Love Story Of Bianca Luvena

Love Story Of Bianca Luvena
KELULUSAN



Bianca tersenyum lebar bersama teman-temannya saat merayakan hari kelulusan mereka pagi ini dengan penuh suka cita namun senyum Bianca pudar saat melihat kedatangan dua pria yang begitu ia kenal.


"Bia, bukankah itu Suami dan Anak Tirimu?"


"Wow! Mereka sama-sama tampan! Bianca, kamu beruntung! Berada diantara dua pria tampan setiap hari, hahaha."


"Diam, bodoh! Pak Cakra bisa ilfeel saat mengetahui teman Istrinya bersikap genit seperti kalian." tegur Viona, sahabat Bianca.


Celetukan para gadis itu membuat Bianca memaksakan senyumnya yang sempat memudar. Sebab ucapan mereka tidak sesuai dengan realita yang dijalani oleh Bianca sehari-hari.


Berpura-pura terlihat bahagia menyambut kedatangan Cakra dan Malvin.


Meskipun Cakra memperlakukan Bianca dengan baik, namun berbeda dengan Malvin yang selalu bersikap dingin padanya.


"Guys, aku ke sana dulu." pamit Bianca.


"Take your time, Mrs. Baswara! Ingatkan Suamimu untuk membaca email yang sudah kukirim kemarin." ujar salah satu dari mereka.


Bianca hanya tersenyum simpul melihat antusias teman-temannya yang tampak senang melihat kedatangan Cakra dan Malvin ke Kampusnya.


"Maaf kami terlambat. Ini untukmu."


Sebuket bunga mawar putih diberikan pada Bianca.


"Terimakasih."


"Malvin." tegur Cakra ketika melihat Malvin diam saja padahal Malvin juga membawa sesuatu untuk diberikan pada Bianca sebagai hadiah kelulusan tentu saja.


"Tidak usah salah paham. Papa yang menyuruhku memberikan ini untuk Mama."


Boneka beruang coklat dengan topi toga yang dibeli Malvin sepulang sekolah dua hari yang lalu.


Bianca mengulas senyum pada si anak, "Terimakasih. Mama menyukainya, Malvin."


Iya. Sejak insiden sakit kemarin, Malvin dimarahin habis-habisan oleh Ayahnya. Menyuruh Malvin agar meminta maaf dan memanggil Bianca dengan sebutan Mama.


Awalnya Malvin menolak. Jelas keberatan jika diminta melakukan itu semua namun Cakra mengancam akan menyita seluruh fasilitas yang diberikan jika Malvin tidak menuruti permintaan tersebut.


"Sama-sama. Pa, aku lapar." rengek Malvin, seraya menarik pergelangan tangan Ayahnya menuju parkiran mobil.


"Kita baru sampai. Nikmati dulu acaranya, Nak."


"Tidak apa-apa. Kita bisa pulang sekarang. Lagipula acara inti sudah selesai 30 menit yang lalu, Cakra." kata Bianca menengahi.


Malvin tidak merasa tersanjung karena Bianca memihaknya. Ia justru berpikir bahwa Bianca hanya berpura-pura baik di depan dirinya dan Cakra.


"Ayo, Pa!"


"Kali ini Mama Bia yang memilih restaurannya."


"Terserah." jawab Malvin asal.


Meninggalkan kedua orangtuanya yang masih bersitatap, seolah berusaha memaklumi sikap labil Malvin yang sedang dalam masa pubertas hingga Malvin benar-benar siap menerima Bianca sebagai Ibu Sambungnya.


"Tolong jangan diambil hati. Malvin masih anak-anak. Dia perlu waktu beradaptasi denganmu."


Bianca tak menyahut.


Ia sudah bosan membahas kelakuan Malvin yang terlihat begitu membencinya sejak awal pernikahan mereka direncanakan.


Fokus Bianca hanya ingin membuka usaha baru supaya bisa melunasi seluruh hutang-hutang Ayahnya pada Zero Bank.


Iya. Bianca menganggap hutang itu masih ada dan satu-satunya cara agar Bianca terlepas dari pernikahan itu dengan membayar hutang tersebut.


Walau Cakra tidak membuat perjanjian apapun yang merugikan dirinya pasca pernikahan mereka.


...••••...


"Aku bisa membantumu membuka pabrik kembali jika mau."


Cakra mendudukkan pantatnya di sebelah Bianca yang duduk selonjoran di atas karpet bulu.


Mereka sedang menonton film horor di dalam kamar setelah seharian ini menghabiskan quality time bersama Malvin.


Itu pun disertai protes dari Malvin yang terus menolak ide Ayahnya untuk menyenangkan Bianca seharian ini.


"Tidak perlu."


"Kenapa?"


"Kenapa harus bertanya?"


Bianca menghela napas lirih. Seharian ini dirinya sudah lelah menghabiskan waktu bersama dua pria Baswara.


Seharusnya Cakra tahu itu.


"Aku hanya ingin bersikap baik padamu, Bee."


"Cakra, aku tidak ingin berdebat tentang apapun sekarang. Aku lelah dan butuh me time jika kamu tidak keberatan dengan itu."


Karena meskipun mereka bertiga sudah menghabiskan waktu bersama sepanjang hari, Malvin selalu mengacuhkan Bianca setiap kali Bianca mengajaknya bicara.


Entah sekedar menanyakan "Ingin makan apa?" atau hal kecil lain seperti "Malvin, bagaimana sekolahmu?".


Tentu hal itu membuat Bianca merasa tidak nyaman kendati Cakra sebisa mungkin mencairkan suasana.


"Ya sudah. Aku tidur dulu."


Tak ada sahutan lagi.


Bianca hanya melirik sekilas Suaminya yang bangkit dari duduk. Kemudian menaiki ranjang dan membiarkan Bianca menikmati waktunya sendirian malam ini.


...••••...


Pukul 6 pagi.


Bianca dan dua asisten lain sudah menyiapkan sarapan pagi.


Semua hidangan yang disajikan adalah makanan kesukaan Malvin.


"Kenapa hanya ada daging dan sosis? Kalian tidak membuat salad sayur untukku?"


Bu Elina yang baru saja bangun langsung mengomel pada Bik Karin dan Bik Hana yang melirik Bianca guna ingin meminta pembelaan.


"Kalian bisa siapkan yang lain." kata Bianca.


"Bia, dimana sarapan untuk Mama? Kenapa kamu malah menyuruh mereka pergi?"


"Hari ini hanya ada kentang, wortel dan buncis! Kalau anda ingin makan salad, silahkan buat sendiri atau bisa delivery order. Mudah 'kan!"


"Kurang ajar. Jangan mentang-mentang sudah jadi Nyonya di rumah ini, kamu jadi semakin seenaknya dengan Mama, Bia!" bentak Bu Elina.


Diiringi suara langkah kaki dari arah tangga.


Cakra dan Malvin turun bersamaan. Penampilan mereka sudah rapi dan siap pergi ke tujuan masing-masing.


"Ada apa ribut-ribut?" tanya Cakra.


Bianca mengendikkan bahu. Mulai menuangkan kopi serta jus jeruk ke masing-masing gelas Cakra dan Malvin.


"Istrimu kurang ajar pada Mama, Cakra." adu Bu Elina.


Bianca mengabaikan ucapan Bu Elina dan tetap melanjutkan kegiatannya mengambilkan makanan untuk Suami dan Anaknya.


Rutinitas ini sudah dilakukan Bianca sejak hari pertama mereka menikah. Meski tidak didasari dengan cinta, Bianca tetap melayani Cakra dengan baik karena tidak ingin dianggap sebagai Istri yang tidak tahu diri dan durhaka.


Seperti Bu Elina, misalnya.


"Kamu harus mengajari Bianca sopan-santun. Mama sedang diet dan tidak makan daging. Bukannya menyuruh Hana dan Karin membuatkan salad, dia malah menyuruh dua pembantu itu pergi. Tidak sopan 'kan?"


Mendengar aduan itu, Malvin pun risih.


Jujur.


Malvin juga tidak suka dengan Bu Elina. Tepatnya, jika Malvin masih bisa diam saja saat Bianca berada di dekatnya, namun tidak jika sudah berhadapan dengan Bu Elina.


Emosinya mudah tersulut.


Prang!


"Berisik! Aku jadi tidak napsu makan." protes Malvin.


Bianca berhenti menyendokkan lauk pauk dipiringnya.


"Malvin, tidak sopan, Nak." tegur Cakra.


"Dia yang tidak sopan, Papa. Kalau memang ingin salad, ya tinggal membuatnya di dapur ..."


"Jangan hanya bisanya menyuruh! Semua orang sibuk di rumah ini asal dia tahu saja."


Diam-diam Bu Elina mengepalkan tangan di bawah meja sana. Menahan diri agar tidak memarahi bocah itu sebab tidak ingin citranya sebagai Nenek Tiri si Anak menjadi buruk.


"Malvin, Cucu Nenek ... Maaf ya kalau situasi ini membuatmu tidak nyaman."


Tanpa mereka sadari, Bianca tersenyum kecil sebab merasa jika Malvin berada dipihak yang sama dengannya.


...••••...


TOUCH VOTE LIKE AND COMMENT!