampiri anaknya yang sibuk sama ponselnya. “Dyfan kamu ngapain? Pasti urusan pekerjaan lagi.”Ucap Bunda Rachel.
“Nggak Bunda ini cuman ngecek email bentar aja, kenapa Bunda?”Tanya Dyfan yang sudah mengecek email dan menaruh handphone di sakunya.
Bunda Rachel menatap anaknya sambil menggeleng kepala. “Bisakah luangkan waktu untuk focus persiapan pernikahan kamu. Kasihan nanti Faizah mikir yang nggak-nggak giman?”Tanya Bunda Rachel yang khawatir.
Dyfan tersenyum lalu menggenggam tangan sang Bundanya. “Bunda jangan khawatir semua pasti baik-baik aja, Aslinya Bunda sama Mama nggak perlu repot-repot mengurus ini itu. Dyfan takut kalian capek, sakit pas hari pernikahan gimana, Jadi biar orang wedding organizer aja ya.”
Syifa melihat calon menantunya yang begitu sopan, lembut cara bicara sama orangtua apalagi sama perempuan membuat Syifa tersentuh. Dihati ada rasa lega anaknya ditangan yang tepat. Pria yang bertanggung jawab, bekerja keras dan lemah lembut. Kenapa syifa bisa menilainya seperti itu karena sudah melihat dengan perilakunya.”Dyfan. Mama sama Bunda kamu sangat antusias dengan pernikahan anaknya. Kita tau kapan saatnya istirahat dan kita juga tidak merasa direpotkan sama anaknya sendiri.”Sahut Mama Syifa.
“Apa yang dibilang Calon Mama mertua kamu benar sayang. Karena kami ingin memberikan yang terbaik buat kalian..”terhenti sejenak Rachel menghembuskan nafas. “Kami berharap pernikahan kalian lageng sama rambut memutih dan maut memisahkan kalian. Ya kami tau ini hasil perjodohan tapi kami hanya bisa berdoa dan berharap seperti itu.”
“Itu bukan harapan Bunda sama Mama aja, Dyfan juga berharap begitu. Doain kami terus ya Bun, Ma.” Ucap Dyfan.
Mereka tidak sadar banyak bicara Faizah sudah ada di depannya. “Kalian pada ngobrolin apa sih. Oh ya menurut kalian gimana, cocok nggak?”Tanya Faizah.
“Hehe maaf ya sayang kami nggak sadar kalau kamu udah disini, wah gaunnya bagus banget cocok buat kamu.”Jawab Bunda Rachel.
“ya sayang cocok banget sama kamu.”sahut Mama Syifa.
Dyfan menghembuskan nafasnya. “ Ganti yang lain.” Hanya itu keluar dari mulutnya membuat tiga perempuan melihatin dia, Faizah bingung kenapa disuruh ganti.
“Kenapa disuruh ganti ini gaunnya bagus loh?” Tanya Faizah dengan heran.
“aku nggak suka, menurutku nggak cocok buat Faizah dan kurang perfect banget sama Faizah.”Jawaban Dyfan membuat semua melongo. Rache tidak terkejut melihat sifat anaknya yang inginnya seperfect mungkin.
“Tapi kan..” Dyfan sudah memberikan syarat untuk segera ganti, mau tidak mau Faizah ganti gaun yang lain.
Ada 10 menit keluar ganti gaun yang kedua, Sang Bunda dan Mamanya memberikan jempol sedangkan Dyfan menggeleng kepala. Faizah kembali keruangan fitting room. Mencoba gaun ke tiga jawaban Dyfan tetap tidak hingga gaun terakhir yang dipakai Faizah. “Jangan bilang nggak cocok lagi ya, ini gaun terakhir yang dipilihkan Bunda sama Mama.” kesal Faizah.
“Iya Dyfan kamu maunya seperti apa? Masa segitu banyak gaunnya nggak ada cocok buat Faizah sih.”keluh Bunda Rachel yang ikutan kesal.
Dyfan menghembuskan nafasnya, Ia berjalan begitu aja meninggalkan mereka. Mereka melihat Dyfan pergi gitu aja membuat semua bingung. Tidak lama Dyfan datang membawa gaun putih dengan motif simple tidak terlalu ramai dan tertutup semua. “Coba yang ini, aku yakin cocok sama kamu.”Ucapnya.
Faizah menghembuskan nafasnya. “ ini yang terakhir ya?”Tanya Faizah dengan muka melasnya.
Dyfan tersenyum. “ Iya ini terakhir.” Akhirnya Faizah mengikuti kemauan Dyfan.
Menunggu Faizah ganti gaun pilihannya Rachel menatap Dyfan kesal, Sedangkan anaknya hanya senyum seperti tidak punya dosa.
Dyfan berdiri di depan Faizah. “ Kata sapa ternyata dugaan aku benar kamu memang cocok dengan gaun itu. Kamu terlihat cantik sekali dengan gaun itu, menurutku ini baru perfect.”Perkataan Dyfan membuat Faizah menahan malu pasti sekarang pipinya mereka.
Kedua orangtua ikut tersenyum senang melihatnya.”Ekhem. berarti ini fix cocok buat Faizah.”Tanya Bunda Rachel. Sedangkan syifa hanya tersenyum.
Mereka tersadar dengan dunianya. Dyfan menghembuskan nafasnya. “Iya itu aja cocok buat Faizah.”Jawab Dyfan.
“Baiklah jadi aku bisa ganti dan kembali ke kantor.”Sahut Faizah.
“Eh tunggu dulu itu baru satu gaun kurang 2 gaun lagi jadi Dyfan kamu pilih dua lagi buat Faizah. “Ucap Bunda Rachel.
“Dua lagi?” serempak mereka membuat tubuhnya lemas.
>>>>>>>>>>>>>>>>>
Akhirnya setelah disibukan fiiting baju mereka melanjutkan aktivitas di kantor, tubuh Faizah merasa lelah sekali. Faizah duduk sambil menyandarkan tubuhnya. “ini baru fitting baju aja udah seh lelah ini.”gumam Faizah.
Faizah tidak sadar Disya sudah didepan meja Faizah. “Kamu darimana Faizah? Kok baru datang?”Tanya Disya.
Membuat Faizah tersentak dengan sepontan Ia langsung berdiri. Ia melihat ternyata Disya, Ia duduk lagi “Ya allah mbak Disya buat kaget aja, iya ada urusan sebentar di kampus maaf ya mbak lupa ngabarin.”jawab Faizah.
“Its okay, Oh ya bisa bantuin aku nggak?”Disya bertanya kembali.
Faizah menatap Disya.
“Mau minta tolong apa mbak? Aku pasti
bantuin mbak.”
Disya memancarkan matanya dengan senang. “serius mau bantuin aku?”Disya bertanya lagi untuk memastikan.
“seriuslah masa aku bercanda sih. Jadi apa mbak?” dengan penasaran Faizah menatap Disya menunggu jawaban dari Disya.
“Jadi begini hari ini ada jadwal survey tempat yang akan dibangun hotel, Nah aku lagi nggak bisa melihat langsung soalnya aku harus ketemu klien. Jadi kamu bisa kan bantuin aku.” Disya menatap Faizah berharap mau.
Faizah menghela nafas. “bukannya nggak mau ya mbak. Tapi, apa ya pantas di kasihkan ke anak magang seperti aku. Apalagi ini proyek besar loh? Mbak yakin serahin ke aku buat melihat tempatnya langsung?”
“kenapa nggak? Sekalian kamu belajarkan? Lagian kamu nggak sendirian kok nanti ditemani sama pak Akkash.”Ujar Disya.
Membuat Faizah menengok kearah Disya. “Serius ditemani sama Pak Akkash?”Tanya Faizah untuk memastikan pendengarnya benar.
“Iya benar. Jadi kamu mau kan? Mau ya please”Disya memohon Faizah membuat Faizah tidak tega akhirnya Faizah menggangguk kepalanya.
Disya senang dengan jawaban Faizah. “Yes.. thanks you Faizah kamu memang penyelamatku, yaudah sekarang kamu berangkat udah ditunggu Pak Akkash dilobby”
“Hah sekarang?”Faizah terkejut apalagi dengan keadan kacau membuat Faizah tidak pede.
“Iya sekarang, kamu tenang aja aku udah bilang pak Akkash dan ini dokumennya. Nanti kamu juga akan dijelaskan Akkash apa yang harus kamu kerjakan disana. Okay, aku pergi dulu sukses Faizah.” Ucap Disya lalu buruh-buruh pergi.
“Ya allah apalagi ini, tau ah podo amat gue harus professional. Aah hari ini hari yang nggak gue sukai.”gumam Faizah sambil mengambil tas dan tidak lupa membawa berkas.
Ia keluar dari ruangan menuju ke lift. Saat lift terbuka ia segera masuk menekan tombol lobby. “Mau kemana kamu?”Tanya seseorang dibelakang membuat Faizah terkejut.
“Astagfirlah pak Dyfan ngagetin aja, ini mau ke tempat lokasi B pak. Kebetulan mbak Disya lagi nggak bisa jadi saya yang menggantikannya.”jawab Faizah.
Dyfan mengangguk kepala. “sama sapa kamu ? sendirian? Nggak mungkin kan?”Dyfan bertanya lagi.
“Iya nggak mungkin sendiri. Ya sama pak Akkash.”Faizah menjawabnya dengan santai. Sedangkan Faizah tidak tau yang dibelakang menahan kesal.
Pintu lift terbuka mereka berjalan kearah lobby bersamaan, disana sudah ada Akkash yang berdiri di mobil miliknya. Faizah menghampiri Akkash dengan muka tersenyum. “Maaf ya kak.. eh maksudnya Pak sudah menunggu lama.”ucap Faizah.
Akkash membalas senyuman. “udah ini kan diluar kantor manggil seperti biasa aja, nggak lama aku juga baru sampai sini.”ucap Akkash.
“Heheh iya kak.” Faizah berusaha tidak terlihat salting.
Sedangkan Dyfan kesal melihat tingkah laku calon istrinya hanya Ia tidak menunjukkan muka kesalnya. “masih lama ngobrolnya? Bisa berangkat sekarang”Tanya Dyfan.
Faizah mengerutkan kening, Akkash melihat kebingungan Faizah membuatnya tersenyum. “Dia ikut kita. Jadi kita berangkatnya nggak berdua.”jelas Akkash.
“Oh gitu yaudah yuk.” Faizah berjalan melewati Dyfan. “gitu sok-sok an Tanya kalau ujung-ujungnya dia juga ikut”gumamnya yang terdengar Dyfan. Faizah membuka pintu belakang lalu Ia langsung masuk.
Dyfan hanya menggeleng kepala aja, Akhirnya mereka berangkat bertiga. Di sepanjang jalan hanya diam aja. Faizah hanya melihat pemandangan diluar kaca. Faizah memicingkan matanya membuat dirinya membolakan matanya. “itu kan…”