Love Story Of Bianca Luvena

Love Story Of Bianca Luvena
TAKDIR



1 jam kemudian ...


Bianca akhirnya keluar dari kamar menemui Cakra di ruang tamu yang tampak sedang menelepon seseorang.


"Kamu urus dulu. Saya masih ada urusan diluar."


Pandangan mereka bertemu sejenak.


Dalam hati, Cakra memuji kecantikan Bianca yang begitu natural, tidak mencolok karena make up seperti wanita dewasa seusianya.


Bahkan wajah Bianca terlihat lebih muda dari usianya.


"Kamu tidak perlu repot-repot mengajakku sarapan bersama kalau sedang sibuk, Cakra."


Entah mengapa, perhatian sekecil itu membuat perasaan Cakra kembali menghangat. Sudah lama dirinya tidak merasakan perasaan seperti ini.


"Ayo jalan!" kata Cakra.


Tidak ingin merusak suasana manis pagi ini. Mereka bergegas pergi ke kedai bubur ayam yang paling enak dekat jalan raya.


"Ngomong-ngomong, kamu ingin konsep pernikahan seperti apa?"


Bianca berhenti menyendok bubur lalu menatap jengah pada Cakra yang tampak berbinar saat membicarakan pernikahan mereka.


Padahal sejak awal pernikahan itu tidak pernah diharapkan oleh keduanya.


Dan sekarang, sepertinya Cakra berubah pikiran, mungkin.


"Terserah."


"Tidak ada konsep pernikahan dengan tema terserah, Bianca."


"Pernikahan ini bukan atas dasar saling suka jika kamu lupa, Cakra. Jadi terserah kamu saja."


Jawaban Bianca membuat Cakra kecewa.


"Maksudku, cukup undang penghulu dan saksi. Simpel 'kan?" sahut Bianca cepat. Sebab dirinya sadar jika ucapannya terdengar tidak tahu diri setelah Cakra banyak membantunya untuk menyelesaikan masalah yang terjadi di perusahaan keluarga Luvena.


"Biasanya wanita suka pesta yang mewah dan meriah. Aku tidak keberatan jika kamu ingin seperti itu."


"Tidak, terimakasih. Itu hanya berlaku bagi orang-orang yang menjaga gengsi. Aku tidak suka pesta karena itu melelahkan."


Sepertinya Bianca lupa jika Cakra salah satu pengusaha kaya di kota itu.


"Kita hanya perlu menyewa WO. Biar mereka yang mengurus semuanya, Bianca."


"Aku tidak mau. Jangan memaksaku terus! Aku tetap ingin pernikahan kita dibuat sederhana, yang penting keluarga inti kita datang."


Perdebatan mereka harus terhenti setelah Dirla menelepon Cakra dan meminta pria itu agar segera datang ke Kantor.


...••••...


Malvin sudah di Rumah, sedang bermain PS sambil menunggu makan malam tiba.


Sebenarnya Malvin sudah lapar tapi ia ingin menunggu Cakra pulang supaya bisa makan malam bersama.


"Mas, boleh saya bicara sebentar?"


Malvin mengangguk singkat. Menyuruh Bik Karin duduk disebelahnya. Ia sudah menganggap Bik Karin seperti keluarganya sendiri. Jadi mengobrol seperti ini sudah biasa mereka lakukan tanpa merasa canggung.


"Maaf kalau terkesan lancang tapi saya tidak sengaja mendengar pembicaraan Mas Malvin dan Bapak kemarin."


"Langsung saja, Bik."


"Soal pernikahan itu ..."


"Saya senang karena akhirnya Bapak bisa menemukan wanita yang cocok untuk dijadikan Istri dan Ibu Sambung yang baik untuk, Mas Malvin."


"Bik Karin setuju Papa menikah lagi?"


Bik Karin tersenyum, memahami ketakutan Malvin akan perpisahan kedua orangtuanya 10 tahun yang lalu.


Waktu yang cukup lama bagi Cakra dan Malvin menyembuhkan luka atas kekecewaan yang ditinggalkan Haura dalam hidup mereka.


"Saya setuju jika Bapak dan Mas Malvin bahagia."


"Tapi aku tidak setuju. Aku tidak butuh Mama baru, Bik." lirih Malvin dengan tatapan sendu. Sorot matanya menyiratkan kekecewaan yang begitu mendalam.


Ketakutan Malvin bukan tanpa alasan namun Bik Karin ingin Malvin melupakan rasa sakit itu dan mencoba menerima pernikahan Ayahnya.


"Terkadang kebutuhan pria dewasa dan remaja itu berbeda, Mas. Eum, saya bingung menjelaskannya ... Tapi saya sering melihat Bapak melamun di Ruang Kerjanya. Mungkin Bapak merasa kesepian karena menduda selama bertahun-tahun."


Malvin tak menyahut.


Pikirannya tertuju pada sosok Ayahnya yang berdiri di ambang pintu.


Raut wajahnya tak terbaca.


"Maaf. Saya permisi dulu."


Dan bisa jadi, Cakra mendengar obrolan mereka barusan.


"Akhirnya Papa pulang juga. Aku sudah lapar menunggu Papa sejak tadi."


"Malvin, soal kemarin–"


"Stop! Aku tidak mau membahas masalah yang sama berulang kali, Pa."


Nyatanya ucapan Bik Karin belum membuat Malvin berubah pikiran dengan cepat. Mungkin Cakra harus berusaha lebih keras untuk membujuk si anak supaya mau menerima keputusannya tersebut.


...••••...


Bianca sedang rebahan sambil membaca novel. Bayangan wajah Cakra kembali terlintas dipikirannya.


"Bianca, awas!"


Sebuah mobil sedan hampir saja menyerempet Bianca saat mereka hendak menyebrang.


"Kamu baik-baik saja 'kan? Apa ada yang terluka?"


"T-tidak ada. Kita pulang saja."


Bianca mendadak gugup saat Cakra menangkup kedua pipinya. Ia baru menyadari jika Cakra sangat tampan, sekilas mirip model Asia papan atas karena tinggi badannya yang begitu proposional.


"Aku akan menuntut orang itu karena ugal-ugalan saat menyetir."


"Jangan berlebihan! Aku tidak apa-apa. Lagipula kamu juga tidak tahu plat nomornya 'kan?" ledek Bianca namun sedetik kemudian matanya melotot tak percaya saat Cakra memperlihatkan sebuah foto yang dikirim oleh Ajun.


"Bagaimana bisa?"


"Apapun bisa kulakukan, termasuk menjaga orang-orang terdekatku dari bahaya yang mengancam." ucap Cakra penuh percaya diri.


Bianca menutup kasar buku itu. Menggulingkan badan untuk mengalihkan pikiran agar tidak mengingat kejadian tadi pagi yang menimpa dirinya.


"Ada apa, Bik?"


"Itu, Mbak ... Anu–"


"Cakra sudah setuju menikah denganmu lalu kapan kalian akan melangsungkan pernikahan itu?" sela Bu Elina.


Kemudian mendorong tubuh Bik Hana yang berusaha menghalangi jalannya sebab Bik Hana tahu, Bu Elina pasti akan mengajak Bianca bertengkar lagi.


"Keluar! Urusanmu itu di dapur bukan di sini, Hana!"


"Yang seharusnya keluar itu anda bukan Bibik!"


Bianca balas mendorong Bu Elina dan mengunci pintu kamar itu dengan cepat agar Bu Elina tidak bisa menerobos masuk ke dalam.


"Mbak, biar saya keluar saja. Saya takut Bu Elina semakin marah."


"Justru aku yang takut kalau wanita ular itu menyakiti Bibik ..."


Bianca mengajak Bik Hana duduk di sofa, "Kalau aku sudah menikah, Bik Hana tetap kerja denganku ya? Aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi selain Bibik yang kukenal."


Ucapan Bianca membuat Bik Hana tersentuh. Karena selama ini, Bianca jarang menunjukkan perasaannya pada semua orang.


Terdengar isak tangis lirih dari samping. Bik Hana menoleh dan melihat Bianca menundukkan wajah sambil menangis.


Bik Hana memeluk tubuh rapuh itu agar tangis Bianca mereda. Tak lupa dengan usapan tangan dipunggung supaya Bianca merasa lebih tenang.


"Aku tidak mencintai dia, Bik."


"Saya tahu, Mbak."


"Tapi aku tidak punya pilihan menolak saat ini. Hutang Papa terlalu banyak ..."


"Seharusnya aku tidak perlu melanjutkan kuliahku lagi agar bisa fokus membantu perusahaan Papa. Kalau sudah seperti ini, tidak ada gunanya aku menyesal. Semua sudah terlambat, hks."


Tangis Bianca semakin menjadi-jadi.


"Mbak Bia percaya setelah badai pasti akan ada pelangi yang datang?"


"Bik–"


"Dijalani dulu saja, Mbak. Semua yang terjadi di dunia ini sudah bagian dari takdir. Siapa tahu, Tuhan mengirimkan Mas Cakra sebagai perisai yang akan melindungi Mbak Bia kelak karena saya juga tidak bisa selamanya menjaga Mbak Bia. Usia saya sudah semakin tua, Mbak. Saya takut orang-orang jahat itu menyakiti Mbak Bia setelah saya meninggal."


"Jangan bicara begitu, Bik."


Bianca mengeratkan pelukannya.


"Ini takdir, Mbak. Setiap orang pasti akan mengalaminya juga. Lagipula kalau saya perhatikan, Mas Cakra orangnya baik dan sopan terlepas dari tujuan awal kalian merencanakan pernikahan itu."


...••••...


TOUCH VOTE LIKE AND COMMENT!